Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bab 10~Keluar dari rumah


Dua bulan berlalu dengan cepat.


Hari sudah semakin gelap, namun Kamila tak kunjung datang. Apa dia tidak akan pulang? pikir Riki.


Dia terus mondar-mandir di depan teras rumah untuk menunggu kepulangan istrinya.


"Kemana dia? Jam segini belum juga pulang!" geramnya dengan memendam kekesalan dalam hati.


Diliriknya jam digital yang melingkar di pergelangan tangannya. Angka yang terlihat di sana menunjukan jam delapan lewat tiga puluh lima menit. Tak biasanya Kamila pulang larut malam.


Derap langkah kaki memasuki pekarangan rumah membuat Riki menolehkan kepala ke arah gerbang.


"Aku pulang!" suara lirihnya membuat Riki menautkan kedua alisnya.


Pria tersebut menghampiri sang istri yang tengah berjalan memasuki teras rumah. "Dari mana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang? Apa kamu habis keluyuran sampai tak ingat pulang? Ataukah kamu mencari pekerjaan sampingan? Atau mungkin ... pria yang mau membayar tubuhmu!"


Pertanyaan bertubi dari suaminya semakin mematahkan semangat Kamila. Tanpa ingin menjawab, Kamila melangkah masuk kedalam rumah.


Rasanya ia sudah lelah dengan pekerjaan. Sekarang, harus bertambah lelah karena ocehan Riki. Mila terlalu malas menanggapi omelan Riki yang tak berfaedah untuknya.


Riki langsung menarik tangan istrinya dengan kasar. "Aku sedang bertanya, tapi kamu malah mengabaikan ku?" bentaknya membuat Kamila terkesiap. "Bagus ya, Mil. Sekarang kamu semakin berani melawanku, mentang-mentang sudah bisa mencari duit sendiri!" suaranya semakin meninggi.


"Aku lelah, Mas." hanya itu yang Kamila ucapkan sebagai jawaban.


Riki berdecak kesal. "Lelah? Namanya orang kerja ya seperti itu. Itulah yang aku rasakan setiap hari karena bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Kamu baru tahu kan rasanya bekerja?" cemoohnya.


Kamila menghela nafas, kemudian berbalik menghadap suaminya. "Mencari nafkah itu sudah menjadi tanggung jawab mu, Mas. Jadi, wajar dong jika kamu bekerja." balas Kamila.


"Kamu pikir, aku baru sekarang merasakan lelahnya bekerja?" Tanya Kamila balik. "Mas. Sudah lima bulan kamu menganggur, berdiam diri di rumah dan aku yang bekerja di saat kandunganku sudah mulai membesar. Apa kamu tak kasihan melihatku seperti ini? Bekerja dengan perut buncit," desak Kamila. mulai terpancing emosi.


"Aku berdiam diri di rumah juga sambil mikir, tahu! Bukan hanya diam gak jelas!" elak Riki.


"Mikir? Apa yang kamu pikirin? Bagaimana cara mendapat pekerjaan? Atau, bagaimana cara menghabiskan uang hasil kerja kerasku dan menikmatinya bersama kedua orang tuamu?" Kamila semakin emosi.


Riki bertambah geram. Tangannya mengepal memperlihatkan urat yang melintang. Namun, sebelum dia berucap, sebuah suara menginterupsi. "Kamu gak ikhlas mencukupi kehidupan kami?" suara tinggi yang berasal dari orang yang baru datang.


Bu Nani mendekat. "Hei, Kamila! Kamu masih bersyukur bisa tinggal nyaman di rumah kami. Seharusnya kamu itu mikir, tak ada yang gratis di dunia ini. Wajar dong kalau kamu memberikan sedikit uang untuk kami,"


Kamila menjawab. "Bu, aku sedang mengandung calon anaknya Mas Riki, cucu kalian. Di saat semua wanita hamil banyak beristirahat demi kebaikan janin yang di kandungnya, kalian malah menyuruhku bekerja lebih keras. Apa kalian tak punya perasaan?"


"Kamila!" Riki berteriak keras. "Cukup!" tangannya terulur ke depan. "Jika kamu tak ikhlas memberikan uang kepada kami, sebaiknya kamu cari tempat tinggal dan urus saja dirimu sendiri." kata Riki dengan menggertakkan giginya. "Pergi dari sini, karena aku tak mau mengurus dan merawat bayimu ketika dia lahir! Pergi sana," tangan Riki menggantung di udara sambil menunjuk arah luar.


Kamila mengepalkan tangannya mendengar perkataan dari mulut suaminya. Bagaimana bisa dia setega itu, mengatakan hal yang sangat menyakiti hati istri yang sedang mengandung buah cinta mereka?


"Riki!" Bu Nani menarik tangan putranya untuk menurunkannya. "Kalau kamu mengusirnya, maka kita tidak bisa makan enak dan membeli semua keperluan kita. Pikirkan itu baik-baik!" berbisik di telinga putranya.


"Tenang saja, Bu! Dia tak kan berani pergi dari rumah, apalagi dalam keadaan seperti itu!" sahut Riki ikut berbisik.


"Bagaimana kalau dia memutuskan pergi?"


"Tidak akan! Ibu percaya deh sama aku. Dia itu wanita baik yang menjunjung tinggi arti pernikahan. Jadi, dia gak akan berani untuk ...!"


Belum sempat Riki melanjutkan ucapannya, Kamila berkata dengan tangis yang tertahan.


