Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Gagal lagi menggarap lahan sepetak


"Ayo, Istriku! Sebelum Ibunda semakin kacau!" ucap Jang Min terus menarik tangan Jang Min membawanya ke kamar Li Phin.


"Suamiku, apa kita harus tidur bersama?" tanya Dara dan Li Phin mulai kacau.


"Tentu, saja! Memang kamu mau mereka akan memasukkan kita di suatu ruangan selama seminggu di sana?" tanya Jang Min.


"Apa?" tanya Li Phin.


"Iya," balas Jang Min menakuti Dara, "selain itu mereka akan memberikan dupa yang mengandung obat perangsang itu akan sangat mengerikan," ujar Jang Min menakuti Dara dan Li Phin.


Bayangan hal bercocok tanam antara wanita dan pria di lahan sepetak membuat keringat dingin mulai bercucuran di sekujur tubuh Li Phin. Dara dan Li Phin mulai membayangkan yang tidak-tidak di benak Dara dan Li Phin.


Bayangan tersebut membuat keduanya langsung tegang dan berjalan dengan cepat mengikuti Jang Min menuju kamarnya.


"Li Phin terlalu polos! Apakah dia tidak tahu! Jika di ruangan kamarnyalah ada dupa itu? Aduh bagaimana ini?" batin Jang Min, "tapi bagus jugalah!" ujar batin Jang Min senang membayangkan hal-hal indah bersama dengan Li Phin sang istri.


"Aku rasa sebagai suami wajarlah jika aku ingin menyentuh tubuh istriku, lagian ini sudah sah, aku rasa Dewa tidak akan marah," batin Jang Min.


Jang Min membawa Li Phin masuk ke dalam kamar dan meminta dayang untuk mengganti baju zirah Li Phin, "Tidak usah, memanggil dayang, sini aku bantu!" ujar Jang Min membuka satu demi satu baju zirah milik Li Phin dan menggantungnya.


"Kamu mau mandi dulu?" tanya Jang Min aroma dupa mulai merebak.


"Dupa ini aromanya aneh sekali?" tanya Dara dan Li Phin. 


"Aku tidak tahu, mungkin begitu kali baunya!" balas Jang Min sekenanya, "bagaimana aku tahu, aku sendiri tidak pernah mengalami hal ini," batin Jang Min, "jika ini racun, aku rasa Li Phin akan mengetahuinya," lanjut batin Jang Min. 


Setelah Li Phin mandi dan memakai baju tidur berwarna putih pada zaman itu Jang Min menyisir rambut Li Phin, Jang Min ingin memanjakannya, "Aku sudah berjanji akan mencintainya seumur hidupku. Aku berharap Dewa memberkatinya," batin Jang Min penuh harap.


"Mengapa kepalaku jadi pusing?" tanya Li Phin bingung.


"Aku juga!" balas Jang Min.


"Jangan-jangan seseorang telah membuat dupa sejenis obat tidur pada kita!" teriak Li Phin, ia mengambil dua pil dan memberi sebutir pada Jang Min dan dirinya, "telanlah!" lanjut Li Phin.


Keduanya langsung jatuh terkulai saling berpelukan, dua orang masuk ke dalam ruangan masing-masing mengambil tubuh mereka dan melesat meninggalkan istana Kekaisaran Donglang.


Keduanya dibawa oleh pria berpakaian serba hitam dan penutup kepala, memasukkan mereka ke dalam sebuah penjara bawah tanah, "Ayo, aku rasa biarkan keduanya mati di sini seumur hidup mereka!" ujar salah satu penculik.


Keduanya meninggalkan Jang Min dan Li Phin di sana, "Suamiku," lirih Dara menggoyang tubuh Jang Min.


"Sstt, teruslah berpura-pura kita sedang pingsan. Agar kita tahu siapa dalang di balik semua ini," ucap Jang Min.


Dara kembali berbaring di sana, menantikan langkah kaki memasuki ruangan, "Kalian telah berhasil membawa mereka, aku sangat berharap mereka mati di sini. Agar aku mudah melakukan kudeta di kekaisaran, hahaha! Cuih, apanya yang hebat! Hanya kebetulan saja dia berhasil membunuh Kakakku Cien Fang. 


