Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Sebuah Misteri


"Ya, ampun! Kapan sih, aku berbohong kepadamu Liu Min? Heran deh! Ck," lanjut Dara menggelengkan kepalanya.


Dara merasa Liu Min benar-benar menjadi sosok yang keras kepala dan terlalu naif. Dara tak mengerti bagaimana bisa ia mencintai sosok Liu Min pada zaman ini yang bertolak belakang dengan sifat Kaisar Liu Min pada masa lalu.


Liu Min menatap Dara dengan rasa ketidakpercayaan yang sangat luar biasa. Ia masih tak percaya jika Dara benar-benar membalas cintanya.


Liu Min masih menatap Dara di sisi mentari yang mulai terbenam di pantai Kampung Nelayan yang indah.


Diselingi suara camar yang masih menyambar ikan di permukaan lautan, "Suasananya benar-benar romantis, sekali lagi aku katakan kepadamu Dara, aku mencintaimu! Maukah menikah denganku jika semua masalah ini berakhir?" tanya Liu Min kembali dengan sejuta pengharapan.


"Aku mencintaimu Liu Min. Hari ini, esok, dan selamanya. Kamu adalah satu-satunya pria yang aku cintai selamanya, Liu Min." Dara menatap Liu Min dengan penuh rasa cinta.


"Oh, Dara. kamu tahu bahagianya rasa  di hatiku," balas Liu Min merengkuh pinggang ramping Dara menikmati sunset indah di kampung yang pernah beratus tahun lalu, di dalam sebuah buku, hal yang sama mereka lakukan hanya saja mereka berada kota di bagian Hunan bagian utara.


"Liu Min, aku ingin ke Jinjing (Kota Xihe zaman dulu)." Dara menatap debur ombak di lautan, nalurinya menginginkan mereka agar pergi ke sana.


"Dara, apa yang kamu cari di sana? Apakah kamu pernah ke Kota Jinjing?" tanya Liu Min penasaran, "mengapa Dara seakan mengenali semua daerah ini? Apakah ada hubungannya dengan Guangzhou?" batin Liu Min.


Dara memilih dan membalikkan tubuh menatap Liu Min, "Aku … hanya ingin … ke sana saja." 


"Oh …," balas Liu Min, "hanya itu?"


 


"Ya, hanya itu. Hayo, kamu mikir apa?" tanya Dara, "Kamu pasti berpikir aku adalah siluman rubah, begitu? Dasar!" ketus Dara tersenyum.


Dara begitu mudah menebak isi hati Liu Min, "Aku masih penasaran apakah benar jika Guangzhou adalah reinkarnasi dari Lu Dang? Jika benar dia pastilah ingin selalu dekat dengan Kota Xihe atau Xuchang, bukankah ini Xuchang (Hunan)?. 


"Dan Kota Jinjing adalah Xihe? Semua ini adalah sebuah kebetulan dan Shaanxi adalah Chang An dan Kampung Nelayan berada di barat laut Xi'an, yang berada di Shaanxi pada zaman ini?.


"Um, jadi semuanya seperti kebetulan bukan?" batin Dara menghubungkan semua peta, pada masa sekarang dan  lalu dari dinasti Donglang. 


Dara mulai menghubung-hubungkan sejarah Tiongkok dan masa kini, kecerdasannya mulai bekerja. Dara merasa jika Lu Dang pastilah kembali ke asal saat kematian merenggut nyawanya dan Liu Min juga kembalinya Dara ke zaman masa kini.


"Segalanya mulai terpecahkan, apalagi pedang naga hijau masih ada di Museum Shaanxi (Chang An) pada masa ini.


"Aku, Lu Dang, Liu Min, dan Li Phin pasti terhubung. Akan tetapi, apakah Li Phin bereinkarnasi juga? Apakah aku harus menelusuri jejak leluhur Li Phin? Oh Tuhanku jalan ini berliku? Tapi … tidak mungkin ....


"Jika aku menemukan Li Phin anak dan keturunanya, apakah aku harus bertemu dengan anak keturunanku bersama Liu Min melalui Liu Sun Ming? Apa yang terjadi jika Liu Min adalah anak keturunanku sendiri? 


