Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Ikatan cinta masa lalu dari sebuah cincin


"Kamu serius mengatakan dan meminta semua itu padaku Liu Min? Apakah kau tidak main-main?" tanya Dara berusaha untuk meyakinkan dirinya dan Liu Min.


Dara tidak ingin terjebak karena hal yang selalu dilakukan oleh Liu Min yang selalu menggoda dan bermain-main dengannya. Ia tak ingin terlena karena frank gila Liu Min yang menyebalkan.


"Tentu saja aku serius. Aku tahu, aku tidak sempat membeli cincin atau apalah, aku tak memiliki apa pun untuk meyakinkanmu Dara.


"Hanya satu hal Dara, yang bisa aku janjikan. Semua Cece dan Koko Iparku ada di sini, begitu juga dengan Tuan Luo dan kedua ponakanku. Aku berjanji di depan keluargaku.


"Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku yang tak bisa aku ucapkan sebanyak apa rasaku padamu Dara. Sekali lagi kuminta padamu, maukah engkau menjadi makmum-ku?" tanya Liu Min.


Ia masih mengulurkan tangan dengan berlutut pada Dara, "Ya, aku mau. Aku mau menjadi milikmu hari ini, esok, lusa, dan selamanya Liu Min." Dara menjawab dengan linangan air mata kebahagiaan, ia tak menyangka jika cinta di masa lampau masih bisa diraihnya di masa kini.


Dara merasa tiba-tiba seluruh keindahan dipenuhi bunga melati dan persik di seluruh kehidupannya yang penuh liku dan drama.


"Oh, Titi! Kamu romantis sekali!" ucap Liu Aching menyeka air mata di pipinya yang bergulir bahagia, menyaksikan setiap momen romantis di depannya.


Liu Aching dan Liu Amei tidak menyangka jika adik bungsu mereka pada akhirnya menemukan belahan jiwanya walaupun penuh onak yang bertebaran di jalan yang akan mereka lalui ke depannya.


Liu Aching berlari ke kamarnya dan kembali dengan membawa sebuah kotak kecil yang terbuat dari emas. 


Deg! 


Jantung Dara bergetar ia mengingat jika itu adalah cincin pernikahan yang pernah diselipkan Kaisar Liu Min kala menikahi Li Phin dan Dara di zaman lampau.


"Cece, aku rasa sudah saatnya kita memberikan ini pada Amin. Ia sudah menemukan tambatan hatinya," ucap Liu Aching memohon persetujuan dari Liu Amei.


"Ya, kamu benar. Aching. Titi, terimalah cincin turun temurun dari keluarga Liu itu. Berikanlah pada Dara, karena dia telah setuju menikah denganmu." Liu Amei merestui semua hal yang sedang terjadi tersebut.


"Apakah aku berhak, Ce?" ucap Liu Min melihat cincin warisan yang pernah dipakai ibu angkatnya hingga ajal menutup mata.


'Ya, karena … cincin itu adalah warisan keluarga Liu yang wajib diberikan kepada istri mereka. Kamu berhak, karena hanya kamulah satu-satunya pria di keluarga Liu kita ini, Liu Min," balas Liu Aching.


"Ayolah, itu sesuai dengan amanat ayah kita," timpal Liu Aching.


Liu Min mengambil dan membuka kotak perhiasan tersebut sebuah cincin bermata merah delima berkilau indah bersinar di sana.


"Dara, mari kita selesaikan rangkaian lamaran ini. Agar esok memudahkan kita untuk mengikat janji," ujar Liu Min tersenyum.


Dara mengulurkan jari manis di sebelah kanannya dan menerima seutas cincin yang pernah dipakainya beratus tahun lalu di dunia lampau.


Keduanya berpelukan dengan bahagia saling menangis dan merasakan hati mereka kembali terpaut. Bayangan pernikahan yang pernah mereka lakukan. Di Chang An dan perjuangan yang mereka lakukan kembali terbayang.


Dara dan Liu Min langsung pingsan, Liu Aching, Luo Kang, dan Liang Bo memeriksa keduanya.


"Ada apa ini? Mengapa mereka pingsan? Apakah semua ini terlalu sentimentil?" tanya Liang Bo tak mengerti.


"Bisa saja hal itu terjadi. Tapi, mengingat keduanya adalah orang hebat dan kuat. Tak mungkin hanya karena hal itu keduanya langsung jatuh pingsan?" sanggah Ahim Yilmaz.


