
Gu Shanzheng mendekat ke arah Tan Jia Li, "Tuan Gu, kita di mana?" tanya Tan Jia Li menatap sekelilingnya yang hanya gelap dengan batu padas dan tanah juga tetesan air dari langit-langit tanah di atasnya.
Bagaikan musik yang memenuhi ruangan semakin menyeramkan dan penuh dengan kedamaian. Tan Jia Li menatap api unggun dengan gemeretak kayu yang terbakar. Ia melihat siluet wajah Gu Shanzheng yang tampan di sana, "Syukurlah, si manusia omes ini, memiliki banyak rasa tanggung jawab di balik sikap dingin dan ketusnya!" batin Tan Jia Li.
"Aku tidak tahu, sepertinya nenek tadi adalah Putri Mongol Mo Yu'er, dia yang menolong kita hingga kita selamat dari kejaran prajurit Mongol!" ujar Gu Shanzheng.
"Oh, apakah aku terluka parah?" tanya Tan Jia Li meraba punggungnya.
"Ya, aku sudah mengobatinya, aku rasa Nenek Mo Yu'er pun sudah mengobatimu dan diriku," balas Gu Shanzheng.
"Oh …." Tan Jia Li berusaha mencerna semua perkataan lawan bicaranya, "apa? Kau! Kau … mengobati luka di punggungku? Sialan! Apakah kamu mengambil kesempatan di dalam kesempitanku lagi, begitu? Dasar mesum, pria gila!" teriak Tan Jia Li ingin memukul Gu Shanzheng.
"Iya, aku mengecup dan menghisap juga meremas gunung kembarmu! Udah puas!" balas Gu Shanzheng kesal, "dasar, wanita gila! Apakah kamu pikir aku sepicik dan sejahat itu, begitu?" teriak Gu Shanzheng kesal ia merasa harga dirinya sebagai pria sejati dipertanyakan.
"Kau!" ujar Tan Jia Li geram ia ingin melayangkan pukulan tetapi rasa sakit di punggung semakin mendera dirinya, "aduh," ujar Tan Jia Li.
"Jia'er … ada apa? Apa yang sakit?" tanya Gu Shanzheng mendekat ke arah Tan Jia Li berusaha untuk memeriksa luka di punggung Tan Jia Li.
"Kamu ngapain, sih?" tanya Tan Jia Li sedikit membesarkan bola matanya.
"Aku ingin memperkosamu! Susah puas!" balas Gu Shanzeng memutar tubuh Tan Jia Li, "jangan bergerak, lukamu bisa terbuka lagi," ujar Gu Shanzheng menangkap tangan kiri Tan Jia Li yang ingin memukulnya.
Membuat Tan Jia Li hanya diam membeku, ia menggigit bibirnya kala Gu Shanzheng menurunkan sedikit bajunya hingga punggung dan sebagian bahu terlihat. Tan Jia Li melihat pakaian dalamnya terlihat, "Jang Min! Kau harus bertanggung jawab!" geramnya mengingat adik angkatnya yang tak lain seorang kaisar.
Ia tak peduli jika ia harus dipancung, ia bercita-cita akan memukul adiknya jika ia sampai di Donglang, "jika bukan karena Jang Min, Li Phin, dan kekaisaran juga banyak rakyat yang membutuhkan perlindungan. Aku tak akan melakukan hal ini," batin Tan Jia Li kesal.
Gu Shanzheng memeriksa luka di punggung Tan Jia Li dengan menarik sedikit bajunya, ia membubuhkan ramuan yang berada di dekat Tan Jia Li, "Sial! Mengapa Gu Shanzheng harus melihatku di dalam keadaanku yang paling terlemah begini?" batin Tan Jia Li.
Ia merasa sangat rentan dan merapuh, ia sudah berusaha mati-matian menyembunyikan kerapuhan yang dimilikinya selama ini, ia selalu berusaha sekuat dan setegar batu karang. Ia tak ingin diolok-olok lagi menjadi seorang wanita lemah dan tak pantas menjadi seorang prajurit.
Ia mengingat semenjak mereka memasuki pelatihan bersama mereka kerap kali bertengkar karena hanya Tan Jia Li-lah satu-satunya wanita di zamannya yang menjadi prajurit, karena Tan Yuan Ji hanya memiliki anak wanita sedangkan adiknya meninggal ia hanya memiliki adik angkat Jang Min.
