Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Hanya dua wanita berhati mulia


"Sudahlah, Dara semua sudah berlalu aku menjadikan semua itu adalah sebuah pelajaran. Mungkin jika dulunya aku sedikit lebih sabar menghadapi semua itu dan pelan-pelan menyelidiki semua masalah mungkin tidak begini.


"Namun, kala itu aku masih terlalu muda. Sehingga, jiwa mudaku menggelora dengan darah panas. Aku ingin membalas dendam atas kematian kedua orang tua juga klanku serta Raja Long Wan.


"Aku ingin membela rasa cintaku yang besar pada Long Mei. Bagiku, dia adalah segalanya, tak 'kan ada yang lain lagi di kehidupan ini," balas Qinglong, ia termenung.


"Tapi apa yang kudapatkan? Tidak ada bukan? Aku malah kalah, cintaku dan Long Mei pun harus dipertaruhkan di dalam semua itu," jawab Qinglong, ia masih melingkar dan bertumpu pada tubuhnya yang melingkar.


"Apakah anda bisa mengenali jika bertemu dengan long Mei?" tanya Dara, ia tak mengerti bagaimana bisa mengenali seorang naga di dalam bentuk manusia.


"Aku tidak tahu, akan hal itu, Aku pun tidak bisa menjanjikan apa pun. Tapi, aku yakin Jika cinta suci kami akan menuntun kami untuk saling mengenal.


"Tapi aku tidak tahu juga, semua itu adalah rahasia Tuhan. Dara, aku rasa sebentar lagi kita akan tiba di kediaman Lu Dang atau Guangzhou. Bersiap dan waspadalah Dara, akan semua kemungkinan," ujar Qinglong, ia tak ingin jika Dara tidak memiliki kesiapan untuk melawan Lu Dang dan masuk ke dalam kubu musuh.


"Baiklah, Tuan Qinglong! Aku akan tetap waspada, aku hanya ingin selalulah terus bersama denganku. Rasanya, ini sangat sulit sekali!" ujar Dara, ia mulai menajamkan indera pendengaran dan penciumannya.


"Bukan hanya kamu yang takut, aku pun sangat takut sekali," balas Qinglong.


Dara melihat ke arahnya dan tersenyum, "Jangan membuat aku tertawa Tuan Qinglong! Aku sangat yakin, kamu tak akan pernah takut dan gentar menghadapi musuh kamu. Anda adalah orang yang sangat luar biasa sakti!" balas Dara.


"Heh! Kamu pikir aku ini dari batu apa? Aku masih memiliki kulit dan darah juga tulang. Dara, aku pun punya rasa takut, cinta, kasih sayang. Semua rasa yang dimiliki olehmu dan semua orang, hanya saja … aku tidak memperlihatkannya.


"Semua itu aku lakukan agar musuhku tidak memanfaatkan kelemahanku. Apalagi, sekarang … Lu Dang pun mencari naga merah, ia ingin mengubah arwah naga merah untuk menjadi sebuah pedang. 


"Bayangkan jika kita gagal! Bukan aku saja yang mati dan terluka tapi, Long Mei juga semua orang termasuk kamu. Aku tidak bisa membayangkan semua itu, Dara!" ucap Qinglong, ia bergerak sedikit mulai mengitari dan membelit tubuh Dara.


"Sial! Ini benar-benar aroma Lu Dang! Um, aku harap, kali ini kita pun tidak gagal lagi, jika kita gagal aku tidak tahu harus menjalani sisa hidup yang bagaimana lagi," balas Qinglong.


"Tuan Qinglong, terima kasih!" ujar Dara, ia benar-benar ingin berterima kasih padanya.


Dara takut jika ia tak sempat mengucapkan rasa terima kasih kepada Qinglong yang baik dan bersahaja juga memiliki kekuatan yang sangat luar biasa.


"Apa maksud kamu, Dara? Kamu berterima kasih untuk apa? Aku merasa tidak melakukan banyak hal untukmu?" tanya Qinglong bingung.


"Mungkin itu adalah  perasaan Tuan. Tapi, bagiku, aku sangat berterima kasih padamu. Kala kita melawan untuk pertempuran pertama kali dan banyak pertempuran lain yang kita menangkan, itu adalah sesuatu yang paling sangat berharga Tuan," ucap Dara.


