
"Um, aku … memecahkan sebuah gelas!" balas Liu Min mencebikkan bibirnya mengangkat tangan kanannya dan memandang dengan segenap rasa yang sulit untuk diartikan.
"Wow, apakah karena seseorang?" selidik Daniel memandang penuh minat kepada Dara.
"Aku tidak tahu dan aku rasa, itu tidak ada hubungannya denganku!" balas Dara mengedikkan bahunya.
"Sialan, semua ini karenamu Dara. Tapi, kamu selalu saja berpura-pura tidak tahu," batin Liu Min.
"Apakah kamu lagi bersaing dengan pria lain, untuk mendapatkan wanita cantik Bro?" tanya Daniel yang begitu senang menggodanya.
"Daniel, ini hanya karena wanita keras kepala sekeras batu yang tidak mau tahu dan membuatku cemburu. Sudah puas?" tanya Liu Min kesal.
"Hahaha, malang sekali nasibmu, Bos. Ckckck, Apakah kita harus menculiknya dan mengatakan kepada seisi dunia, jika engkau begitu mencintainya, Bro?" tanya Daniel kembali.
Hendra dan Jalik cekikikan, "Cinta yang seperti itu sangat mengerikan. Ckck cinta yang banyak pengorbanan pasti sulit untuk melupakannya," ucap Jalik mengingat kisah Dara dan Liu Min di peti kemas ikan.
Ucapan ketiga pria di depan mereka benar-benar membuat Liu Min kesal dan bahagia. Namun, Dara sama sekali tidak peduli dengan apa yang diucapkan oleh semua pria di depannya.
Liu Min benar-benar menatap kesal kepada Dara tetapi, Liu Min hanya diam saja, "Kemarilah," ujar Dara mengambil kotak P3K dan menarik sebuah kursi mendorongnya kepada Liu Min.
"Terima kasih!" balas Liu Min duduk di kursi mengulurkan tangannya menatap ke arah wajah Dara yang meraih tangannya menyiramkan alkohol, antiseptik, dan membersihkan luka dan mengoleskan salep juga memperbannya.
Daniel, Hendra, dan Jalik saling pandang dan mengangkat kursi Cicero ke ruangan lain, "Bro, kami boleh mengintrogasinya, bukan?" tanya Daniel.
"Boleh, cari semua informasi sepuasnya. Jika perlu, jangan ada satu info yang tertinggal. Setelahnya baru kita serahkan kepada yang berwajib," ujar Liu Min.
"Siap!" balas Daniel bermain mata kepada Liu Min.
Prang!
Liu Min mengambil botol obat yang kosong melemparkan kepada Daniel, yang membuat gerakan seakan ia sedang memeluk dan mencium seorang wanita mirip dengan posisi Liu Min yang sedang duduk di depan perut Dara yang sedang berdiri.
"Ada apa? Seharusnya kamu mengurangi rasa amarah dan cemburu butamu," sindir Dara.
"Jika saja kamu tahu, aku cemburu padamu. Lalu, mengapa kamu membiarkan Cicero memelukmu?" tanya Liu Min menatap Dara kesal.
"Memang kamu pikir, aku sengaja memberikan tubuhku kepadanya begitu? Dasar, picik!" umpat Dara marah.
"Aku tidak tahu apakah kamu dengan sengaja atau tidak? Yang aku tahu kamu sudah berada di dalam dekapannya dengan begitu manja," tuduh Liu Min.
"Hah! Kamu gila? Apakah semurahan itu aku di matamu Tuan Liu?" tanya Dara menarik keras luka di tangan Liu Min.
"Aw! Apa yang kamu lakukan Dara? Jika kamu tidak berniat ingin mengobatiku? Kamu tidak perlu melakukan hal itu kepadaku?" balas Liu Min dengan Marah.
"Aku benci, dengan sikap cemburu buta dan tuduhan gila yang kamu berikan! Jika aku bisa menuntutmu aku pasti sudah menuntutmu," ketus Dara.
"Halah, bilang saja kamu begitu senang di dalam dekapan Cicero yang tampan!" balas Liu Min benar-benar cemburu.
"Ya, ampun, Liu Min! Kamu … terserahlah, aku lelah. Jika kamu tidak mempercayaiku, sebanyak apa pun pembelaan diriku.
"Kamu tak akan pernah mau tahu, karena bagimu aku adalah wanita yang selalu salah di depan matamu," balas Dara meninggalkan Liu Min.
