
Semua orang mundur ke belakang menggunakan tenaga dalam mereka, melihat apa yang sedang terjadi.
Qinglong menyemburkan apinya yang mengerikan membuat senjata terbakar membara tertutup api, semua orang terpesona, api itu tidak membakar pondok hanya membakar senjata. Hingga semua senjata tersebut melebur menjadi satu dan berubah kembali menjadi beberapa pedang, busur, bumerang, dan tongkat yang membara.
"Giliran Kamu, Sayangku!" ujar Qinglong pada naga merah.
Long Mei menyemburkan air yang mengerikan bak bah pada senjata tersebut membuat tempahan besi, perak, logam, dan kayu itu sedikit menghitam dan kemudian menjadi arang gelap.
Setelahnya pasangan naga tersebut kembali menyemburkan angin dan sebuah cahaya sehingga membuat semua benda menjadi berkilau tajam. Semua terperangah melihat hal itu.
"Liu Min, ambillah pedang yang kamu inginkan," ujar Qinglong.
Liu min maju dan menarik sebuah pedang dan pendar kebiruan terpancar kala bersatu dengan dirinya, ia menyalipkan pedang di balik punggung.
"Dara Sasmita, ambillah pedangmu!" ujar Qinglong.
Dara mengambil pedang naga hijaunya, ia begitu menyukai pedang tersebut. Ia melihat pedangnya begitu ringan dan berkilau hijau, ia menyelipkan ke balik punggung.
"Tan Jia Li ambil senjatamu! Ambillah ketiganya," ujar Qinglong.
Liu Amei mengambil senjatanya dan menyalipkan ke balik punggung. Begitu juga dengan Ahim Yilmaz dan Liang Bo, ia mendapatkan pedangnya.
"Berikan satu lagi pada istrimu," pesan Qinglong.
"Terima kasih, Tuan Naga," ujar Liang Bo.
Luo Kang terperanjat dengan tongkatnya yang tak lagi berwujud kayu rapuh tapi perak yang berkilau bercampur dengan kayu kuat yang indah.
"Aku rasa sudah waktunya kita ke medan pertempuran. Berhati-hatilah!" pesan Qinglong, "naiklah kalian ke punggung kami," ucap Qinglong.
"Aku dengan siapa!" tanya Liu Min bingung, ia masih melirik ke kanan dan kiri melihat pasangan naga tersebut.
"Kaisar, Anda dan permaisuri Dara, Pangeran Gu dan jendral Tan Jia Li naiklah ke punggungku, sisanya naiklah ke punggung istriku," jawab Qinglong.
Masing-masing melesat naik ke punggung Qinglong dan Long Mei yang langsung melesat membawa mereka ke gurun melewati hutan bukan angkasa, mereka tidak ingin jika anak buah Guangzhou atau reinkarnasi Lu Dang mengetahui semua itu.
"Apa kamu yakin mereka telah membuat sesuatu untuk menjebak kita?" tanya Liu min pada Dara.
"Aku tidak tahu, tapi aku sangat yakin jika mereka pasti melakukan hal itu. Bagaimanapun mereka pasti menggunakan cara licik untuk menjebak kita.
"Paling tidak mereka pasti menggunakan sandera untuk membuat kita menyerah, percayalah. Orang-orang licik seperti mereka tak akan mungkin membiarkan begitu saja semua hal dengan mudah," balas Dara.
"Ya, kamu benar!" cetus Liu Min, ia hanya diam masih memeluk pinggang istrinya terus menukik di punggung Liu Min.
"Pengalaman yang paling unik adalah bisa menunggangi naga, ini adalah hal yang paling luar biasa," ujar aku Min meraba sisik Qinglong.
"Woy! Jangan asal raba dong? Kalau kamu yang raba nggak enak tahu!" umpat Qinglong, ia menoleh ke belakang tubuhnya.
"Aku hanya penasaran, dengan sisikmu Tuan Qinglong!" teriak Liu min.
"Aduh, aku kira … kamu omes juga padaku," ujar Qinglong sedikit bergidik ngeri.
"Yee, sungguh terlalu! Aku masih mencintai istriku," umpat Liu Min kesal, " aku hanya omes pada istriku saja, tidak yang lain," sungut Liu Min kesal.
