Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2 Keabadian Cinta - Prajurit hantu masa lalu


"Akhirnya kalian datang! Dara Sasmita oh, bukan, Permaisuri Dara Sasmita dan Kaisar Liu Min selamat datang! Akhirnya kita bertemu kembali bukan?" ujar Guangzhou atau Lu Dang terkekeh bahagia di atas podium.


"Wah, arena ini keren banget! Mirip gladiator ya?" puji Liu Min, ia memandang dengan berkeliling.


Liu Min malah tidak begitu peduli ucapan Guangzhou membuat Guangzhou semakin kesal diabaikan.


"Jauhkan sedikit senjatamu! Aku tidak akan kabur. Aku hanya ingin menikmati arena ini yang sangat luar biasa!" ujar Liu Min tersenyum, ia menyingkirkan moncong Laras panjang yang mengarah kepadanya.


"Hadeh! Bisa nggak sih, kamu serius dikit?" ketus Dara memukul jidatnya, ia tak mengerti Liu Min selalu saja bisa tertawa dan menikmati situasi serumit apa pun dengan tetap tersenyum.


"Aduh, Sayang … lihatlah! Ini sungguh sangat luar biasa. Aku tidak menyangka jika gurun Jinping menyembunyikan kastil dengan benteng yang luar biasa. Halo! Pemerintah ke mana aja sih?" keluh Liu Min.


Liu Min semakin kesal dengan keteledoran yang dilakukan oleh oknum-oknum pemerintahan yang tidak kondusif di dalam keamanan.


"Hahaha, pemerintah tidak akan bisa menyentuhku! Karena aku adalah-"


"Wanchai! Kau adalah seorang Wanchai bukankah begitu?" sela Liu Min, ia masih berputar-putar menikmati sekitarnya.


"Aha! Kamu sangat luar biasa sekali Kaisar Liu Min, kepiawaianmu benar-benar wajib diacungkan jempol. Tapi sayangnya, hari ini adalah hari pemakamanmu Kaisar! Hahaha," tawa Guangzhou.


"Hm, aku penasaran dengan raja iblis neraka milikmu! Apakah dia seperti jin atau angin yang melayang-layang begitu?" tanya Dara, ia melihat gumpalan asap hitam yang berkeliling seakan sedang mengitari dan menjaga sesuatu.


"Hahaha, ternyata kau lebih memahaminya Permaisuri! Pengawal! Tangkap kedua orang itu! Ikat mereka agar ritual segera kita lakukan. Sekarang juga!" teriak Guangzhou.


Semua pengawal dan kaki tangan Guangzhou langsung berlarian mengitari dan mengepung pasangan tersebut dengan mengacungkan senjata.


"Aduh, aku jadi takut!" lirih Liu Min.


"Liu Min! Aduh, Laogong! Kamu … mengapa bisa sih aku menikah dan jatuh cinta pada waria kaleng begini?" keluh Dara menatap suaminya yang langsung mengangkat sebelah kaki dan tangannya seakan dia sedang ketakutan.


"Hahaha!" suara tawa membahana dari atas podium para penonton tertawa di sana termasuk Quino dan Mitzuki.


Dua! Duar! Petir membahana bersamaan dengan badai angin dan hujan fenomena berubah semua orang seakan kembali pada masa lalu di mana dinasti Donglang sedang terjadi saat malam pertempuran Xihe seakan terulang. 


Sebuah lubang besar menganga dari perut bumi dan dari dalamnya bermunculan para prajurit dari zaman dulu yaitu : prajurit Changsha, Qin, dan Mongol.


Semua orang memakai pakaian pada masa dinasti Donglang, semua orang keheranan dengan perubahan tersebut.


"Apa? Mengapa kita bisa berpakaian seperti ini? Ini berat sekali!" keluh Liu Min ia merasakan jika baju zirahnya begitu berat dan tidak membuatnya nyaman.


"Aduh, jangan terlalu banyak mengeluh Kaisar! Jika kau terlalu banyak mengeluh bagaimana dengan prajuritmu?" tanya Dara kesal.


"Tangkap mereka!" teriakan bergema


Dara dan Liu Min melihat siapa yang berteriak, "Raja Changsha?" ujar keduanya.


Fenomena lain terlihat jika semua orang yang memegang senjata api berubah menjadi pedang. Membuat semua orang semakin terpana, termasuk Quino yang melihat bajunya yang sudah berubah menjadi istri dari Qin Chai Xi.


