
Akan tetapi arwah pedang naga hijau hanya diam saja, ia sama sekali tak bergeming. Dara masih melihat pedang itu masih berpendar kehijauan kala ia memasuki ruangan tersebut.
"Ayo, ambil dia! Jika tidak aku akan ledakkan kepalamu! Ingatlah, ibumu dan keluarga Liu Min. Selain itu, kau pun akan mati! Jika kau membangkang!" ancam Quino menyilangkan pedang samurai di leher Dara.
Dara menjadi kesal, "Jika kode digital ini tidak ada! Aku pasti akan menghajarmu, Sialan!" umpat Dara, ia masih mengepalkan tangan.
"Sialan? Kau bilang aku sialan, brengsek kau!" teriak Quino kesal, ia merasa amarahnya menyulut.
Namun, karena Guangzhou memintanya untuk bersabar agar tidak lepas kendali. Maka ia sudah berusaha untuk membuat amarahnya lenyap.
"Apakah kamu tidak melihat, jika pedang itu pun tidak berpengaruh padaku? Aku bukanlah Permaisuri Dara Sasmita? Kalian saja yang bodoh dan aneh! Pikiran apa itu? Menganggap jika aku Dara Sasmita seorang permaisuri? Woy! Ingat ini abad berapa? Mimpi kalian ketinggian!" umpat Dara kesal.
"Aku tidak mau tahu kau lakukan saja tugasmu!" hardik Quino berang, ia menekan sedikit mata samurai ke kulit leher Dara hingga darah mulai merembes.
"Sialan kau!" teriak Dara berkelit langsung menerjang Quino hingga perkelahian terjadi.
Bruk!
Tubuh Dara jatuh ke lantai ia merasakan tegangan tinggi merayap di seluruh tubuh membuat sendinya lemah lunglai tak berdaya.
"Sialan! Kode ini benar-benar berfungsi," umpat Dara.
"Hahaha, dasar bodoh! Kau pikir kami main-main. Ayo, kerjakan tugasmu, jika tidak! Kau akan mati!" umpat Quino.
"Aaa, SIALAN!" teriak Dara kesal.
Ia masih melihat pedang naga hijau ia melihat bayangan naga hijau di sana sedang meringkuk dengan malas menutup wajahnya di antara tumpukan tubuhnya yang melingkar bak labirin.
"Hadeh, aku mohon bekerja samalah denganku untuk terakhir kali ini saja, Tuan Naga yang baik. Banyak nyawa yang bergantung pada kita, apakah kamu tahu jika Lu Dang dan semua musuh kita masih hidup?
"Mereka pun telah bereinkarnasi menjadi orang yang sama hanya berbeda nama saja, please dong! Jangan buat aku menunggu!" rayu Dara dengan telepatinya.
Dara sendiri tak begitu mengerti cara merayu pria apalagi, seekor naga bersisik tebal, bermoncong mengerikan mirip buaya katak dengan taring bak gergaji dengan ukuran lumayan mengerikan.
"Heh …," balas arwah naga malas, ia masih saja melipat dan menyembunyikan tubuhnya.
Sang naga merasa tidak menyukai rayuan Dara yang garing, "Hm, begitulah caramu bertemu teman lama?" gerutu si naga.
"Lalu, apakah aku harus berlari memeluk dan mencium dirimu begitu? Oh, no! Aku masih normal dan aku masih menyukai lawan jenis dari ras-ku sendiri. Bah, masa aku harus berpelukan dengan naga sih?" batin Dara.
Ia masih mengingat film Suzanna, "Yang ada itu pesugihan ular yaitu: Nyi Blorong. Bukan pesugihan naga!" ujar Dara dengan bodohnya.
"Woy, siapa juga yang mau dipeluk dan dicium wanita aneh sepertimu?" balas si naga semakin kesal, ia merasa jika Dara sama sekali tidak peka tidak seperti Dara Sasmita tempo doeloe kala bersama dengan Li Phin.
"Apakah kamu marah padaku? Aku juga tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi? Li Phin … maksudku Liu Aching pun sama sekali tak mengingat banyak hal, selain itu, Guangzhou bukan maksudku Lu Dang pun telah menyanderanya.
"Lalu aku harus bagaimana coba? Apakah aku harus mengemis begitu? Apalagi mereka telah memberi kode digital ini. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Dara, ia semakin pusing menghadapi kenyataan.
Grrr!
Suara arwah naga hijau sedikit bergetar dengan mengangkat kepala memperlihatkan mata kuning dan sungutnya yang melambai panjang persis ikan lele.
"Hm!" dengus naga hijau membuang wajah.
"Aku minta maaf, jika kau harus menunggu beratus tahun lamanya, kau tahu … aku juga tidak tahu harus menjelaskan semua ini dari mana? Ini bagaikan mimpi!" ujar Dara berusaha untuk memberikan pengertian pada arwah naga yang sudah terperangkap di sana sejak ratusan tahun.
