Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Sebuah kejujuran dan cinya yang tulus


Jauh di relung hati Dara ia tak sanggup melihat kesedihan dan penderitaan di mata, jiwa, dan raga  Liang Si. Namun, ia harus melakukan hal itu demi masa depan dan persahabatan juga rasa cinta antara Li Phin dan Liang Si. 


Dara merasa ia harus menahan rasa sakit dan malu, untuk mengangkat derajat harga dirinya dan Liang Si. Ia tidak ingin harga dirinya sebagai seorang wanita, permaisuri, teman, dan seorang istri dihina juga dipertanyakan di kalangan masyarakat.


"Katakanlah, Pangeran Limen Utara! Apakah ada yang telah terjadi antara dirimu dan diriku selama ini? Sejak kita berpisah di Istana Dingin Taman Persik hingga sekarang engkau menjadi seorang jenderal sekaligus pengawal pribadi kekaisaran?" tanya Dara tegas.


Semua orang yang berada di aula termasuk Jang Min menjadi penasaran akan banyak hal, "Aku ingin tahu apakah keduanya masih memendam perasaan? Walaupun aku tahu jika Liang Si begitu mencintai Li Phin.


"Bahkan, terkadang Li Phin memandang Liang Si dengan tatapan penuh kekaguman juga kerinduan," batin Jang Min cemburu berdebar berharap segala kemungkinan yang tak akan pernah ada yang terjadi.


"Dara, Kau benar-benar gila! Bagaimana jika Liang Si mengatakan yang tidak-tidak?" tanya Li Phin was-was.


"Jika kamu mempercayai dan meyakini pria yang kita cintai tidak akan mempermalukan, maka itu adalah cinta yang sebenarnya. Tapi, jika Liang Si mengatakan kebohongan berarti dia tidak pernah tulus mencintai kita!" ujar Dara menatap Li Phin.


"Aku tidak tahu Dara! Aku hanya takut jika Liang Si menjadi gila dan mengatakan yang bukan sebenarnya," balas Li Phin.


"Jika dia mencintai kita ia pasti berusaha untuk melindungi harga diri kita, karena bagaimanapun kita tidak pernah berselingkuh di belakang Jang Min.


"Dan sebagai pria terhormat ia akan selalu menjunjung tinggi kejujuran, sebagai pria yang mencintai kekasihnya melebihi dirinya ia akan mengatakan kejujuran untuk melindungi kita dari fitnah dan penghinaan orang lain," balas Dara.


"Aku tidak tahu, aku berharap cinta Liang Si benar-benar tulus pada kita bukan hanya omongan dan bualan saja," balas Li Phin masih tidak mempercayai banyak hal.


Sementara Qin Jiajia begitu senang, "Aku sangat yakin seorang pria akan egois. Ini adalah kesempatan untukmu Liang Si, untuk mengakui perasaanmu. Bukankah selama ini kau berada bersama di sisi Permaisuri Li Phin adalah sebagai ungkapan rasa cintamu padanya?" serang Qin Jiajia merasa ia telah menyudutkan Liang Si dan Li Phin.


"Permaisuri Mongol! Sopanlah berbicara kepada Permaisuri dan Jenderalku!" hardik Jang Min ketus.


"Hahaha, aku sangat yakin para pecinta itu adalah orang-orang egois! Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Pangeran Limen! Katakanlah, sejujurnya, aku sangat yakin kau begitu mencintai Permaisuri Li Phin. 


"Jika tidak, tak mungkin kamu rela mati demi seorang wanita yang tidak memiliki sesuatu di hatimu, aku sangat yakin rasa cintamulah yang membuatku bertahan terus di sisinya," sela Qin Jiajia senang.


Qin Jiajia menatap ke arah Liang Si dan Li Phin, dengan perasaan senang, "Aku sangat yakin kalian tidak akan bisa berkutik lagi!" lanjut Qin Jiajia.


"Permaisuri Mongol! Jangan buat kesabaranku hilang!" ancam Jang Min.


"Suamiku, dengarkanlah dulu penjelasan dari Pangeran Limen Utara. Setelahnya, Yang Mulia bisa mengambil keputusan," balas Dara menyentuh punggung suaminya. 


