
Liu Min memandang ke arah nenek tersebut ia merasakan jika si nenek mampu membaca pikiran dan khayalan yang sedang dirasakannya.
"Ya aku sangat mencintainya, Nek! Bagaimanapun telah banyak masa yang kami lewati bersama dan hal-hal yang tidak masuk akal di kehidupan kami.
"Aku rasa dia adalah wanita terhebat yang pernah menjadi milikku hingga kapan pun. Dan Dara Sasmita adalah wanita yang tidak akan bisa digantikan oleh wanita mana pun di hatiku," ucap Liu Min.
Liu Min merasakan hal itu bukanlah sebuah bualan ataupun rayuan, itu adalah sebuah kenyataan di kehidupannya.
"Benarkah?" tanya si nenek penasaran.
"Iya, Nek! Mau cari di mana lagi wanita kuat, cantik, hebat, luar biasa pintar. Selain itu, dia juga penyayang dan penuh cinta kasih pada semua orang yang membutuhkan kasih sayang layaknya saudara.
"Selain itu … tentu saja dia sangat enak Nek!" ucap Liu Min tanpa sadar.
"Hah! Memang kami memakannya begitu?" tanya si nenek bingung, ia tak mengerti arah tujuan Liu Min mengatakan hal itu.
Si nenek di sepanjang perjalanan hidupnya yang diberikan Tuhan begitu luar biasa hebat, ia berjalan dari masa ke masa tanpa ikatan apa pun bak seorang utusan Dewi dari kayangan yang diutus Dewa untuk membantu para manusia.
Ia sama sekali tak pernah merasakan nikmatnya dunia dan hubungan suami istri, sehingga ia sedikit bingung. Ia pun tidak tahu mengapa Dewa selalu membuatnya berjalan menembus masa ke masa hanya untuk melindungi seorang Liu Min yang tak lain keturunan Liu Bei.
Ia termenung, "Semua ini karena batu mustika milikku, yang telah aku berikan kepada Dara Sasmita di kehidupan lalu. Hingga hubunganku dengan Qinglong ( arwah naga hijau) semakin berlanjut," batinnya.
"Ya, nggak dimakan sih Nenek. Memang aku vampir, Nek!" ujar Liu Min merona merah, "aduh, seharusnya aku tidak mengatakan hal itu? Mana sama nenek-nenek pula!" batin Liu Min menyesali ucapannya.
"Oh, tapi mengapa kamu bilang jika Dara enak?" lanjut si nenek.
"Hehehe, maksudku MASAKANNYA, Nek!" balas Liu Min, sedikit malu.
"Nih, sudah nenek-nenek juga, masa nggak tahu sih akh, hubungan buat anak?" batin Liu Min.
"Oh, begitu!" balas si nenek.
Si nenek tersenyum dengan bahagia matanya berbinar indah di balik wajah keriputnya ya semakin terus mengebut di jalan raya. Liu Min tidak habis pikir bagaimana seorang nenek bisa menguasai mobil dengan begitu lihai seakan dia seorang mantan pembalap.
Dengan menggunakan baju kuno di zaman kala Liu Min masih menjadi kaisar dan baju yang banyak digunakan Dara di gua mereka di Shenzhen. Si nenek menggunakan gulungan rambut dan tusuk konde yang mirip sumpit yang terbuat dari emas.
"Apakah Nenek ini mantan seorang pembalap?" batinnya, ia memperhatikan wajah si nenek dan berusaha untuk mengingat semua pembalap masa lalu yang masih hidup.
"Sepertinya tidak ada yang mirip dengannya, dia sangat cantik pada masa mudanya yang bergairah …," batin Liu Min, tanpa sadar ia menyentuh dagunya berpikir keras.
"Aku rasa ini Kota Xihe modern, bukan?" tanya si nenek.
Deg!
Jantung Liu Min bergemuruh, ia hanya tahu sebagian orang yang tahu mengenai Xihe selain Dara dan Luo Kang.
