
Dara di dalam tubuh Li Phin berjalan ke sebuah sungai serta beberapa prajurit untuk membersihkan sisa darah yang terdapat di baju mereka. Dara menyeka darah di lengan dan tubuhnya, beberapa penduduk berusaha untuk membantunya membuka baju zirah miliknya.
"Yang Mulia biarkan kami membantu Yang Mulia, karena di sini tidak ada para dayang," ujar istri kepala desa.
"Terima kasih, Nyonya!" balas Dara dan Li Phin. Keduanya tidak ingin menyakiti dan menolak uluran tangan para penduduk. Dara dan Li Phin melihat semua orang begitu antusias mencuci baju zirahnya mereka mengangkat dan membersihkan dengan hati-hati.
Anak-anak bergerombol datang mendekat, "Di mana kalian menyembunyikan anak-anak? Aku bersyukur jika mereka selamat," lirih Dara dan Li Phin melihat banyak anak-anak mulai bermunculan dan menyentuh baju zirah miliknya dan dengan malu-malu memandang padanya.
"Jenderal Tan memerintahkan pada kami untuk membuat gua untuk perlindungan dan ternyata itu berhasil. Anak-anak! Jangan mengganggu Permaisuri!" teriak Nyonya Kepala Desa melarang anak-anak.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Ayo, kemarilah!" ajak Dara.
Anak-anak mendekat dan menyentuh tangan Li Phin. Mereka tersenyum dan tertawa melihat Li Phin dengan malu-malu sebagian anak-anak memberikan beberapa bunga dan buah persik masak kepada Li Phin yang menerima dengan gembira dan memakan buah persik bersama anak-anak.
Semua orang memandang ke arah permaisuri mereka dengan bahagia juga rasa bangga, mereka tidak menyangka jika Li Phin begitu bersahaja, bukan hanya kepada penduduk yang dewasa tetapi kepada semua anak-anak pun ia memiliki cinta kasih yang luar biasa.
Penduduk mengeluarkan bekal makanan dan memasak bersama prajurit, Asisten Wong Fei dan tabib magang sibuk mengobati semua orang yang terluka.
Setelah semuanya selesai, "Li Phin, bagaimana bisa, kamu yang kemari? Lalu bagaimana dengan keponakanku?" tanya Tan Jia Li. Keduanya duduk di bawah pohon persik tua.
Anak-anak sudah kembali ke benteng san bersuka cita membantu semua orang tua dengan kemampuan mereka.
"Aku memutuskan untuk kabur memimpin semua prajurit bersama dengan utusan yang Kakak tugaskan. Kami mampir di Xuchang untuk mengambil bala bantuan dari Paman.
"Jang Min tidak ada di istana dia sedang ke Luoyang, ke Zedong, Donglai, dan terus mengambil semua kekuatan dari semua prajurit dari kerajaan di bawah kedaulatan Donglang.
"Aku memutuskan untuk menitipkann putra mahkota kepada neneknya Ratu Li Hun dan Kaisar Liu Fei. Bagaimanapun aku tidak bisa tinggal diam membiarkan kalian terlalu lama menanti.
"Aku takut jika pasukan Limen Utara dan Wuling tak sampai tepat waktu. Maaf, kami sedikit terlambat karena musuh menyerang di Xuchang. Aku sudah mengirimkan pesan kepada Jang Min untuk meninggalkan sebagian kekuatan di Xuchang untuk berjaga-jaga di bawah raja dan jenderal hebat Donglang.
"Ayahanda Li Sun sudah kembali bertugas untuk terakhir kali ia minta dan setelahnya aku memintanya untuk pensiun saja menikmati hidup bersama ketiga selirnya.
"Lalu bagaimana ceritanya Kakak dan Pangeran Wuling bisa jatuh cinta?" tanya Li Phin penasaran.
Dara hanya diam mendengarkan dan membiarkan jika saudara sepupu tersebut saling melepas rindu.
"Ceritanya panjang sejak Jang Min mengutus kami ke Xihe, Wuling, dan Mongol. Kebersamaan mengajarkan kami arti kata cinta, kami tidak bisa hidup tanpa satu sama lainnya," lirih Tan Jia Li sedikit malu.
