Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Rumah Li Phin masa lalu dan masa kini


"Ayo, kita pulang? Apakah ada yang terluka?" Tanya Ahim Yilmaz pada ketiganya yang langsung menggelengkan kepala.


"Laopo, apakah mereka anak buah Guangzhou? Bukankah terakhir kali kamu menguras semua bisnis mereka di Shenzhen?" tanya Ahim Yilmaz.


Ia memasuki mobil patroli dan ia mulai curiga, jika yang melakukan semuanya adalah Guangzhou.


"Aku tidak tahu, bisa jadi, melihat jenis senjata yang mereka gunakan. Aku yakin itu bukan senjata murahan dan gampang didapat.


"Bajingan! Jika aku bisa menemukan Guangzhou aku akan mengulitinya!" umpat  Liu Amei.


"Kakak, berurusan dengannya di Shenzhen?" tanya Liu Min.


Liu Min mengingat kata-kqta dari Luo Kang jika ia pertama kali bertemu Guangzhou di Kota Shenzhen.


"Ya, ingatlah! Jika kalian adalah Li Min dan Yu Lan. Aku akan memasukkan kalian ke Shenzhen nanti malam pergilah ke sana, carilah Wong Jin," ujar Liu Amei.


"Baiklah! Jadi, bagaimana dengan kalian berdua apakah kalian akan pulang ke rumah kalian begitu?" tanya Liu Min.


Liu Min masih penasaran ia tak menyangka jika kakak dan kakak iparnya akan menjadi target pembunuhan yang sudah direncanakan oleh Guangzhou.


"Jangan pikirkan aku, aku hanya ingin malam ini kalian pergilah ke hotel B di tengah Kota Shenzhen, temui Wong Jin di diskotik A. Nanti dialah yang akan menuntun kalian di sana." Liu Amei menulis di secarik kertas dan memberikannya pada Liu Min.


"Ini zaman modern, masih saja menggunakan kertas!" sindir Liu Min.


"Alat digital mudah dilacak oleh mafia cyber,lebih baik menggunakan kertas dan bakar, akan tak ada bukti. Kemajuan teknologi ada plus dan minusnya, jangan terlalu terlena 


"Um, sebaiknya kalian berhentilah di belokan depan, di sana sepi. Nah, ini kunci pergilah ke rumah yang sering kita kunjungi dulu sewaktu kecil," ujar Liu Amei.


Liu Min mengambil kunci dan hanya diam saja mengikuti instruksi yang diberikan. oleh Liu Amei, sementara Dara hanya diam saja tak bicara sepatah kata pun. Ia masih menghubungkan banyak hal dengan semua kejadian.


"Jika Shenzhen merupakan tempat dimana Ce Amei menghancurkan bisnis Guangzhou. Maka di sanalah basis kekuatan dari Guangzhou, lalu apa hubungannya dengan Kota Hunan da Jinjing?" batin Dara.


Tepat di kelokan, Ahim Yilmaz menurunkan mereka, "Ingatlah Yu Lan, Li Min, jika kalian di dalam misi. Jangan pernah memanggil nama asli kalian. Carilah Wong Jin," pesan Liu Amei, "rahasiakan juga identitas kalian pada Wong Jin. Ia pun memakai nama samaran," lanjut Liu Amei.


"Baiklah, Ce. Hati-hati!" 


"Kalian juga berhati-hatilah, musuh yang kalian hadapi bukanlah penjahat atau mafia biasa," ujar Liu Amei, "ingat Li Min, kau bukan lajang lagi, ada Yu Lan yang akan kamu lindungi," lanjutnya.


Ahim Yilmaz hanya menganggukan. Kepala, "Sampai jumpa lagi," ujarnya mengendarai mobil patroli membelah sore hari.


Liu Min langsung menarik tangan istrinya berlari memasuki semak-semak pepohonan kecil dan bunga persik dan tiba di sebuah rumah yang sedikit jauh dari rumah penduduk.


Liu Min langsung membuka pintu, "Laopo, masuklah," ujar Liu Min.


Dara masuk dengan cepat, mereka hanya melihat jika rumah itu hanyalah rumah tua yang tak lagi berpenghuni. Dara memandang jika tikus berlarian, suara cicitan tikus memenuhi segala penjuru rumah  tak tentu arah melihat manusia datang.


