
"Aku rasa ini sangat bagus, Laogong! Apakah kita akan memulai perjalanan kita untuk ke diskotik A atau kita langsung pergi menemui Lu Tek?" tanya Dara.
"Aku rasa kita langsung ke Diskotik A, aku ingin membuat mereka semakin kewalahan dan aku sangat yakin mereka 'kan keluar dengan sendirinya.
"Setelah itu kita akan menyerang ke Shenzhen Utara di tempat kakak pertama mereka Chin Kit," ujar Liu Min.
Ia masih memeriksa sepeda motor dan melihat apakah ada hal-hal yang mencurigakan, dari hal yang sangat disukai Dara adalah Liu Min selalu saja waspada dengan semua hal.
"Laopo, mari berjalan-jalan seakan-akan kita adalah seorang turis," ajak Liu Min.
"Ayo, bukankah kita tidak pernah berkencan? Apa salahnya sebelum kematian datang kita pergi berkencan dulu. Aku sangat ingin merasakan pacaran …." Dara mengenang masa remajanya yang suram.
Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana tidak ada seorang pria yang datang menemuinya hanya sekedar untuk mengirimkan ungkapan cinta via email, WA, atau apalah. Apalagi untuk mengajaknya berkencan, hidupnya hampa.
"Apakah kamu tidak pernah berkencan Laopo?" tanya Liu Min terperangah, "bagaimana mungkin? Kamu cantik dan aku sangat yakin akan banyak pria yang mencintaimu?" ujar Liu Min memandang istrinya dengan keheranan.
"Aku tidak tahu! Buktinya tidak ada yang berani menggodaku …," keluh Dara.
Ia merasa masa remaja dan gadisnya begitu garing segaring kerupuk.
Liu Min menatap istrinya yang termenung, ia merasa kasihan.
"Betapa beruntungnya aku!" batin Liu Min, "baiklah Laopo, Mari kita berkencan!" ajak Liu Min sudah berada di atas kereta.
"Benarkah?! Aku ingin tahu rasanya!" balas Dara tersenyum dengan sumringah.
"Ayolah! Aku akan memberikan cinta dan kencan terindah untukmu, Laopo!"
"Ayo, tunjukkanlah untukku, Sayang!" balas Dara tersenyum dengan bahagia.
Liu Min membawa Dara ke pusat Kota Shenzhen. Ia membawa Dara masuk ke sebuah toko pakaian dan mereka berbelanja dengan tersenyum.
Keduanya ke luar dari toko pakaian dengan tampilan bak anak muda berumur 17tahun yang sedang mekar-mekarnya. Dara memakai rok mini dan sepatu bot di atas lutut dan blazer hitam juga tanktop berwarna kuning.
Sementara Liu Min memakai jaket jeans, sepatu kets, dan celana jeans keren, memakai topi. Keduanya saling pandang dan tertawa.
"Wow! Kamu sangat cantik, Laopo!" puji Liu Min menelan air liurnya, "andaikan ini tidak kencan aku pasti akan melarangnya memakai rok itu …," keluh batin Liu Min tidak rela melihat kaki jenjang mulus istrinya akan dilirik pria lain.
"Suit! Suit!" beberapa pria langsung bersiul kagum kala Dara berjalan melintasi mereka tanpa Liu Min di sampingnya.
"Sialan! Seharusnya aku melarang pelayan toko memilihkan baju sialan itu untuknya," batin Liu Min kesal.
"Ayo!" Liu Min langsung menggamit tangan Dara agar tak ada lagi pria yang mencoba untuk menggodanya.
"Apa yang kita lakukan di sini?" tanya Dara bingung.
"Kita akan menonton! Katanya kencan? Bagaimana, sih?" tanya Liu Min bingung.
"Aku tidak ingin kamu macam-macan denganku di dalam sana?" ancam Dara seakan ia masih muda dulu.
"Hah! Pantas saja tidak ada pria yang berani mendekatimu. Jangan-jangan sebelum mereka ingin menggandeng tanganmu kamu sudah meninjunya … ckck, malangnya," keluh Liu Min.
"Apakah itu perlu?"
"Apanya?" tanya Liu Min bingung.
"Maksudku … apakah itu perlu saat pacaran pakai cium-ciuman begitu?" tanya Dara memandang Liu Min.