Wajahnya yang biasanya memancarkan pesona keras kepala dan dingin melunak seketika karena cinta Gu Shanzheng yang luar biasa.
"Syukurlah jika begitu! Aku sangat senang mendengarnya!" balas Li Phin bahagia.
"Aku juga bahagia melihatmu bahagia bersama dengan Jang Min. Aku mengira kamu tidak bisa melupakan Liang Si." Tan Jia Li dan Li Phin memandang Liang Si yang membantu para prajurit untuk membangun kembali benteng yang hancur.
Ia menatap wajah Liang Si yang berpeluh dan terlalu tampan di sana di bawah terik mentari. Liang Si menatap ke arah Li Phin membuat Li Phin langsung menundukkan pandangannya.
Liang Si pun membuang pandangannya ia merasa tidak pantas mencintai permaisuri mereka. Namun, cinta itu tidak pernah pupus. Tan Jia Li menatap ke arah Liang Si dan Li Phin dengan diam dan menyipitkan mata.
"Apakah kalian masih saling mencintai?" tanya Tan Jia Li.
"Tentu saja, tidak! Aku hanya tidak ingin orang-orang curiga kepada kami. Di antara kami hanya ada hubungan antara permaisuri dan jenderal saja. Kami tidak ingin mengungkit kisah lama," sanggah Li Phin.
Ia tidak ingin harga dirinya semakin dipertanyakan lagi dan mendapatkan penghinaan yang lebih parah dari yang sudah pernah diterima olehnya dan keluarga besar miliknya.
"Oh, syukurlah!" balas Tan Jia Li senang.
"Bagus, Li Phin jangan membuat orang semakin curiga," balas Dara di dalam benak mereka.
"Aku tidak ingin orang mempertanyakan kredibilitas diriku sebagai seorang permaisuri dan seorang istri," balasnya.
"Aku berharap Tuhan akan memberi jalan untuk kita kedepannya," ucap Dara.
Ia pun ingin membagi kebahagiaan kepada Li Phin dan Liang Si, "Cinta kalian adalah cinta yang suci, aku berharap kelak ada jalan yang baik untuk kita," ujar Dara mengharapkan suatu keajaiban.
Namun, keduanya sadar tidak mungkin memiliki dua orang suami. Itu hal yang paling aneh dan tidak lazim ada pada zaman yang mengerikan itu.
"Dara aku ingin mengunjungi Ayahanda dan Gu Shanzheng dan yang lain. Apakah kamu ingin ikut?" tanya Tan Jia Li.
"Sepertinya aku ingin di sini dulu!" balas Li Phin. Ia sangat lelah dan jengah jika harus berhadapan dengan Liang Si terus menerus.
"Baiklah, Yang Mulia hamba permisi dulu!" balas Tan Jia Li memberi hormat.
Li Phin merasa sangat geli jika kakak sepupunya melakukan hal itu, "Rasanya aneh sekali jika kamu melakukan hal itu Kak!" balasnya.
"Kamu harus terbiasa. Bagaimanapun itu adalah kewajibanku sebagai jenderal dan penduduk Donglang untuk menghormati kaisar dan permaisuri kerajaan. Jika dipikir-pikir dari kecil aku dan Jang Min selalu saja bertengkar dan tertawa, siapa sangka jika adikku yang selalu aku peluk adalah seorang putra mahkota," balas Tan Jia Li.
"Ya, siapa yang menyangka! Dulu aku begitu mengagumi kepintaranmu berpedang, Kak. Siapa sangka sekarang tanganku pun sudah berlumuran darah," keluh Li Phin menatap kedua belah tangannya.
"Terkadang, kita tidak tahu takdir yang akan menuntun kita ke mana. Nikmati sajalah, aku rasa Dewa tahu yang terbaik bagi kita semua. Lagian kita membunuh hanya untuk mempertahankan wilayah kita dan harga diri dari orang-orang yang keji.
"Aku rasa tidak masalah, jika kita harus melakukan hal itu!" balas Tan Jia Li.
Ia merasa sangat yakin dengan apa yang dilakukannya adalah semata-mata untuk melindungi harga dirinya, kerajaan, dan penduduk Donglang.