
"Jangan membunuhnya, Brengsek!" teriak Dara marah dan langsung menyerang Lu Dang sekuat tenaga membuat ledakan mengerikan di antara mereka, tubuh Dara dan Li Phin terpental begitu juga dengan Lu Dang.
Namun Lu Dang dengan mudah menguasai dirinya, "Uhuk! Uhuk! Cuih!" Lu Dang terbatuk dan memuntahkan darah segar, "Wanita iblis ini, hebat sekali! Untung saja, aku menggunakan ilmu pamungkas racun iblis milikku!" batinnya mencoba untuk bangkit.
Sementara tubuh Li Phin bersama Dara melayang menabrak dahan pepohonan dan mendarat dengan mengerikan di tanah.
Gedebam!
"Li Phin!" teriak Liang Si melesat ingin menyelamatkan tubuh Dara yang sudah terluka dengan daerah di sudut bibirnya pingsan, "Li Phin! Sialan kau Jahanam! Kau telah melukainya, aku akan membunuhmu!" teriak Liang Si marah.
Ia langsung menyerang Lu Dang yang menebaskan cakar ke arah Liang Si yang berusaha untuk menangkis dan menyerang dengan membabi buta, bayangan tubuh Li Phin sang pemilik hati melayang terluka membuatnya hilang kendali dan konsentrasi.
Liang Si benar-benar marah akibat cinta dan penderitaan juga rasa kasih sayangnya kepada Li Phin.
Trang!
Cakar Lu Dang berhasil melukai Liang Si yang langsung terjatuh dan terluka, ia terpuruk di tanah. Lu Dang tidak menyia-nyiakan kesempatan ingin membunuh Li Phin.
"Jangan bunuh, dia! Aku mohon! Bunuh aku, saja!" teriak Liang Si berusaha berdiri dan melesat melindungi dan memeluk tubuh Li Phin,
Liang Si tidak peduli jika dia harus mati, cinta yang tulus benar-benar membuat dirinya rela berkorban untuk melakukan apa saja demi sang pujaan hati.
Kras!
Cakaran Lu Dang mendarat di punggung Liang Si, yang mencoba untuk melindungi tubuh Li Phin dengan punggungnya. Tubuh Liang Si terpental jatuh, darah langsung merembes dari punggung yang menganga.
"Bunuh, Permaisuri dan Pangeran Wuling itu! Sebelum ada yang tahu!" teriak Lu Dang kepada muridnya yang masih terkesiap melihat pertempuran yang mengerikan di depan mata mereka.
Ketiga muridnya melesat menebaskan cakar ke arah Lu Dang yang sudah terjerembab ke tanah hanya bisa melihat Li Phin di depannya.
"Li Phin, maafkan aku! Aku tidak bisa menolongmu!" lirih Liang Si, "aku mencintaimu!" lanjutnya dengan bening air mata bergulir di sudut kelopak mata.
Liang Si berusaha untuk bergerak tetapi ia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Pedang dari murid Lu Dang mulai bergerak ingin membunuh Liang Si sedangkan Lu Dang sendiri ingin membunuh Li Phin.
"Aku akan mengambil pedangmu! Permaisuri Li Phin, nasibmu sungguh malang! Aku berhasil membunuhmu! Hahaha, kuat apanya? Cuih!" hina Lu Dang melesat tepat di samping tubuh Li Phin.
Wus! Trang!
Sebuah kekuatan tenaga dalam dan pedang berdentang memutuskan cakar di tangan Lu Dang. Buk! Buk! Dan sebuah tendangan beruntun mendarat tepat mengenai tulang iga Lu Dang.
"Dasar, kurang ajar! Siapa kau?" teriak Lu Dang.
"Bawa pangeran Liang ke Benteng Xihe!" teriak Jang Min menyuruh Jenderal Tan Ji yang langsung melesat membawa Liang Si yang terluka. Jang Min sudah melukai ketiga murid Lu Dang.
Sedangkan dirinya langsung mengambil tubuh istrinya Li Phin dan memberikan ramuan obat, ia melihat keanehan di tubuh istrinya, "Ada apa dengan Li Phin? Siapa wanita ini?" batin Jang Min menatap wajah Dara yang hilang timbul dan berganti wajah Li Phin berulang-ulang dengan cahaya pedang yang masih melingkupinya.
