Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta-Usul Dara dan apatisnya Liu Min


Liu Min masih saja memperhatikan Dara dengan negara teliti, ia tak mendengarkan semua ucapan dan usul dari Dara. Ia hanya mengagumi wanita di depannya dengan sejuta pesona dan hal-hal luar biasa yang diperlihatkan seorang Dara Sasmita.


"Aku tidak tahu mengapa aku begitu tertarik dengan wanita angkuh dan dingin ini? Padahal, jika dia tersenyum dan tertawa dia manis sekali!" batin Liu Min.


"Liu Min, apakah kamu mendengarkanku?" tanya Dara menatap wajah Liu Min yang menghayal menatapnya.


"Um, aku … apa pun yang ingin kamu lakukan, aku hanya mengikut saja ...," balas Liu Min tersenyum nakal.


Ucapan dan kerling mata Liu Ming membuat Dara semakin kesal, ingin rasanya ia memukul Liu Min dan mencongkel kedua bola matanya.


"Aku berharap kamu pun memiliki ide atau usul. Jangan hanya memandangku saja, Tuan Liu. Aku bukan lukisan," balas Dara ketus.


Danu menatap pasangan di depannya dan sedikit tersenyum dengan membuang wajah, "Baru kali ini, Nona Dara sedikit salah tingkah! Biasanya dia tidak peduli jika ada mata pria yang melihatnya hingga mata mereka melompat keluar.


"Aku berharap Tuan Liu adalah jawaban dari doa-doa kami. Hanya dialah yang belum memiliki suami, jangankan suami pacar saja pun tak punya," batin Danu.


"Danu, cobalah periksa di mana keberadaan Jimmy!" ujar Dara.


"Siap laksanakan, Komandan!" balas Danu. Langsung bergegas ke depan salah satu komputer dan mencari keberadaan Jimmy.


Dara membuka koper yang diberikan oleh Jerry. Brak!


"Sialan! Jadi, perdagangan narkoba benar-benar melalui jalur laut? Gila ini namanya bunuh diri!" umpat Dara kesal dengan menggebrak meja.


"Ada apa Dara?" tanya Liu Min melesat melihat isi koper dan meraih berkas-berkas dan disket yang terdapat di dalamnya.


"Kamu lihatlah, atasanmu Laksamana Qin Chai Xi, Atasanku Kapolri Jaka Gunarwan, Pablo Sandez, Marco Juarez, semua mafia hebat adalah dalang di balik sindikat narkoba," balas Dara terduduk di kursi terdiam.


"Apakah Laksamana Tan Juan tidak tahu?" batin Liu Min, "pantas saja antara Tan Juan dan Qin Chai Xi tidak pernah akur!" batin Liu Min.


Liu Min melirik Dara yang hanya menatap kehampaan, "Gila! Jika benar demikian. Bagaimana kita bisa menang?


"Sementara merekalah yang mengendalikan bagian keamanan negara masing-masing? Ditambah mafia hebat di belakang mereka," ucap Liu Min masih memegang lembaran kertas.


"Pantas saja, semua gerak-gerik kita terlacak dari kartu dan ATM juga sidik jari kita. Jadi, selama ini semua penangkapan yang dilakukan.


"Hanya sebagian atau seperempat dari hasil tangkapan dari seluruh jajaran polisi maupun TNI hanya sedikit yang diperlihatkan.


"Sisanya, kembali beredar di rantai makanan, bajingan! Jika begini aku rasa lebih baik kita menggunakan cara mafia sekalian.


"Bukankah kita juga sudah dianggap burunon? Um, Danu dan Tuan Liu. Apakah selama ini kalian memiliki sekutu?" tanya Dara penasaran.


"Aku rasa Daniel dan Jovich yang bisa dipercaya, tapi entah bagaimana kita bisa merekrut dan menghubungi mereka," balas Liu Min, "bukankah begitu Danu?" tanya Liu Min pada Danu.


Ia membutuhkan dukungan dari Danu, "Ya, benar saudara Liu. Aku rasa mereka berdua adalah orang yang sangat luar biasa dan bisa dipercaya," balas Danu mengacungkan jempol kepada Liu Min.


"Baiklah, mari kita cari keberadaan Jimmy, Jovich, dan Daniel!" ucap Dara.


Ketiganya bergerak mencari keberadaan Jimmy, Daniel, dan Jovich.


