Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Malam pertama kedua jendral


Jang Min dan Dara menikmati kebersamaan mereka dengan sebuah senyuman dan kesedihan yang berusaha mati-matian tidak mereka perlihatkan. Keduanya hanya ingin memberikan kenangan yang terbaik untuk pasangan yang akan pergi dan yang ditinggalkan.


"Sayang, kamu menginjak kakiku!" ujar Dara, kala kaki Jang Min menginjak kakinya karena dansa rumit yang mereka lakukan.


"Benarkah? Maaf, aku sangat sulit untuk melakukannya, Dara. Kamu tahu 'kan untuk pertama kali ininya, aku melakukan tarian aneh ini. Tapi, aku begitu suka melakukannya." Jang Min memperbaiki gerakannya, tetapi berulang kali kaki Dara diinjak Jang Min. 


"Pelan-pelan saja, Sayang! Jika kamu terlalu cepat malah kita akan saling menginjak kaki," balas Dara berusaha memberi instruksi sebaik-baiknya kepada Jang Min.


"Hahaha, ini sangat menyulitkan sekali, Dara. Seperti ini saja!" balas Jang Min langsung mengangkat kaki Dara yang bertumpu pada kaki Jang Min.


Keduanya sibuk berusaha untuk berdansa dan tertawa di bawah sinar purnama dengan begitu bahagia sambil saling mengecup bibir. Bahkan terkadang Dara menyandarkan kepalanya di dada Jang Min. 


Merasakan setiap getaran detak jantung Jang Min yang berdegup cepat, "Kapan lagi, aku akan merasakan kebahagiaan ini? Ini adalah hal untuk terakhir kalinya, aku tidak ingin tertidur walaupun semenit.


"Jika aku tertidur dan saat aku terbangun, maka aku sudah berada di duniaku. Aku tidak ingin jika aku dan Jang Min tidak akan bertemu lagi. Tapi …," batin Dara bersedih.


Semua orang menatap ke arah mereka dengan tersenyum bahagia, untuk pertama kalinya mereka melihat pasangan kaisar dan permaisuri mereka dengan penuh kasih sayang juga cinta yg tak pernah lekang. 


Mereka semua tidak merasakan kesedihan yang sedang dirasakan oleh keduanya, yang berusaha terlihat sangat bahagia.


***


Sementara Tan Jia Li dan Gu Shanzheng menikmati malam pertama mereka dengan acara seadanya. Tan Jia Li sudah menunggu di kamar duduk di sisi pembaringan tempat tidur dengan sedikit was-was, baju pengantin dan kerudung berwarna merah miliknya, masih dikenakan olehnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Jantungku berdetak dengan kencang! Rasanya mau copot saja!" batin Tan Jia Li gelisah ia berulang kali menggeser posisi duduk dan berdiri.


Siluet bayangan Gu Shanzheng memasuki ruangan, detak jantung keduanya seakan-akan ingin melompat keluar, "Aduh, apa yang harus aku lakukan?" batin Tan Jia Li dan Gu Shanzheng, "bukan sekali ini aku berduaan dengan Gu Shanzheng, tapi … mengapa ini sangat berbeda?" batin Tan Jia Li begitu juga dengan Gu Shanzheng.


Keduanya merasakan jika gempa bumi mulai mendera mereka berdua.


"Jia'er!" sapa Gu Shanzheng membuka kerudung Tan Jia Li yang masih menunggunya dengan sabar. Tan Jia Li mati-matian berusaha bersikap selembut mungkin, ia menatap wajah Gu Shanzheng dengan perasaan salah tingkah.


"Suamiku, aku …," lirih Tan Jia Li bingung harus bagaimana, ia hanya bisa tersenyum melihat kekasih hatinya.


"Maaf, jika pernikahan kita tak semeriah dan seindah semesti maupun seharusnya," balas Gu Shanzheng tersenyum.


"Tidak masalah! Hal itu bukanlah hal yang penting, Suamiku. Aku hanya berharap semoga kedepannya kita selalu bahagia dengan semua anak-anak kita," balas Tan Jia Li bahagia.


"Bolehkah aku duduk di sisimu, Sayang?" ujar Gu Shanzheng.


"Kemarilah, Suamiku!" balas Tan Jia Li bergeser sedikit.


