
Liu Amei dan pasukannya bergerak untuk menghancurkan bagian gedung sebelah barat dan timur untuk mengecoh dan melumpuhkan semua pasukan dari Guangzhou. Pertempuran kembali terjadi, para prajurit hantu melawan prajurit hantu dari musuh.
"Sayang, ini sangat mengerikan. Aku berharap tidak akan terjadi apa pun dengan Dara dan Liu Min." Ahim, merasakan kekacauan.
"Aku juga berdoa demikian begitu juga dengan para sandera dan Liang Bo juga Luo Kang. Pertempuran kali ini benar-benar aneh," umpat Liu Amei.
Liu Amei masih terus melontarkan bumerang ke arah semua musuh yang ingin menyerang mereka atau menembakkan anak panah.
"Ubah formasi!" teriak Liu Amei, dengan kewibawaan seorang jendral Tan Jia Li, ia memerintahkan pasukannya mengubah formasi.
Semua prajurit naga hitam langsung membentuk dua barisan dan mengepakkan jubah mereka membuat bayangan melesat menembus semua para prajurit hantu yang menyerang secepatnya.
"Sialan! Mengapa para prajurit ini tak mati juga? Dasar hantu! Hadeh, bisa-bisa semua tenaga kita terkuras. Untung saja, semua prajuritku pun sudah menjadi hantu," batin Liu Amei.
Di angkasa, langit semakin kelam hujan badai dan angin juga petir membasahi Medan pertempuran tak menyisakan darah sedikit pun.
Dara dan Liu Min masih bertempur dengan kekuatan ya g mereka miliki pendar cahaya dari pedang menghalau naga ya g mulai mendekat ya g ingin menyerang mereka.
Namun, serangan api dari naga tersebut berusaha untuk membakar tubuh mereka berdua, Dara dan Liu Min bersalto untuk menghindari api dari naga di angkasa juga serangan pedang dari prajurit hantu.
Kras!
Sebuah pedang dari prajurit hantu mengenai bahu Liu Min, membuatnya sedikit tercekat. Darah mengalir bersamaan dengan hujan dderas membuat para prajurit hantu semakin bergairah dengan mencium darah tersebut.
"Ambil darah mereka! Sisakan ya g wa Ita untuk tumbal!" teriak suara dari angkasa.
Para prajurit hantu semakin bergairah untuk menaklukkan Dara dan Liu Min. Namun, serangan demi serangan membuat Dara dan Liu Min terjebak kala sebuah bulatan telur emas melesat ke arah Dara dan Liu Min, bergerak di angkasa secepatnya membentuk sebuah jaring emas yang dilontarkan oleh Guangzhou.
"Bajingan kau Lu Dang!" teriak Dara, kala jaring telah mengurung mereka berdua.
"Hahaha, akhirnya! Ayo, tangkap mereka!" perintah Lu Dang dari atas podium di kursi kebesarannya.
Semua prajurit menggiring Dara dan Liu min, Dara ingin melawan tetapi Liu min menahan Dara untuk menebaskan pedangnya.
"Jangan! Kita lihat saja, apa mau mereka. Jika kamu menebaskan pedang. Apakah kamu lupa jika ini adalah emas, lelehannya sangat panas Dara," nasihat Liu Min, ia ingin mengingatkan Dara.
Dara hanya menarik napas, "Baiklah!" ucap Dara, ia mengikuti nasihat Liu min.
Mereka berdua di giring dengan jaring emas di sekujur tubuh. Bruk! Keduanya jatuh di tanah yang becek akibat hujan.
"Ikat keduanya, aku ingin mereka menjadi tumbal, untuk membangkitkan kekuatan naga merah dan hijau!" ketus Lu Dang, ia begitu bahagia.
"Ibu … Cece Aching, Si kembar … bajingan kau Lu Dang! Kau menggunakan mereka untuk menaklukkan kami!" teriak Dara marah.
"Jenderal Tan Juan … berarti dia memang tertangkap!" batin Liu Min melihat Laksamana Tan Juan sedang terikat di sebuah tiang di atas podium. Semua sandera basah kuyup tanpa adanya perlindungan.
"Paman Amin! Bibi Dara!" teriak si kembar.
Liu Aching mengangkat kepalanya begitu juga Ningrum, dan Tan Juan. Semua orang memandang ke arah Dara dan Liu Min ya ga Edang diikat di tiang dengan kobaran api dan sebuah patung raja iblis yang memancarkan sinar mata merah yang menyeramkan.
"Kita akan mengadakan ritual sekitar 10menitlagi, persiapkan segalanya!" perintah Liu Min.
***
Sementara Liang Bo dan Luo Kang masih berjalan mengendap mencari para sandera yang sedang disekap di tempat berbeda.
"Ini benar-benar aneh, bayangkan saja kini seakan kembali pada masa lalu. Sementara kita masih di zaman modern. Apakah kita bisa menang melawan hantu?" tanya Ahim Yilmaz bingung.
"Sabarlah! Setiap kebaikan akan menang. Tuhan pun tak akan pernah membiarkan umatnya yang baik akan semakin sengsara," ucap Luo Kang.
Keduanya masih berlari secepatnya masuki lorong demi lorong hingga mereka menemukan penjara yang disekat-sekat, di sana Liang Bo dan Luo Kang melihat banyaknya para anak gadis yang disekap.
"Tuan! Tolong kami!" teriak semua orang meminta pertolongan.
"Ya, ampun! Mengapa Guangzhou menyekap begini banyak gadis?" ucap Liang Bo, ia merasa kebingungan.
