
"Tidak apa-apa!" balas Danu pasrah, "bolehkah aku meminta sigaret?" pinta Danu, ia benar-benar pusing dan ingin meredakan sejenak.
Polisi tersebut memberikan sebungkus sigaret dan pemantik, Danu langsung menyulutnya dan menghisapnya dalam-dalam, "Aku berharap ada titik terang dari semua kejadian ini. Apalagi Daniel pun masih hilang!" batin Danu.
Ia terbayang wajah Jalik, "Sial, mereka pun menahan ponselku. Aku harap Jalik cukup pintar!" batinnya sedikit cemas.
Danu kembali digiring ke rumahnya dan dijaga di sana bak tahanan yang telah melakukan sebuah kesalahan yang mengerikan.
***
Liu Min dan Dara berusaha untuk bersikap profesional dan tidak mengungkit kejadian tadi pagi, keduanya bersikap biasa saja, seolah-olah tidak ada terjadi apa pun.
Walaupun kala kedua belah mata mereka bersitatap masing-masing membuang wajah menahan rasa malu. Dara dan Liu Min menggunakan andong untuk berbelanja seakan mereka adalah pasangan yang sedang berlibur.
Keduanya berada di sebuah supermarket berbelanja kebutuhan sehari-hari dengan menggunakan penyamaran.
Saat tiba di kasir mereka melihat tayangan di TV yang menampilkan wajah mereka yang sedang mengendarai sepeda motor saling menembak dan kejar di jalan protokol Medan.
"Wah, keren!" ujar seorang seorang pria.
"Keren dari mananya, bukankah mereka adalah gembong narkoba yang menggunakan seragam, hanya untuk memperkaya diri sendiri!" umpat seseorang dengan ketus.
Mereka masih mengamati layar petak tersebut dengan berbagai ekspresi antara takjub dan marah, "Biarkan saja mereka mati! Jika perlu ditembak mati saja! Buat resah masyarakat, anakku sampai gila dibuat narkoba!" ujar seorang ibu.
"Bukankah pemerintah telah mengeluarkan undang-undang untuk tembak mati ditempat?" cetus seseorang.
"Aduh, Ibu. Penjahat lebih pintar Bu, kalau bodoh dia tidak akan menjadi penjahat, Bu!" sela seseorang.
"Aku sudah geram melihat para mafia, dasar, manusia-manusia pikiran anjay," ujar seseorang.
"Tapi, aku tidak yakin jika Dara Sasmita pelakunya? Bukankah dia koma selama setahun? Dan aku telah membaca riwayat Liu Peter.
"Jika dia dipenjara karena membunuh dan memberantas petinggi Hongkong yang korup dan mafia sindikat narkoba.
"Aku rasa ada permainan di sana! Biasalah, lempar batu sembunyi tangan," sela seseorang.
Dara dan Liu Min yang bertampang seperti kakek dan nenek hanya diam saja, Dara menggunakan hijab dengan bercadar dan Liu Min menggunakan kumis dan rambut putih palsu.
Keduanya segera membayar belanjaan dan langsung pergi dari sana, "Dalang dari semua ini, pastilah berteriak bahagia, dengan apa yang telah mereka lakukan! Sial, aku akan membunuh mereka suatu saat nanti," umpat Dara.
Keduanya kembali ke villa, Dara menyimpan semua daging, ayam, buah-buahan, dan susu kedalam kulkas dengan diam.
Batin Dara masih marah dan kesal dengan apa yang telah terjadi, "Siapa yang menuai keuntungan dari kehancuranku? Apa yang telah aku lakukan hingga seseorang menjebakku?
"Aku memang selalu menangani semua kasus narkoba sejak lama. Tapi, sejak menangani kasus Rocky, Zacky, dan Pablolah segalanya menjadi kacau.
"Jerry! Akh, aku mengingat Jerry! Bukankah dia yang memberikan semua info rahasia padaku selama ini? Dan dia menjadi salah satu informanku?" batin Dara bersorak bahagia.
Sedangkan Liu Min masih berselancar di dunia maya berusaha untuk membobol segala yang bisa dilakukannya, untuk mencari jalan keluar. Liu Min menghubungi salah satu sahabat cyber-nya di Hongkong yang langsung mengirimkan link untuk melacak.