"Iya, Nek!" balas Liu Min tersenyum.
"Nenek, apakah tidak sebaiknya aku saja yang menyetir?" tawar Liu Min, ia sangat takut jika si nenek akan tertembak dan itu membuat anak keturunan si nenek akan menuntutnya.
"Jangan khawatir! Jika kamu masih memiliki amunisi sebaiknya tembak saja mereka sebelum mereka yang akan menembak kita! " perintah si nenek.
Liu Min melihat jika di depan, belakang, samping para pengendara motor langsung mengacungkan senjata ke arah mereka. Namun, kali ini mereka menggunakan pemukul yang terbuat dari besi dan pedang.
Kras! Kras! Brak!
Suara pedang dan pemukul langsung bergema di badan mobil dengan meninggalkan goresan tajam di sana.
"Bajingan!" umpat Liu Min, ia langsung meraih pistol dan menembak musuh.
Musuh terjatuh dan muncul musuh yang lain seakan mereka memang sengaja melakukan hal itu. Liu Min kehabisan amunisi dan ia sama sekali tidak memiliki apa pun lagi.
"Sialan, bagaimana ini? Di saat genting begini mengapa selalu saja, kehabisan peluru sih?" gerutu Liu Min.
"Di bawah situ ada pedang?" ucap si nenek menunjuk ke jok belakang dengan tenang.
Si nenek masih dengan lihai mengendarai mobil menyalip dan menabrak si pengendara sepeda motor yang berusaha untuk mendekat.
Liu Min merangkak ke jok belakang meraih pedang yang berkilau. Ia menatap si nenek dari kaca spion si nenek tersenyum dengan manis seakan ia adalah seorang psikopat yang sengaja menyimpan pedang berkilau yang haus akan darah.
Liu Min masih menggenggam pedang tersebut dengan takjub dan bingung, "Nenek,mengapa kau membawa pedang? Apakah Anda tidak takut jika ada razia polisi?" tanya Liu Min tak mengerti.
"Jika aku tidak membawanya sekarang, lalu kau harus menggunakan apa? Apa mungkin kau bisa menggunakan jok mobil ini sebagai senjatamu?" ketus si nenek cemberut seakan ia tersinggung dengan ucapan Liu Min.
"Iya, juga sih! Maafkan, aku! Tapi, ya boleh jugalah!" balas Liu Min.
Ucapan Liu Min membuat si nenek tersenyum girang, ia terus saja membalap menembus jalanan dan brigade musuh dengan decitan suara mobil yang berteriak kala si nenek berusaha mengganti gigi persneling dan menginjak gas.
Ia juga menyalip sepeda motor dan mobil lain di jalan raya juga menabrakkan mobil ke sisi kanan-kiri jalan ke arah musuh yang ingin mendekat. Sehingga semua musuh terpelanting di jalanan menabrak plang pembatas, masuk ke sungai, jurang bahkan tertabrak temannya di tengah jalan.
Brak! Pintu mobil melayang menghantam pengendara yang langsung terjatuh di jalanan, Liu Min menendang pintu mobil di bagian penumpang dan langsung menendang sepeda motor yang mencoba mendekat dan menusuknya.
Ia mengaitkan salah satu kaki pada sabuk pengaman, seakan itu sebuah tali yang menariknya untuk tidak terjatuh kala ia sedang mengeluarkan tubuh untuk berkelahi dengan pedang dan tangan miliknya.
Trang! Trang! Pedang bergema ketika seorang pengendara dengan pria di boncengan yang sengaja ingin memenggal kepala Liu Min yang mengeluarkan sebagian tubuh dari mobil dengan pedangnya mencoba untuk membunuh musuh yang ingin mendekat.
Bruk!
Di atas kap mobil seorang pria telah mendarat dengan sukses menusukkan mata pedang setajam baja yang mampu menembus kap mobil, Liu Min bergeser ke sana kemari dan menghindari serangan tersebut juga pedang dari sisi pintu.
"Awas, Nek!" teriak Liu Min.