"Makanya jadi orang jangan terlalu omes deh!" Jadi orang berpikir negatif!" balas Dara.
"Masih mending aku negatif kalau positif bisa aneh dong?" ujar Liu Min.
"Maksudnya?" tanya Dara menoleh ke belang bertepatan dengan bibir Liu Min yang tanpa sengaja menyentuhnya.
"Kalau positif ya aku hamil dong? Parah, masa aku kamu buat hamil? Kebalik kali," ujar Liu Min.
"Ah, Sayang!" balas Dara manja.
"Woy! Jangan bermesraan di atas punggungku!" teriak Qinglong komplain, "ingat! Jika kita akan berperang! Bukan malah bermesraan!" umpat Qinglong kesal.
"Ya, ampun! Nih, naga heboh banget sih?" keluh Liu Min.
"Aku akan melemparkan kalian! Jika kalian bermesraan di punggungku," ancam Qinglong, "lihat tuh, pasangan di belakang kalian lebih tenang dan santai!" ucap Qinglong menunjuk Ahim dan Liu Amei yang hanya diam memandang semua hal.
"Yee, kan kamu sudah lama tidak bertemu. Tuan Qinglong saja sekali bertemu langsung, plok! Plok!" balas Liu Min, ia melagakan kedua belah telapak tangannya.
"Aduh, mengapa aku menyuruhmu naik ke punggungku sih? Mengapa Long Mei begitu betah melakukan perjalanan denganmu?" lirih Qinglong, ingin rasanya ia mencabuti semua sisiknya.
"Aduh, Tuan jangan terlalu kejam. Lagian kita juga tidak tahu bagaimana ke depannya nasib kita. Apa salahnya jika aku dan istriku sedikit bermesraan, siapa tahu esok kami tak lagi bertemu," lirih Liu Min.
"Hush! Ngaco kamu! Aku nggak mau, ingat! Jika kamu mati, aku pun ikut mati!" ujar Dara tegas, "aku tidak bisa hidup tanpa kamu Yank!" desah Dara.
"Jangan mendesah gitu dong, Ay! Bisa kacau entar nih," keluh Liu Min, mulai omes.
Pletak!
"Dasar Gu Keparat! Omes kamu mirip Gu Shanzheng," ucap Liu Amei, ia mengingat suami masa lalunya, ia bersyukur jika reinkarnasi Gu Shanzheng pada Ahim Yilmaz tidak omes.
"Ya, ampun! Heboh banget sih? Udah, akh! Kalian mesraan kek, dengan pasangan masing-masing," umpat Liu Min.
"Sayang, pokoknya kita harus selamat, titik tidak pakai koma. Jika kamu mati aku pasti mati," tegas Dara.
"Jangan gitu dong Sayang! Kasihan anak kita. Kamu harus hidup dan selamat." Liu Min memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Nggak mau! Kita sudah berjanji sehidup semati, aku tidak mau satu hidup dan satu mati apalagi sampai kawin lagi," ucap Dara.
"Ngaco! Nggak!" sanggah Dara, "terus kalau aku yang mati, kamu kawin lagi gitu? Sungguh terlalu kamu, Liu Min!" teriak Dara kesal.
"Lha, namanya sudah mati Yank! Mau gimana lagi dong?" tanya Liu Min dengan gayanya.
"Dasar Liu Min sialan!" umpat Dara.
"Hahaha," tawa Liu min bergema. Di belakang mereka Ahim Yilmaz dan Liu Amei hanya tertawa dan geleng kepala melihat tingkah mereka berdua.
"Kita sudah mulai sampai!" sela Qinglong.
Ia mendarat di tanah di antara lebatnya hutan dan semak perdu di perbatasan gurun Jinping (Xihe).
Dara, Liu Min, dan semua orang melesat turun dari punggung Qinglong dan Long Mei.
"Apakah kita akan menyerbu masuk?" tanya Liang Bo tak sabaran.
"Jangan gegabah! Aku rasa, aku dan Liu Min akan masuk terlebih dahulu dari sini," ucap Dara, ia yang sudah pernah masuk ke dalam bangunan di depan di tengah gurun Jinping.
Dara menggambar denah bangunan yang pernah dimasukinya bersama dengan Qinglong, dengan bantuan Qinglong untuk mengingat semuanya sedetail mungkin.
