
Liu Min hanya mampu menelan ludahnya, merasakan jika wanita di depannya begitu tangguh. Dara masih saja melesat berusaha untuk menumbangkan musuh, Liu Min mencoba untuk keluar dari lumpur dan membantu Dara.
Buk! Bak! Buk!
Pukulan dan teriakan kesakitan dan darah juga nyawa telah melayang dari pihak musuh mereka.
Keduanya bahu membahu saling membunuh musuh, "Ayo, cepat sebelum yang lain datang!" ajak Liu Min.
Keduanya berhasil menjatuhkan musuh mereka, akhirnya semua musuh telah tumbang di tanah berlumpur juga berbatu di antara pohon bakau.
"Tunggu dulu, aku butuh sepatu!" balas Dara mengambil sepatu dan senjata musuh, menyelipkan di balik punggung dan memakai sepatu sambil berlari.
"Wow, aku kira hanya Kowal yang tangguh, ternyata Polwan juga hebat!" puji Liu Min.
"Apa kau pikir wanita hanya bisa memasak dan mengurus anak? Kamu picik sekali! Wanita bisa melakukan apa pun.
"Apakah kamu tidak mengerti, jika wanita bisa membawa dua gunung kembar, satu lembah, tiga liang mata air, dan satu pusat ibu kota, tanpa bantuan siapa pun!" hina Dara.
"Apa?" ujar Liu Min berusaha mencerna apa yang dimaksud oleh Dara, ia memutar otaknya secara cepat dan ia merasa nilai psikotes-nya yang tinggi pun tidak ada artinya dibandingkan dengan perumpamaan yang diucapkan oleh Dara.
Liu Min masih memandang Dara, "Apa yang kamu maksud? Apakah perumpamaan yang kamu sebutkan itu adalah di dalam tanda kutip?" tanya Liu Min.
"Cari saja sendiri! Sementara kalian hanya membawa kelapa segandeng dan minyak sebotol, itu pun masih dibantu oleh seekor burung, kalian sudah angkuh!" lanjut Dara dingin.
"Apa!" tukas Liu Min semakin parno. Ia memandang ke arah Dara sekilas sambil berlari, dia melihat wanita di sampingnya pun telah berlari membelah fajar yang mulai menyingsing.
Keduanya semakin jauh masuk ke dalam sebuah hutan, "Apakah kamu yakin jika musuh sudah tidak mengejar lagi?" tanya Dara.
"Aku sangat yakin!" balas Liu Min.
Keduanya membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut mengatur napas, yang sudah ngos-ngosan, "Sial! Gara- gara kamu kami tidak berhasil mengalahkan Sandez.
"Jika kami berhasil mendapatkan barang bukti itu akan sangat mudah menghancurkan dan mengetahui siapa dibalik semua ini?" ujar Liu Min kesal.
"Apa maksudmu?" balas Dara menatap tajam ke arah Liu Min dan menghunuskan pistol ke arah Liu Min yang juga langsung menghunuskan senjata ke arah Dara.
Keduanya saling menghunuskan pedang, "Siapa kau sebenarnya dan siapa namamu?" tanya Dara.
"Aku Liu Peter! Heh! Kau ingin menghunuskan pistolmu padaku? Kau kira, kamu akan begitu mudah menjatuhkanku?" umpat Liu Min.
"Siapa tahu! Dan aku bukanlah wanita bodoh yang akan menyerah begitu saja!" balas Dara masih mengokang senjata.
"Kau bisa mencobanya, Dara!" balas Liu Min membuat Dara terperanjat, "sial! Manusia sombong ini pasti musuh, dia adalah mafia. Aku sangat yakin akan hal itu! Dia bisa tahu namaku," batin Dara.
Ia langsung menarik pelatuk, dor! Akan tetapi, peluru melesat tidak mengenai Liu Min karena Liu Min berhasil mengelak dan melesat ke samping Dara serta mengecup pipi kanan Dara.
"Bajingan! Kau telah mencuri ciuman pertamaku, sialan!" teriak Dara marah.
Ia langsung memukul Liu Min yang langsung menangkis pukulan Dara dengan mudah dan bermain-main menggoda Dara. Liu Min tersenyum dan terus bergerak mengitari tubuh Dara bahkan, ia terus menyentuhkan tangannya di wajah dan pinggang Dara.
