
"Terima kasih, Yang Mulia Raja Changsha yang terhormat. Anda terlalu membesarkan dan mempercayai rumor yang beredar, saya hanyalah permaisuri biasa," balas Dara lembut, "tapi jika itu untuk mengetahui dan mencari tahu kekuatan dari Kekaisaran Donglang saya tidak keberatan," tantang Dara yang tidak mau mundur jika ada yang menantangnya.
Dara menatap ke arah Raja Changsha, "Pria ini hanya ingin melihat sampai mana kekuatan kami," batin Dara, "agar ia dengan mudah mengukur dan memberontak atau pengalihan akan sebuah kejahatan lain lagi," papar batin Dara curiga.
"Istriku, apakah itu tidak berlebihan?" tanya Jang Min khawatir ia merasa jika istrinya sedikit berisi sekarang, walaupun Jang Min tidak berani berspekulasi jika Li Phin sedang hamil.
"Tidak masalah, Suamiku!" balas Dara.
"Aku menawarkan putriku sebagai selir, Yang Mulia Kaisar?" ujar raja Mongol Shan Xier
"Maaf, Raja Shan Xier yang agung! Saya tidak menginginkan seorang selir pun. Jika kita ingin bersahabat tidak perlu mengadakan pernikahan antar kerajaan. Cukup saling berjanji dan menandatangani sebuah janji persahabatan antar negara dan kerajaan saja!" ujar Jang Min.
Ucapan Jang Min membuat semua kerajaan tetangga terdiam, "Baiklah, saya ingin mengetahui kehebatan Permaisuri Li Phin yang membuat Kaisar Liu Min tidak berminat dengan wanita mana pun lagi," ujar raja Mongol.
Akhirnya semua orang berada di tanah lapang untuk saling menguji permaisuri mereka, "Dara apakah kau yakin? Lihatlah, permaisuri mereka begitu mengerikan! Aku merasa jika permaisuri mereka bukanlah permaisuri yang sebenarnya," ujar Li Phin.
"Benarkah?" tanya Dara memakai baju zirah dan menyelipkan pedang naga hijau di punggungnya, "aku sangat yakin memerlukan pedang ini," ujar Dara.
"Ya, bawalah! Jika mereka permaisuri, mereka memiliki kelembutan dan berbeda dengan wanita kebanyakan," balas Li Phin.
"Apakah kamu yakin? Bukankah kita berasal dari seorang prajurit juga?" ucap Dara.
"Iya, kamu benar dan aku pun merasa mereka memiliki latar belakang yang sama dengan kita," balas Li Phin.
"Apakah Jang Min sudah mengirim Kakak Jia Li dan Jenderal Gu Sanzheng melakukan pengawalan? Aku takut jika kunjungan ini hanyalah pengalihan saja agar mereka berhasil memberontak di perbatasan!" balas Dara.
"Aku akan mencari tahu, berhati-hatilah!" ujar Li Phin lenyap dari benak Dara.
"Enak sekali, jadi Li Phin! Bisa ke mana pun!" ujarnya.
Dara diapit semua dayang menuju ke area tanah lapang dan pertempuran, "Aku tidak menyangka bobotku kali ini sedikit gemuk? Apakah aku terlalu banyak makan Dayang Ling'er" tanya Dara bingung. Dara merasa perutnya sedikit sesak, "sial, aku pun sudah lama tidak berlatih," batin Dara.
"Akhir-akhir ini, Yang Mulia hanya makan yang sedikit asam dan suka tidur itu yang hamba tahu," balas Dayang ling'er.
"Um, benar juga! Besok aku akan berlatih! Atau mengajar anak-anak, juga melihat dapur istana saja," balas Dara.
Dara berdiri berbaris bersama 9 orang permaisuri dari negara tetangga yang kebanyakan adalah musuh di dalam selimut, "Dara berhati-hatilah, aku merasa semua ini adalah sebuah tipu daya, tapi aku tidak bisa masuk dan berkeliaran lama di luar tubuh ini selain kamu tidur," ujar Li Phin mengingatkan Dara.
"Ya, kamu bantu aku untuk menyelamatkan diri kita dari racun," ujar Dara, "huek!" Dara sedikit mual dan pusing, ia merasa ingin muntah tetapi berhasil ditahannya.
Permaisuri Mongol dan Qin juga Changsha di kanan kirinya melihat ke arahnya dengan tatapan sinis, tetapi Dara tidak peduli,
"Dara apa yang terjadi? Apakah kamu salah makan?" Li Phin sedikit khawatir.
"Aku tidak tahu, akhir-akhir ini aku merasa tidak enak badan!" ujar Dara.
"Kita terlalu banyak menghabiskan waktu setiap malam di tempat tidur, besama Jang Min, hadeh!" sindir Li Phin.
