
"Hati-hati dengan senjata rahasia jarum milik orang itu, tangan, dan tubuhnya pun sudah menyatu dengan racun! Sebaiknya gunakan pedang Naga hijau!" usul Li Phin.
"Baiklah!" ujar Dara menerima saran Lii Phin ia sama sekali buta dengan racun.
Pertempuran semakin sengit 1 lawan dua, Jang Min dan Li Phin terus mendesak si penyusup dengan semua kelebihan mereka akan tetapi si penyusup benar-benar luar biasa.
Buk!
Dara berhasil menendang punggung si penyusup, hingga si penyusup sedikit terjengkang. Akan tetapi, ia kembali menguasai tubuh dan melayang di udara. Di sekitar mereka beberapa bangunan pepohonan sudah roboh semua orang sudah mengepung si penyusup.
"Sial, aku terkepung! Jangan sampai aku tertangkap ini akan sangat mengerikan sekali nantinya!" batin si penyusup.
Ia menaburkan serbuk putih, "Awas, racun yang bisa membutakan mata!" teriak Li Phin pada semua orang.
Dara langsung menarik pedang hijau ayahnya dan memutarnya dengan tenaga dalam membuat sebuah pusaran sebuah angin yang mengerikan, ia terus melesat mengejar si penyusup yang berusaha untuk kabur.
Dara tidak menyia-nyiakan kesempatan melemparkan pedang dan kekuatan tenaga dalam miliknya sehingga tangan si penyusup terpenggal jatuh ke tanah, tapi si penyusup berhasil kabur.
"Cari dan tangkap dia!" teriak Ratu Li Hun murka, "uhuk! Uhuk!" Ratu Li Hun terbatuk dan hampir pingsan.
"Ibunda!" teriak Jang Min berlari memeluk ibunya.
Dara melesat mendekat ke arah Ratu Li Hun, "Suamiku, bawa Ibu Ratu ke kamarnya aku akan memeriksa apakah dia telah menghirup racun tersebut?" ujar Dara dan Li Phin.
"Jangan bawa ke kamarnya!" teriak Li Phin kala mereka ingin masuk ke kamar Li Hun.
"Ada apa Istriku?" tanya Jang Min bingung.
"Ruangan ini penuh dengan asap racun yang kasatmata," jawab Li Phin.
Jang Min membawa Ratu Li Hun ke kamarnya, Dara langsung memeriksa nadi Ratu Li Hun, "Dayang! Tolong Rebus resep ini secepatnya!" perintah Li Phin menuliskan sebuah catatan dengan cepat, si dayang langsung berlari ke dapur istana.
"Jang Min, uhuk! Uhuk! Syukurlah kamu sudah kembali, Nak!" ujar Ratu Li Hun.
"Ratu, jangan bergerak dan berbicara dulu!" ujar Li Phin berusaha membuat akupunktur di tubuh Li Hun.
"Huek!" Ratu Li Hun langsung muntah darah.
"Istriku, bagaimana keadaan Ibunda?" ujar Jang Min memangku kepala Ratu Li Hun.
"Sabarlah, racunnya sudah mulai keluar makanya aku menyuruh dayang memasak resep tadi agar Ratu tidak semakin terluka dalam dan kekurangan darah," ucap Li Phin terus berusaha melakukan tugasnya.
Tabib Mok datang tergopoh-gopoh, "Apa yang kau lakukan? Bagaimana kau berani-beraninya melakukan hal itu? Ibu Ratu sedang di dalam masa pengobatanku!" teriak Tabib Mok.
Trang!
Dara kembali menguasai tubuh Li Phin menarik pedang dan mengangsurkan ke leher Tabib Mok.
"Diam, jangan banyak bicara! Setelah ini, aku akan bertanya banyak hal padamu, Tabib! Pengawal tangkap dia jangan biarkan dia kabur, tahan dia di sini!" teriak Dara.
Li Hun terperangah memandang menantunya begitu sadis pada orang. Mereka tak menyangka jika Li Phin begitu kejam dan mengerikan dibalik sikap lembut yang diperlihatkan wajahnya.
Dayang langsung datang dengan secangkir rebusan ramuan, "Ini Yang Mulia Putri!" ujarnya.
"Terima kasih!" balas Li Phin dingin menghirup aroma rebusan tersebut, "Siapkan makanan yang bergizi sekarang juga!" perintah Li Phin.