Quino ingin melesat ke tengah arena tetapi Mitzuki menahan tangannya, "Jangan! Biarkan saja mereka, tunggu saja apa yang akan terjadi," ujar Mitzuki, ia mencekal tangan Quino.


"Tapi, Paman!" jawab Quino tidak mengerti, ia sudah ingin mencincang Dara Sasmita.


"Aku tidak berubah, karena aku bukanlah dari perang masa lalu. Tapi, dari masa modern," batin Mitzuki, ia tak ingin bersusah payah untuk mengorbankan diri.


Quino langsung mematuhi perintah guru sekaligus pamannya, ia tak ingin terlalu mencampuri urusan tersebut.


Keduanya masih melihat ke bawah di arena yang mirip gladiator, di mana Dara Sasmita dan Liu Min saling memunggungi untuk mempertahankan diri mereka dari banyaknya pengawal dan prajurit dari Changsa, Qin, dan Mongol yang bersatu.


"Begh! Lalu mana prajuritku?" teriak Liu Min, "ini pasti ulah raja iblis neraka yang membangkitkan para abdinya dari neraka untuk kembali muncul di permukaan bumi," cetus Liu Min kesal.


"Anggap saja semua prajurit Donglang masuk surga hingga raja iblis neraka tidak bisa membangkitkan mereka." Dara berusaha untuk menghubungkan kembali semua selaksa peristiwa.


"Dewa Agung dan Tuhan mengapa tidak membangkitkan juga sih prajuritku? Biar seimbang gitu?" bisik Liu min memegang dagunya.


Trang! Tring! 


"Woy! Laogong! Bukan waktunya mengeluh nyawa lebih berharga!" teriak Dara Sasmita.


Dara menangkis serangan para prajurit hantu dan pengawal yang mulai mengeroyok mereka di bawah badai angin dan hujan serta petir. 


Sementara cahaya bulan tertutup oleh bayangan asap hitam, Trang! Tring! Pedang naga hijau berpendar membabat musuh dengan secepat kilat Dara melesat ke sana kemari berusaha untuk menangkis pedang yang mengarah pada mereka.


"Aduh, kalian tidak berperasaan sama sekali! Padahal aku masih saja berdoa pada Tuhanku," ujarnya kesal, ia menarik pedangnya cahaya biru menerangi sekitar.


Semua orang di atas podium termasuk Guangzhou terkesima, "Pedang dari mana itu? Bukankah pedang Kaisar Liu min bersamaku? Aku inginembangkitkan naga merah dan naga hijau?" batin Guangzhou.


Guangzhou masih terus memperhatikan pedang berpendar hijau dan biru milik pasangan itu terus melesat ke sana kemari menghabisi semua prajurit hantu dan pengawalnya.


"Apakah raja iblis neraka telah menipuku?" ucapnya murka, "dasar bajingan!" umpatnya.


"Raja Iblis Neraka! Di mana kau? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka memiliki pedang yang lebih hebat?" tanya Guangzhou, ia merasa ketar-ketir melihat semua kekuatan itu.


"Tenanglah kau, Manusia! Lakukan saja, apa yang aku perintahkan. Jangan terlalu banyak mengeluh!" teriak Raja iblis neraka.


Raja iblis neraka masih berputar mengitari semua arena, seakan ia mencari sesuatu.


Dia terus berusaha untuk mendekati pasangan yang mencoba untuk melawan tetapi raja iblis neraka tak bisa untuk mendekati keduanya.


"Aaa!" erang raja iblis, "apa yang terjadi? Apakah Dewa Agung ikut berperan di dalam semua ini?" umpatnya kesal.


Raja iblis terus berputar ingin mencari keberadaan naga hijau dan merah, ia tak melihat apa pun.


"Aku akan mengeluarkan semua naga!" batin Raja iblis, ia menjulurkan tangan dan lubang lain menganga lagi dari angkasa. 


Dari lubang tersebut para naga mulai melesat turun seakan mereka berperan menyemburkan api ke sana kemari.


"Apa yang terjadi?" ucap Dara,ia semakin bingung.


Dara melesat menghindari semburan api dan kibasan ekor juga cakar naga yang sedang murka.


"Ini benar-benar gila dan tidak masuk akal!" teriak Dara bergulingan,ia melihat Liu Min masih bertempur membunuh musuh dari pasukan prajurit hantu dan pengawal Guangzhou.