Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta - Pencitraan diri


Semua orang terperangah tetapi tidak dengan Dara, ia hanya tersenyum sinis. Nalurinya mengenal dengan baik sosok Guangzhou walaupun ia berubah wajah seribu kali pun.


"Wah, jadi … selama ini kamu benar-benar memerankan peran ganda di kehidupan kamu Tuan Guangzhou?" tanya Mitsuki.


Mitsuki menatap Guangzhou dengan tatapan dingin, semua orang merasa tertipu selama ini, bahkan mereka benar-benar telah melakukan perintah Guangzhou dan Wanchai pada saat bersamaan.


Mitsuki menyilangkan kedua belah tangan di dadanya, ia merasa marah atas segala perbuatan Guangzhou selama ini. Namun, ia tahu jika ia melawan untuk sekarang pun ia sudah tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan Guangzhou.


"Kau luar biasa Tuan, di satu sisi kamu bagaikan malaikat penolong yang sangat dermawan. Namun, di sisi lain kau adalah seorang monster yang sangat mengerikan.


"Hebat sekali peranmu Tuan. Apakah kamu tidak pernah merasa lelah? Harus menjalani dua peran yang bertentangan," ujar Mizuki.


"Hm, jika kamu bertanya lelah … aku sangat lelah. Apalagi, harus berbuat kebaikan yang sangat menyesakkan dada. Itu bukanlah aku! Aku tidak akan pernah dan rela dengan semua kebaikan yang aku perlihatkan, semua itu hanyalah pencitraan diri saja.


"Akan tetapi, jika aku tidak melakukan semua ini, bagaimana aku bisa mengetahui apa saja yang akan dilakukan oleh pemerintah?


"Bagaimana aku bisa menarik simpati semua orang untuk mendukung semua bisnisku?" balas Guangzhou tersenyum.


"Wah, kau sangat luar biasa Kawan! Itu sangat bagus, aku akan selalu mendukungmu!" ujar Pablo bahagia.


"Terima kasih, Pablo! Kau benar-benar teman sejati," puji Guangzhou.


Mitsuki hanya diam menatap ke arah Guangzhou dan Pablo, "Lebih baik aku mengikuti apa yang menjadi keinginan mereka," batin Mitsuki.


Mitsuki memandang ke arah Guangzhou dan Pablo, "Aku pun akan selalu mendukung semua rencanamu, Guangzhou. Aku hanya terkejut, aku tak pernah menyangka selama ini kamu akan melakukan hal itu," ujar Mitsuki.


"Jangan khawatir Mitsuki, semua ini aku lakukan hanyalah untuk kepentingan kelompok kita, bukan untukku pribadi," balas Guangzhou tersenyum bangga.


Guangzhou tidak menyangka ia akan begitu mudah memanipulasi semua orang untuk mendapatkan banyak keuntungan untuk dirinya sendiri.


"Nah, sekarang … untuk kalian berdua istirahatlah dengan tenang malam ini, karena esok hari kalian masing-masing akan pergi menunaikan perintahku.


"Yaitu : tugas yang sangat berharga, jangan berpikir untuk pergi atau melawan, karena aku sudah mengantisipasi semua itu. Jadi, nikmatilah malam ini, selagi kalian masih memiliki kesempatan." Guangzhou tersenyum.


Ia menjentikkan tangannya, dua orang pengawal langsung menyeret Liu Min dan Dara yang sudah dirantai di tangan dan kaki mereka layaknya seorang tahanan.


Keduanya dimasukkan ke sebuah sel yang berbeda walaupun keduanya masih di tempat dan sel yang bersebelahan.


Bruk!


"Hahaha, lihatlah! Pasangan hebat ini, begitu menderita dan sangat lemah. Mereka berusaha untuk melawan Tuan Guangzhou. Itu adalah hal yang paling bodoh, yang pernah kalian lakukan!" ujar si pengawal.


Kedua pengawal mendorong tubuh Liu Min dan Dara ke sebuah sel keras berlantai kasar dan tidak layak. Dara terjatuh di lantai begitu juga dengan Liu Min, tetapi tak ada suara yang terlontar dari mulut mereka.


Dara dan Liu Min hanya saling pandang, keduanya tak bersuara walaupun di mata masing-masing saling merasakan rasa sakit dan khawatir melihat pasangan mereka yang begitu sengsara.


