Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Cinta ditolak permusuhan terjadi


"Siapa kau? Jika kamu memang bertanggung jawab buka topengmu! Bukan bersembunyi," ketus Tan Jia Li kesal.


"Hahaha, wanita yang sangat cantik! Apakah kamu mau menghabiskan malam bersamaku? Kau bodoh sekali mau menjadi cecunguk Kaisar bodoh itu!" ujar si pria bertopi jerami.


"Kaisar yang kau bilang bodoh itu, adalah adikku! Jangan pernah menyakitinya dan sepupuku!" teriak Tan Jia Li melesat menyerang dengan memutarkan pedangnya berusaha untuk menyentuh pria tersebut.


Akan tetapi serangan Tan Jia Li bisa dengan mudah ditangkis olehnya, "Hahaha, Putri seorang Jenderal Tan Yuan Ji memang hebat! Sayangnya, kau bukanlah tandinganku, Tan Jia Li!" teriak pria bertopi jerami langsung melesat dan menebarkan sulur jaring dari balik tangannya 


"Apakah dia memiliki sihir?" batin Tan Jia Li bingung, ia langsung melesat bersalto di udara dan berjumpalitan dengan kaki terikat pada sebatang pohon bambu.


"Hahaha, kau tidak akan bisa lolos! Terimalah kematianmu!" teriak pria tersebut langsung menyerang Tan Jia Li secepat kilat, di bawah pepohonan bambu para prajurit dan orang-orang bertopeng kembali bertarung.


"Sialan! Mengapa Tan Jia Li bisa terdesak? Siapa dia?" batin Jenderal Gu Shanzheng melesat ke arah Tan Jia Li yang terus berusaha melesat dan menghindari sulur jaring beracun tersebut.


Trang!


Tombak panjang Gu Shanzheng memutuskan sulur dengan memukulkan punggung tombak ke arah sulur getarannya membuat bunyi dengung yang mengerikan.


"Hahaha! Ternyata Kaisar bodoh itu benar-benar mengirim dua jenderal sekaligus hanya ingin memberi Xihe makan! Ah, Jenderal Gu Shanzheng putra ke-3 kerajaan Wuling. 


"Um, alangkah bodohnya kamu mau bersekutu dengan kaisar bodoh itu!" teriak si pria, yang melesat menjauh sedikit berdiri di atas sebatang bambu.


"Siapa kau? Mengapa kau bisa mengenali kami berdua dengan begitu baik?" ujar Gu Shanzheng.


"Hahaha, kau tak perlu tahu! Jika kau ingin berkomplot dengan kami, aku akan mengatakan yang sebenarnya?" ujar pria bertopeng sekedar mencoba menyerang Gu Shanzheng.


"Cobalah serang aku!" ujar Gu Shanzheng melesat menyerang dengan kecepatan yang luar biasa mereka naik menukik dengan kecepatan pedang dan tombak yang terus berkelebatan menuju angkasa dan kembali ke bawah pepohonan bambu banyak yang menjadi korban akan tebasan pedang dan tombak tersebut.


"Sial! Aku tak menyangka Gu Shanzheng benar-benar hebat di balik tampang dinginnya!" ujar Tan Jia Li mencoba untuk menukik ke bawah membantu semua prajuritnya dan bawahan Gu Shenzheg. Ia bersyukur jika asisten Tabib Luo Wong Fei juga pintar berkelahi dan belum ada yang menjadi korban. 


Tan Jia Li secepatnya berusaha untuk menghabisi semua musuhnya memanfaatkan cahaya kegelapan hingga tak satu musuh pun yang berhasil selamat.


"Bajingan! Aku tidak menyangka jika Gu Shanzheng ikut! Jika aku berhasil membunuh Tan Jia Li. Kekaisaran Donglang akan sedikit kacau, sialan mengapa pangeran ke-3 Wuling ikut!" batin si pria. 


Ia menoleh ke bawah semua orang dari kekaisaran Donglang menonton pertandingan dengan santai bahkan Tan Jia Li menikmati makanan dan minuman dengan semua prajurit.


"Sialan! Jangan-jangan Tan Jia Li sengaja mengalah dan menyerahkan pertempuran ini kepada Gu Shanzheng? Sial!" umpatnya ia mencoba melarikan diri.


Shut! Tiga pisau langsung mendarat di punggung si pria bertopi jerami yang dilemparkan Tan Jia Li, "Hei, sialan! Jangan coba-coba kabur!" teriak Tan Jia Li ingin melesat mengejar si pria.


"Sudahlah! Tidak usah dikejar, pisaumu akan membuatnya mati perlahan kecuali jika dia mendapatkan pertolongan. Yang utama adalah mengantar bahan pangan ke Xihe. Kamu mau penduduk mati kelaparan?" tanya Gu Shanzheng menarik lengan Tan Jia Li yang ingin melesat.