"Kamu aneh sekali, Dara. Bagiku ini adalah sumpahku, aku tak ingin mengabaikan sumpah dan terkutuk. Klan naga terakhir dari Qiulong yaitu hanya aku yang tersisa. 


"Aku tidak akan mempermalukan klan milikku yang hebat, Walaupun kematian yang merenggut karena konspirasi dari iblis dan para naga lain yg sangat iri kepada kami." Qinglong merasa melindungi Dara adalah bentuk dari kewajiban yang sedang dilakukannya.


"Aku tidak ingin Dewa Agung murka padaku lagi, aku harus menjalani karma ini hingga selesai. Aku percaya jika Dewa Agung pasti punya rencana lain buatku, Long Mei, kamu, Liu Min, dan semua orang yang ada di muka bumi ini," balas Qinglong bijaksana.


"Mungkin bagimu semua ini, hanyalah bentuk dari kewajiban. Tapi, bagiku ini adalah suatu pengorbanan seorang teman kepadaku juga semua orang.Terima kasih, Tuan Qinglong!" ucap Dara dari sanubarinya yang paling dalam.


Qinglong tak mengerti mengapa Dara melakukan hal itu, Qinglong terharu hingga dirinya tak bisa berkata apa pun. Untuk pertama kalinya ada yang menganggapnya ada, bukan sebagai hantu yang menakutkan.


"Kau Sangat Baik, Dara!" lirih Qinglong, "padahal leluhurmu saja yang telah menggunakan kekuatanku untuk menguasai dunia tak pernah berterima kasih padaku," batin Qinglong.


"Aku hanya mampu mengucapkan kata itu Tuan Qinglong. Semua ini karena leluhurku yang tidak memiliki kepekaan terhadap banyak hal. Sekali lagi aku minta maaf padamu, kamu harus terjebak di dunia ini hanya karena rasa tamak dan keinginan untuk menyatukan semua wilayah," balas Dara.


"Aku berharap kali ini aku meminjam kekuatan milikmu, untuk sebuah kebaikan untuk semua orang bukan hanya keinginan pribadi saja. 


"Aku berharap, jika semua ini berakhir maka kutukan ikatan sumpah juga hukuman Dewa Agung akan usai," ujar Dara, ia pun sudah tak ingin terlibat ke dalam perang yang sangat mengerikan tersebut.


Qinglong diam, ia tak tahu harus berkata apa pun lagi, ia hanya merasa jika segalanya begitu cepat. Ia tak menyangka sudah ratusan bahkan ribuan tahun terlewati dengan banyaknya musim.


Namun, ia tak pernah merasakan rasa cinta dan kasih sayang selain sebuah pengharapan. Kini, ia merasa dihargai, dicintai, dan dianggap ada oleh anak keturunan orang yang sangat dibencinya untuk membunuh dan membunuh lagi.


"Kali ini, tujuanku jelas! Aku ingin menyelamatkan semua orang dengan rasa cinta, kasih sayang. Aku ingin mengusir iblis di dalam bentuk Lu Dang. Andaikan aku mati bersama Long Mei, paling tidak nama kami harum dan akan diceritakan sebagai penghantar tidur anak-anak.


"Jika ada sepasang naga dari klan terakhir yang masih hidup dan penuh cinta juga pengorbanan untuk menggapai cinta yang suci," batin Qinglong.


Keduanya kembali diam, Dara melihat jika mereka digiring ke sebuah bangunan megah tidak jauh dari gurun Jinping. Dara masih mendengar deru kereta api, kini ia memahami mengapa ia dan Liu Min bisa pingsan kala melewatinya.


"Ayo, masuk!" teriak Quino.


Mereka memasuki sebuah ruangan dimana Mitsuki dan Guangzhou beserta orang-orang yang tidak dikenal Dara duduk di sana. Masing-masing beranjak dari tempat duduk melongokkan kepala dari podium laksana arena gladiator menatap ke sebuah pintu yang terbuka yang memperlihatkan wajah Dara yang silau akan cahaya lampu.


sehingga ia mengangkat tangan untuk melindungi wajahnya.


Quino mendorong Dara untuk maju, "Aw!" pekik Quino tanpa sadar, kala jarinya terbakar menyentuh Dara.