"Ba-baik Putri!" ujar Dayang kabur kembali ke dapur.
"Ibu, Ratu. Ayo, minumlah dulu obat ini," ujar Li Phin menyuap sedikit demi sedikit.
"Sudah! Ini pahit sekali, Nak!" keluh Ibu Ratu Li Hun.
"Ratu harus sehat demi tugas sebagai Ratu di Kekaisaran Donglang, banyak yang bergantung padamu, Ratu. Sedikit lagi," ujar Li Phin dengan kelembutannya, Jang Min masih memangku kepala ibunya dan menyeka sisa darah dan ramuan dari bibir Li Hun.
Setelah ramuan habis, "Aku lapar!" lirih Ratu Li Hun.
"Sebentar lagi, makanan akan datang!" ujar Li Phin.
Dayang datang dengan nampan, "Kamu cicipi semua makanan ini dulu!" ujar Li Phin.
"Ta-tapi, Putri!" ujar Dayang.
"Aku katakan cicipi! Jika kepalamu masih ingin di tempatnya," ujar Dara.
Si dayang langsung mencicipi semua masakannya, "Terima kasih! Ayo, Ratu makanlah, makanan ini aman!" ujar Dara. Li Phin kembali menyuapi Ratu Li Hun.
Ratu Li Hun makan dengan lahap, "Tabib Mok, apa sebenarnya yang kau lakukan selama ini! Mengapa hanya dengan racun ringan seperti ini kau tidak bisa menyembuhkan Ratu?" tukas Dara menatap Tabib Mok.
"Maafkan saya, Yang Mulia! Saya … aaa!" teriak Tabib Mok langsung jatuh dan menggelepar di lantai dengan mulut berbusa. Semua orang terperanjat ketakutan terutama para dayang.
"Oh, Dewa! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Li Hun ingin beranjak tapi Jan Min melarangnya.
"Pengawal! Bawa mayat Tabib Mok kepada tim medis untuk diperiksa dan kepolisian kekaisaran untuk menyelidiki. Aku ingin besok laporannya sudah ada padaku," ujar Jang Min.
Dara berjalan mendekati mayat Tabib Mok. Mengambil sumpit membalik dan memeriksa tubuhnya, "Seseorang yang terlibat dan tidak ingin diketahui siapa orang yang telah melakukan semua ini. Dia telah melakukannya," ujar Dara, berjalan ke arah jendela kertas.
Ia memeriksa sebuah lubang di mana seseorang telah melemparkan jarum beracun pada Tabib Mok, "Apakah ini konspirasi?" tanya Li Phin.
"Aku tidak tahu! Nanti, kita akan cari buktinya," balas Dara.
"Apakah Kaisar terkena racun juga?" lirih Ratu Li Hun, "Phin'er besok kamu periksalah," ucap Ratu Li Hun.
"Baik Ratu! Suamiku, suruh pengawal memanggil Tabib Luo. Dia begitu pintar soal racun, aku hanya bisa mengobati racun ringan," jujur Li Phin.
"Baiklah, Jenderal Hui, pergilah ke Xuchang panggil Tabib Luo," perintahnya pada Jenderal Hui.
"Istirahatkah kalian, Phin'er sudah terlalu malam tinggallah di sini. Kalian pun sudah suami istri hanya tinggal membuat acara saja! Dayang Aching, berilah pakaian dan tunjukkan kamar Nona Li Phin!" ujar Ratu Li Hun.
"Terima kasih, Yang Mulia!" ujar Li Phin.
"Jang Min, antarkan Phin'er ke kamar dan tidurlah bersamanya," ujar Li Hun.
Bruk!
Dara dan Li Phin jatuh ke lantai, "Ada apa Phin'er?" tanya Li Hun bingung.
"A-anu! Saya … itu sangat mengerikan sekali! Bisakah saya tidur sendirian?" ujar Dara dan Li Phin syok.
"Hahaha, jangan-jangan kalian belum pernah merasakan malam pertama begitu?" tanya Li Hun tertawa geli.
memandang pasangan yang bersemu merah di depannya.
"Ibunda!" sela Jang Min sedikit malu.
"Apakah putraku belum pernah menyentuhmu?" tanya Li Hun menatap tajam kepada keduanya.
"Ibunda! Aku mohon, itu sangat memalukan, kami mohon undur diri!" sela Jang Min memberikan penghormatan kepada Li Hun langsung menarik tangan Li Phin.