"Terus, bagaimana dengan kami?" tanya Liang Bo, ia masih tak sabaran ingin segera membebaskan istri dan anaknya.
"Kalian bisa memutar dari bangunan yang ini, untuk mencari sandera. Aku yakin mereka pasti menyimpan sandera di salah satu bangunan ini," ucap Dara.
"Lalu, bagaimana dengan kami?" tanya Liu Amei, ia masih memperhatikan gambar ala kadarnya di tanah bercahayakan api Qinglong.
"Cece lebih tahu harus bagaimana," ujar Dara, ia mengingat jika Liu Amei adalah reinkarnasi dari Tan Jia Li yang hebat.
"Baik kalau begitu, aku dan Ko Ahim, akan masuk dari pintu Utara, sedangkan Liang Bo dan Luo Kang masuk dari barat. Kalian dari Selatan ( pintu utama)," usul Liu Amei.
"Aku dan Long Mei dari bagian angkasa menyemburkan semua apiku dan air kamu Sayang, aku rasa itu cukup hebat.
"Long Mei, berhati-hatilah dengan jaring emas," pesan Qinglong pada kekasihnya.
"Mereka masih menggunakan hal itu?" tanya Long Mei sedikit ngeri.
"Mereka menggunakan jaring emas?" tanya Liu Min, ia penasaran.
"Ya," balas Dara dan Qinglong.
"Hm, andaikan kita memiliki sejenis minyak itu sangat memudahkan lepas dari jaring itu," ucap Liu Min.
"Dimana kita menemukan minyak?" tanya Dara, ia menoleh pada suaminya.
"Tidak jauh dari sini ada pabrik minyak, aku rasa kalian bisa masuk ke sana dan melumuri tubuh kalian dengan minyak," ujar Luo Kang.
"Bagaimana jika Tuan Luo mengantarkan kami?" tanya Qinglong.
"Ayo! Aku rasa kita masih punya waktu 30 menit sebelum pukul 24.00," ujar Luo Kang.
"Tidak usah Qinglong, sebaiknya kita berdua saja yang pergi. Agar ada yang membantu Luo Kang, kita akan secepatnya kembali," balas Long Mei.
"Baiklah! Kami pergi dulu berhati-hatilah kalian," ucap Dara dan Liu Min.
Qinglong dan Long Mei melesat menembus malam melalui hutan ke arah selatan.
"Kami akan masuk terlebih dahulu, saat kami sudah berada di tengah kalian secepatnya berlari ke arah yang kalian tuju," ujar Liu Min.
"Baik, Yang Mulia Kaisar!" balas semua orang.
Dara dan Liu Min melesat secepatnya menuju pintu utama bercahayakan malam purnama dengan badai angin.
"Sayang, aku rasa itu adalah pabrik minyak goreng itu. Sebaiknya kita langsung masuk saja ke penyulingannya," ujar Qinglong langsung masuk ke sebuah bak penampungan minyak.
Qinglong berenang di sana, begitu juga dengan long Mei. Keduanya melesat secepatnya kabur untuk kembali ke pertempuran.
***
Dara dan Liu Min telah tiba di depan pintu benteng masuk di gurun Jinping.
"Berhenti! Akhirnya kalian datang juga," ucap Axiang, ia menodongkan senjata bersama semua anak buahnya yang sudah mengepung Dara dan Liu Min.
Gedebam!
Pintu gerbang terbuka, "Ayo, jalan!" perintah Axiang.
Dara dan Liu Min berjalan perlahan di bawah todongan senjata ya g diberikan oleh Axiang dan semua anggotanya.
Plok! Plok!
"Hidup Raja Iblis Neraka!" teriakan semua orang.
"Raja iblis neraka? Hm, nama yang aneh," ujar Liu Min.
"Ya, dialah biang keladi semua ini," balas Dara, ia berusaha untuk mencari di mana si raja iblis neraka tersebut tetapi ia tak bisa melihat selain kabur hitam yang melayang-layang di angkasa di atas kepala LunDang atau Guangzhou.
"Apakah itu raja iblis neraka?" batin Dara, ia berusaha untuk menghubung-hubungkan banyak kisah yang tak masuk akal dengan dunia modern.