Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bab 6~Minta duit


"Hei! Bangun, pemalas. Nona muda kaya yang sekarang kere," cibir bu Nani sambil menendang kaki Kamila.


Mila mengerjapkan mata, kemudian menatap ibu mertuanya.


"Jam berapa sekarang, Bu?" tanya Mila lirih.


Bu Nani berdecak pelan. "Jam tujuh," sahut bu Nani singkat.


Mata Kamila terbelalak. "Oh, ya tuhan!" Mila langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


"Heh! Tanpa permisi langsung nyelonong ke kamar mandi aja," ketus ibu mertua sambil melipat tangan di dada.


Ternyata dari semalam Kamila tertidur di dapur setelah menangis semalaman dengan posisi terduduk.


Rasa pegal di pinggang, kini ia rasakan setelah berdiri lalu berjalan. "Sakit banget!" keluhnya menggerakkan pinggang ke kanan dan kiri.


Kamila tak tahu jika ibu mertuanya masih berada di dapur dan memperhatikannya.


Melihat Kamila menggerakkan pinggang ke kanan dan kiri, terkesan seperti meledeknya dengan bokong. "Memangnya ibu ngapain kamu sampai kamu ngeluh sakit dan meledek ibu seperti itu!"


Kamila terkejut dengan suara ibu mertuanya sampai ia langsung berbalik. "Ibu!" matanya membulat sempurna. "Maaf! Mila bukan meledek ibu. Pinggang Mila sakit karena tidur sambil duduk," jelasnya tak enak hati.


"Heleh. Siapa suruh kamu tidur di sini, sampai membiarkan suamimu tidur sendirian di kamar!" cibir ibu mertuanya.


"Maaf!" Kamila pun bergegas ke kamar.


Tanpa Kamila sadari, si ibu mertua mengikutinya dari belakang sampai depan pintu kamar.


Betapa terkejutnya Kamila saat membuka pintu, ternyata wajah garang bu Nani tengah menatapnya tepat di depan mata.


"Ya tuhan!" Kamila sampai mundur ke belakang saking terkejutnya.


Bu Nani melotot melihat ekspresi terkejut menantunya. "Hei, kamu! Dikira ibu itu hantu kali ya, sampai kamu mundur ke belakang gitu!" tegur bu Nani dengan nada tinggi.


"Bu-bu-bukan, Bu! Tadi, Mila hanya ..." belum sempat Kamila meneruskan ucapannya, ibu mertua sudah menginterupsi lagi.


"Bagi duit!" menengadahkan tangan di hadapan Kamila tanpa mau mendengar penjelasan.


Kamila mengerutkan dahi, menatap tangan yang menengadah itu. "Maksud ibu?"


"Ibu hanya minta duit sama kamu untuk belanja. Cepet, bagi duitnya!" kata bu Nani dengan menggoyangkan tangan yang menengadah tadi.


"Tapi, Mila belum gajian, Bu! Mila kan baru masuk kerja sehari. Di sana gajiannya mingguan, gak harian!" jelas Kamila.


"Kasih aja lah, Mil. Pelit banget kamu sama mertua!"


Kamila memutar kepala ke arah sumber suara. "Aku belum punya duit, Mas! Kamu kan tahu sendiri," ia membela diri di hadapan suaminya.


Melihat menantunya yang lengah, bu Nani menyeringai. "Bohong, kamu! Coba ibu lihat tas kamu," Bu Nani merebut tas tangan milik Kamila.


Dia mengeluarkan segala isi tas tersebut dengan cara menjatuhkan semua barang dari dalamnya. Ternyata, ia menemukan lembar merah diantara selipan obat.


"Tuh kamu lihat, Rik! Dia bohong, kan!" Nani memungut uang dan obat yang tergeletak di lantai. "Ini ada duit sama obat penambah darah. Berarti selama ini dia nipu kita," tambahnya memanas-manasi putranya.


Riki yang melihat itu lantas langsung marah mendengar perkataan ibunya. "Jadi, kamu menyembunyikan ini dariku?" bentaknya pada Kamila.


"Tidak, Mas! Itu uang sama obat dikasih Ibu Siti, pemilik warung tempat aku bekerja. Dia menyuruhku memeriksakan kandungan karena dia sayang sama aku," tutur Kamila membela diri.


"Jadi menurutmu, aku gak sayang sama kamu gitu!" Riki berkata dengan nada tinggi.


Kamila menggelengkan kepala. "Bukan itu maksud aku, Mas!"


Nani mengibaskan lembar merah bergambar presiden. "Ini duit, Ibu ambil untuk beli lotion. Lumayan, bisa dapet botol yang gede!" soraknya melenggang pergi diikuti Riki.


Melihat hal itu, Kamila segera mencegahnya. "Jangan, Bu! Aku mohon," teriakan Kamila tak diperdulikan mereka.