Kemarahan Jang Min sedikit mereda membuat semua orang yang hadir merasakan betapa besar pengaruh Li Phin kepada Jang Min, "Sialan ini, begitu mudah menaklukkan dua pria hebat di depanku ini. Racun apa yang digunakannya?" batin Qin Jiajia merasa marah.


Ia merasa ia tak pernah bisa mengambil hati Liang Si dan meraih cinta Jang Min, "Mengapa Li Phin bisa mendapatkan dua pria hebat dan tampan ini? Apa kelebihannya?" garam batin Qin Jiajia semakin marah.


"Tidak! Kita tidak pernah selingkuh, hingga kini antara kita hanya ada hubungan antara seorang jenderal dan Permaisuri saja. Walaupun aku menyayangimu tapi aku tidak pernah berniat mengambilmu dari Jang Min.


"Karena aku percaya Dewa lebih tahu yang terbaik untukku dan Li Phin," balas Liang Si, "aku berharap kalian tidak pernah meragukan kesetiaan dari seorang permaisuri Li Phin. Dia bukanlah wanita murahan seperti rumor yang selama ini beredar," papar Jang Min.


Semua orang terdiam menatap Liang Si dan Li Phin, "Kalian sudah mendengar, apa yang terjadi antara aku dan Liang Si. Terserah kalian bagaimana menanggapinya," balas Dara menatap semua orang, "dan sekarang Permaisuri Mongol, aku tidak tahu racun apa yang kau berikan pada Liang Si, kita akan menunggu keputusan dari Tabib Luo.


"Nah, sekarang semuanya berpulang kepada kalian! Apa tanggapan kalian dan bagaimana hanya kalianlah yang menilainya. Aku sangat yakin kalian semua adalah permaisuri terpelajar dari setiap kerajaan. Kalian bisa menilai baik dan buruknya," balas Dara menatap semua orang.


"Phin'er, maafkan aku! Walaupun aku mencintaimu di sepanjang hidupku tapi aku tulus menyayangi dan melindungimu juga keluarga kecilmu.


"Tidak akan pernah aku merebut atau mengkhianatimu dan Kekaisaran Donglang. Bagiku, keamanan dan ketentraman Kekaisaran Donglang lebih di atas segalanya," balas Liang Si pingsan.


Jang Min menarik napas merasa lega mendengar semua ucapan keduanya,


"Kita akan menunggu Tabib Luo … untuk memeriksa apa yang telah terjadi sebenarnya? Sebaiknya kalian jangan ada yang meninggalkan ruangan ini.


"Pengawal! Tangkap siapa saja yang akan meninggalkan ruangan ini," perintah Jang Min menatap ke arah para pengawalnya.


"Baik, Yang Mulia! Mereka langsung maju untuk mengepung dan menodongkan senjata kepada semua tamu undangan yang hadir.


"Yang Mulia! Kami tidak tahu apa pun, percayalah kami tidak akan berani melakukan kejahatan ini," ucap Permaisuri Luoyang.


"Sabarlah Permaisuri Luoyang, aku tahu siapa saja yang bersalah dan tidaknya," balas Jang Min menatap ke semua orang. 


"Baik Yang Mulia! Bolehkah kami duduk?" tanya Permaisuri Zedong.


"Silakan kalian duduklah, para Dayang, siapkan jamuan untuk mereka," perintah Jang Min.


Para dayang langsung menyuguhkan makanan untuk mereka, semua permaisuri dan tamu undangan menikmati makanan. Mereka dengan perasaan tegang dan takut tetapi berusaha untuk menikmatinya.


"Sialan! Mengapa aku selalu saja kalah selangkah dengan Li Phin. Aku tidak menyangka jika Li Phin benar-benar pintar dan sangat luar biasa," batin Qin Jiajia, "aku tidak menyangka anak yang lembut dan selalu mengalah ini berhasil menjadi seorang permaisuri dari sebuah kekaisaran," lanjut batin Qin Jiajia heran.


"Silakan duduk Permaisuri Mongol," ucap Jang Min dingin menatap Qin Jiajia, "bagaimana caraku untuk mengungkap kejahatan Qin Jiajia? Aku sangat yakin dialah biang kerok semua masalah ini," batin Jang Min.


""Baik, Yang Mulia!" balas Qin Jiajia menekuk sedikit kakinya untuk memberikan penghormatan dan duduk di salah satu kursi.