Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Bab 25~Calon menantu


Hari ini rumah dalam keadaan sepi_hanya ada Kamila dan putranya. Semalam Edwin berpamitan untuk pergi ke luar kota, dengan alasan pekerjaan.


Dia sedang sangat sibuk akhir-akhir ini, sebab asisten pribadinya tengah berlibur untuk melangsungkan pesta pernikahan. Edwin merasa cemburu karena keduluan menikah oleh asisten pribadinya. Tapi, apalah daya dirinya harus menunggu kepulangan kedua orang tuanya dari Prancis untuk melamar sang pujaan hati.


Tanpa restu dari kedua orang tuanya, Edwin tak bisa melamar Kamila. Dia ingin kedua orang tuanya mendampingi dirinya untuk datang ke rumah orang tua Kamila sebagai wali yang sah.


Edwin tahu, jika hubungan Kamila dengan orang tuanya renggang sampai saat ini gara-gara pernikahan sebelumnya dengan Riki. Tapi, Edwin yakin dirinya pasti diterima jika datang secara baik-baik bersama kedua orang tuanya.


Saat ini waktu menunjukan pukul setengah empat sore, dan Kamila terlihat sedang bersantai sembari tiduran di ruang menonton dengan Baby Ray di sampingnya.


Bel rumah berbunyi nyaring hingga dirinya terkejut dengan kedatangan tamu yang sepertinya tak sabaran itu. Kamila melangkah sembari menggerutu kesal, sebab tamu tersebut terus menekan bel.


"Iya ... iya, aku datang!" seru Kamila sedikit berteriak.


Tangannya pun meraih gagang pintu, lalu segera membukanya. Ketika pintu terbuka, nampak dua orang paruh baya berdiri menatap Kamila dari atas hingga bawah. Penampilan keduanya sangat berkelas menandakan bahwa mereka orang kaya.


Di belakang dua orang tersebut, ada beberapa pelayan yang membawakan koper serta barang-barang lainnya.


Kamila menatap mereka dengan dahi mengkerut. "Maaf! Cari siapa?" tanyanya sopan.


Pria paruh baya yang menyahut. "Mau cari pemilik rumah ini," nada ketus terdengar hingga Kamila terkejut.


"Oo-oooh, mm ... itu ... Mas Edwin sedang keluar kota, Pak! A-ada yang bisa saya bantu?" Kamila menjadi gugup seketika.


Bapak tersebut memperhatikan kembali penampilan Kamila dari atas hingga bawah. "Kamu siapa?" masih dengan nada ketusnya.


"Sa-saya pelayan di rumah ini," sahut Kamila tambah gugup.


"Kok cantik?!"


Ucapan si Bapak tersebut mengundang senyum canggung Kamila, sedangkan istri Bapak itu hanya mengulas senyum yang tak ditampilkan di depan Kamila.


"Te-terima kasih, Pak!"


Bapak itu kembali berucap. "Tidak membiarkan kami masuk?!" pertanyaan menyindir itu dilayangkan karena melihat Kamila menunduk gugup.


"Hah? Ah, iya. Silahkan masuk, Pak, Bu!" Kamila tergagap sembari mengulurkan tangan di depan, bermaksud mempersilakan tamu tersebut masuk seiring tubuhnya yang bergeser ke samping. .


Kedua paruh baya tersebut masuk ke dalam rumah diikuti para pelayan yang membawakan koper serta barang-barang lainnya. Setelah menaruh semua barang bawaan, para pelayan segera keluar lalu pergi menggunakan mobil entah ke mana.


Kamila hanya melongo melihat semuanya tanpa bisa bertanya apapun, sebab dirinya tak mengerti dengan situasi saat ini.


Kedua paruh baya tersebut menyapu pandang ke sekeliling ruangan, mencari sesuatu namun tak ada. Setelah puas melihat-lihat isi ruangan tamu, keduanya pun berjalan masuk untuk berkeliling rumah.


"Ke mana anak itu pergi? Sampai orang tuanya pulang tak mau menjemput bahkan menyambut," pria paruh baya tersebut menoleh ke arah Kamila dengan tatapan tajam.


Kamila tersentak dengan perkataan pria paruh baya di hadapannya. Mungkinkah mereka orang tua Edwin? pikir Kamila.


"Mm-maaf, sebelumnya! Apa Anda ini Ayah dan Ibunya Mas Edwin?" tanya Kamila ragu.


"Iya. Saya Papinya Edwin dan wanita cantik ini Maminya," sahut Tuan Huda.