"Yee, kamu juga yang pingin, kok! Jangan nyalahin aku terus, disaat aku nggak mau malah kamu yang mau!" balas Dara, keduanya tersenyum.
Namun, Dara mengeratkan pegangan tali kudanya, "Perlombaan pertama adalah memanah musuh dengan cepat!" ujar pembawa acara yang tidak lain adalah Kasim Tang Ta.
Ia melihat ke arah Permaisuri Li Phin, "Berhati-hatilah permaisuri! Aku merasa ada yang aneh!" ujar Kasim Tang Ta dengan gerak bibir saja kepada Dara.
"Baiklah!" balas Dara menarik napas, "Hitam bawalah kemenangan dan harga diri kita, jangan sampai dilecehkan!" ujar Dara mengelus surai si Hitam yang langsung meringkik.
"Hyat!" dara menarik kekang kudanya melesat bersama 9 orang permaisuri yang telah memanah tiang-tiang balok di depan mereka.
Dara melesat secepatnya berusaha untuk mengakhiri karena perutnya mulai mual ingin muntah lagi, ia berdiri di atas kuda menarik busur dengan 10 anak panah sekaligus memanah tiang balok di depannya yang muncul tak terduga bagaikan papan sasaran tembak di aula latihan tembak di dinas kepolisian yang pernah diikuti Dara di zamannya.
Semua orang terperangah melihat kehebatan Dara yang melesat di atas kuda dan berhasil menghabisi lawannya walaupun hanya sebuah tiang.
Namun Dara terlalu jauh berlari, "Hai, seharusnya kita menemukan titik temu dan mengakhiri perlombaan mengapa ini berbeda?" tanya Li Phin curiga.
Dara melihat sekelilingnya, mereka telah jauh meninggalkan arena perlombaan karena banyaknya tiang sasaran yang menuntunnya ke luar dari arena.
"Sialan! Mereka berniat menjebak kita!" ujar Dara. Ia kembali duduk di punggung si Hitam, "huek! Ia muntah dari atas punggung si Hitam.
"Dara kamu tidak apa-apa?" tanya Li Phin khawatir.
"Tidak! Ayo selesaikan ini!" ujar Dara.
Beberapa orang memakai pakaian hitam langsung menyerang Dara dengan pedang kala Dara ingin berbalik arah.
"Sialan, bajingan! Siapa kalian?" teriak Dara. Namun, tidak mendapatkan jawaban malah pedang mulai menghunus ke arahnya. Dara langsung menarik panah dan menghujam tepat di dada si penyerang.
"Dara panah kita habis!" teriak Li Phin.
Dara menarik pedang naga hijau di punggungnya, "Untunglah Ibunda Min Hwa memberikan ini," batinnya berterima kasih kepada Ibundanya, "jika kita selamat, aku ingin menemuinya aku rindu padanya!" teriak Dara ia langsung melesat ke angkasa dengan cepat membunuh mereka.
"Untunglah, mereka bukan jenderal yang kuat!" ucap Dara mengambil kepala musuhnya dan membawanya kembali ke hadapan semua orang.
"Cari, Permaisuriku! Aku tak ingin terjadi apa pun padanya, cepat!" teriak Jang Min gelisah menanti, "semua permaisuri dari kerajaan tetangga sudah muncul, hanya tinggal Phin'er. Jangan-jangan mereka sengaja melakukan hal ini!" batin Jang Min murka.
Ia masih berdiri menatap ke arah depan menanti istrinya, "Jika terjadi sesuatu pada Phin'er aku akan membunuh mereka semua!" batinnya.
Ia langsung menyuruh beberapa prajurit untuk menyusul permaisurinya. Namun, belum lagi para prajurit bergerak ia melihat si Hitam dan baju zirah istrinya melesat ke kembali ke arah mereka.
Ngiiikkk! Ringkikan si Hitam marah dengan mengangkat kedua belah kakinya kepada semua orang berputar-putar di lapangan, "Tenanglah Hitam!" teriak Dara membuat si Hitam diam kembali, "siapa yang mengirimkan pembunuh kepadaku dan mengganti rute perlombaan?" teriak Dara melemparkan beberapa kepala ke tengah lapangan.
"Bajingan! Siapa yang telah berniat membunuh Permaisuriku?" teriak Jang Min marah berdiri di atas podium, "Jendral Chen Li cari semua sisa tubuh mereka bawa ke kepolisian!" teriak Jang Min.
Semua orang berkasak-kusuk memandang ke arah Li Phin yang masih duduk di atas pelana kudanya
"Apakah ada lagi yang berniat untuk melanjutkan perlombaan berdarah ini?" teriak Dara marah dan kesal, "huek!" ia muntah lagi.