Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Xihe yang menderita


"Suamiku! Oh, maaf … aku … aku tidak tahu apa yang terjadi?" ujar Dara menatap ke arah Jang Min dan memeluknya.


"Ada apa Istriku? Katakanlah!" ucap Jang Min dengan penuh kelembutan dan kearifan.


"Entahlah," ujar Dara dengan isak tangis, "bagaimana aku mengatakan kepada Jang Min? Jika aku jiwa lain yang berada di tubuh Li Phin dan Li Phin, bagaikan jiwa yang gentayangan tak tahu ke mana karena raganya telah aku huni. 


"Lalu cinta mereka … selir Qin benar-benar kurang ajar!" batin Dara.


"Istriku, ada apa katakanlah," desak Jang Min menatap ke arah istrinya.


"Aku hanya … hanya … teringat sesuatu, selama ini aku tidak mengingat apa pun." Dara mencoba mencari kata agar pria yang disukai di depannya yang entah sejak kapan mencuri hati agar tidak merasa cemburu pada Liang Si. 


"Sudahlah  jika nanti kamu ingin menceritakan padaku maka, ceritakanlah, apa yang mengganjal di hatimu?" balas Jang Min berusaha sebijaksana mungkin, "andaikan aku memaksanya, bukan kedamaian yang aku dapat. Bisa-bisa Li Phin kabur lagi.


"Wanita tercipta dari tulang yang bengkok dari bagian tubuh pria, aku takut jika aku memaksanya untuk menjadi lurus maka bukan lurus yang akan aku dapatkan melainkan patah," batin Jang Min terdiam.


"Suamiku, aku rasa biarlah Dayang Xue yang akan mengurusnya," usul Dara ia mengajak suaminya ke luar setelah ia memberikan beberapa kapsul ke mulut Liang Si.


"Baiklah, Dayang! Suapkanlah ramuan kepada Pangeran kedua Limen Utara," perintah Jang Min.


"Baik, Yang Mulia!" jawab Dayang Xue dengan kelembutan dan langsung melaksanakan perintah.


Semua orang mendengar igauan yang diucapkan oleh Liang Si yaitu nama Li Phin berulang kali, sementara Li Phin sendiri entah terbang ke mana dengan semua kesedihannya.


***


Sementara Jenderal Tan Jia Li dan Gu Shanzheng telah tiba di Xihe, mereka melihat keadaan Xihe yang memprihatinkan semua orang hanya berani mengintip di dalam rumah.  Tan Jia Li melihat rumput hampir memenuhi pekarangan ditimpa cahaya purnama.


"Apakah kita akan langsung ke rumah kepala provinsi Xihe (seperti gubernur)?" tanya Tan Jia Li menatap ke arah Gu Shanzheng.


"Aku rasa tidak usah! Kita langsung membagi kepada masyarakat dulu dan sekaligus mencari keterangan ada apa sebenarnya? Bukankah pasokan akan datang lagi besok? Jika kita sudah berhasil malam ini maka Jenderal  Fuk Lei akan kemari lagi untuk mengamankan perbatasan. 


"Dan kita akan menyelidiki ke perbatasan Mongol seperti yang dikatakan Paduka Kaisar," ujar Gu Shanzheng.


"Apakah kamu tidak ingin singgah ke Wuling?" tanya Tan Jia Li.


"Apakah kamu ingin mampir bersamaku?" tantang Gu Shanzeng.


"Dasar gila! Keluargaku di Luoyang lagian sekarang kami tinggal di istana putih," balas Tan Jia Li melesat turun dari kudanya mengatur semua bawahan untuk membagikan makanan kepada semua warga Xihe di pedesaan.


"Para penduduk Xihe! Keluarlah, kami utusan dari Kaisar Liu Min membawa makanan dan obat-obatan juga tabib untuk mengobati kalian," ujar Lin Tao dan Zhao Wei Juga Zhang Fuk beserta asisten Tabib Luo, Wong Fei sudah bersiap siaga untuk membagi semua bahan pangan.


"Benarkah kalian utusan dari Kaisar Liu Min? Bukan penjahat? Aku tidak ingin jika kalian berbohong lagi! Kalian harus enyah dari kota kami!" teriak seorang anak kecil pria berumur 10 tahun dengan pedang bambu di tangan dengan pakaian kumal dan tambalan.


