
Sementara di rumah sakit, Kamila tampak kesusahan untuk bangun dari ranjang. Perutnya akan terasa ngilu dan sakit jika banyak bergerak.
Dengan susah payah, dia berdiri sambil berpegangan di tiang infusan. Langkah kaki sedikit gontai menuju kamar mandi. Tangan Kamila menahan perut yang kesakitan pasca operasi caesar.
Saat dia akan masuk kamar mandi, tak sengaja kakinya tersandung tiang infusan membuatnya akan terjatuh.
"Whoaa!" pekik Kamila saat tubuhnya terjungkal hampir menyentuh kerasnya lantai. "Mati aku, pasti lukanya robek lagi." batin Kamila.
Namun, perkiraan yang sempat terpikirkan itu tar terjadi karena tubuhnya segera ditangkap oleh tangan kekar Edwin. Beruntung, saat masuk pria itu segera berlari menghampiri ketika melihat Kamila hampir terjatuh ke lantai.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Edwin khawatir.
Kamila termenung sejenak, kemudian menggelengkan kepala. "Ah, um, ti-ti-tidak kok!" Ia menjadi gugup kerena saat ini sedang berada di pelukan seorang Edwin. "Bisa bantu aku berdiri, Win?!" Kamila memintanya karena merasa tak nyaman.
Edwin tersadar dan langsung membantu Kamila berdiri. "Maaf!" ucapnya canggung.
Kamila kemudian melangkah setelah ia berdiri tegak. Tak lupa diapun menutup pintu kamar mandi sambil tersenyum ke arah Edwin.
Seketika Edwin terpana akan senyuman wanita itu. Ia mengerjap beberapa kali, kemudian menyunggingkan senyuman. "Cantik banget kalau Mila sedang tersenyum!" puji Edwin dalam hati. "Andaikan dia itu istriku, sudah ku gendong dia kamar mandi." lanjutnya sambil terkekeh.
Saat sedang tersenyum menatap pintu kamar mandi, tiba-tiba Edwin di kejutkan oleh tangisan bayi mungil Kamila.
"Ooooweeeeekkkk ... oooeeeeekkkk"
Edwin lekas melangkah menghampiri box berisikan si tampan mungil tersebut. "Aduh, kenapa sayang? Uluh ... uluuuhhh, cayangnya mama Mila nangis. Minta gendong sama Om, ya?!" Edwin berbicara dengan nada seperti anak-anak sambil menggendong bayi tampan itu.
Kamila bergegas keluar setelah menyelesaikan hajatnya. Kakinya melangkah perlahan mendekati Edwin yang sedang menggendong bayinya.
Sungguh pemandangan yang indah jika dilihat orang. Semua orang akan bilang jika mereka keluarga kecil yang harmonis.
"Kenapa sayang? Apa kamu lapar, hemh?" Kamila bertanya kepada putranya sambil menyentuh pipinya.
Edwin menoleh sekilas kepada Kamila. "Dia hanya ingin digendong olehku, sayang! Lihat! Dia sekarang diem lagi, kan!" Edwin tak sadar jika dirinya memanggil Kamila dengan sebutan sayang.
"Dia kangen sama aku, sayang!" sambung Edwin dengan tersenyum girang sambil melirik Kamila. Dia tersadar jika dirinya memanggil Kamila dengan sebutan sayang. Rasanya itu membuat keduanya canggung. Bola mata Edwin bergerak kesana kemari untuk mencari alasan. "Eh, ma-maksudku ... cayaaang!" wajahnya kembali menatap bayi mungil di tangannya sambil tersenyum.
Edwin mengalihkan perhatian dan mencairkan suasana dengan berceloteh ria, membuat bayi tampan itu nyaman di dalam gendongannya.
Mendapat panggilan sayang dari Edwin, membuat Kamila terdiam seketika. Walaupun ucapannya tak sengaja, tapi cukup membuat hati Kamila bergetar dengan panggilan mesra dari Edwin itu.
Edwin merutuki tingkah bodohnya dalam hati. "Bodohnya kamu, Edwin. Kenapa kamu bisa terbawa suasana sih saat menggendong bayi ini? Ingat, mereka itu milik seseorang, dan yang pasti bukan dirimu." batinnya menatap sendu.
Saat ini Edwin malu hanya sekedar mendongakkan wajah menatap Kamila. Dia takut emosinya tak terkontrol jika menatap mata teduh milik wanita yang berada di sampingnya tersebut.