"Lepaskan tanganmu!" teriak Tan Jia Li.


"Cih, tangan kapalan saja terlalu angkuh!" balas Gu Shanzheng.


"Apa kau bilang? Oh, kau menginginkan tangan mulus, seorang wanita lemah gemulai, begitu? Pergilah ke istanamu di Wuling kau akan mendapatkan wanita seperti itu. Wanita dengan wajah penuh riasan dan dada sebesar semangka!" teriak Tan Jia Li.


"Aku sangat mengharapkan hal itu! Andaikan misi ini selesai aku ingin bersenang-senang di rumah cahaya malam di sudut kota Chang An! (rumah penyedia penjaja cinta)" tegas Gu Shanzheng.


Lin Tao dan Zhang Fuk hanya menghela napas dan menggeleng kepala, "Mari, kita lanjutkan saja perjalanan ke Xihe kita tinggalkan mereka saja!" ujar Lin Tao.


"Ya, kamu benar! Biarkan mereka semalaman di hutan ini! Dari dulu tidak pernah berubah! Sebaiknya mereka menikah saja!" ujar Zhang Fuk.


"Apa kau bilang Zhang Fuk!" teriak Tan Jia Li dan Gu Shanzheng dari balik dedaunan di pucuk bambu suara keduanya bergema dengan tenaga dalam.


"Ayo, kabur!" teriak Zhang Fuk mengajak semua orang secepatnya memacu kuda dan pedati menuju Xihe.


"Woi! Bawahan kurang ajar! Tunggu kami!" teriak Tan Jia Li dan Gu Shanzheng melesat secepatnya menunggang kuda mereka mengejar anak buah mereka yang kabur takut dihukum. 


***


Si pria bertopi jerami berlari secepatnya dengan ilmu peringan tubuh miliknya, "Tan Jia Li sialan! Kau telah menolak cintaku dan kau pun telah menyakitiku! Suatu saat aku akan membunuh dan memperkosa dirimu!" ujar pria tersebut terus berlari dan jatuh di sebuah rumah di gunung Kunlun.


"Tuan Muda! Tuan Muda!" teriak seorang pengawal membawa tubuh pria tersebut memasuki ruangan.


"Ada apa dengan putraku?" teriak Qin Chai Xi melihat orang yang menjabat menjadi salah satu Jenderal Donglang. 


"Qin Chai Jian! Bawa anakku ke dalam! Sembunyikan sebelum para jenderal Donglang mencarinya!" teriak Qin Chai Xi.


Pengawal buru-buru membawanya dan mengobati luka dari Qin Chai Jian, "Kurang ajar! Apakah pasokan pangan dari Donglang telah sampai ke Xihe? Bisa kacau semua ini! Aku harus menarik semua pasukan dan memindahkan ke Changsha. 


"Aku berharap raja Chien Fu dan Shan Xier juga yang lain berhasil mengelabui dan memasang jebakan kepada Kaisar Liu Min," batinnya.


"Qin Lei, pergi tarik semua sekutu kita yang menjadi pemberontak dan yang mengganggu ketenangan Xihe. Aku tidak ingin mereka mengetahui jika kitalah yang merencanakan  semua ini!" perintah Qin Chai Xi.


Qin Lei langsung bergerak secepatnya menuju ke Xihe menarik semua pasukan mereka yang tersebar di kota dan pelosok Xihe.


***


Dara masih duduk di tempat tidurnya, "Salam Yang Mulia Permaisuri! Selir Qin Cia datang menjenguk bersama dengan Selir Qin Chai Cu!" lapor seorang pengawal.


"Hadeh, mengapa para nenek sihir darang, sih?" batin Dara.


"Berhati-hatilah! Aku tidak ingin terjadi sesuatu! Jangan katakan jika kita sedang hamil, Dara!" ujar Li Phin mengingatkannya.


"Tentu saja!" balas Dara, "Baiklah pengawal. Suruh mereka menunggu di paviliun," ujar Dara.


"Baik Yang Mulia Permaisuri!" ujar pengawal undur diri.


"Mengapa kamu mengajak mereka ke paviliun? Bukankah ini sudah malam?" tanya Li Phin.


"Aku tidak ingin mereka menggunakan racun, di ruangan tertutup! Jika kita membuka semua pintu dan jendela itu artinya kita mencurigai mereka, itu akan menjadi skandal untuk menjatuhkan kita.


"Jika di ruangan terbuka! Mereka tidak berani akan berbuat macam-macam karena seluruh prajurit akan mengetahui perbuatan mereka," balas Dara.