Sementara di depannya Nona Zhang Mei dan Lu Dang masih saling berhadapan, "Hahaha, kau masih saja terlihat muda Mei'er! Hah! Jangan menggangguku, jika kau tidak ingin mati!" teriak Lu Dang marah kepada adik seperguruan dan wanita yang pernah menolak cintanya.
"Kau tidak pernah berubah, Lu Dang! Kau semakin gila kekuasaan dan telah mendirikan aliran sesat. Guru benar, kau bukanlah pria yang baik," ujar Zhang Mei menatap Lu Dang.
"Diam kau, wanita sialan! Aku akan membunuh dan memperkosamu!" teriak Lu Dang menyerang ke arah Zhang Mei.
Namun, ia hanya menebas bayangan saja, pertempuran semakin sengit ledakan-ledakan semakin menjadi-jadi terjadi di antara mereka. Namun, cahaya pendar pedang hijau masih terus menyelimuti tubuh Li Phin dan Dara.
Jang Min menyentuhnya perlahan, "Mengapa tubuh Li Phin seperti membakarku? Dan ini begitu panas?" batin Jang Min menyentuh istrinya cahaya pedang tidak menginginkan dirinya untuk mendekat. Namun, ia berhasil memberikan ramuan ke mulut Dara walaupun lengan bajunya telah terbakar api dari tubuh Li Phin.
Jang Min mengerahkan tenaga dalam miliknya untuk mengontrol dan menyerap api yang melindungi tubuh Li Phin dan bayangan wanita cantik di sana yang tak lain adalah Dara.
Jang Min hanya berhasil untuk memberikan ramuan ia langsung menarik tangan dan memadamkan api di lengan bajunya, "Ada apa dengan istriku?" batinnya, "Istriku! Istriku!" panggil Jang Min khawatir dan takut jika Li Phin akan meninggalkannya.
Ia masih berusaha untuk mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghalau kekuatan pedang yang berusaha melindungi si pemilik. Akan tetapi murid Lu Dang tidak menyia-nyiakan kesempatan ingin membunuh Jang Min.
Jang Min langsung mengarahkan kekuatan tenaga dalamnya ke arah ketiga murid Lu Dang yang langsung terpental jatuh dan meninggal.
Pertempuran antara Zhang Mei dan Lu Dang semakin mengganas, hujan masih saja turun dengan deras membasahi bumi sebagai saksi pertempuran yang sedang berlangsung.
"Jika terus-terusan begini, aku bisa kalah! Apalagi cakarku sudah hancur. Aku harus kabur!" batin Lu Dang ia melihat jika kelima muridnya sudah tewas, "sial! Kaisar Liu Min sangat hebat!
"Jika ia dan Zhang Mei bersatu, aku bisa mampus!" batin Lu Dang, ia langsung melesat setinggi-tingginya di udara menebarkan racun bersamaan dengan guntur yang menggelegar kemudian kabur.
"Dasar, tua bangka bajingan! Kau hanya bisa kabur dari dulu!" teriak Zhang Mei kesal ingin mengejar, tetapi di tengah perjalanan ia berhenti.
"Hah! Jika aku mengejar si brengsek Lu Dang, bagaimana nasib Kaisar Jang Min dan Permaisuri?" batinnya, ia kembali ke arah Jang Min.
"Nona Zhang Mei! Apa yang terjadi dengan Istriku?" cecar Jang Min yang masih terus berusaha untuk menyentuh istrinya tetapi selalu saja terbakar.
Nona Zhang Mei menyapukan tangannya dan pendar cahaya pedang sedikit meredup, "Ayo, bawalah Istrimu! Ikuti aku!" balas Zhang Mei.
Keduanya melesat meninggalkan area pertempuran dengan tubuh Li Phin di gendongan Jang Min, memasuki sebuah gua di dalam jurang tebing.
"Baringkanlah, istrimu di situ!" perintah Nona Zhang Mei pada Jang Min yang langsung melakukan apa yang diperintahkannya, "geruslah, tumbuhan ini!" perintahnya lagi. Jang Min melakukannya dengan cepat tanpa membantah lagi.