Kamila merasakan kecanggungan dari Edwin pun langsung bertanya untuk mencairkan suasana yang mengganggunya. "Oh iya, Mas. Kapan aku boleh pulang? Rasanya aku sudah bosan tinggal di rumah sakit," rengek Kamila.
Wajah Edwin menoleh ke arah Kamila yang sedang merajuk di sampingnya. "Tunggu sampai kamu pulih benar, baru bisa pulang!" sahut Edwin lembut.
"Tapi aku sudah pulih, kok!"
"Tapi, kamu masih kesakitan tadi. Tunggu sakitnya hilang, baru pulang!" kata Edwin keukeuh.
Edwin bersikeras. "Jangan ngeyel, Mila!"
"Pulang!" rengek Kamila sambil memegangi lengan Edwin dan sedikit menggoyangkan.
"Enggak boleh!" Edwin menggelengkan kepala.
"Mas!" nada manja terdengar dari mulut Kamila. Ia tak sadar jika dirinya sedang merajuk kepada pria asing baik hati yang telah menolongnya.
"Nurut, dong!" Edwin tetap berbicara lembut.
"Aku gak betah di sini terus," Kamila terus merengek layaknya anak kecil.
"Sabar dong, sayang!"
"Tapi ..."
Sebelum Kamila berucap, sebuah suara menginterupsi keduanya hingga mereka serempak menoleh. "Ada apa ini?"
Edwin dan Kamila mengalihkan pandang ke arah sumber suara. "Ah Dokter, syukurlah Andra datang! Tolong jelaskan padanya kalau dia harus banyak istirahat. Dia maksa terus ingin minta pulang, padahal belum sembuh total!" ucap Edwin menjelaskan.
"Aku udah sembuh kok, Mas! Iya kan, Dok!" Kamila menatap serius Dokter tersebut.
Dokter tersenyum, kemudian mendekati Kamila. "Suamimu itu sangat sayang padamu, Nyonya. Dia sangat khawatir kalau Anda kesakitan," tukas Dokter menjelaskan.
Seketika Kamila maupun Edwin langsung terdiam mendengar perkataan Dokter. Mereka tersadar jika tingkah laku keduanya tadi itu membuat siapapun akan salah paham. Ditambah dengan sikap manja Kamila dan perhatian dari Edwin.
Dokter menatap Edwin sambil berkata. "Kalau istri anda ingin tetap pulang boleh kok, Tuan! Asalkan, dia banyak beristirahat di rumah. Jangan melakukan pekerjaan berat yang bisa memicu lukanya untuk terbuka kembali," jelas Dokter kepada Edwin.
"Umm, baik Dok. Terima kasih!" kata Edwin menganggukkan sedikit kepalanya.
Dokter kemudian menoleh ke arah Kamila. "Baiklah! Saya periksa dulu ya, Nyonya. Silahkan naik lagi ke ranjangnya!" titah sang Dokter.
Dengan cepat Kamila langsung menuruti perkataan Dokter. Hatinya terusik saat Dokter bilang suaminya sangat sayang kepadanya. Padahal jauh dari kenyataan, Riki tak menyayangi dirinya. Andaikan itu Edwin, mungkin hidup mereka sangat bahagia.
Kamila menerawang ke dalam lamunan, meratap pilu nasibnya yang harus mengalami kepahitan hidup. "Mas, apa kamu benar-benar tidak mencintaiku?" batinnya.
Kamila hanya bisa memejamkan mata saat teringat akan perlakuan Riki dan kedua mertuanya terhadap dirinya. Rasanya ia ingin menangis saat ini, menumpahkan segala keluh kesah yang dirasakan selakma delapan bulan hidup dengan keluarga dari Riki.
Rasa sesal kembali menyelimutinya. Menyesal karena pernah membantah perkataan kedua orang tuanya dan memilih untuk menikah dengan Riki, lelaki yang dicintainya karena telah menyelamatkan hidupnya.
Sedih rasanya mengingat akan perlakuan kasarnya terhadal kedua orang tuanya. Benar, cinta itu buta dan tuli. Ia tak bisa mendengar dan melihat, mana yang baik dan mana yang buruk.
Sekilas, dari kejauhan nampak baik namun setelah di dekati malah terlihat busuknya. Seperti itulah cinta Riki, baik dari kejauhan dan buruk setelah didapatkan.
Kamila sungguh menyesal telah mengenal Riki dan keluarganya itu. Demi mereka, dia rela menentang kedua orang tuanya. Demi mereka, dia rela meninggalkan segalanya. Demi mereka, dia rela bekerja membanting tulang hanya untuk bertahan hidup.
"Aku benci kamu, Mas!" gumam Kamila dalam hati.
...Bersambung ......