Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Mendapatkan warisan


Namun, si penyerang hanya diam saja. Ia menyerang kembali Selir Qin dengan kecepatan luar biasa, "Dasar, bedebah! Kau pikir bisa membunuhku begitu mudah!" balas Selir Qin bergerak secepat angin menangkis serangan si wanita berbaju putih yang tak lain adalah Dara.


"Sial, aku tidak menyangka jika Selir Qin begitu kuat, Dara!" ujar Li Phin.


"Sudah kuduga, tapi gerakannya berbeda dengan wanita yang menyerang di Taman Persik. Siapa lagi wanita itu?" tanya Dara penasaran.


"Mana aku tahu, tapi gerakan mereka hampir sama, hanya saja lebih gesit Selir Qin." Li Phin mulai menganalisa, Dara melesat menghindari gulungan selendang Selir Qin yang tiba-tiba meluncur dari pinggangnya.


"Wah, hebat sekali Selir Qin! Hati-hati Dara, selendangnya memiliki racun yang aneh! Kita kabur saja dulu, aku belum tahu apa penangkal racun ini?" teriak Li Phin.


"Sial, baiklah!" jawab Dara langsung melesat setinggi-tingginya dan memotong kain tersebut trang!


"Wow, pakaiannya sekeras baja!" ujar Dara dan Li Phin langsung memutar tubuh dan buk! Memukul punggung Selir Qin hingga dia terhuyung tetapi ia langsung bisa menguasai tubuh dan berdiri tegak, Dara dan Li Phin telah kabur.


Dara memasuki Taman Persik masuk ke dalam gua di mana ia pernah jatuh ketika kecil, membuka baju penyamarannya dan memakai baju seorang wanita bangsawan berwarna krem. Ia telah menyanggul sanggul seperti yang dilakukan Dayang Ling'er.


Ia berjalan pelan seakan tidak terjadi apa pun, "Li Phin mengapa tangan dan sekujur tubuh kita kebas?" tanya Dara bingung.


"Sial, itu pasti racun dari Selir Qin. Ayo, temui Tabib Luo," teriak Li Phin khawatir. Dara melesat secepatnya ke kediaman Tabib Luo di perbatasan Istana putih dan Istana Persik.


Bruk!


Li Phin terjatuh di depan pintu gerbang rumah Tabib Luo yang sederhana, "Nona Jenderal!" teriak para asisten Tabib Luo membawa tubuh Li Phin yang pingsan ke dalam ruangan pengobatan Tabib Luo.


"Tabib! Nona Jenderal Li, pingsan di depan pintu gerbang!" teriaknya membaringkan tubuh Li Phin di sebuah brankar terbuat dari kayu dan kasur empuk.


"Apa yang terjadi? Mengapa Nona Li Phin terkena racun pelumpuh raga," batin Tabib Luo langsung memberikan  kapsul dan air.


"Ada apa, Tabib?" tanya asistennya Wong Fei. 


"Kamu cari semua rese ini secepatnya, dan rebuslah!" perintah Tabib Luo.


"Ada-ada saja! Jika terlambat sedikit saja, kamu bisa tewas, padahal lusa sudah menjadi pengantin," ujar Tabib Luo memeriksa kembali nadi Li Phin.


"Oh, kepalaku! Tabib, racun apa yang telah menyerangku?" tanya Dara penasaran.


"Racun pelumpuh raga, kamu akan merasa kebas awalnya dan mati rasa. Jika penanganannya terlambat kamu akan lumpuh dan seperti mayat hidup bahkan tewas. 


"Untunglah, kamu segera tiba di sini. Bagaimana bisa kamu mendapatkan serangan ini?" tanya Tabib Luo bingung.


"Aku mengikuti Selir Qin dan ia pergi ke rumah Perdana Menteri Qin Chai xi, aku penasaran dengan wanita yang menyerang kami di Taman Persik, tapi aku berhasil melakukannya.


"Tapi, Selir Qin begitu lihai dan lebih gesit dari wanita berbaju hitam tersebut. Terima kasih Tabib, apakah ada cara untuk menangkal racun ini?" tanya Li Dara dan Li Phin  bersamaan.


"Jika kamu terserang racun tersebut kamu banyak minum air dan minumlah pil ini, pil darah ular ini penangkalnya, karena racun itu terbuat dari bisa ular mematikan. Hanya tubuh dari ular tersebut penawarnya," ujar Tabib Luo.


Tabib Luo termenung, "Tabib ada apa?" tanya Dara bingung melihat Tabib Luo termenung dengan mengelus jenggot putih panjangnya.