Dara melihat jika Liu Min kembali mengunci pintu dan menarik sebuah tuas kayu di antara dinding pintu masuk dan jendela. Sebuah pintu terbuka dari balik lantai dan langsung memperlihatkan sebuah anak tangga kayu menuju ke sebuah tempat.


Dara mengikuti suaminya masuk dan Liu Min kembali menarik tuas di sisi anak tangga hingga lantai kayu kembali tertutup dengan sendirinya.


"Liu Min apakah ini bisa terus hingga ke istana Donglang?" tanya Dara. 


Ia mengingat jika ada banyak pintu rahasia di kekaisaran Donglang. Liu Min menatap Dara, "Entahlah, aku tidak pernah menyusuri hingga ke sana. Yang aku tahu jika ini bisa menyambung ke rumah di taman persik di tengah kota Hunan, dekat dengan museum Hunan."


"Rumah di taman persik?"


"Ya, taman persik dengan pohon bunga persik yang sangat tua sekali. Mungkin sudah berumur ratusan tahun. Um, tetapi rumahnya sudah tidak ada hanya tinggal puing-puing saja. Semua itu milik pemerintah Hunan," ujar Liu Min.


"Bukankah itu adalah istana taman persik milik ayah Li Phin?" batin Dara, "um, apakah ini menyambung dekat dengan istana dingin?" tanya Dara.


"Istana dingin? Aku tidak tahu, hanya ada sebuah rumah yang selalu dingin di sana, kamu bisa mengikuti lorong ini, kita akan berada di rumah dingin itu," balas Liu Min.


"Tidak salah lagi ini pastilah rumah Li Phin," batin Dara.


Dara melihat ruangan sedikit luas terdapat tempat tidur susun terbuat dari kayu kuat dan beberapa kursi dari bambu juga peralatan memasak juga kulkas mini.


Liu Min membuka kulkas dan melihat isinya, "Berarti Cece sering kemari," ucap Liu Min penasaran.


Dara mengambil beberapa ayam dan memasak nasi dan menggoreng ayam, mereka makan dengan diam, membersihkan tempat, sebelum mereka pergi.


"Aku rasa kita akan pergi malam ini. Ayo," ajak Liu Min, menarik sebuah laci yang terdapat di bawah tempat tidur dan mengambil pistol dan sangkur begitu juga dengan Dara.


Liu Min mengajak Dara berjalan ke koridor panjang dari sebuah gua dan terus berjalan diterangi lampu samar dengan bohlam kecil berjarak 10 meter dengan lampu lain.


Mereka muncul tepat di reruntuhan rumah yang dibiarkan terbengkalai tanpa perawatan berada di tengah kota hanya taman persik di sebelah barat yang masih terlihat terawat indah.


"Apakah rumah tadi adalah gua di mana aku bertemu Nona Zhang Mei?" batin Dara. 


"Ayo!" ajak Liu Min, menarik tangan Dara berlari cepat menuju ke sebuah jalan sepi dan gelap kemudian berjalan ke cahaya lampu di bawah penerangan tiang listrik.


Liu Min menyetop taksi, "Ke Stasiun KA," ujarnya.


Keduanya memasuki taksi yang langsung membawa keduanya ke stasiun KA.


Liu Min yang memakai topi begitu juga dengan Dara. Liu Min memesan dua tiket jurusan Shenzhen duduk di gerbong 3.


"Jadi, ini adalah alun-alun dari kekaisaran Donglang dijadikan stasiun KA," batin Dara.


Ia masih memperhatikan segalanya, ia merasa kembali menyatukan sebuah teka-teki silang yang hilang. Dara hanya diam saja kala beberapa preman berusaha untuk naik ke KA.


Duduk tepat di sisi kanan merka, "1,2,3 …10 orang. Biasanya hanya premanlah yang selalu bergerombol," batin Dara.


Ia berusaha untuk menarik lidah topinya semakin menutup wajahnya. Sementara Liu Min hanya diam saja di sisinya dengan bersandar di punggung kursi KA dengan memejamkan mata.