Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
SUDAH PUNYA PACAR


"*rania... Kita ke kantin duluan ya*..?" kata bella yang sudah bangun dari kursinya.



"*iya, kalian duluan saja. gue mau keperpustakaan dulu*" jawabnya sambil menutup buku tulisnya.



"*bye... Rania"



"bye keren*... *bye nora*" ucapnya.



Rania keluar dari kelasnya, berjalan menuju perpustakaan.



"*hm... Ini.... Bukan ini.... Juga bukan*" rania masih mencari -cari buku. Karna dia sendiri tidak tau buku apa yang ingin dia baca.



"*ah... gue ambil buku ini saja*" katanya setelah mendapat satu buku.



Rania mencari meja untuknya membaca. Dia duduk dihadapan seorang murid laki- laki.



keperpustakaan hanyalah alasan. Rania beralasan meminjam buku supaya dapat menemui seseorang. Seorang murid laki - laki yang setiap hari berada diperpustakaan.



Rania tidak membaca bukunya, ia sesekali mengintip pria didepanya. Memiringkan sedikit bukunya agar bisa mengintip sang pria.



"*kalau tidak dibaca, mending dikembalikan saja bukunya*" suara pria didepanya.



"*a..aku sedang membacanya*" rania menjawab dengan gugup.



Pria itu menjatuhkan bukunya di meja "*yang aku lihat, kamu itu cuma memperhatikan saya. Apa saya terlalu tampan sehingga membuatmu terpukau,? Hah.!"


aduhhh.. Dia nyadar lagi kalau daritadi aku perhatiin.


"ihhh ge- er banget sich kamu*" kilah rania


"biarin... Toh itu tidak merugikanku" ucapnya sambil membaca kembali bukunya.


"*emm.... Kamu tiap diperpustakaan*,?" tanya rania yang sengaja membuka obrolan karna ingin lebih dekat.



"*dan kamu tiap hari duduk didepanku hanya untuk memperhatikanku bukan*,?". Jawab sang pria yang seketika membuat wajah rania merona.



"*emm... Maaf kak aku kekelas duluan*" . Rania langsung kabur meninggalka sang pria, ia tidak mau jika lama- lama mengobrol. Bisa -bisa dia malu sendiri karna ketahuan menguntit tiap hari.


"dasar cewek aneh" ucapnya lirih. Sambil bangun dari duduknya. Mood membacanya sudah hilang. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke kantin.


***


"*ran..! Disini*" teriak keren yang sedang melambai - lambaikan tanganya pada rania.



"*tumben cuma sebentar ke perpusnya ran*" tanya nora.



"gue *laper.. Jadi cuma sebentar aja di perpus*" kilahnya.



"elo *mau pesen bakso nggak, gue sama keren lagi pesen"



"boleh deh"



"pak.! Bakso satu lagi"



"pak..! Bakso satu*"



teriak nora dan pria dibelakang tempat mereka. Keren, nora dan rania menengok ke sumber suara.



Rania langsung menunduk saat melihat siapa yang duduk memunggunginya.


"ih.. Tumben banget bisa liat kevin di kantin" bisik keren pada teman- temanya.


"iya.. Biasanya dia ngumpet diperpus kaya rania" timpal nora.


"*mungkin dia lagi males baca kali, makanya dia kesini*" sahut rania. Ia tidak mau teman - temanya tahu apa yang dilakukanya di perpus.



"*emang perpus udah nggak ada stok buku baru ya vin*" tanya bimo yang duduk disebelahnya.



"*emang buku perpus dah pada lapuk ya.? Makanya nunggu stok baru*,?" tanya mario yang tidak peka dengan pertanyaan bimo.



"*hmmmm*" hanya itu suara yang keluar dari bibir kevin.



"*yaudah... nanti gue bilang ke pihak perpus untuk menambah buku barunya*" kata bimo sambil menepuk - nepuk bahu kevin.



"*emang elo nggak suka buku lama ya vin*,?" tanya mario yang masih nggak ngeh.



"*udah.. Ah. gue ke sini tuh mau makan, bukan mau diledekin sama elo bim*" jawabnya sambil menyantap bakso.



"*habis tumben- tumbenan elo keluar dari kandang"



"keluar dari kandang... Emang peliharaan*" ketus kevin.



"*kan.. Perpus kandang loe, biasanya kalau diajak ke kantin nggak mau*"



"**berhubung ini moment yang langka. Mari kita makan saja jangan berdebat. Ok**" cetus kevin dan memilih menghabiskan baksonya ketimbang meladeni temanya.



Bimo hanya tersenyum melihat temanya. Sedang mario masih tidak mengerti maksud pertanyaan bimo.



"*udah yuk, kita masuk kekelas*" ajak keren.



