
Dara dan Liu Min menaiki tangga dengan diam, memasuki kamar Dara yang bersih karena sering dirawat oleh Ningrum, "Suit!" Liu Min bersiul, "kamar kamu sangat nyaman Dara? Jadi pengen tidur!" ujar Liu Min membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan tenang.
"Jangan tidur di tempat tidurku, Buaya Darat!" umpat Dara dengan suara dipelankan.
Plok!
Liu Min sengaja memukul pinggul Dara membuat Dara terkesiap, "Jahanam! Kau bajingan! Kamu benar-benar berani melakukan hal itu kepadaku, Liu Min!" geram Dara mengepalkan tangannya.
"Sstt, jangan sampai Ibu mendengar, jika kita sering bertengkar. Apalagi, ada mata-mata di luar sana yang akan melihat ke rumah kita ini, Sayang!" bisik Liu Min sedikit nakal.
Liu Min semakin nakal dengan meremas bagian belakang tubuh Dara yang dipukulnya tadi membuat Dara semakin kesal, "Liu Min, lihat saja kamu 'kan aku kuliti nanti!" ucap Dara, "keluar dari kamarku!" umpat Dara.
"Yee, Ibu aja nggak larang. Masa kamu yang larang sih?" ucap Liu Min Dara masih mengawasi jendela kamarnya.
"Dara, jangan mendekat ke jendela. Kita tidak tahu, apakah ada musuh atau polisi yang masih mengawasi tempat ini? Lebih baik menjauhlah dari sana," balas Liu Min.
"Aku hanya cemas! Kamu, sih? Bukankah seharusnya kita pergi dari sini?" bisik Dara takut jika Ningrum mendengarnya dan ia tahu ia tidak ingin mamanya sakit hati dan berpikir jika ia tidak ingin menjenguk mamanya.
"Aku tidak tega melihat wajah Ibu yang begitu berharap, agar kita memakan masakannya. Kamu sih, nggak tahu Ibu selalu saja memasak makanan kesukaan kamu selama setahun ini, Dara.
"Dan berharap saat kamu bangun langsung bisa memakan masakannya. Aku tidak tega Dara. Bayangkan, jika Ibu adalah kita?" ujar Liu Min duduk di sisi tempat tidur.
Dara hanya dia dan duduk di lantai, "Ya, kamu benar! Tapi bagaimana jika musuh tahu kita di sini Tuan Liu?" tanya Dara menatap Liu Min.
"Jangan khawatir! Andaikan itu terjadi, ya, kita melawan! Sudah jangan dipikirkan, aku sangat yakin tidak akan terjadi apa pun, yang penting setelah kita selesai makan.
"Kita akan kembali dengan cepat, aku ingin kita pergi ke diskotik lain untuk mengikuti Cicero," ujar Liu Min.
"Ke diskotik!" tanya Dara bingung.
"Sebenarnya ke tempat prostitusi, aku sangat yakin, jika Cicero akan ke sana, ia sangat doyan dengan para gadis semok dan bohay," ujar Liu Min.
"Memang kamu nggak doyan, gadis begitu Tuan Liu Min yang terhormat?" sindir Dara.
"Ya, mau sekalilah! Aku nggak muna, um. Tapi, kamu juga masuk ke dalam kriteria itu, Nona Dara!" seringai Liu Min memperhatikan lekuk tubuh Dara membuat Dara menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Hahaha, kamu terkadang menggemaskan. Ck, aku bisa mati lemas karena kamu daripada sebuah peluru …," lirih Liu Min.
Ia memandang Dara yang duduk di lantai bersandar pada tempat tidur di sebelah kaki Liu Min.
"Cih, najis! Aku tidak menyangka di kehidupan sekarang kamu benar-benar menjadi perayu!" ketus Dara.
"Hahaha, maksud kamu?" tanya Liu Min tidak mengerti.
"Maksudku, di kehidupanmu yang dulu kamu seperti apa sih? Apa lebih parah dari ini?" tukas Dara berusaha mengakhiri pembicaraan.
Liu Min turun dari tempat tidur duduk di depan Dara dengan menekuk dan memeluk kedua kakinya, "Andaikan aku mengingat kehidupan masa laluku, aku tidak begitu repot mencari belahan jiwaku yang hilang," ujar Liu Min.