"Mengapa semua racun yang berada di kekaisaran, berkaitan dengan aliran Racun Sekte Hitam Lu Dang? Aku bingung, apakah mereka memiliki hubungan? Tapi bagaimana bisa Selir Qin memiliki hubungan dengan mereka?" ujar Tabib Luo.


"Ya, dia adalah pendekar terhebat sepanjang masa. Sayangnya, dia beraliran sesat! Namun ia sudah sangat lama mundur dari dunia persilatan. Dan tak ada seorang pun yang tahu dia berada di mana?" ujar Tabib Luo.


Ia memandang ke arah Li Phin, "Tabib, ini ramuannya!" ujar asisten Wong Fei.


"Terima kasih, Afei!" balas Tabib Luo, "minumlah, untungnya Nona Zhang Mei telah memberikan Mustika Penguat Jiwa kepadamu, jika tidak. Kamu tak akan pernah selamat.


"Namun, kamu pasti mengalami pingsan juga. Minumlah ramuan itu, racun apa pun yang menyerangmu tak akan ampuh lagi. Berhati-hatilah," ujar Tabib Luo.


"Terima kasih, Tabib!" balas Dara dan Li Phin melakukan penghormatan.


Tabib Luo tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya kembali dengan sebuah gulungan kitab kecil.


"Nona Li, ini kuberikan kepadamu, gunakanlah sebaik-baiknya untuk menolong semua orang. Apalagi, Nona akan menjadi seorang permaisuri gunakanlah ini untuk kemakmuran dan menolong rakyat," ucap Tabib Luo, "pelajarilah sebaik-baiknya, semua penawar racun dari yang ringan, berat, dan mematikan ada di gulungan ini. 


"Kenalilah ciri-ciri dan aroma dari racun tersebut. Dengan mustika di tubuhmu kamu akan mudah menyerap semua pelajaran ini,"ujar Tabib Luo.


"Terima kasih, Tabib!" ujar Dara dan Li Phin langsung berlutut di lantai.


"Bangunlah Nona Li, marabahaya menantikanmu di depan tetaplah semangat dan menjadi dirimu sendiri. Dampingi putra mahkota untuk mencapai kemakmuran Kekaisaran Donglang," ujar Tabib Luo, meraih kedua bahu Li Phin dan mengajaknya berdiri.


"Terima kasih, Tabib. Aku berjanji padamu menggunakan semua kemampuanku dan warisan darimu ini, untuk kemakmuran Donglang," balas Dara bersungguh-sungguh.


"Pulanglah, Nak. Calon pengantin dan permaisuri tidak boleh berada di luar rumah tanpa pengawalan," ujar Tabib Luo.


"Baiklah, Tabib!" jawab Li Phin, bergegas pulang dengan melesat secepatnya menyusul ke kamar menyembunyikan gulungan di selipan pinggang, membuka dan membaca diam-diam dan menulis di benaknya secepat dia bisa.


Dara bersyukur otak Li Phin benar-benar jenius, ia langsung bisa menghafal seluruh isi gulungan tersebut.


"Lapor, Nona Phin'er, Nona Muda Jiajia ingin menemui Anda," lapor Dayang Ling'er.


"Jiajia? Ada apalagi si Rubah ini!" sungut Dara, "Baiklah, bawalah dia ke Paviliun Putri. Aku akan menemuinya," ujar Dara.


"Baik, Tuan Putri!" balas Dayang Ling'er.


Dara mandi secepatnya dan mengganti baju kemudian menemui Jiajia melesat secepat kilat tanpa perlu pengawalan para Dayang.


Ia melihat Jiajia sedang berdiri di paviliun memandang kolam bunga teratai, "Si Rubah ini sangat cantik! Tapi, aneh! Aroma tubuhnya berbeda, seperti mengandung racun! Apakah keluarga mereka benar-benar memiliki racun?" batin Li Phin di benak mereka.


"Ya, kamu benar! Aromanya ketara sekali! Apakah dia berniat meracuni kita?" tanya Dara.


"Siapa yang tahu! Aturlah napasmu sebaik-baiknya, gunakan tenaga dalam dari mustika itu untuk menolak semua racun," perintah Li Phin.


"Hadeh, buat repot saja!" batin Dara.


Ia berjalan dengan keanggunan menuju ke arah Jiajia, "Kolam itu begitu indah dan menawan! Sayangnya, selalu saja ada yang berniat untuk mengusik kedamaian yang sudah tercipta," sindir Dara.


"Salam, Nona Li Phin. Ah, apakah aku perlu memberimu penghormatan sebagai seorang permaisuri?" sindiran halus Jiajia membalikkan tubuh menatap Li Phin yang begitu cantik.