Gu Shanzheng duduk di sisi Tan Jia Li tanpa ada jarak apa pun lagi, "Um …," Gu Shanzheng menggenggam tangan Tan Jia Li kedua jantung mereka berdegup dengan kencang seakan mereka merasakan gempa bumi.


Tan Jia Li hanya menganggukkan kepala dengan sedikit malu-malu,


Gu Shanzheng tidak menyia-nyiakan kesempatan langsung mengecup bibir Tan Jia Li. Keduanya saling berkecupan dengan mesra dengan penuh kasih sayang, kecupan dan sentuhan berubah menjadi gairah yang membara.


Perlahan dan pasti Gu Shanzheng memberanikan diri membuka satu per satu baju Tan Jia Li dan bajunya, Gu Shanzheng membelai bukit kembar Tan Jia Li dan menyesapnya gairah semakin membara. 


Keduanya berusaha untuk menuntaskan hasrat mereka yang sudah membara dengan penuh kasih, kala jeritan kecil dan tertahan serta air mata yang bergulir Tan Jia Li kala Gu Shanzheng menyatukan tubuh mereka berdua. 


Napas mereka memburu karena hasrat yang tak tertahankan, hingga hentakan demi hentakan langsung memburu keduanya untuk melepaskan gairah mereka berdua. 


"Sayang, terima kasih!" ucap Gu Shanzheng mengecup kening Tan Jiq Li yang langsung memeluk tubuh suaminya dengan penuh kasih.


Di mana hasrat mereka telah terlampiaskan, keduanya tidur dengan berpelukan dengan bahagia. 


***


Jang Min dan Dara masih menari dengan mesra dan saling berangkulan menatap fajar yang telah menyingsing cahaya matahari mulai menyinari bumi, "Matahari di Xihe sangat indah!" ujar Dara menatap temaram cahaya kekuningan mulai menyinari mereka, sementara sebelah tangan Jang Min memeluk pinggang ramping Dara.


"Ya, kenanglah! Apa yang ingin kamu kenang di sini, Istriku. Aku berharap kelak kita masih bisa saling bertemu di duniamu," balas Jang Min.


Dara menatap wajah Jang Min di semburat cahaya jingga fajar membuat kebahagiaan yang luar biasa, "Andaikan aku bisa terus di sini, mungkin aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini, Suamiku.


"Tapi, aku tidak akan mungkin selamanya di sini. Aku akan mengenang kebahagiaanku bersamamu dengan semua cinta dan kasih sayang yang telah kamu berikan kepadaku, Sayang!" ujar Dara merangkul leher Jang Min menatap dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih, Istriku. Aku berusaha untuk terus menjaga cinta dan kasih sayang yang telah kamu berikan kepadaku, Sun Ming, dan seluruh rakyat Donglang dengan penuh kasih sayang juga cinta," balas Jang Min meraih pinggang Dara dan mendaratkan kecupan di bibir indah milik Li Phin.


"Ayo, kita kembali dan bersiap-siap, aku rasa kita harus menyusun strategi untuk mengalahkan musuh!" ujar Dara, berusaha untuk terlihat bahagia.


Jauh di relung hatinya, Dara ingin berkata, "Aku mencintaimu dan ingin selamanya bersamamu, Jang Min!" namun semua itu hanya mampu tertahan di dalam tenggorokan Dara.


"Iya, ayo, Sayangku!" keduanya melesat menuju ke ruangan mereka, keduanya mandi dan sarapan juga berganti pakaian memakai baju zirah. Keduanya menuju ke aula di mana semua jenderal telah berkumpul.


"Salam sejahtera, Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri Donglang!" ujar semua orang yang hadir.


Dara dan Jang Min sedikit mengangkat tangan dan semua orang langsung berdiri dari membungkuk sedikit untuk memberikan penghormatan kepada mereka berdua.


"Besok adalah perang yang akan dimulai, aku berharap mereka memegang janji. Selain itu, aku juga berharap jika mereka membatalkan tantangan mereka untuk berperang. 


"Aku masih mengampuni mereka! Namun, jika mereka pun masih menginginkan pertempuran maka aku tidak akan mundur, demi semua rakyat di bawah kedaulatan Donglang!" ujar Jang Min selaku kaisar.