"*aku juga udah selesai kok*"ucap rania kemudian diikuti nora.


***


"*bye nora.. Bye rania*" teriak keren yang melihat mobil jemputanya sudah datang.



"*bye keren*" jawab mereka bebarengan.



"*ran.... Kamu belum dijemput*,?" tanya nora yang belum melihat mobil jemputannya.



"*belum "



"mau bareng nggak, nanti biar dianter supirku"



"nggak usah nora, lagian kita nggak searah, kamu duluan aja"



"beneran nich nggak papa"



"iya... "



"yaudah... Aku duluan ya. Bye rania"



"bye nora*"



rania berjalan menuju gerbang.baru berjalan beberapa langkah, dia melihat kevin yang sedang berbicara dengan siswi lain.




"maaf put.. gue lagi males"



"tapi kan gue pingin jalan- jalan sama pacar, masa elo tiap hari di perpus terus sich"



"kapan- kapan aja ya sayang*"



Rania yang sedang melintas disamping mereka langsung terkejut ketika kevin memanggil sayang pada lawan bicaranya. Ia tidak tahu kalau kevin punya pacar.



Rania langsung mempercepat jalanya. Ia tidak mau kevin melihatnya.



"*hah.. Ternyata aku telat. Ternyata dia sudah punya pacar*" bisiknya setelah sampai di depan gerbang sekolah.



Tittt....titttttt



suara klakson mengagetkanya.



"*ran*.... !" teriak pria didepan kemudi.



"*iya.. Iya.. Gue masuk*" jawab rania setengah berlari menuju mobil.



"*kok telak kak*,?" tanya rania.



"*iya tadi ada rapat dadakan. Papi kan nggak masuk kantor, jadi kakak yang wakilkan. Nggak papa kan nunggu tadi*,?" tanya sang kakak.



"*nggak papa*" jawabnya singkat.



Rania melempar tas sekolah ke samping tempat duduknya. kepalanya ia sandarkan kejendela. Sambil sesekali menatap kearah luar.



Sang kakak yang melihat adiknya hanya diam jadi bingung. Biasanya ia selalu bertanya kegiatan sang kakak selama dikantor.



"*ran... Kamu nggak papa kan*,?" tanya sang kakak.



"*nggak papa kak*" jawab rania dengan lesu.



"*kamu marah sama kakak*"



"*nggak"



"terus kenapa,?"



"cuma lagi lemes aja kak. Pingin cepet sampai rumah"



"oh*..."


***


"mami..!!! Papi...!! Rania pulang" teriaknya saat masuk kedalam rumah.


"haii... Sayang. Sudah pulang,?" sambut sang mami.


"papi mana mi,?" tanya rania yang tidak melihat keberadaan sang papi.


"*papi ada di kamar. Badanya kurang sehat*" jawab sang mami.



"*rania liat papi duli ya mi,?"



"nanti aja ya sayang, papimu baru aja tidur*" bujuk mami.



"*ya udah deh... Rania ke kamar dulu ya"



" ya sudah sana*"



"*mami... Gimana keadaan papi*" tanya sang putra.



"*udah baikan. Tadi juga sudah diperiksa sama dokter wibisono"



"apa kata dokter mi,?"



"dokter cuma berpesan, kalau papi nggak boleh setres dan nggak boleh capek. Julio, kamu sudah dewasa. Mami harap kamu bisa meneruskan perusahaan*"



"*tenang aja mi. Papi pasti segera sembuh. Mami jangan berfikir yang aneh - aneh"



"mami harap begitu sayang"



"julio mau kekantor lagi mi. Sampai nati ya"



"muachh.. Muachhh*"



setelah mencium kedua pipi sang mami. Julio masuk kembali kedalam mobil, menuju kekantor.



sudah sebulan terakhir, kesehatan sang papi menurun. Itu mengakibatkan sang putra sulung harus menggantikan sang papi di perusahaan.


***


rania menatap plafon kamarnya. Kata sayang yang didengar tadi siang masih terngiang- ngiang di telinganya.



"*inimah kalah sebelum berperang*" batin rania.



"*nggak mungkin dong gue rebut pacar orang"



"agghh*.." rania yang sedang berkecamuk dengan pikiranya dibuat kaget oleh suara handphone nya.



"*hai ran.. Loe lagi ngapain"



" gue lagi santai aja keren, kenapa,?"



"gue sama nora mau nonton. Loe mau ikutan nggak,?"



"ikutlah... Ketimbang bosen dirumah"



"ok. Nanti sore gue jemput ya"



"siap..!"



"udah dulu ya.. Bye"



"bye keren". rania meletakkan handpone nya. Dia melanjutkan kegiatan melamunya. Hingga matanya mulai meredup dan rania tertidur*.