Beberapa jam kemudian ….


"Benarkah? Um, aku juga menemukan Jovich dia masih di Malaysia dan Daniel  sepertinya di daerah Tebing Tinggi di sebuah tempat. 


"Apakah mereka tertangkap?" ujar Liu Min memperhatikan tanda panah merah di layar komputer menandakan lokasi Daniel.


"Aku hanya menemukan beberapa petinggi hebat di kepolisian  AL, AD, dan AU yang memiliki aset yang tidak sesuai dengan nol pendapatan gaji di dalam waktu 2 tahun mereka memiliki tanah, rumah, dan aset hiburan lain.


"Tapi pangkat mereka luar biasa tinggi. Aku tidak yakin kita bisa menyentuhnya," balas Dara.


"Benarkah?" ucap Danu terperanjat langsung menggeser kursi yang didudukinya ke arah Dara.


"Lihatlah," jawab Dara menunjukkan  lokasi mereka.


"Sial, bukankah itu Diskotik B? Jangan-jangan di sanalah transaksi sering berlangsung tanpa diketahui, karena operasi selalu saja bocor! Karena pengkhianatan di kesatuan," balas Danu.


"Um, apakah kita akan langsung bergerak?" tanya Dara.


"Sebaiknya kita bebaskan Daniel dulu, jika hanya kita bertiga itu artinya kita bunuh diri. Aku telah mengirim pesan kepada Jalik Nasution untuk melacak keberadaan Daniel!" papar Danu.


"Bagus! Tapi, aku masih pemasaran dengan Diskotik B. Bagaimana jika aku dan Tuan Liu menyusup ke sana?" usul Dara, "Selain itu, kamu tetap mengawasi kami di sana dengan kamera pelacak yang akan kami selipkan," ujar Dara.


Liu Min memberengut memandang Dara, "Mengapa kamu selalu saja mencari jalan yang rumit, sih?" tanya Liu Min.


"Apa maksudmu?" ketus Dara menatap Liu Min tajam.


"Kita berkorban mati-matian, apa yang kita dapatkan? Hanya kenaikan pangkat dan dibebaskan. Jika kita mati? Atau kita menggunakan kekerasan, kita juga akan dikatakan, 'Melanggar HAM!', seperti kasus yang menimpaku," ujarnya kesal.


"Mungkin itu di sana, jika di sini pemerintah telah mengeluarkan maklumat tembak mati di tempat! Lalu, apa yang harus diragukan?


"Jika aku mati pun, aku ingin mati terhormat daripada aku bebas berkeliaran tapi bersembunyi bagaikan tikus got dan dicap sebagai pengkhianat? Aku tidak mau!


"Itu bukan tujuanku menjadi salah satu polwan di bumi pertiwi ini," balas Dara dengan tegas dan dedikasi yang tinggi.


Plok! Plok!


Liu Min bertepuk tangan, "Hebat! Andaikan semua jajaran aparat negara di setiap negara memiliki polisi ataupun tentara seperti dirimu. Dunia ini, akan aman. Sayangnya … itu hanyalah dunia fantasi!" umpat Liu Min.


"Jika kamu tidak mau ikut, silakan Tuan Liu. Tidak perlu berpidato! Danu, siapkan segalanya, aku akan mandi dan tidur. Kemudian berangkat nanti malam!" ujar Dara meninggalkan keduanya.


Ia berjalan menuju salah satu pintu dan menghadap layar kecil di sisi pintu masuk dengan memindai retina mata sebagai sandinya.


Pintu terbuka dan Dara masuk ke dalam menyusuri koridor panjang dengan kamar yang banyak juga nyala lampu yang terang. Dara menuju ke kamarnya.


"Dasar, Liu Min sialan! Aku tidak menyangka jika di kehidupan ini dia seorang pecundang yang pengecut juga apatis!" batin Dara kesal.


Ia membuka lembaran pakaiannya dan melempar helaian baju ke dalam keranjang dengan tepat tanpa perlu melihat dimana posisi keranjang. 


"Apa yang salah dengan reinkarnasi Liu Min? Apakah dia sudah berulang kali bereinkarnasi? Hingga dia menjadi gila!" batin Dara kesal.


Ia memasuki kamar mandi dan menyalakan shower berharap kemarahannya akan Liu Min berakhir.