"Sialan, wanita ini. Dia berubah menjadi sangat hebat dengan pedang itu! Andaikan, aku bisa menguasai pedang. Aku pasti bisa merajai dunia dan bawah tangah," batin Quino, ketamakan mulai menyihirnya.


"Pesona raga ini benar-benar mengerikan! Hanya Dara dan Li Phin yang berhati bersih. Keduanya tak pernah memikirkan kesenangan duniawi dan keinginan pribadi.


"Mereka hanya memikirkan orang lain, hingga lupa akan dirinya sendiri," batin Qinglong, ia mengingat di sepanjang sejarah ribuan tahun hidupnya, hanya dua wanita tersebut yang tidak memiliki ambisi menaklukkan dunia untuk tujuan pribadi.


Qinglong mengingat sejak Dara dan Liu Min tewas, pada masa kekaisaran Donglang. Li Phin malah tak pernah menggunakannya untuk membunuh. Ia hanya menyentuh dan merawatnya bak seorang anak dan saudara. 


Li Phin hanya menggunakannya sebagai simbol menjaga diri kala dirinya pergi untuk mengobati penduduk atau melakukan tugas kekaisaran. Li Phin menjadi kaisar didampingi suami hebatnya Liang Si yang baik.


Liang Si malah tak ingin menjadi kaisar, ia hanya mendukung Kaisar Li Phin melakukan tugas dan kewajiban sebagai janjinya kepada Kaisar Liu Min sang mantan suami dan saudari sejiwanya Dara Sasmita dengan bijak.


Qinglong mengingat semua itu, kini di depannya aura keserakahan dan haus darah telah menguasai semua orang.


"Menjijikkan!" umpat Qinglong.


"Hahaha, hebat sekali Quino. Kau benar-benar luar biasa. Mitzuki benar-benar memiliki keponakan yang luar biasa hebat!" ujar Guangzhou, ia masih mengamati Dara dan pedang naga hijau.


"Kurung dia! Letakkan dia di tempat berbeda, aku tidak ingin dia bersatu dengan Liu Aching." Guangzhou melihat ke arah Dara, "pedang itu, hanya bisa digunakannya. Aku harus berhati-hati. Aku harus menunggu besok malam," batin Guangzhou.


"Ada apa Guangzhou? Kau takut jika aku dan Liu Aching akan bersatu dan menghancurkan kamu? Hahaha, kamu merasa jika Liu Aching adalah reinkarnasi dari Permaisuri Li Phin begitu?" pancing Dara.


Guangzhou hanya memandang Dara dengan diam, ia tak bersuara maupun berbicara ia hanya menggunakan gerakan kepala untuk menyuruh pengawal memasukkannya ke dalam ruangan gelap dan tertutup yang terbuat dari emas.


"Brengsek! Dia mengetahui kelemahan naga! Siapa dia yang sebenarnya? Dara kau harus berhati-hati! Gunakan semua kepintaran kamu, jika aku menggunakan api milikku kejadian Long Mei akan terulang padamu," pesan Qinglong.


"Apa?! Jadi, maksudmu, Tuan?" 


"Ya, ini ada kaitannya dengan iblis atau naga lain. Tapi, tidak mungkin klan ketujuh naga kembali bangkit. Dewa menyegel mereka dengan kutukan dan hukuman," balas Qinglong.


"Mengapa ini semakin rumit?! Aku hanya ingin menangkap gembong mafia? Bukan bertarung dengan naga dan raja iblis!" teriak Dara.


Dara merasa kepalanya mendadak pusing, ia tak mengerti akan kaitan semua hal yang sedang terjadi. Ia bingung, Dara mulai banyak mengingat jika ia hanyalah mengejar gembong narkoba bukan iblis, maupun kisah naga juga para kekaisaran dan raja.


Namun, ia sudah terjebak di dalamnya terlalu jauh dan tak bisa kembali selain trus memerankan perannya sebaik dan sebagus mungkin, seperti tuntutan sebuah skenario kehidupan.


"Bukankah diri sendiri itu adalah raja dari malaikat dan iblis itu sendiri? Di setiap suatu kejahatan karena adanya campur tangan iblis di dalamnya, jika hanya malaikat dunia ini teramat damai Dara."


Qinglong terdiam, matanya dan tubuhnya mulai melayang namun ia tak pernah sedikit pun meninggalkan Dara.