Ia memasukkan sandi dan langsung mengecek keberadaan ponsel Danu yang berada di kepolisian.
"Apakah Danu masih di kantor polisi?" batinnya.
Liu Min mengecek keberadan Daniel namun tak terlihat. Sedangkan Jovich masih di Malaysia.
"Sial! Pablo!" batin Liu Min, ia mencari keberadaan Pablo dan ia mendapatkan banyak jejak Pablo di beberapa negara di dunia.
"Ini adalah hal yang tidak masuk akal? Bagaimana mungkin satu tubuh bisa di beberapa tempat? Indonesia-Jakarta, Kuala Lumpur- Malaysia, Hyderabad-Pakistan, Thailand-Phuket, Hunan-Cina Daratan.
Liu Min mengamati semuanya, "Di waktu yang bersamaan, apa yang terjadi? Apakah Pablo yang terlihat bukanlah Pablo yang sesungguhnya?" batin Liu Min.
Ia mulai mereka-reka segala kemungkinan, "Apakah ini hanya pengalihan saja? Ya, penjahat memang lebih pintar tapi, mereka akan tetap kalah dengan sebuah kebenaran.
"Kebenaran akan selalu menang! Walaupun dengan jalan penuh liku dan butuh perjuangan," batin Liu Min.
Ia memandang sekilas Dara yang masih sibuk memasak dengan wajah sedikit ditekuk, "Hot Cat sangat cantik dan keibuan jika menggunakan busana muslim (syar,'i)," batin Liu Min.
Ia kurang mengerti apa nama busana itu, ia memiliki dua adik yang menikah dengan mengikuti agama suami mereka, yaitu seorang Muslim.
Liu Min masih menatap ke arah siluet tubuh Dara yang begitu indah di kala bias senja di pucuk pohon cemara mulai masuk melalui jendela dapur yang langsung menerangi wajah cantiknya tanpa make-up.
"Bibir Dara sangat merah walau tanpa lipstik, tulang pipi yang tinggi bak keturunan aristokrat, hidung yang mancung, kulit yang sedikit lebih terang dari sawo matang, dengan tinggi yang sangat proporsional," batin Liu Min mengingat setiap jengkal wajah Dara.
"Mengapa dia memotong rambut indahnya menjadi lebih pendek?" batin Liu Min kurang menyukai hal itu, akan tetapi ia juga tidak menyangkal jika dengan rambut pendek Dara. Liu Min merasa sesuatu mulai bergetar indah di jiwa.
"Makanlah, dulu Tuan Liu! Nanti kamu sakit, dokter mahal!" ujar Dara mengingatkan dan melongok ke layar laptop dari belakang tubuh Liu Min di salah satu kursi di meja makan.
Deru napas Dara benar-benar menggelitik leher Liu Min, "Dara, um … napasmu sangat wangi. Apakah rasa bibirmu juga semanis itu?" ujar Liu Min dengan tiba-tiba.
Glek!
Liu Min menelan ludah, seakan tenggorokannya menjadi sekering sahara, ia manantikan tinju atau hukuman apa yang akan diberikan oleh Dara padanya.
"Gila! Apa yang telah aku lakukan? Aku bisa mati disalib nanti!" batin Liu Min ingin menarik setiap kalimat yang telah meluncur dengan indah, seakan dirinya adalah seorang buaya air yang sedang lupa daratan.
"Ingin rasanya aku menembak kepalaku sendiri," umpat batin Liu Min selalu saja merasa menjadi perayu ulung kalau berdekatan dengan Dara. Segenap rasa arogan dan dingin telah mencair entah kemana.
Dara menoleh ke arah Liu Min, "Oh, rasanya … sangat manis, semanis es krim rasa vanila, jika kau menyentuhnya maka kau tidak akan pernah bisa lupa kepada seorang Dara Sasmita.
"Jadi jangan pernah berniat untuk mencoba rasanya. Jika kau masih ingin hidup lebih lama, Liu Min.
"Sekali lagi kamu katakan itu, aku akan mencabut lidahmu!" umpat Dara meninggalkan Liu Min.
"Woi, Hot Cat! Aku akan mencium bibir itu setiap hari, walaupun kamu tidak menyukainya!" ternak Liu Min kesal.
Harga dirinya seakan tercabik oleh kata-kata Dara yang selalu saja merendahkan.