
Keduanya melesat terus meninggalkan goa hingga berada di mulut goa, Keduanya mengendap melihat sekitarnya, "Aman, aku rasa tidak ada prajurit Mongol. Sebaiknya kita cepat meninggalkan Desa Mayu, aku tidak ingin kita harus berhadapan dengan mereka, apalagi kita sedang terluka," ujar Tan Jia Li.
"Ya, kamu benar! Sebaiknya mari kita terus ke arah Barat. Aku sangat yakin jika kita akan menemukan penjelasan di mana, mereka membuat pelatihan dan markas untuk terus menyerang di perbatasan," ucap Gu Shanzheng.
Ia menghela napas panjang, "Aku masih penasaran, bagaimana mungkin, mereka bisa begitu cepat menyerang kita? Mengingat jarak tempuh yang harus dilalui mereka benar-benar menyita banyak waktu," lanjutnya penasaran.
"Jika bebar apa yang dikatakan oleh Nenek Mo yu'er? Mungkin maksudnya adalah Gunung Kunlun," ujar Tan Jia Li, "gunung itu begitu dekat dengan Xihe, Xuchang, Wuling, dan Mongol, Changsha, bahkan Qin," papar Tan Jia Li.
"Ya, kamu benar, kita harus mencari ke sana! Agar kita mudah melaporkan kepada Kaisar Liu Min. Aku sudah rindu akan Donglang," balas Gu Shanzheng.
Tan Jia Li menatap ke arah Gu Shanzheng yang berjalan mengendap di belakangnya berlarian menembus pekat malam di bawah sinar rembulan di antara semak bunga magnolia yang sedang berbunga indah.
"Padahal kamu lahir di Wuling, tapi ... kamu begitu besar merindukan Donglang," ucap Tan Jia Li.
"Ya, karena aku dibesarkan di Chang An dan Kekaisaran Donglang-lah yang membesarkan diriku di bawah perlindungan kakek," balas Gu Shanzheng, mengingat kakeknya Liu Bei.
"Aku tidak menyangka, jika cinta kakek begitu besar kepada Nenek Mo Yu'er," ucap Gu Shanzheng, "cinta yang tulus yang tak pernah kesampaian hingga dibawa mati," kenang Gu Shanzheng mengingat kisah indah dan sedih dari cinta sang Kakek dan Mo Yu'er.
"Terkadang cinta tak bisa bersatu, sebagian orang mengatakan, 'Jika cinta sejati adalah cinta yang bersatu di dunia, tapi sebagian mengatakan, jika cinta sejati adalah cinta yang tak bisa dimiliki tapi masih mencintai hingga mati,'.
"Aku tidak tahu, mana yang benar dan mana yang salah, bagiku, jika cinta ya ... harus bersatu. Tapi jodoh adalah pilihan Dewa, kita hanya berusaha menemukan jodoh kita. Tapi segalanya Dewalah yang menentukan-Nya," balas Tan Jia Li bijaksana.
"Wah, aku tidak menyangka pacarku begitu dewasa," balas Gu Shanzheng, "aku benar-benar tidak salah memilihmu, Nona Tan!" ujar Gu Shanzheng menggoda Tan Jia Li.
"Tan Jia Li, gitu lo!" puji Tan Jia Li pada dirinya sendiri.
Keduanya langsung melesat secepatnya menghindari pertempuran dengan prajurit Mongol yang masih mencari mereka.
***
Sementara Dara dan Li Phin merasa begitu bahagia dengan kehadiran Liu Sun Ming, keduanya lebih memfokuskan diri dengan putra mereka. Apalagi Ratu Li Hun dan Kaisar terdahulu Liu Fei telah kembali ke Donglang setelah mendengar pengkhianatan Qin Chai Xi dan selir kesayangan nya Selir Chien.
"Anak, Mama sayang! Cup, cup! Jangan menangis, Sayang!" ucap Dara berusaha untuk membujuk Liu Sun Ming. Ia telah menjenguk ayahandanya Jenderal Liu Sun yang telah mulai pulih walaupun ia harus banyak istirahat total untuk menyembuhkan banyak tulang yang patah dan racun yang menggerogoti.
