
Liu Min menanti iring-iringan mobil berakhir dan ia secepatnya melesat melompat ke atas atap dan berlarian di sana menuju hotel dimana istrinya berada.
"Aku bersyukur Dara mengajariku menggunakan tenaga dalam, jika tidak … aku tak akan semudah ini melesat," batinnya tersenyum.
***
Sementara Dara terjaga dari tidurnya, ia merasa keributan di jalan raya, "Laogong!"
Dara terbangun dan duduk di keremangan malam, ia tak melihat Liu Min di sana.
"Sial! Apakah dia telah pergi dengan sendirian? Bajingan, awas kau Laogong!" umpat Dara langsung meraih senjatanya dan menyelipkan di balik blazernya.
Ia mencoba untuk ke luar, klik!
Sebuah senjata langsung mengarah di kepalanya. Dara langsung mengangkat tangannya karena sepucuk pistol yang lain berada di pinggangnya.
"Sial, apa yang terjadi sebenarnya?" batin Dara, "mengapa aku bisa seteledor ini?" lanjut batinnya.
Ia berusaha untuk mengumpulkan semua ruhnya yang masih melayang. Ia menyadari jika dia tidak waspada, ia tak mengira jika rencana mereka sudah sedikit terkuak.
"Sindikat naga merah benar-benar, sekumpulan orang hebat dan kami terlalu menganggap enteng!" batinnya, "siapa kau!" tanya Dara ia mencoba untuk melirik belakangnya.
"Mengapa kau menangkapku? Aku dan kekasihku hanya ingin berkencan," ujarnya
"Hahaha, aku tidak yakin. Yu Lan! Bukankah namamu Yu Lan?" ucap seorang pria yang menodongkan senjata padanya.
"Mengapa mereka tahu jika nama samaranku adalah Yu Lan?" batinnya.
"Jika kau macam-macam maka aku akan meledakkan kepalamu!" ancam pria tersebut.
Dara mencoba untuk tidak melawan ia hanya ingin tahu siapa pria di belakangnya, "Ayo, maju!" ujar suara pria tersebut.
Si pria langsung menyuruh Dara untuk bergerak maju dan masuk ke dalam sebuah mobil. Di dalam mobil sudah berada beberapa orang yang sedang menantikan mereka dengan senjata lengkap.
Dara melihat semua pria adalah orang-orang setempat, "Ke mana Liu Min?!" batin Dara, "sial! Mereka benar-benar orang-orang naga merah!" lanjut batinnya.
Ia melihat dari kejauhan jika asap telah membumbung tinggi di udara, "Laogong, apakah Liu Min berada di sana?" batin Dara.
Mobil membawa Dara menembus keramaian lalu lintas yang macet, "Sial! Bedebah mana lagi yang berniat menghancurkan kita!" ujar si supir.
Dara melirik jika di dalam mobil hanya ada 4 pria, ia melihat di pinggang keduanya ada pistol. Dara mencoba untuk melihat celah agar dirinya bisa kabur.
***
Sementara Liu Min sudah tiba di hotel, "Dara!" Liu Min mencari ke sekeliling ruangan dan kamar mandi dan tidak menemukan Dara.
"Bedebah! Apa yang telah terjadi?" batin Liu Min berlari ke luar.
Syut!
Sebuah anak panah melesat hampir mengenainya jika tidak Liu Min menangkapnya, "Bajingan! Paulin?! Sial!" umpatnya.
Ia melihat jika Paulin melesat dengan kecepatan yang luar biasa mengendarai sepeda motor, melintas tersenyum ke arahnya dengan mengacungkan jari tengah.
Ia tidak menyangka jika Paulin bisa menemukan mereka, "Dasar brengsek! Apa ini?" Liu Min melihat secarik kertas di gagang busur.
Liu Min langsung mengambil dan membacanya, [Akhirnya … kita bertemu lagi! Selamatkanlah kekasihmu jika kau bisa]
"Aaa! Dasar, Paulin!" Dara langsung meraih sepeda motor dan melesat ke arah share lokasi yang diberikan oleh Liu Min.
Ia mengejar Dara dengan arah yang berbeda, Paulin sengaja melakukan hal itu, tersenyum dari atas gedung pencakar langit di kota Shenzhen melihat kedua musuhnya telah dibawa ke tempat berbeda.