Akan tetapi, Liu Min selalu berhasil menghindar dan terus menggoda Dara dengan memeluk tubuh Dara juga mencium kembali pipi kirinya.
Dara begitu murka akan penghinaan yang dilakukan oleh Liu Min. Ia terus membabi buta memukul dan menyerang Liu Min, "Belum pernah ada seorang pria pun yang berani melakukan semua itu padaku, Jahanam!" teriak Dara semakin kesal.
Liu Min semakin tertawa riang, "Mulai sekarang kamu harus terbiasa Dara Sasmita!" balas Liu Min begitu senang melihat kilatan amarah di wajah Dara yang manis.
"Jang Min tak akan pernah melakukan hal ini. Dia adalah pria terhormat! Tidak seperti bajingan ini!" batin Dara mengingat siluet wajah suami di dunia anta beranta, hingga sebuah helikopter mulai menembaki mereka.
Dor! Dor!
Berondongan peluru langsung menembaki mereka, "Jahanam! Apa yang mereka lakukan?" teriak Liu Min murka langsung menarik tangan Dara untuk menghindari semua tembakan tersebut.
Keduanya berlarian merunduk dan bersembunyi di balik pepohonan, "Sialan! Apakah mereka menembaki kita? Bukankah itu helikopter AL? Apa yang terjadi?" cetus Dara.
"Bajingan, mereka menjebakku!" ujar Liu Min, "apakah Daniel dan yang lain telah tewas?" batin Liu Min.
"Siapa kau yang sebenarnya Liu Peter? Mengapa kau sampai menjadi buronan Provos?" teriak Dara
"Mereka pasti sudah menjebakku dan pasukan khusus kami! Kita harus kembali ke Kota Medan!" ujar Liu Min.
Helikopter terus berputar-putar mencari keduanya berusaha untuk membunuh mereka. Liu Min dan Dara terus berlari mencoba menyelamatkan diri.
Liu Min menembak pilot membuat helikopter oleng dan mendarat ke muara sungai, hingga ledakan terjadi.
"Apa yang harus aku lakukan? Siapa Liu peter yang sebenarnya?" batin Dara bertanya, "baiklah mari kita mencari pedesaan dan kendaraan," ajak Dara memberi usul.
"Ayo!" Liu Min menyetujui usul Dara.
Keduanya berlari secepatnya hingga fajar menyingsing. Liu Min baru menyadari jika kemeja putih Dara begitu tipis, hingga menampilkan bentuk bayangan lekuk tubuhnya yang mengundang birahi setiap pria yang melihat dengan kedua bukit kembar yang menantang di balik kemeja tanpa lapisan dalaman.
"Sial!" umpat Liu Min merasakan kejantanannya mulai bergerak tak menentu, "padahal banyak wanita bertubuh indah yang pernah aku lihat bahkan, tanpa busana sekalipun.
"Tapi, aku tidak bergairah! Mengapa hanya melihat lekuk tubuh di balik kemeja sutra tipis itu, kelelakianku mulai menegang tak menentu?" batin Liu Min bingung.
Ia memandang jas yang sudah mulai kusut masai yang melekat di tubuhnya, "Nah, pakailah! Aku tidak ingin semua orang melihat bentuk bukit kembar dan pusat ibu kotamu!" sindir Liu Min mengarahkan apa yang pernah diucapkan oleh Dara, ia langsung memberikan jas secara gentleman.
Dara langsung melihat ke tubuhnya, "Bajingan!" umpat Dara kesal. Ia langsung mengambil juga memakai jas tersebut.
"Bajingan ini, sudah berulang kali, melihatku di saat paling rapuh! Dia juga telah berhasil mencuri cinta pertama dan sekarang melihat bukit ini. Walaupun hanya sekedar bayangan saja!" batin Dara merasa sangat malu juga kesal tak menentu.
"Ingin rasanya aku membenamkan pria ini ke sungai atau memutilasi tubuhnya dan memberikan setiap potongannya pada seekor buaya!" batin Dara marah-marah.
Keduanya berjalan cepat menuju perkampungan kala mentari sudah meninggi, pagi telah datang dengan kokok ayam di seluruh kampung.
"Aku rasa kita harus secepatnya menuju jalan raya agar menemukan kendaraan," ujar Liu Min.