"Perdana Menteri Qin Chai Xi benar! Dengan sedikit trik mereka akhirnya masuk perangkap! Walaupun Ratu Li Hun sembuh dari racunnya. Namun, calon kaisar dan permaisuri akan mati di sini," ujar seorang pria tertawa.


Jang Min melesat berdiri secepat kilat tanpa disangka si pembicara jika Jang Min sudah meletakkan pedang di lehernya.


"istriku jangan terlalu lama bersandiwara ini bukan opera pertunjukan!" sela Jang Min.


"Suamiku, tadi kamu suruh aku diam saja! Aduh, kamu ini. Sangat merepotkan!" ujar Dara langsung beranjak berdiri menyeka pakaiannya dari tumpukan jerami. Ia menarik pedang dari balik baju tidur, "ide kamu bagus sekali suamiku mereka tidak menyangka kita membawa pedang. 


"Hei, siapa kau! Berani-beraninya kau menggangguku dan suamiku yang sedang tidur! Padahal kami ingin terbang ke bulan!" ucap Dara.


"Memang kita bisa terbang ke bulan?" tanya Jang Min.


"Ya, bisalah memakai pesawat ulang-alik dan baju astronot," jawab Dara.


"Apa itu?" tanya Jang Min bingung.


"Aduh, kenapa aku keceplosan lagi?" batin Dara, "maksudku, kitakan tadi mau melakukan itu …." ujar Dara menunjuk ke arah sensitif Jang Min, "waduh, napa aku yang jadi kegenitan?" batin Dara. 


Li Phin terpingkal-pingkal di dalam benak mereka, "Aku tidak menyangka jika kamu sangat menginginkannya! Hahaha," ujar Li Phin.


"Diamlah, aku hanya tidak tahu mau berkata apalagi!" hardik Dara malu.


"Wah, aku tidak tahu jika istriku sangat lihai berperang dan bermain pedang di tempat tidur juga?" ucap Jang Min dengan  sebelah tangannya yang bebas membelai janggutnya yang sudah bersih.


"Sudahlah, Suamiku! Apa yang harus kita lakukan dengan orang ini? Aku sudah mengantuk!" keluh Dara.


"Um, benar juga! Gara-gara dia aku tidak bisa bercocok tanam lagi!" keluh Jang Min. Ia langsung menyibak dengan secepatnya penutup wajah si kepala penculik, "Kau!" teriak Jang Min terkejut.


Dara dan Li phin melompat mendekati si penculik, "Suamiku apakah kau mengenalinya?" tanya Dara.


"Tentu saja! Dia adalah penasihat Han Chung!" ujar Jang Min, "apa maksud semua ini Han Chung? Kurang baik apalagi Kekaisaran Donglang kepadamu?" tanya Jang Min.


"Hahaha, aku sudah muak dengan kebaikan yang dilakukan oleh Kekaisaran Liu Fei di dalam mengayomi rakyat. Ia tak pernah mau mengikuti nasihatku untuk bekerja sama dengan Changsha.


"Aku ingin wilayah Luoyang menjadi milikku! Tapi apa yang aku dapatkan? Kekaisaran tidak pernah memberikan apa yang aku inginkan. Padahal aku telah mendampinginya sekian puluh tahun untuk kemakmuran Kekaisaran Donglang," ujar Han Chung.


"Kau tamak sekali! Kau tahu Luoyang adalah kerajaan di bawah perlindungan Donglang dan memiliki raja yaitu Raja Chin Da, bagaimana mungkin kekaisaran akan memberikannya kepadamu yang bukan memiliki garis keturunan Raja Chin?" tanya Jang Min.


"Jika Kaisar Liu Fei mau dia bisa saja melakukannya dengan menghancurkan keturunan Raja Chin Da. Tapi, dia tak pernah mau!" ujar Han Chung.


"Baiklah, jadi Perdana menteri Qin Chai Xi ikut di dalam rencana ini begitu?" tanya Jang Min.


"Hahaha, kau tidak perlu tahu! Kau masih terlalu muda untuk mengetahui banyak hal!" ujar Han Chung.


"Tunggu dulu kamu bilang, 'Jika Chien Fang adalah kakakmu,' bukankah begitu? Berarti kamu bukan bermarga Han, tapi Chien. Berapa banyak yang bermarga Chien dan berkomplot dengan Qin di kekaisaran?" teriak Jang Min menggores sedikit leher Han Chung.