Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta-Bagaikan peluru yang menghujam jantung


Liu Min memutar sepeda motor ke arah rumah Dara, "Tuan Liu, mengapa kita kemari?" tanya Dara sedikit cemas, "aku takut jika para mafia mengetahui hal itu, maka mereka akan menggunakan Mama sebagai sandera," ucap Dara.


"Jangan khawatir, ikut aku saja!" balas Liu Min tersenyum, "bukankah kamu rindu dengan Mama? Lebih baik selagi masih ada kesempatan kita menjenguknya," ujar Liu Min.


Ucapan Liu Min membuat Dara tersentuh, "Tumben nih, Buaya Darat sedikit normal dan penuh cinta kasih," batin Dara.


Liu Min memarkirkan dan menyembunyikan sepeda motor di semak bunga. Ia mengendap-endap menuju pintu belakang rumah, diikuti oleh Dara.


"Tuan Liu, kamu begitu hapal dengan keadaan rumahku. apakah dulu kamu selalu sering kemari?" tanya Dara penasaran.


"Tentu saja! Aku sering datang ke rumahmu bersama dengan Danu," balas Liu Min berbisik.


"Pantas saja!" batin Dara masih memperhatikan Liu Min, Dara masih mengawasi sekitarnya, "alangkah anehnya, jika aku pulang ke rumahku sendiri bagaikan seorang pencuri?" batin Dara.


Namun, ia masih saja terus mengikuti apa yang dilakukan oleh Liu Min berlarian ke sana kemari bagaikan pencuri yang ingin membobol rumah mangsanya.


Tok! Tok!


"Liu Min?! Kaukah itu Nak?" tanya Ningrum membuka sedikit celah pintu belakang.


Ningrum tidak menyangka jika Liu Min akan muncul dari belakang rumah, ia mengetahui jika Liu Min dan putrinya sedang menjadi buronan. Ningrum sedikit cemas, "Apakah kamu terluka?" tanya Ningrum, memperhatikan sekujur tubuh Liu Min.


"Tidak Ibu," balas Liu Min cepat, ia sangat takut membuat wanita cantik bersahaja di depannya cemas.


Ningrum masih mengawasi di belakang Liu Min, ia sedikit kecewa tidak mendapati putrinya di sana, namun Ningrum berusaha untuk terlihat tegar.


"Iya, Bu. Apa kabar Bu?" tanya Liu Min mengulurkan tangan mencium punggung tangan Ningrum. 


"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan dirimu, Nak? Masuklah, sebelum ada yang tahu," ucap Ningrum mempersilakan Liu Min masuk dengan membuka pintunya lebar-lebar.


"Aku baik-baik, saja Bu. Aku kemari ingin memberi Ibu kejutan," ujar Liu Min menggeser tubuhnya.


Dara di samping pintu langsung merapikan rambut dan pakaiannya, menyelipkan pistolnya ke balik jaket begitu juga dengan sangkur, "Aku tidak ingin Mama melihatku seperti gangster," batin Dara.


Dara mengumpulkan keberanian dan kerinduan yang sudah meluap ingin bertemu dengan ibunya, "Apakah Mama marah? Jika mengetahui putrinya seperti ini?" batin Dara 


Perlahan Dara berjalan dengan pelan dan kaki gemetar ingin  melihat Ningrum sang ibu, "Dara! Putraku!" pekik Ningrum dengan berlinang air mata, langsung mengulurkan  tangan memeluk putrinya.


"Mama!" balas Dara berlari ke dalam pelukan Ningrum, "Mama, aku merindukanmu! Sangat merindukanmu, Ma!" lirih Dara tak terlukiskan.


Kedua wanita tersebut saling peluk dan cium, "Alhamdulillah, akhirnya kamu selamat juga Nak. Mama rindu sekali padamu, Nak," ujar Ningrum menangkup wajah Dara dengan kedua belah tangannya.


Air mata berlinang di kedua belah pipi keriput Ningrum, "Syukurlah, doa-doaku masih diijabah oleh Allah, Nak. Liu Min, terima kasih," ujar  Ningrum mengulurkan tangan kepada Liu Min yang ikut masuk di dalam pelukan kedua wanita berbeda umur tersebut.


"Aku juga rindu kepadamu, Ma. Mama sehatkan? Maaf, selama ini … aku tidak bisa menemui Mama, karena aku takut jika musuh akan menyandera Mama," ujar Dara masih berada di dalam pelukan  Ningrum.