Luo Kang melihat jika semua orang rata-rata gadis berumur 17 tahun hingga 25 tahun.
"Mengapa kalian berada di sini?" tanya Liang Bo, ia langsung menebas kunci penjara dengan pedangnya hingga pintu penjara terbuka.
"Baiklah, sekarang kalian pergilah dari jalan ini dan terus saja jangan ke mana pun. Usahakan kalian tiba di hutan kecil, setelah itu. Laporkan pada polisi setempat dan berhati-hatilah!" ucap Liang Bo.
"Terima kasih, Tuan!" bakas gadis muda tersebut.
"Eh, apakah kalian melihat seorang ibu muda dan anak perempuan kembar dan seorang wanita berkerudung yang sudah tua disekap juga?" tanya Liang Bo.
"Sepertinya tidak ada, Tuan. Di sini hanya para gadis saja," ujar gadis tersebut.
"Oh,baiklah!"balas Liang Bo.
"Tapi, mungkin Tuan bisa ke ruangan samping. Kami sering mendengar jika ada teriakan anak-anak kecil," ucap gadis tersebut.
"Oo,baiklah! Pergilah kalian!" ucap Liang Bo.
"Tuan Liang kemarilah!" teriak Luo Kang dari ruangan sebelah.
Liang Bo langsung berlari ke arah Luo Kang, "Ada apa Tuan Luo?" tanya Liang Bo, ia merasakan ketakutan.
"Aku hanya menemukan ini! Aku sering melihat si kembar mengenakan ini,"ucap Luo Kang.
"Ya, benar! Ini adalah pita rambut mereka," balas Liang Bo.
Keduanya menelusuri ruanga. Di mana hanya tinggal bekas tali yang terikat di kursi di mana ada 5 buah kursi.
"Siapa saja ya g mereka sekap?" tanya Liang Bo, ia mulai berpikir.
"Liu Aching, si kembar, ibu Ningrum, dan siapa satu lagi?" tanya Liang Bo penasaran.
"Jangan bertanya padaku, aku sama sekali tidak tahu. Mungkin saja, seseorang yang sangat vital dan berharga untuk kita," ucap Luo Kang.
"Ya, Anda benar sekali Tuan Liang. Sekarang mari kita cari terus!" ajak Luo Kang.
Namun, belum lagi mereka bergerak, beberpa pengawal langsung menyerang mereka. Pertempuran tak lagi bisa dihindari, Liang Bo dan Luo Kang langsung melesat menerjang musuh.
Trang! Tring!
Pedang bergema, "Awas, Tuan Luo?" teriak Liang Bo, ia langsung menangkis pedang seorang pengawal yang ingin menebas kepala Luo Kang yang masih berjalan menuju ke pintu lain.
"Terima kasih, Tuan!" teriak Luo Kang, ia langsung menebas musuh dengan tongkatnya.
Membuat musuh langsung tewas seketika, "Wah, tongkat ini hebat sekali!" puji Luo Kang, "terima kasih Nona Long Mei," batin Luo Kang bersyukur.
Liang Bo dan Luo Kang berusaha untuk secepatnya membunuh semua musuh, keduanya melesat ke luar dari ruanga.
"Awas!" teriak Liang Bo, ia menarik Luo Kang yang hampir terjun bebas dari gedung yang terbuat dari batu.
Keduanya melihat ke arah sebuah altar di bawah mereka dimana mereka melihat dari atas jika para sandera berada di sebuah tiang salib dan Liu Min juga Dara pun diikat berdua dengan jaring emas yang berkilau terterpa cahaya guntur.
"Apa yang harus kita lakukan?" bisik Luo Kang, ia dan Liang Bo tiarap melihat ke bawah mereka.
Keduanya berusaha untuk mencari celah untuk membebaskan para sandera juga Liu Min dan Dara. Mereka melihat di angkasa para naga terbang berputar mengitari sesuatu. Sedangkan prajurit hantu dan pengawal berbaris dengan penuh semangat dan kemenangan.
Di atas podium dan di seluruh tangga yang dipenuhi para penonton dari sekutu Guangzhou masih tersenyum penuh minat ingin menyaksikan ritual darah untuk membangkitkan naga hijau dan merah.
"Ayo! Bunuh! Bunuh!" teriak para penonton menghentakkan- hentakkan senjata mereka ke lantai podium.
Membuat yel-yel berkumandang dan petir di angkasa semakin bergerak nyaring. Axing maju, ia mengambil kedua pedang dari tangan Liu Min dan Dara.
Dara dan Liu min tak ingin memberikannya tetapi naga hitam dari neraka langsung menyemburkan api membuat jaring sedikit mencair membuat cairannya menetes ke tangan Liu Min dan Dara.
"Aw!" teriak Dara, ia pun melepaskan pedang begitu juga dengan Liu Min.
"Hahaha, Kaisar Liu Min dan Permaisuri Dara Sasmita, akhirnya!" ucap Axing yang berwajah Qin Chai Xi, ia menusukkan belati ke telapak tangan Dara dan menampung tetesan darah tersebut.
"Bajingan kau! Lepaskan tanganmu brengsek!" teriak Liu Min, ia ingin mencengkram leher Axiang.
Namun, seekor naga kembali menyemburkan api hingga lelehan jaring emas mengenai sekujur punggung Liu Min dan Dara. Membuat Liu Min dan Dara berteriak kesakitan, semua penonton tertawa riang dan bahagia.