Uang pemberian bu Siti yang seharusnya ia pakai untuk memeriksakan kandungan, malah diambil mertuanya untuk membeli lotion.


Perut terasa keroncongan karena sejak pagi tadi dia tak makan apapun. Padahal, bu Siti memberikan mereka sarapan pagi sebelum memulai bekerja.


Bu Siti terus memperhatikan Kamila dengan seksama. Guratan kelelahan jelas terlihat dari raut wajah cantik Kamilaa. Tangannya terulur dan menepuk pelan bahu Kamila dengan lembut.


"Mila. Kamu kenapa? Kok terlihat lemas gitu!" Bu Siti menatap cemas.


Kamila hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Gak apa-apa, Bu! Jangan khawatir!" sahutnya.


"Tapi ..."


Ucapan bu Siti tak tersampaikan karena para pembeli yang keburu datang berebut tempat duduk dan memesan makanan.


Mau tak mau, bu Siti mengabaikan rasa penasarannya kepada Kamila dan mulai menyibukkan diri di dapurnya.


Setelah sekian lama bekerja, kini tiba waktunya istirahat.


"Kamila sama Leni dulu yang makan. Biar Ismi sama Dini nunggu giliran," kata bu Siti.


Mereka menuruti perintah si pemilik dan makan dengan bergantian.


Kamila dan Leni masuk ke dapur untuk mengambil makanan. Kamila menyendok nasi tak banyak, hanya setengah centong dan mengambil sayur bayam serta telur dadar.


Padahal, bu Siti tak mempermasalahkan para pegawainya untuk makan dengan sayur atau lauk apa saja. Bu Siti ingin semua pekerjanya sehat dan juga betah bekerja.


Dia tak mau jika para pekerja mengeluh kalau dirinya pelit. Karena faktanya, bu Siti orang yang loyal kepada pegawainya.


Bu Siti biasanya di depan, jika para pekerja makan bergantian. Tapi hari ini, dia sengaja ke dapur hanya sekedar untuk memperhatikan Kamila.


"Mila. Makan yang banyak dong! Ibu ingin semua pelayan di warung ibu sehat dan senang." kata bu Siti.


Kamila dan Leni menoleh ke arah sumber suara.


"Tuh lihat! Leni aja makannya lahap gitu. Masa kamu enggak sih, Mil!" Kamila hanya tersenyum melirik Leni. "Kamu kan sedang hamil, seharusnya makan lebih banyak!" lanjut bu Siti.


"Iya, Bu! Mila nanti nambah lagi deh!" ucapnya menenangkan bu Siti.


"Oh iya, Mil! Apa kata dokter? Bayi nya tumbuh dengan baik kan!"


Kamila berhenti menyendok makanan. Sejenak ia menatap bu Siti yang bertanya dengan antusias, kemudian menyuapkan lagi makanannya setelah tersenyum tipis.


Bu Siti mencium ada sesuatu yang aneh dari Kamila. Dia memang jarang banyak bicara, tapi Kamila akan menjawab pertanyaan walaupun itu hanya iya atau tidak saja.


"Kenapa? Apa uangnya tidak cukup, atau uangnya hilang?" pertanyaan bu Siti membuat mata Kamila berkaca. Dia tak tahu harus berkata apa.


Rasanya untuk memberitahukan semua yang dialaminya di rumah itu memalukan. Kamila tahu jika itu aib keluarga yang harus di sembunyikan.


Dia tak mau menjelekan suami ataupun kedua mertuanya, walaupun mereka tak adil kepada dirinya.


"Tidak, Bu! Bukan seperti itu. Mila belum sempat berkonsultasi dengan dokter kandungannya. Kemarin kliniknya tutup. Jadi, Mila belum periksa kandungan!" sahutnya berbohong.


'Maafin Mila, Bu! Mila sangat malu untuk mengatakan yang sebenarnya.'


"Oh, seperti itu! Baiklah! Nanti sore Ibu temani kamu ke klinik, ya. Ibu juga pingin tahu dong, perkembangan janin mu. boleh kan!" Bu Siti terlihat antusias.


Senyum kecut terlihat di bibir Kamila. Ia bingung harus beralasan apa, supaya bu Siti tak mengantarnya.


Di satu sisi, Kamila sangat senang karena ada yang perhatian sama dirinya_tak seperti suami dan mertuanya. Di sisi lain, ia bingung karena uang yang diberikan bu Siti sudah tidak ada sebab diambil ibu mertuanya.


Bu Siti terus memperhatikan kecemasan dari raut wajah Kamila. Dia tahu jika Kamila sedang berbohong. Tapi, dia pun harus tahu apa alasan Kamila berbohong padanya.


'Kamu anak baik, Kamila. Ibu tahu hanya dengan sikap sopan mu saja. Tapi, Ibu masih penasaran dengan kehidupanmu. Sepertinya, kamu memikul beban yang cukup berat.' batin Bu Siti.


...Bersambung ......