"Terima kasih, Ma." Dara merasa tak ada yang paling bahagia selain melihat mamanya bahagia.


"Ayo, masuk Nak!" ajak Ningrum kepada Liu Min yang sedari hanya melihat ibu dan anak sedang melepas rindu sementara dia sendiri berada di dalam dekapan di antara Dara dan Ningrum.


"Iya, Bu!" balas balas Liu Min.


"Mama, kami tidak bisa lama-lama di sini. Mama tahu 'kan apa yang terjadi? Aku hanya minta doa Mama dan berhari-hatilah, Ma!


"Dan satu hal lagi, aku tidak pernah melanggar janjiku kepada Mama dan negaraku Ma!" ujar Dara menegaskan.


"Mama tahu, siapa dan bagaimana putriku yang aku lahirkan? Jadi kamu tidak perlu meragukan kepercayaanku, Nak." Ningrum menatap wajah putrinya, "aku juga tahu, jika Liu Min adalah anak yang baik.


"Liu Min, Ibu hanya meminta jaga dan Ibu titip putriku yang nakal ini kepadamu, Nak. Sabarlah menghadapinya," pesan Ningrum kepada Liu Min.


"Iya, Ibu!" janji Liu Min, "aku akan menjaga dengan sepenuh jiwaku, Bu. Selama aku masih hidup, aku berusaha untuk menjaga dan melindungi Dara Sasmita," balas Liu Min dengan tegas.


"Terima kasih, Nak! Apakah kalian ingin makan dulu?" tanya Ningrum, "Ibu memasak makanan kesukaan kalian berdua," ucap Ningrum dan berharap kedua anak muda di dekapannya mau mencicipi masakannya.


Liu Min dan Dara saling pandang, "Mengapa tidak Bu? Aku sangat menyukainya," balas Liu Min tak peduli, jika mereka masih buronan. Sementara Dara menggigit bibirnya semakin cemas, ia sedikit menggelengkan kepala kepada Liu Min.


Namun, Liu Min berpura-pura tidak melihat dan memahami kecemasan Dara, "Bajingan nih, Buaya Darat! Bagaimana jika polisi atau mafia yang kemari? Bagaimana dengan Mama? Aku tidak bisa, jika sampai terjadi sesuatu dengan Mama? Aku tidak akan memaafkan diriku, " batin Dara semakin cemas.


Akan tetapi, ia tak ingin jika Ningrum mengetahui hal itu. Hingga ia berusaha tersenyum kala Ningrum tersenyum kepadanya, "Aduh Ma, bagaimana ini?" batin Dara.


"Baiklah, Ibu akan menyiapkan makanan, sebaiknya ajaklah Liu Min ke kamarmu, Dara!" ujar Ningrum.


"Apa?!" balas dara dan Liu Min terkejut dengan perintah Ningrum yang menyalahi aturan agama dan norma adat istiadat ketimuran.


"Iya, bawalah, Nak. Mama akan membawa nasi kalian ke kamarmu, bukankah kamar kamu di lantai dua? Dan setiap malam Mama memang menghidupkan lampu di sana. 


"Jadi, tidak akan ada yang curiga jika ada yang datang dan memeriksa, karena tidak ada bekas piring dan tidak menemukan kalian di sini, Nak. 


"Memang kalian pikir apa? Kalian jangan aneh-aneh! Kalian belum menikah!" ucap Ningrum memandang tajam kepada kedua anak muda di depannya.


Glek!


Dara menelan ludahnya, "Andaikan Mama tahu … jika si Buaya Darat ini sudah berulang kali menciumku … mati aku! Aku bisa dikuliti, Mama!" batin Dara.


"Baiklah, Bu. Kami akan ke atas, apa yang bisa kami bantu bawakan, Bu? Agar tidak merepotkan Ibu?" ujar Liu Min berusaha untuk mengatasi salah tingkah antara dirinya dan Dara.


Ia merasa tatapan mata Ningrum bagaikan peluru dan sinar x yang langsung menembus ke jantungnya. Ia merasa telah dihukum dan ada rasa malu untuk itu, "Aku akan bertanggung jawab karena telah mencium putri nakalmu, Bu!" batin Liu Min.


"Bawalah saja botol air mineral dan dua gelas, sisanya biar Ibu yang bawa! Sekalian Dara, bawalah buah-buahan!" perintah Ningrum.