Suaminya Kaisar Liu Min masih sibuk mengurus hal-hal mengenai pertahanan dan menyelidiki siapa saja kaki tangan dari Qin Chai Xi.
Jang Min begitu bingung dengan cara Li Phin yang lebih senang mengurus semua keperluan putra mereka, ia tidak pernah menyerahkan sepenuhnya pada dayang.
"Aku tidak tahu ada apa dengan Ming'er, Sayang!" balas Dara hampir mendaki ke Gunung Sun akibat jerit tangis dan rewel Liu Sun Ming.
"Ayo, Sayang, dengan Ayahanda!" ajak Jang Min mengambil alih putranya ke dalam dekapannya.
Ia merasa ingin memberikan seluruh kasih sayang miliknya untuk putra dan istri juga rakyatnya, "Cup! Cup!" ujar Jang Min membelai wajah putranya yang mulai menatap ke arahnya dengan sisa derai air mata.
"Ah, Putra Ayahanda benar-benar tampan dan baik budi juga kuat serta pintar. Jangan buat Mama lelah, Nak!" ucap Jang Min. Ia pun mengikuti cara Dara memanggil dirinya sendiri bukan dengan sebuatan Ibunda melainkan Mama.
"Ya, ampun, nih anak! Baru digendong dikit saja oleh ayahnya sudah diam, padahal kita sudah merayu dan menggendongnya berjalan hilir-mudik. Jika diukur mungkin kita sudah pergi ke perbatasan Xuchang!" batin Dara duduk di pembaringan menatap putra dan suaminya.
"Ya, begitulah anak-anak terlalu merindukan dan menyayangi ayahnya, padahal kita yang sudah mau mampus!" balas Li Phin berbaring di dalam benak.
"Li Phin, istirahatlah jika kamu lelah," balas Dara menatap ke arah Li Phin.
"Ya, kamu benar! Dara bolehkah aku menjenguk Liang Si?" tanya Li Phin. Ia sangat ingin melihat kekasih hatinya
"Ya, pergilah! Tapi aku harap saat bersama dengan tubuhmu ini, jangan terlalu aneh seperti kemarin. Itu akan mengundang kontroversi di kalangan istana. Kamu mau hal itu akan mengundang gosip bahkan skandal jika kita berselingkuh dengan Liang Si?
"Apakah kamu mau kita dan Liang Si dipenggal hanya karena kesalahpahaman begitu?" tanya Dara menatap ke arah Li Phin yang diam
"Ya, maafkan aku!" balas Li Phin, jauh di relung hatinya ia merasa semua hal begitu konyol dan menyedihkan juga tidak adil untuknya dan Liang Si.
"Andaikan bisa, aku kembali mengambil alih tubuhku … tapi sama saja. Aku malah semakin tersiksa. Bagaimana jika Itu terjadi? Aku bisa gila!
"Aku juga tidak ingin disentuh oleh Jang Min. Itu juga akan menimbulkan masalah, tak akan ada yang percaya jika aku adalah Li Phin yang asli dan mencintai Liang Si," batin Li Phin melesat ke luar tubuhnya meninggalkan jiwa Dara seutuhnya di dalam tubuhnya.
Jiwa Li Phin melihat Liang Si menatap rembulan di kala malam dari balik jendela kamarnya menghadap paviliun di mana di depannya adalah kamar tidur Li Phin dan Jang Min.
Li Phin melihat pandangan Liang Si yang begitu berkabut kala melihat Dara di dalam tubuh Li Phin sedang berdiri merangkul suaminya Jang Min yang sedang menggendong putra mereka.
"Maafkan aku, Liang Si! Aku juga tidak tahu mengapa semua ini bisa terjadi? Andaikan Selir Qin tidak membuat masalah sepelik ini, kita pasti masih sangat bahagia," batin Li Phin, "tapi, aku tidak akan mungkin menjadi seorang prajurit dan jenderal bahkan, mungkin tidak akan menjadi permaisuri walaupun itu hanya ragaku," batin Li Phin menikmati pemandangan kebahagiaan Dara dan Jang Min di depan mereka.