"Adik, kami benar-benar utusan Kaisar Liu Min. Ini buktinya!" ujar Tan Jia Li mengangkat plakat pemberian dari Jang Min.


"Maafkan kami Yang Mulia Kaisar Liu Min! Kami hanyalah orang bodoh dan tidak tahu apa-apa!" ujar seseorang ke luar dari balik pintu memeluk anak kecil tersebut dan langsung berlutut.


"Berdirilah Paman, kami hanya ingin bertemu dengan kepala desa untuk memberikan sandang pangan dan obat-obatan ini, mohon kerjasamanya Paman!" ujar Gu Shanzheng.


"Baiklah, Yang Mulia Jenderal!" ujar Pak Tua tersebut, ia memanggil semua warga dan semua mendapatkan apa yang diberikan oleh kaisar dan asisten Wong Fei langsung memeriksa luka para penduduk yang terserang racun  ringan tetapi membuat kulit menjadi melepuh dan busuk hingga akhirnya mati begitu juga dengan binatang ternak.


"Jangan gunakan air dulu! Sepertinya air di sumur telah diracuni," ujar Wong Fei.


"Lalu bagaimana kami bisa minum Tuan Tabib?" tanya seorang wanita tua.


"Begini saja, di mana di sini ada mata air dari pegunungan atau sungai?" tanya Tan Jia Li menatap semua warga yang memakan bakpao sedikit keras dari pemberian kaisar untuk sementara mengganjal perut sebelum memasak makanan.


"Aku akan mengantar ke sana, Kakak Jenderal!" ucap anak kecil tadi.


"Um, wah! Kamu hebat dan berani sekali. Tapi, um, orang besar saja. Besok baru giliran kamu," balas Tan jia Li.


"Hamba yang akan mengantar Yang Mulia Jenderal!" ujar seorang wanita muda.


"Baiklah!" balas Tan Jia Li.


"Zhao Wei dan sebagian ayo, mengambil air bersama Nona ini, jaga dia baik-baik! Jangan sampai lecet!" pesan Tan Jia Li.


"Baik, Kakak Jenderal!" balas Zhao Wei sedikit nyengir kuda.


Zhao Wei dibantu 10 teman prajurit dan sang wanita pergi ke pinggir Desa Xihe.


Anggota Gu Shanzheng membantu asisten Wong Fei mengobati para warga dan mencoba untuk memeriksa seluruh air dan apa yang bisa mereka buat untuk memasak nasi dan sayur-mayur. Mereka sengaja membuat dapur umum lebih memudahkan mereka untuk bekerja sama.


Zhao Wei sudah kembali dengan air di pikulan mereka masing-masing, para warga yang tidak terluka dan sedikit masih kuat seperti gadis cantik tersebut membantu para prajurit untuk memasak nasi, air, dan lauk pauk seadanya.


Mereka makan dengan tenang bersama para semua warga, "Sudah berapa lama kalian menderita begini?" tanya Tan Jia Li bingung, memperhatikan semua rumput dan keadaan desa yang tak terawat.


"Sudah hampir setahun Kakak Jenderal!" ujar Pria Tua sebagai kepala desa Xihe.


"Apa? Jadi selama ini setiap utusan yang datang kemari tidak pernah sampai?" tanya Tan Jia Li.


"Kami tidak tahu, jika Yang Mulia Kaisar pernah mengirimkan apa pun pada kami," ujar Kepala Desa Xihe.


"Ada apa ini? Siapa yang telah melakukan semua ini? Apakah kalian tahu akibatnya jika kalian melakukan ini? Maka Kaisar Liu Mjn akan membunuh kalian!" ujar seorang pria.


"Kau siapa?" tanya Tan Jia Li.


"Aku adalah Xiang Lu, aku adalah utusan Kaisat Liu Min untuk mengawasi kalian agar tidak melakukan pemberontakan, aku berhak untuk menghukum kalian!" ujar Xiang Lu.


Trang!


Tan Jia Li melesat dan menyeret Xiang Lu ke tanah dan langsung meletakkan pedang di leher dan sebelah kakinya di dada Xiang Lu.


"Sejak kapan Kaisar Liu Min membuat rakyatnya menderita! Mana plakatmu! Siapa yang mengirimkanmu? Kau kenali baik-baik siapa aku dan eemua oria yang datang ini?" ucap Tan Jia Li emosi.