Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Betis oh Betis


"Sialan! Apakah Gu Shanzheng tidak tahu tradisi? Jika seorang pria melihat betis seorang wanita maka, mereka berdua wajib menikah hukumnya?" umpat batin Tan Jia Li ingin marah. 


Tan Jia Li hampir saja ingin mendamprat Gu Shanzheng, "Nak, balurkan, minyak gosok ini ke kaki istrimu, agar dia tak kedinginan dan dehidrasi akibat cuaca!" perintah si ibu dengan membuka tirai kain pintu.


"Terima kasih, Bu!" balas Gu Shanzeng si wanita tua tersebut memperhatikan jika Tan Jia Li sudah tidur dengan kedua kaki terbuka tanpa sepatu botnya.


"Syukurlah, kalian benar-benar suami-istri! Aku sedikit curiga tadi," ujar si wanita.


"Hehehe, Istriku sedikit malu dan tidak romantis Bu!" tukas Gu Shanzheng.


"Sialan! Siapa yang mau romantisan dengan Beruang Kutub? Najis!" batin Tan Jia Li kesal jika tidak ada si wanita tua tersebut ia sudah menendang Gu Shanzeng ke luar tenda.


"Nah, balurkanlah minyak ini!" ujar si wanita tua.


Gu Shanzheng langsung melaksanakan perintah wanita tersebut, "Ya, Dewa! seumur-umur baru ini aku memegang betis wanita putih begini," batin Gu shanzheng menelan ludah.


"Gu Shanzheng, hentikan!" batin Tan Jia Li di dalam hati dengan merapatkan gerahamnya.


"Rasain, kamu! Aku tahu kamu pura-pura tidur, sekalian saja biar makin kesal nih, Batu!" batin Gu Shanzheng tersenyum puas ingin mengerjai Tan Jia Li. Ia ingin mengambil kesempatan didalam kesempitan.


"Dasar, bajingan! Mata keranjang, buaya darat! Awas kau besok aku akan membuatmu jadi abu!" batin Tan Jia Li marah kala tangan Gu Shanzheng semakin berani mengelus kakinya semakin tinggi ke pahanya.


"Iya balurkan terus seperti itu biar kaki istrimu kuat dan banyak anaknya!" ujar si wanita memberi instruksi membuat jiwa Gu Shanzeng semakin di atas angin.


"Dasar, wanita tua! Apa hubungan betis dan anak?" batin Tan Jia Li bingung, "yang mengandungkan, rahim bukan betis?" pikirnya bingung, "aku tidak tahu soal beginian. Jika aku kembali ke istana aku akan bertanya kepada Li Phin, memang betis diperlukan di dalam membuat anak apa?" batin Tan Jia li.


Keringat mulai membanjiri tubuh Gu Shanzheng dan Tan jia Li, "Sebaiknya tangannya juga, di lembah ini semakin malam semakin dingin karena tertutup salju. Aku takut perapian di ruang tengah akan habis, kamu pun balurkanlah pada kaki dan tanganmu juga," ujar si wanita tua.


Gu Shanzeng langsung membuka lengan baju Tan Jia Li dan membalurkan minyak beraroma wangi tersebut ke tubuh Tan Jia Li, rasa hangat dan nyaman merayap di tubuh Tan Jia Li.


"Aku akan kembali ke kamarku!" ujar wanita tua tersebut, membuat Gu Shanzheng langsung terkulai lemas di tempat duduknya berbaring di sisi tubuh Tan Jia Li yang langsung duduk di atas perut Gu Shanzheng, ingin menghajarnya.


"Sialan, kau Gu Shanzheng! Kau mencari kesempatan di dalam kesempitanku!" geram Tan Jia Li setengah berbisik.


"Aku juga terpaksa melakukannya, jika tidak. Aku takut wanita itu mencurigai kita," balas Gu Shanzheng santai malah melipat kedua tangan di balik kepalanya.


"Kau bisa menolaknya!" balas Tan Jia Li kesal.


"Rasanya nikmat sekali! Jika kau terus bergerak di situ!" ujar Gu Shanzheng membuat Tan Jia Li menyadari tingkah lakunya. Ia merasa sesuatu sedang mengganjal tepat di bawah dudukannya.


"Bajingan!" umpat tan Jia Li ingin bergerak turun tapi terlambat kala kedua tangan Gu Shanzheng telah merengkuhnya ke pelukannya mendaratkan kecupan liar di bibir Tan Jia Li yang sedikit meronta.


"Nak, apakah kalian sudah tidur?" suara si wanita dari kamar sebelah.


