Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Kematian tak perlu ditakuti


"Ini adalah GPS kau tahu, apa maksudnya itu. Selain itu, untuk menghindari kamu kabur dari kami, jika kamu coba-coba membelot di perjalanan maka kode itu akan membuatmu mati. 


"Kami cukup menekan tombol di sini dan … bum! Kau pun tinggal puing-puing!" balas Quino.


Ia mengangkat tangannya seakan menjadi sebuah ledakan yang akan membunuh Dara dan ia pun tersenyum puas.


"Heh! Sungguh merepotkan!" balas Dara.


Ia menatap ke arah kode tersebut dan merasa sangat marah juga kesal dengan semua itu, tetapi ia pun tak bisa berkata apa pun lagi.


"Jangan khawatir, aku rasa kalian tak perlu melakukan hal ini, karena bagaimanapun aku tak akan pergi meninggalkan kalian. Aku pasti akan menghancurkan Guangzhou termasuk dirimu Nyonya Qin!" ucap Dara.


Ia seakan berada di masa dinasti Donglang, kala berhadapan dengan Quino yang sangat mirip dengan Chien Ti'er istri dari Qin Chai Xi.


"Hahaha, ternyata Guangzhou benar. Kamu memang adalah Permaisuri Dara Sasmita bukan? Mustahil, tapi ini benar-benar nyata," ujar Quino.


Ia mendekat sedikit ke telinga Dara, "Jika dulu kamu berhasil membunuhku, tidak denganku yang sekarang ini Permaisuri Dara Sasmita!" ujar Quino.


"Kita lihat saja nanti!" bas Dara tersenyum.


"Bawa dia ke mobil dan lepaskan semua borgolnya, jika dia melawan bom yang tertanam di chip kode tangannya akan membuatnya meledak!" balas Quino tersenyum.


Dara terdiam, ia merasa jika yang dihadapinya kala ini bukanlah sebuah zaman di mana semuanya masih mengandalkan kekuatan dan otot. Namun, pada zaman sekarang mengandalkan teknologi dan kepintaran juga kekuatan serta taktik yang hebat.


"Ternyata kemajuan teknologi benar-benar membuat rumit." Dara memandang ke arah kode digital yang berada di lengan dalam persis di pergelangan tangan.


Beberapa orang pengawal dengan pakaian ninja dan pistol yang terselip di pinggang juga pedang di punggung telah bergerak di belakang Dara beserta Quino yang berada di depan.


Mereka membawa Dara masuk ke dalam mobil Van dan melesat ke pusat kota ke Museum Kota Hunan (istana Donglang di Chang An).


"Ini, pelajarilah peta ini. Agar memudahkanmu masuk ke dalam, kami tidak bisa ikut! Hanya kau saja yang akan pergi. Jika kau sudah berhasil membawa pedang itu, maka masukkan ke dalam peti ini," ucap Quino.


Dara hanya diam dan memperhatikan layar ponsel yang diberikan oleh Quino. Ia mengamati dan memasukkan ke dalam sakunya. Ia sudah mengerti dengan hanya melihat sekilas. 


"Semua ruangan itu tetap sama, tak ada yang berbeda kecuali terbuat dari baja titanium saja." Dara membatin dan menautkan jari.


Ia masih mengingat malam-malam panjang yang dilewatinya bersama Liu Min di kamar itu di mana pedangnya masih bertengger di sana.


"Aku rasa Li Phin dan Ayahanda Li Sunlah yang membawa pedang dan meletakkannya di sana, dan pedang itu berada di kamarku dan Liu Min," batin Dara.


Ia beruntung jika Guangzhou tidak mengetahui ada tempat rahasia di sana. Namun, "Bagaimana aku bisa melepaskan kode digital ini?" batin Dara.


Ia masih menatap ke arah kode tersebut, mencoba untuk mencari jalan agar ia terbebas, Dara menarik napasnya.


"Jika aku berhasil mengambil pedang naga hijau pun semuanya sia-sia. Jika aku kabur pun sama saja," batin Dara.


"Tidak usah terlalu berpikir sangat jauh, Nona Dara eh, Permaisuri. Kali ini kalian tidak akan pernah berhasil kabur dari kami," ujar Quino.