"Kamu ini, selalu ada-ada saja Sayang," ujar Liu Amei menyentuh pinggang suaminya.


"Lihat saja kisah orang-orang hebat di dunia. Mereka pasti memiliki kisah cinta yang penuh ragam penderitaan dan kasih sayang. Ada yang sampai pada tujuan, ada yang tenggelam di tengah lautan, ada yang yang ... banyaklah," papar Ahim Yilmaz.


"Bolehkah kita bicara di luar?" usul Luo Kang.


Semua orang menatap ke arah Luo Kang, masing-masing menjadi cemas dan saling pandang.


"Ayo, tak ada yang perlu dikhawatirkan malah aku rasa ini suatu keajaiban. Hanya saja aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya," balas Luo Kang menggiring semua orang ke luar dari kamar di mana Dara dan Liu Min sedang dibaringkan pingsan setelah diperiksa.


"Ada apa sebenarnya Tuan Luo?" tanya Liu Amei penasaran.


"Um, apakah kalian pernah menyelidiki silsilah keluarga kalian?" tanya Luo Kang.


Liu Aching dan Liu Amei menggelengkan kepala, "Kami tidak mengetahuinya dan andaipun kami mendengarkan ... kami menganggap itu hanya mitos  Ada apa sebenarnya?" ujar Liu Amei penasaran.


"Aku merasa keluarga kalian adalah um, kalian masih ada sangkut-pautnya dengan Kekaisaran Donglang. Apakah kalian pernah mendengarnya?" tanya Luo Kang.


"Ya, hahaha itu. 'kan hanyalah sebuah cerita dongeng, Tuan Luo. Lalu apa hubungan semua itu dengan keluarga kami dan Dara?" ucap Liu Aching bingung 


Liang Bo dan Ahim Yilmaz hanya menyimak, mereka tak mengetahui arah pembicaraan tersebut.


"Begini, Liu Min adalah reinkarnasi dari Kaisar Liu Min dan Dara adalah reinkarnasi dari Permaisuri Dara. Sedangkan kamu." Luo Kang menunjuk ke arah Liu Aching.


"Aku kenapa?"


"Kamu adalah reinkarnasi dari Permaisuri Li Phin, dan kamu." Luo Kang  menunjuk ke arah Liang Bo.


"Aku?! Apa hubungannya?" ujar Liang Bo bingung.


"Kamu adalah reinkarnasi dari Liang Si putra kedua dari kerjaan Limen Utara dan ini adalah kerajaan Limen Utara. Apakah kamu mengetahuinya?" tanya Luo Kang pada Liang Bo.


"Ya, aku mengetahuinya. Maksud kamu Akang, jika semua cerita legenda itu benar adanya?" tanya Liang Bo tidak mempercayai semua itu.


Luo Kang menganggukan kepala, "Sementara, Liu Amei adalah reinkarnasi dari Tan Jia Li, sepupu Li Phin dan kakak angkat dari Liu Min. 


"Sedangkan suami kamu Tuan Ahim adalah reinkarnasi dari Gu Shanfeng, hanya saja aku tidak tahu apakah ada keluarga kamu masih ada di Kota Jinjing dan perbatasan Mongol? Di antara kota yang dekat dengan lembah Turki." Luo Kang langsung menceritakan keterkaitan hal itu.


"Oh, ibuku pernah bilang, 'Jika dia dan ayahku bertemu di Mongol,' ibuku memang berasal dari Jinjing bagian Utara. Tapi, dia tidak menceritakan banyak hal. Selain itu, keluarga kami sudah pindah ke Taiwan," balas Ahim Yilmaz.


Ahim Yilmaz memandang Luo Kang, "Apakah maksudmu dengan sebuah kipas dan seruling … peninggalan keluarga ibuku ada sangkut-pautnya dengan legenda ini?" tanya Ahim Yilmaz bingung.


"Ya, sejak Liu Min dan Dara melewati gurun Jinjing mereka sudah pingsan berulang kali, aku rasa Nona Dara mengetahui hal itu.


"Walaupun ia mati-matian menyembunyikannya." Luo Kang menceritakan segalanya secara gamblang dengan apa yang dilihatnya sejak mereka berada di Kampung Nelayan.