"Kenapa kamu setega itu sama aku, Mas?" pasangan ibu dan anak itu menoleh ke arah Kamila . "Apa kamu akan membiarkan aku pergi dalam keadaan seperti ini?" tanya Kamila lagi. "Pikirkan baik-baik anak kita, Mas. Aku mohon!" pintanya lirih.


Riki dan Bu Nani melipat tangan di dada. Keduanya merasa angkuh karena ternyata Kamila memohon. "Tuh kan benar yang ku katakan, Bu!" berbicara lewat tatapan mata.


"Kamu benar, Rik! Buat dia bertekuk lutut dan menuruti semua keinginan kita" Bu Nani membalas ucapan putranya dengan saling melempar tatapan angkuh.


Lama sekali Kamila terdiam menundukkan kepalanya. Dia tak tahu harus berkata apalagi. Dia berharap ini semua hanya mimpi yang tak pernah dialami. Namun, kenyataan itu ada di depan mata.


"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan kepadaku itu?" Kamila tetap bertanya untuk memastikan keputusan yang akan diambilnya.


Bu Nani maju ke hadapan Kamila. "Hei, Kamila! Kalau Riki sudah berkata seperti itu, berarti dia yakin dengan apa yang dia ucapkan." dengan lantangnya Bu Nani berkata.


"Mila bertanya sama Mas Riki, Bu!" suaranya lirih nyaris tak terdengar.


Riki memicingkan mata, kemudian menghampiri istrinya lebih dekat. "Kamu bertanya padaku, apa aku yakin dengan apa yang aku katakan itu?" Dia menekankan setiap kata-kata. "Kamu ingin mendengar jawaban apa dariku?" Riki menundukkan wajah dengan kedua tangan memegangi bahu istrinya.


Kamila mendongak menatap suaminya. "Aku harap kamu tidak serius mengatakannya," Kamila berkata untuk memastikan, namun itu semakin membuat Riki angkuh.


Riki terkekeh dengan jawaban Kamila. "Sayang sekali aku harus mengecewakanmu, sayang!" ucapnya. "Karena aku yakin dengan ucapan ku tadi!" lanjut Riki kemudian.


Kamila terlihat memejamkan mata saat Riki mengatakan yang ingin didengarnya.


"Tapi jika ingin aku berubah pikiran, maka kamu harus menuruti semua keinginanku dan orang tuaku, yaitu mertuamu. Bagaimana sayang?" Riki menawarkan.


Kamila terlihat antusias. "Apa itu, Mas?"


"Hmmm ... Ke-satu, jangan pernah mengeluh dengan apa yang aku dan kedua orang tuaku perbuat! Ke-dua, jika kami meminta uang, maka kamu harus langsung memberikan tanpa bertanya untuk apa. Ketiga ...!" belum sempat Riki berucap, Kamila segera memangkas ucapan suaminya itu.


"Aku setuju!" Kamila berkata dengan cepat.


"Benarkah!" mata kedua orang itu berbinar mendengar persetujuan dari Kamila.


"Baiklah, sekarang berikan uangmu!" Ibu mertua menengadahkan tangan meminta uang kepada Kamila.


Kamila tersenyum miris mendengar ucapan mertuanya tanpa berbasa-basi itu. "Apa kalian pikir aku akan menuruti semua keinginan kalian?"


"Lho, bukannya tadi kamu setuju?" Bu Nani mengerutkan kening dengan tangan masih menggantung di udara.


"Aku bukan orang bodoh yang tetap bertahan di atas pohon yang hampir tumbang!" cibir Kamila.


"Maksud kamu?" keduanya_Ibu dan anak itu menatap penasaran.


"Aku setuju! Bukan untuk tinggal di sini dan menuruti semua keinginan kalian. Tapi, aku setuju untuk keluar dari rumah ini!" jelasnya seraya melangkahkan kaki masuk kedalam rumah.


"Apa?" Ibu dan anak itu saling pandang mendengar ucapan Kamila barusan.


Tanpa berkata lagi, Kamila membereskan pakaiannya dan melangkahkan kaki keluar dari rumah yang membuatnya tersiksa.


Melihat Kamila pergi, ibu mertua menjadi risau. Pasalnya, Kamila lah yang memenuhi segala kebutuhan mereka. Mulai dari uang bulanan, hingga untuk keperluan yang tak penting sekalipun.


Bu Nani lekas mendorong putranya agar membujuk menantunya itu. Ia menjadi was-was jika Kamila beneran pergi dari rumahnya.


Riki bergegas masuk menyusul sang istri. Ia menghentikan tangan istrinya yang tengah sibuk membereskan pakaiannya. "Kamila. Kamu yakin akan pergi dari sini?" Riki bertanya dengan nada khawatir, tapi bukan mengkhawatirkan Kamila, lebih tepatnya takut ditinggalkan.


Kamila melirik sekilas, sebelum melanjutkan langkahnya kembali. "Aku bisa meninggalkan rumah orang tuaku demi kalian. Kenapa aku tidak bisa meninggalkan kalian demi hidupku yang nyaman!" sahutnya lantang.


Setelah membereskan barang-barangnya, Kamila pun melangkah pergi menjauh dari rumah itu dengan tas gendong berisikan pakaiannya saja.


Sedangkan Riki hanya bengong menatap kepergian istrinya. "Dia pergi beneran!"


...Bersambung ......