Ia dan Jang Min hanya bertemu jika ada acara keluarga dan tahun baru imlek, sisanya Jang Min di perguruan Wu Dang, ia juga tidak menyangka jika adik angkatnya adalah seorang putra mahkota, hingga Jang Min memasuki pelatihan di bawahnya bersama dengan Qin Chai Jian dan banyak lagi.
Sentuhan Gu Shanzheng masih terus membelai lukanya, Tan Jia Li masih mengingat kenangannya. Sehingga semua pria mulai menghormatinya kala Kaisar Liu Fei mengangkatnya menjadi komandan dari 21 bayangan naga hitam. Sehingga tak ada lagi seorang pria yang berani mengoloknya, "Kecuali Gu Shanzheng sialan, ini!" umpat batinnya kesal.
Ia dan Gu Shanzheng selaku bertengkar dari awal masuk pelatihan dan hingga kini, "Tuan Gu! Aku tidak tahu mengapa dari dulu kita selalu bertengkar," ujar Tan Jia Li.
"Aku juga tidak tahu, kamu … sudahlah! Aku sendiri tidak tahu mengapa hanya karena pedang, makanan, dan musuh kita selalu bertengkar?" balas Gu Shanzheng, "kamu tidak pernah mau mengalah," lanjutnya.
Ia sendiri pun tidak pernah tahu mengapa ia dan Tan Jia Li selalu bertengkar, "Padahal aku sangat mengagumimu! Kau wanita hebat, untuk pertama kalinya aku melihat, jika ada seorang wanita yang bisa mengalahkan 10 orang pria sekaligus di waktu berumur 10 tahun.
"Kau tahu, kau begitu hebat! Dengan pedang kayumu kamu berhasil mengalahkan semua orang. Tapi, entahlah, aku sendiri pun tidak tahu mengapa kita selalu saja bertengkar?" balas Gu Shanzheng Dengan jujur ia pun kembali mengingat kisah mereka.
"Apakah kamu masih ingat hanya karena kita rebutan bakpao kita harus bergulat di lumpur? Dan Jenderal Yuan Ji harus menghukum kita semalaman tidur di luar?" tanya Gu Shanzheng tersenyum.
"Ya, kamu sangat menyebalkan! Sebagai pria kamu tidak mau mengalah!" umpat Tan Jia Li.
"Hahaha, kamu tahu. Bakpao itu sangat berharga untukku!" balas Gu Shanzheng. Ia ingin jujur jika jatah makanan miliknya harus diberikan kepada seorang anak di depan kamp pelatihan mereka.
Ia masih membalurkan obat dengan perlahan dan sentuhannya semakin lembut membuat Tan Jia Li sedikit bergetar, "Hei, jika kau sudah selesai membalurkan ramuan itu. Enyahkan tanganmu dari tubuhku!" teriak Tan Jia Li.
"Hah! Rasanya aku ingin mengecupnya," goda Gu Shanzheng semakin kesal kepada Tan Jia Li yang selalu saja seperti minyak tersiram api.
Tan Jia Li langsung menarik baju untuk menutup punggung dan bahunya, "Kau sangat hebat! Sebagai wanita kamu sangat luar biasa, tapi … kamu tidak punya kelembutan sedikit pun sebagai perempuan. Apakah kelak akan ada yang mau menikah dengan kamu?" tanya Gu Shanzheng.
"Aku akan mencari pria sehebat dan sesetia ayahku! Kau tahu, hanya ayahku di Donglang yang mencintai satu wanita," balas Tan Jia Li.
"Oh, hm! Aku rasa hanya ada ayahmu satu di Donglang yang seperti itu! Tak akan ada lagi yang lain," balas Gu Shanzheng, "jika tidak ada bagaimana? Apakah kamu tidak akan ingin menikah?" tanya Gu Shanzheng penasaran.
"Tidak!" balas Tan Jia Li.
"Wah, kamu dan sepupumu yaitu Permaisuri Li Phin memiliki beberapa hal kesamaan, kalian tidak mau diduakan dan kalian wanita hebat di dalam beladiri!" puji Gu Shanzheng tulus, "selain kalian berdua sangat cantik!" lanjut Gu Shanzheng menatap Tan Jia Li.
"Menjauhlah dariku," ujar Tan Jia Li sedikit kesal melihat tatapan Gu Shanzheng yang membuat hampir sebagaian sendi di tulangnya lumpuh.