Dara tak lagi peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh Liu Min, Dara mendengar teriakan Cicero yang mungkin disiksa oleh Daniel, Jalik, dan Hendra. Bergema dari balik ruangan lain, yang semakin nyaring terdengar.
"Aku berharap anak-anak mendapatkan informasi di mana markas Pablo Sandez, Guangzhou, juga keberadaan Jenny.
Ia menyusuri koridor panjang yang berkelok-kelok, "Padahal, bangunan ini adakah pabrik yang terbengkalai. Mungkin mereka sengaja membuat semua ini terbengkalai hingga tak seorang pun yang curiga dengan markas dan semua ini," batin Dara.
Ia duduk di sebuah kursi reot mencoba untuk duduk di sana, "Bangunan ini sangat kotor dan berdebu," batin Dara melihat seekor tikus sedang berlarian di sela-sela dinding.
Teriakan Cicero benar-benar bergema di dalam ruangan, "Um, apakah semua teriakan di sini tidak terdengar sampai ke perkampungan?" batin Dara bertanya dan ia benar-benar penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
"Liu Min benar-benar sialan dan kepala batu, masa hanya karena kesalahpahaman, dia sampai segitunya. Dasar kampret!" omel Dara.
Teriakan kesakitan Cicero masih bergema, "Andaikan aku ikut mengintrogasinya, ampun … aku bisa saja membunuh Cicero." Dara sudah ingin tahu informasi segala hal, tetapi ia takut jika ia malah membunuh Cicero jika jawaban Cicero tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Dara ke luar dari bangunan terbengkalai dan melihat sekitarnya, "Um, pintar juga mereka membuat markas ini.
"Pantas saja tidak ada yang kemari! Mereka membuat garis line kuning," batin Dara melihat garis kuning polisi mengelilingi gedung dan tertera, dan sebuah tulisan kata larangan karena kasus pembunuhan dan hantu.
Dara mengamati sekelilingnya dan kembali masuk ke dalam bangunan yang terbengkalai tersebut.
Di dalam ruangan ia bertemu dengan Jalik dengan raut wajah yang kesal.
"Apakah Cicero sudah bicara?" tanya Dara.
"Belum sama sekali! Dia lebih ulet dari yang aku bayangkan, Bu." Jalik menjawab dengan pandangan kesal dan meminum sebotol air minum.
Teriakan semakin mengerikan terdengar, "Siapa yang menginterogasi?" Dara semakin khawatir.
"Liu Min!" balas Jalik tercekat.
"Sial! Jangan-jangan pria gila itu membunuhnya!" umpat Dara berlari secepatnya ke dalam ruangan.
"Apa yang kau lakukan Liu Min?" teriak Dara melihat sebuah sangkur sudah menancap di paha kiri Cicero.
"Aku akan membunuhnya karena dia tidak bicara!" ujar Liu Min dingin.
"Kau gila! Pantas saja kau dipenjara, mereka juga manusia. Sebagai seorang aparat kita melindungi masyarakat dan membuat penjahat berusaha untuk kembali ke jalan yang benar.
"Bukan membunuhnya! Apa yang kau pikirkan Liu Min?" teriakan Dara bergema.
"Aku tidak peduli, Dara! Mereka juga telah meracuni generasi muda. Bayangkan, karena ulah mereka banyak orang yang meninggal, ibu kehilangan suami dan ayah, anak kehilangan masa depan mereka.
"Belum lagi korban pencurian, pembunuhan, perampokan, dan pemerkosa hanya karena mereka ingin mendapatkan uang untuk membeli barang haram itu.
"Belum lagi akal mereka yang hilang sehingga banyak terjadi tindak kejahatan dan perceraian, Dara! Kau bilang, kita akan memberikan mereka kesempatan? Omong kosong!
"Jika manusia memiliki pikiran binatang seperti mereka masih berkeliaran semua itu tak akan pernah tercapai!" umpat Liu Min.
"Itulah gunanya ada kita, Liu Min! Apa gunanya aparat dan penegak hukum? Jika kita tak bisa memilah mana yang benar dan salah?" ucap Dara.
"Aku tidak peduli! Mereka harus mati!" balas Liu Min, tak kalah sengit menarik pistol dari balik bajunya dan memasang peredam.
"Liu Min! Apa yang kau lakukan? Kau jangan gila!" sanggah Dara berdiri di antara Cicero dan Liu Min yang ingin menembak Cicero.