"Itu adalah hal gila! Tidak mungkin aku menikahi anak keturunanku sendiri! Bagaimana ini?" Dara mulai cemas,


"tapi, Liu Min memiliki pedang milik keluarga Liu. Ini mengerikan?" batin Dara.


Ia memandang Liu Min dengan perasaan cemas dan campur aduk, ia bingung jika segala hal menjadi kebetulan. 


"Ada apa?" tania Liu Min.


Liu Min melihat Dara termenung dengan mengerutkan keningnya, seakan ia mulai berpikir keras dan mengetahui sesuatu membuat Liu Min tak menyukai jika Dara menyimpan sesuatu tanpa membagi sesuatu itu kepadanya.


"Aku tidak tahu, um … entahlah aku sendiri tidak begitu memperhatikan semua itu. Memang ada apa?" ujar Liu Min penasaran,


"Dara, aku yakin kamu mengetahui banyak hal, apakah kamu tidak ingin membagi informasi itu kepadaku? Aku sangat yakin jika kamu mengetahui sesuatu.


"Apakah ada hubungan antara masa lalu dan sekarang? Antara lukisan dan kita? Jika aku bagian dari hidupmu. Hai, siluman rubah! Lebih baik kamu mengingatkanku jika aku melupakanmu!" kata liu Min.


Deg!


Jantung Dara bergetar ia mengingat ucapan kalimat Liu Min terakhir kali kala mereka berada di atas puncak benteng pertahanan Xihe di malam bulan purnama kala dansa perpisahan yang mereka lakukan.


"Ya, Tuhanku! Apakah aku harus mengatakannya?" batin Dara mulai bertanya-tanya.


"Dara …," tanya Liu Min, "bisakah kita saling jujur?" tanya Liu Min.


Liu Min berharap sebuah kejujuran dari Dara, ia tak ingin ada dusta diantara mereka. Keduanya saling pandang, Dara semakin bingung harus bagaimana menghadapi segalanya.


"Liu Min, kita harus ke Kota Jingjing jika semua sesuai prediksiku, aku akan mengatakan suatu kebenaran untukmu, sepahit apa pun kebenaran itu.


"Aku harap kamu sabar menantikan semua itu," balas Dara.


Dara merasa takut jika ia harus mengatakan sebuah kebenaran dan kejujuran pada saat ini, dia dan Liu Min akan kecewa. Dara pun belum yakin akan kebenaran yang masih simpang siur.


"Aku takut jika Liu Min adalah anak keturunanku dari Liu Sun Ming. Aku tak ingin seperti kisah Sangkuriang," batin Dara, ia takut jika kisah cerita babad tanah Sunda yang melegenda, itu terulang padanya walaupun dengan versi berbeda.


"Baiklah!" balas Liu Min. 


Ia ingin merengkuh Dara akan tetapi, Dara mulai menghindari Liu Min membuat Liu Min mengernyitkan kening.


"Ada apa, Dara?" tanya Liu Min bingung akan penolakan Dara yang begitu tiba-tiba.


"Liu Min, sebelum segalanya menjadi jelas, aku hanya ingin kamu jangan  menyentuhku dulu," tukas Dara.


"Hah! Mengapa kamu menjadi aneh setelah di Hunan ini, Dara? Apa yang sebenarnya yang kamu sembunyikan?" tanya liu Min.


"Liu Min, percayalah suatu saat aku akan mengatakannya!" balas Dara bingung dan terpojok.


"Aku tidak ingin menunggu lama hanya untuk mengetahui semua itu, Dara! Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku ingin kamu mengatakan kebenaran yang sesungguhnya!


"Jika kamu hanya menghindar dan aku tidak tahu apa salahku. Bagaimana aku bisa tenang? Mengertilah!" desak Liu Min.


Ucapan Liu Min membuat Dara membenarkan apa yang diinginkan oleh Liu Min. Tapi, ia bingung harus mengatakan dari mana ia harus memulai. Dara terdiam menatap wajah Liu Min, dengan sejuta kebingungan.


 "Apakah setiap beberapa generasi, secara genetik akan memiliki wajah yang sama dengan leluhurnya?" batin Dara mulai memikirkan kebenaran akan mutasi gen dan kemiripan.


Glek!


Dara menelan ludah, mendapati misteri di dalam hidupnya yang tragis terombang ambing tak jelas.