"Ini, mau tidur Bu!" teriak Gu Shanzheng, "diamlah! Jika kamu tidak ingin dia curiga dan misi kita batal!" bisik Gu Shanzheng di sela bibirnya yang kembali mengecup Tan Jia Li.


Membuat Tan Jia Li melotot dan Gu Shanzheng menyentuh bibir Tan Jia Li yang basah akibat ulahnya.


Tan Jia Li langsung berbaring dengan memunggungi Gu Shanzheng dengan diam-diam dia memegang bibirnya, "Buaya Darat ini, telah mencuri kecupan pertamaku  dasar sialan!" batin Tan Jia Li, "Jang Min! Kau harus membayar mahal untuk semua ini. Kakakmu sudah dipermalukan oleh Bajiangan Gu Shanzheng," umpat batin Tan Jia Li kesal.


***


Sementara Li Phin dan Dara masih menantikan burung merpati dari Tan Yuan Ji atau Tan Jia Li, "Mengapa Paman dan Kakak Jia'er belum memberi kabar? Ada apa sebenarnya?" batin Dara mondar-mandir di ruangannya.


"Yang Mulia Permaisuri, ini ada burung merpati," ujar Dayang Ling'er.


"Terima kasih, Dayang!" balas Dara langsung mengambil gulungan kecil di aku burung merpati.


[Bantuan sandang pangan dan obat-obatan telah sampai ke Xihe! Gu Shanzheng dan Jia Li menyusup ke Mongol, aku kehilangan jejak kedua selir di perbatasan kerajaan Qin.], isi pesan tersebut.


"Oh, benar-benar teka-teki, tapi syukurlah akhirnya bahan pangan telah sampai," ujar Dara.


"Permaisuri, seperti pesan Yang Mulia Kaisar untuk memantau perobatan Pangeran kedua Limen Utara. Sudah waktunya memberi obat kepadanya," ujar Dayang Ling'er.


"Aduh, mengapa harus aku, sih?" batin Dara bingung.


Li Phin hanya diam saja, setiap mereka ingin pergi mengobati Liang Si, Li Phin selalu menghilang entah kemana.


"Ayo, mari kita lihat!" ajak Dara pada Dayang Ling'er.


Sesampainya di kamar Liang Si, ia menyuapkan obat kepada Liang Si yang menatap ke arah Dara yang disangkanya Li Phin.


"Yang Mulia Permaisuri, aku … maafkan aku yang tidak bisa melindungi dirimu dan cinta kita dulu," ujar Liang Si menggenggam tangan Li Phin.


"Sudahlah, sudah berlalu sekarang minumlah obat ini agar cepat sembuh! Dayang ambilkan ramuan lagi," ujar Dara. Ia tidak ingin jika menjadi gosip dan membuat Jang Min curiga dan menghukumnya.


"Phin'er aku mencintaimu!" lirih Liang Si.


Prang!


Cawan obat di tangan Dara terjatuh, ia langsung beranjak berdiri, "Pangeran Liang Si, aku rasa Anda sudah mulai sembuh. Dayang Ling'er yang akan merawatmu!" ujar Dara ingin meninggalkannya.


 Akan tetapi Liang Si bergerak terlalu cepat memeluk tubuh Li Phin dari belakang, "Phin'er ... aku tahu aku terlalu bodoh, sehingga aku mencampakkanmu, tapi kamu tahu apa alasannya. Aku mohon, jangan tinggalkan aku," ujar Liang Si.


"Lepaskan, aku Liang Si. Aku sudah menjadi istri seseorang, aku tidak ingin menjadi skandal di kekaisaran dan menyakiti suamiku. Aku Mencintainya, masa lalu adalah masa lalu!" ujar Dara tegas.


Ucapan Dara membuat Liang Si melepaskan pelukannya, Dara melesat meninggalkan kamar Liang Si bertepatan dengan ambruknya Liang Si ke lantai berlutut dan menangis.


"Maafkan aku Phin'er jika tidak tertawan oleh Selir Qin dan Putri Jiajia. Demi keselamatanmu … aku tidak akan pernah meninggalkanmu," lirihnya. 


Liang Si dan Dara tidak mengetahui jika di balik dinding kamar Liang Si, Jang Min mendengarkan dan mengetahui semua perbuatan Liang Si juga perkataannya kepada permaisurinya.


"Apakah mereka dulunya benar-benar mencintai hingga kini? Pangeran Limen Utara masih mencintai Phin'er?" batinnya cemburu.