Ia mulai mengerti jika perasaan naga sedikit mirip dengan manusia yang membutuhkan kasih sayang juga perhatian.
Grrr!
"Apakah kau tahu rasanya jika kau jadi aku? Aku tidak bisa bebas berkeliaran! Karena apa? Jika aku meninggalkan raga ini (pedang) maka Lu Dang sialan itu akan dengan mudah mengambilnya.
"Dia pasti akan memberikan raga ini, pada si Naga merah sialan itu!" umpat Naga Hijau kesal.
"Hah! Apakah ada naga merah lagi? Ya, ampun satu naga saja sudah buat kesal apalagi ada dua?" ujar Dara, "yang benar saja! Bukankah sindikat naga merah itu hanya sebuah nama dari kelompok mereka?" tanya Dara tak mengerti.
"Hei, yang sopan kalau bicara! Kau pikir hanya aku saja yang ada di dunia ini? Sama seperti manusia ada yang jahat dan ada yang baik, ada yang tampan dan ada yang jelek!" ujarnya, ia semakin kesal.
"Dasar bodoh, ada arti dibalik sebuah nama, walaupun sebagian orang mengatakan apalah arti sebuah nama. Jika tidak punya nama berarti itu adalah sesuatu yang tak lagi berarti," papar si naga kesal.
"Lalu termasuk kategori manakah dirimu, Tuan naga? Naga yang cantik atau tampan?" tanya Dara dengan polosnya, ia baru menyadari hal itu.
Dara tak mengerti apakah naga hijau di depannya berjenis kelamin betina atau jantan.
"Apakah hanya Liu Min saja yang tampan menurutmu? Seharusnya kau bisa membedakan dari suaraku! Hah! Jatuh cinta membuat seseorang jadi bodoh!" umpat Naga hijau.
"Um, memang kamu tidak pernah jatuh cinta begitu?" sindir Dara.
Arwah naga hijau hanya diam, ia tak ingin menguak kisahnya di zaman dia masih hidup pada masa dunia memiliki hewan besar yang dipenuhi dengan dinosaurus dan banyak hal.
Selain itu, kaum naga masih lebih tua dari mereka semua. Bahkan, diciptakan bersamaan dengan para Dewa, yang menggunakan kekuatan mereka untuk kebaikan dan kejahatan oleh iblis, berkembang dengan para raja dan kaisar yang mengikat janji pada mereka untuk melindungi tujuh turunannya.
Arwah naga hijau mendengus marah, "Bagaimana bisa dulunya aku mengikat sumpah dengan leluhurnya seorang kaisar pertama di Tiongkok yang bermarga Li yang tak lain adalah nenek moyang wanita bodoh ini?
"Jika dia berpikir berasal dari bangsa dan negara berbeda, bukan berarti itu tidak ada pertalian antara hukum karma dan sebab akibat. Apakah dia tak pernah menelusuri 7 generasi sebelumnya? Jika dia tahu bahwa leluhurnya seorang kaisar hebat pada masanya yang menikahi seorang wanita dari Negeri Garuda itu?" batin Naga, ia masih menatap Dara.
"Apakah Liu Min bersamamu?" tanya Naga hijau.
"Tidak, Lu Dang membuatnya harus merampok bank!" ujar Dara, masih meraba kode digital.
"Hah! Dasar bodoh! Dia sama sekali tidak bisa mengendalikan pedangnya sendiri. Lihatlah, Lu Dang sudah memanfaatkan pedang itu untuk kekuatan naga merah yang diambilnya dengan paksa," ujar Naga hijau.
"Apa? Bagaimana Bisa? Ini bukan zaman kuno! Ini zaman modern di mana gadget dan teknologi juga game bertebaran!" tanya Dara tak mengerti.
"Hah! Kalian benar-benar bodoh! Jika masih ada yang percaya pada Tuhan apa yang tidak bisa? Sebelum kiamat maka arwah kami masih bertebaran di sana sini! Um, Li Phin juga sudah bermarga Liu bukan Li. Hanya kaulah yang masih bisa menyentuhku!
"Li Phin tak akan bisa menyentuhku lagi, tetapi dia dan saudarinya bisa menjinakkan Naga merah, dari pedang Liu. Liu Min sekarang malah aslinya bermarga Gu! Hm, apakah dia masih menyimpan pusaka yang diberikan oleh Liu Bei kepada Nona Mo Yu Er?" tanya Naga Hijau.
"Apa? Bagaimana mungkin? Um, Ahim Yilmaz ya, Ahim Yilmaz masih keturunan Gu, ibunya adalah salah satu wanita bermarga Gu. Apakah kita harus mencari dan memberitahukan hal itu pada mereka? Tapi, bagaimana? Mereka sudah menyandera semua orang.
"Aku pun tidak bisa menghubungi mereka?" ujar Dara bingung.