Dara hanya menatap ke wajah Quino dengan tatapan tanpa reaksi, "Aku tahu, kau sangat khawatir dengan kode itu bukan? Guangzhou benar-benar sangat pintar," ujarnya.


"Ya, kamu benar! Sayang sekali kepintaran itu diberikan pada orang yang sangat licik," balas Dara tersenyum.


Quino menatap ke arah Dara dengan bengis ingin rasanya ia membunuh Dara mengingat jika sepupunya Paulin telah tewas di tangan Liu Min. 


Namun, karena ia harus mematuhi perintah Guangzhou maka ia pun tak berani untuk menyentuhnya.


"Jika dia telah berhasil mengambil pedang, maka aku akan membunuhnya," batin Quino.


***


"Wow, ini sangat keren!" ujar Liu Min tersenyum.


"Apakah kau tahu apa maksudnya itu?" tanya Pablo tak mengerti akan perlakukan Liu Min yang terlihat sangat santai menikmati semua itu.


"Tentu saja! Aku sudah cukup lama berkeinginan memiliki ini, sebagai peminat dan pelanggan semua barang teknologi dari Wanchai. Kau tahu, aku sangat menginginkan hal ini," balas Liu Min santai.


"Hahaha, baru kaulah orang bodoh yang begitu senangnya mendapatkan kode kematianmu sendiri!" ujar Pablo tersenyum sinis.


"Um, aku rasa kematian akan datang kapan pun. Kematian tak perlu ditakuti dan tidak boleh terlalu berani untuk menghadapinya," ujar Liu Min.


Pablo memandang ke arah Liu Min dengan curiga, "Pria ini terkenal sangat licik, aku takut jika dia memiliki rencana lainnya," batin Pablo curiga.


"Apakah aku masih boleh ke kamar mandi?" tanya Liu Min.


Pablo menatap ke arah Liu Min, "Jika kau hanya ingin buang air kecil silahkan buang saja di situ!" ujar Pablo.


Pablo mengulurkan botol bekas minuman air mineral, tanpa canggung Liu Min langsung meraih dan melakukan hajatnya dan tersenyum memberikan kotorannya pada Pablo.


"Tolong buang ya? Karena kau memang pantas untuk melakukan hal itu!" balas Liu Min tersenyum puas.


"Dasar bajingan kau! Jika bukan karena Guangzhou aku pasti sudah membunuhmu!" hardik Pablo marah.


"Aw! Aku takut!" ejek Liu Min tersenyum.


Ia berjalan mengikuti dua orang pengawal yang menuntunnya ke warah mobil Van. 


"Ko Liang Bo!" lirih Liu Min.


Ia terdiam melihat Liang Bo yang sudah memar dan terluka di wajah dan tubuhnya tertatih didorong oleh pengawal Guangzhou.


"Amin … Aching dan si kembar …," lirih Liang Bo menatap Liu Min.


Liu Min hanya menganggukan kepalanya, ia merasa marah dengan apa yang dilakukan oleh musuhnya yang sangat keterlaluan.


"Ayo, masuk!" teriak seorang pengawal yang mendorong dan memukul Liang Bo.


Membuat Liang Bo tersungkur dan muntah darah di depan Liu Min.


Buk! Buk!


"Aaa!" si pengawal langsung menghembuskan napasnya.


Kala Liu Min menendang dadanya hanya dengan dua kali pukulan. Semua orang terperangah termasuk Pablo.


Glek!


Musuh mereka tak menyangka jika Liu Min begitu luar biasa mengerikan. Semua orang menodongkan senjata kepadanya tetapi, Liu Min tak peduli ia terus berjalan dan menolong kakak iparnya.


"Apakah kamu baik-baik, saja Ko?" tanya Liu Min membersihkan baju Liang Bo yang kotor dan penuh bercak darah.


"Aku baik-baik, saja Amin. Syukurlah kalian selamat, mana Dara?" tanya Liang Bo menatap ke balik punggung Liu Min.


"Dia dibawa ke ruangan lain untuk mengambil pedang naga hijau," balas Liu Min.


"Amin, maafkan kami. Kami tidak bisa menyelamatkan pedang Liu, wanita Jepang itu mengambilnya," balas Liang Bo.


"Oh, tidak masalah! Yang penting kalian selamat. Apakah Koko juga mendapatkan kode digital?" tanya Liu Min.