Ia menatap wajah Dara berusaha untuk menyelami apa yang sedang dipikirkan oleh Dara di dalam benaknya.
Dara terdiam, "Andaikan kamu tahu, jika kamu seorang kaisar," batin Dara termenung, "betapa malangnya aku, Mama … cintaku, cinta kelapa! Aku cinta dia nggak ngerasa!" umpat Dara perih.
"Apakah kamu tahu di mana tempat prostitusi seperti begitu di sini Dara?" tanya Liu Min.
"Um, aku rasa … aku akan membawamu ke sana," balas Dara, sedikit lwga kala Liu Min tak lagi berbicara tentang masa lalu.
"Baiklah, kita akan ke sana," balas Liu Min dengan tegas.
"Tapi, bagaimana dengan janji kita kepada Hendra?" tanya Dara bingung menebak jalan pikiran Liu Min.
"Jangan khawatir jika kita mengganggu Cicero sekarang, dia pasti tidak akan tahu jika Hendra bagian dari pemerintahan. Itu akan membuat Cicero mempercepat transaksinya karena ia akan takut jika aparat akan mencarinya," ujar Liu Min.
"Bagaimana kamu sangat yakin akan hal itu?" tanya Dara memandang wajah Liu Min.
"Aku sudah lama menyelidiki komplotan Pablo Sandez dan Guangzhou. Sayangnya hal itu sulit tersentuh, ya, kamu lihat aku malah berakhir di penjara bukan?" ujarnya, "duit adalah Dewa yang sangat mengerikan, bagi orang rakus! Dan raja bagi yang kaya untuk meloloskan segala keinginannya," ujar Liu Min.
Dara terdiam dengan falsafah yang diucapkan oleh Liu Min, keduanya saling diam dan saling memandang.
"Anak-anak! Ayo, kita makan!" ajak Ningrum yg sudah tiba di depan pintu yang terbuka.
Dara dan Liu Min sengaja tidak menutup pintu kamar, karena mereka tidak ingin jika Ningrum akan berpikir yang tidak-tidak. Keduanya langsung mengambil piring masing-masing dan makan dengan lahap.
"Pelan-pelan sajalah, tidak usah terburu-buru. Waktu masih panjang," ujar Ningrum tersenyum, "kalian seperti masa latihan militer saja!" umpat Ningrum tersenyum sambil mengupas sebuah apel.
"Ma, selama aku koma … apakah ada orang asing yang menjengukku?" tanya Dara.
"Um …," Ningrum sedikit berpikir, "banyak yang menjengukmu, Nak. Mama lupa, hanya saja yang paling berkesan seorang pria yang sudah berumur lebih muda dari Mama mungkin berumur sekitar 50-an.
"Sepertinya dia adalah orang asing yang bermata sipit. Mama tidak tahu dia siapa, dia sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia, Nak." Ningrum menatap ke arah Dara, meletakkan irisan apel ke sebuah piring.
"Orang asing? Apakah dia meninggalkan sesuatu?" tanya Dara penasaran.
Ningrum menggelengkan kepala, "Dia sama sekali tidak bicara apa pun, tapi … tunggu dulu!" ujar Ningrum beranjak dari tempat duduknya dan beberapa menit kemudian kembali dengan sebuah cincin bergambar tengkorak dan naga berwarna merah.
"Dia menjatuhkan ini, Mama tidak tahu apakah dia sengaja atau tidak? Mama mengejarnya, tetapi ia sudah pergi dengan menaiki mobil meninggalkan rumah sakit," ujar Ningrum memberikan cincin tersebut.
Dara menerima cincin tersebut sementara Liu Min mendekat memperhatikan seutas cincin yang menyeramkan itu. Keduanya saling pandang, "Guangzhou!" batin keduanya.
"Mama, jika Mama bertemu dengan orang ini. Lebih baik Mama menghindar, pria ini adalah penjahat nomor satu di dunia bawah tanah dan menjadi buronan internasional." Dara menatap ke arah Ningrum was-was, menyentuh pipi Ningrum dengan penuh pengharapan.