"Oh, maafkan ketidaksopanan saya, Pak! Saya tidak tahu kalau Anda berdua akan datang hari ini. Mas Edwin mungkin lupa memberitahu saya akan hal ini," Kamila menunduk beberapa kali sebagai permintaan maafnya.


Tuan Huda melambaikan tangan. "Sudahlah! Saya tidak perlu permintaan maaf darimu. Kami memang tak mengabari anak itu sebelumnya," cetusnya.


Ketika sampai di ruang tengah, netra keduanya menangkap sosok mungil dan tampan yang tengah terbaring lelap tanpa terganggu suara dari televisi yang sedang menyala ataupun suara berisik orang yang mengobrol.


Ibunya Edwin yang masih terlihat sangat cantik itu segera menghampiri si bayi tampan. "Ini putramu?" Kamila mengangguk. "Hallo, tampan!" ujarnya sembari tersenyum manis. Tangannya meraih tangan mungil itu dan mendaratkan beberapa kecupan sayang.


Kamila tersenyum seraya menghampiri. Sikap wanita paruh baya itu membuatnya sedikit rileks, "Namanya Rayyanza!" Kamila seolah tahu bahwa wanita itu ingin menanyakan nama si bayi gembulnya.


Nyonya Herni lantas menoleh sambil bertanya, "Nama yang bagus. Siapa yang memberikan nama tersebut?"


"Mas Edwin," sahut Kamila singkat.


Suara berat Tuan Huda menginterupsi hingga keduanya lantas menoleh, dan tentunya membuat Kamila tertunduk. "Bukankah kamu itu hanya pelayan di sini? Kenapa Edwin memberikan nama kepada putramu?"


Suasana menjadi hening seketika. Kamila terdiam sembari menunduk tak berani menatap keduanya. Nyonya Herni meraih tangan Kamila dengan tersenyum ramah. Sikapnya yang hangat dan keibuan membuat Kamila nyaman.


"Kenapa Edwin memberikan nama kepada putranya? Ya karena dia sayang. Iya, 'kan!" Nyonya Herni mengulang pertanyaan suaminya, kemudian menjawabnya.


Kamila mendongak menatap wajah cantik Nyonya Herni. Ditatapnya lekat wajah wanita paruh baya tersebut. Dalam hati Kamila terasa ada sesuatu yang menyayat. Rasanya perih tapi tak mengakibatkan pendarahan. Sikap Nyonya Herni mirip dengan ibunya, penyayang, penyabar, dan juga pengertian.


Tuan Huda duduk di sofa tunggal ruangan tersebut sembari menatap kedua wanita beda usia yang tengah duduk beralaskan karpet beludru. Ada seulas senyum tersungging di bibirnya, namun Beliau tak memperlihatkan kepada Kamila.


Tuan Huda terkesan cuek, ketus, dan juga galak. Tapi sebenarnya hatinya sangat baik. Bahkan, yang menyuruh Edwin untuk melamar Kamila adalah dirinya.


Ya. Kedua orang tua Edwin sudah mengetahui semua tentang kehidupan Kamila dari putranya. Edwin menceritakan semuanya tanpa ada yang dititup-tutupi.


Dia ingin agar ayah dan ibunya mengetahui sosok seperti apa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Walaupun begitu, Edwin berharap mereka menyetujui pilihannya.


Dan tentu saja, kedua orang tua Edwin menyetujui pilihan putranya dan mengesampingkan jika Kamila pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga serta memiliki seorang putra.


Bel kembali berbunyi_kali ini terdengar lebih santai. Kamila pamit untuk membuka pintu kepada kedua orang tua Edwin.


Ternyata, tamu itu adalah kurir yang mengantarkan paket kiriman dari seseorang. Entah siapa pengirimnya, yang pasti Kamila tak tahu.


"Siapa?" tanya Nyonya Herni.


"Kurir, Bu!" sahut Kamila seraya memperlihatkan bungkusan di tangannya.


"Untuk siapa?"


"Untuk Mas Edwin," Kamila menyahut lagi.


"Apa isinya?"


"Enggak tahu! Sebaiknya Ibu yang buka saja," usul Kamila.


"Eh, ini kan punya Edwin. Biasanya kalau ada kiriman, siapa yang buka?"


"Mas Edwin sendiri. Saya hanya menerimanya, lalu menaruhnya di meja kerja." jawabnya dengan jujur.


Nyonya Herni tersenyum mendengar jawaban Kamila. Beliau merasa jika Kamila adalah wanita yang tak kan mencurigai apapun terhadap Edwin.


"Dia cocok jadi menantuku!" gumamnya dalam hati.


...Bersambung ......