"Um, aku tidak tahu, tapi karena kita sekarang suami-istri aku rasa tidak masalah! Anggap saja kita pacaran setalah menikah. Lagian, kita memang belum pernah pacaran!" balas Liu Min.
"Um …," Dara berpikir sejenak, "baiklah, terserah bagaimana baiknya!" ucap Dara.
Keduanya menonton film dan memakan cemilan, "Apa yang kamu lakukan, Laogong?" tanya Liu Min.
"Wah, mereka berciuman? Lalu, kamu mau juga? Aduh, bagaimana sih ini?" tanya Dara bingung.
"Katanya terserah? Bingung dengan kata terserah para wanita?" ujar Liu Min cemberut.
"Baiklah, Sayang! Aku … aku akan ikut saja!" balas Dara.
Liu Min tersenyum menang, akhirnya ia pun mencium kekasihnya, acara menonton pun telah usai.
"Ayo, kita ikuti. Anak muda itu!" ujar Liu Min.
"Mengapa mengikuti mereka?" tanya Dara bingung.
"Ya, ikutin saja! Kan berkencan, bukankah begitu?" ujar Liu Min.
Dara merasa bingung, akan tetapi mengikuti apa yang diinginkan Liu Min.
"Ya, benar juga!" balas Dara tersenyum manja.
Keduanya mengikuti apa yang dilakukan pasangan di depan mereka, cowok di depan mereka membeli bunga mawar dan memberikan kepada kekasihnya begitu pun degan Liu Min yang langsung mengikutinya.
"Sayang, aku tidak tahu apakah kamu menyukai mawar, lili, aster, atau bunga bangkai? Jangan bunga bangkai, dong! Kita harus ke Bengkulu, itu berat diongkos.
"Karena namamu Yu Lan, aku rasa bunga Magnolia ini lebih cocok untukmu!" ujar Liu Min, memberikan dua tangkai Magnolia pink.
"Wah, indah dan harum sayang!" balas Dara tersenyum bahagia.
Keduanya kembali mengikuti pasangan tersebut yang masih terus berada di depan mereka yang masuk ke rumah makan dan memesan makanan.
Dara dan Liu Min pun melakukan hal yang sama, "Aneh, sekali. Mengapa mereka tidak curiga jika kita mengikuti mereka ya?" tanya Dara tak mengerti.
"Jika sudah jatuh cinta … apa pun jadi lupa! Bagi mereka dunia ini adalah milknya dan kita adalah sampah yang bertebaran tak berharga …," keluh Liu Min, "beruntung dulu aku tak pernah jatuh cinta dan menjadi bodoh!" batinnya.
"Hahaha, masa sih? Aku tidak yakin tuh!" balas Dara.
"Tidak yakin apa?" tanya Liu Min bingung.
"Jika kamu tidak pernah jatuh cinta! Memang apa?"
"Andaikan kamu tahu … hidupku juga segaring musim kemarau …," keluh batin Liu Min.
Keduanya melihat ke arah pasangan tersebut dan mengikuti keduanya menuju ke sebuah hotel cinta, Liu Min dan Dara saling pandang dan menelan ludah.
"Apakah kita harus melakukannya juga, Laogong?" tanya Dara bingung, "beruntung aku sudah menikah dengan Liu Min," batin Dara.
"Ya," Liu. Min menelan ludah, ia merasa tenggorokannya menjadi kering.
Keduanya masih manatap hotel dengan bingung, "Aku rasa ini mungkin rangkaian terakhir dari kencan itu!" batin Liu Min.
"Ooo,"
"Ayo, kita selesaikan kencan kita!" ajak Liu Min bersemangat.
Keduanya berlari ke dalam hotel dan langsung cek in dan masuk ke sebuah kamar yang penuh gemerlap seakan di dalam sebuah sirkus.
Keduanya saling pandang, "Hahaha!" keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak menyangka jika hotel cinta itu seperti ini? Aku kira apa?" balas Dara.
"Aku juga tidak tahu bagaimana berkencan yang sebenarnya … aku juga tidak pernah berkencan … tapi kalau seperti ini. Mengapa aku tidak melakukan saat aku masih muda ya? Hahaha," ujar Liu Min berbisik.
"Apa? Jadi kamu juga tidak pernah berkencan juga?" pekik Dara terkejut