Namun, keduanya berjanji agar tidak memperlihatkan rasa kasihan, cinta di antara mereka berdua. Liu Min dan Dara tidak ingin jika identitas pernikahan mereka akan diketahui oleh Guangzhou dan semua kaki tangannya. Hal itu akan membuat musuh semakin semena-mena terhadap mereka berdua. 


"Tinggalkan saja mereka, agar keduanya menyesali semua perbuatan bodohnya. Aku harap, mereka pintar untuk mengikuti saran dari Tuan Guangzhou yang sangat pintar.


"Ayolah, kita pergi. Orang bego macam mereka tak akan pernah tahu akan semua itu!" balas pengawal lainnya.


Setelah keduanya meninggalkan ruang tahanan yang sepi dan gelap gulita, Liu Min bergerak dengan suara bergelontangan dari rantai dan bandul di kedua belah kaki juga tangan yang mengikatnya.


Begitu juga dengan Dara, Guangzhou benar-benar membuat keduanya tak lagi bisa bergerak leluasa.


"Laopo … laopo! Apakah kamu mendengarkan?" tanya Liu Min berusaha untuk menyentuh terali besi di sisinya.


"Laogong! Aku mendengarkanmu. Apakah kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Dara berusaha mencari suara.


"Aku baik-baik saja, Sayang. Apakah ada yang terluka?" tanya Liu Min.


Liu Min berusaha untuk mengulurkan kedua belah tangan menggapai sang istri di sel sebelahnya. Sebaliknya Dara pun mencari di dalam gelap mengandalkan instingnya.


"Aku baik-baik, saja Laogong!" bisik Dara.


Keduanya telah berhasil menemukan tangan pasangan mereka. Liu Min dan Dara saling menggenggam erat dan meraba wajah dari pasangannya.


"Maafkan aku Sayang, seharusnya aku memberikanmu tempat yang paling istimewa di dunia ini. Bukan begini …," sesal Liu Min.


"Sayang, jangan khawatir. Kita harus sabar, aku yakin rencana kita pasti berhasil. Bersabarlah, percayalah kepada Tuhan dan serahkan segala beban ini kepada-Nya." Dara mencium seluruh wajah suaminya begitu juga dengan Liu Min.


"Laopo, aku sangat bahagia memilikimu. Aku berjanji akan segera menyelamatkan ibu dan Ce Aching dan kedua ponakanku. Berhati-hatilah besok!


"Aku tidak yakin jika Guangzhou akan membebaskan kita dan sandera, aku yakin itu hanyalah perbuatan liciknya saja," ucap Liu Min.


"Ya, Guangzhou rela menjadi orang lain selama bertahun-tahun hanya untuk hari ini. Aku yakin itu, dia pasti tidak akan pernah membebaskan kita semua," balas Dara.


"Apa pun yang terjadi jangan pernah menyerah. Berusahalah untuk menyelamatkan dirimu, jangan berpikir yang tidak-tidak Laopo," nasihat Liu Min.


Begitu juga denganmu, Sayang. Aku mencintaimu!" ucap Dara.


"Aku pun mencintaimu, Laopo. Walaupun kebahagiaan kita begitu singkat tapi bagiku engkau adalah segalanya," ucap Liu Min.


"Laogong …," lirih Dara membalas ciuman Liu Min.


Dara berusaha untuk tidak menangis ia sudah lelah jika harus berpisah lagi dengan suaminya. Dara marah berulang kali Lu Dang dan sekutunya ingin memisahkan cinta mereka.


"Aku harus mengakhiri semua ini, aku akan mengambil pedang naga hijau dan menggunakannya. Aku berharap jika kelak kami berhasil maka Lu Dang dan sindikat narkoba di seluruh dunia ini akan musnah!" batin Dara marah.


"Sayang, tidurlah! Aku akan menjagamu!" ucap Liu Min.


"Mari kita tidur! Yakinlah, mereka tidak akan berani mengganggu kita, karena mereka masih menginginkan kita melakukan semua kemauan mereka.


"Namun, jika semua yang mereka mau telah didapatkan. Aku percaya jika mereka akan segera membunuh semua saksi juga kita," balas Dara.