"Aku sudah memisahkan mereka Tuan! Baik!" Paulin mematikan dan memasukkan ponsel ke saku.
Ia langsung melompat terjun ke bawah ke lantai ubin tanpa cedera sedikit pun, ia melesat ke sepeda motor yang berada di bawah gedung dengan begitu cepat seakan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa
***
"Lakukan sesuai dengan yang direncanakan Axiang!" ujar pria tua berumur sekitar 50 tahun dengan rambut hitam dan wajah yang terlihat masih muda.
"Baik Tuan!" ujar Lu Xiang langsung ke luar dari ruangan mewah tersebut.
"Sudah waktunya … kekuatan pedang naga hijau akan menjadi milikku! Hahaha," ia tertawa dengan gembira menatap ke pusat Kota Hunan yang telihat di bawahnya melalui dinding perusahaannya yang terbuat dari kaca.
***
Dara melihat ia begitu mudah untuk kabur, "Jangan kabur Dara …," suara bergema di kepalanya.
"Siapa kau?" teriak Dara di dalam kepalanya, ia merasa dia tak bersama dengan Li Phin.
"Aku adalah dirimu!" ujar suara yang bergema.
"Tapi aku ingin kembali kepada suamiku?" teriak Dara
"Jangan khawatir! Liu Min adalah orang yang hebat. Jika kamu ingin mengetahui kebenarannya maka lakukanlah permintaanku," lanjut suara tersebut.
"Hei! Tunggu! Kemana kau pergi?" teriak Dara di dalam benaknya.
Ia melihat jika ia dibawa ke suatu perusahaan yang sangat mewah, "Perusahaan Wanchai? Bukankah ini perusahan hebat di bidang komputer? Ada apa dengan maksud semua ini?" batin Dara semakin bingung.
"Ayo, keluar!" ujar si penodong
Dara keluar dengan tangan yang sudah terborgol. Dara melihat borgol tersebut dan menghela napas, ia merasa dunia sudah terbalik biasanya dialah yang memborgol penjahat akan tetapi kini malah dialah yang diborgol bak penjahat.
Dara melihat sekelilingnya dan seorang pria memasukkan sebuah penutup kepala berwarna hitam menutup seluruh wajahnya.
"Bajingan!" umpat Dara.
Bukan itu saja mereka juga sudah diplester mulutnya. Dara hanya diam dengan menghitung setiap langkah yang dilaluinya saat langkah ke-100 ia merasakan telah berada di dalam lift dan lift langsung secepatnya membawa mereka turun ke bawah tanpa adanya persinggahan di setiap lantai.
"Laogong …," lirih Dara.
Ia merasakan kesepian dan ketakutan, selama ini ia tak pernah merasakan hal itu. Namun, sejak menikah ia merasa tak bisa jauh dan berpisah dengan Liu Min.
Para pria membawa Dara dengan sedikit menyeret lengannya, mereka mendudukkan Dara di sebuah kursi yang langsung sebuah plat besi mengikat tubuhnya yang menyambung dari kursi tersebut.
"Bajingan!" umpat batin Dara.
Jika tidak tersumpal ia pasti sudah memaki dan mengutuk semua perbuatan mereka.
"Buka penutup kepalanya," perintah seseorang.
Seseorang langsung menarik penutup kepala, Dara menyempitkan pandangan karena lampu terlalu silau, ia menatap pria tersebut.
Deg!
"Qin Chai Xi?" batinnya terhenyak.
"Tuan Axiang, kami apa yang akan kami lakukan lagi?" tanya kaki tangan Axiang.
"Minggirlah, biarkan kami berdua saja!" balas Axiang.
Krak!
Axiang menarik plester di mulut Dara membuat Dara ingin berteriak kesakitan. Akan tetapi, ia tak ingin memberikan suatu kepuasaan pada musuhnya.
"Siapa kau?!" tanya Dara.
"Hahaha, kau tak perlu tahu siapa aku? Aku, hanya ingin memintamu untuk ke Hunan dan mencuri pedang Naga Hijau!" ujarnya.
"Apa? Kau gila! Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal itu?" ujar Dara.