Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2 Keabadian Cinta - Tewasnya Quino dan lenyapnya jiwa Li Phin


"Aduh, dasar oneng! Pantas saja kamu tidak tahu sejarah! Um, ya sudahlah! Minggir saja kau! Jangan halangi aku! Sudah bosan aku melihat wajahmu itu! Dasar pengkhianat!" umpat Li Phin, ia mengayunkan pedangnya dan melesat secepatnya ke arah Quino.


"Hahaha, kau pikir semudah itu kau membunuhku!" umpat Quino langsung mengayunkan pedang samurainya yang berkilau dengan sisa darah yang masih menetes ke arah Li Phin.


Trang! Trang!


Dua wanita tersebut saling serang dan tendang membuat keduanya terhuyung ke belakang tubuh mereka masing-masing tetapi keduanya kembali melesat saling serang hingga pedang Quino menembus ke arah pergelangan tangan Li Phin, membuat darah semakin merembes dengan deras.


"Bajingan, Kau!" umpat Li Phin, ia langsung melesat secepatnya ke arah Quino.


Akan tetapi, lagi-lagi samurai Quino melukai bahunya, "Aaa!" lirih Li Phin, ia terjerembab ke tanah.


"Sial! Wanita ini dari dulu hingga kini masih saja hebat!" batin Li Phin, ia mengingat Nyonya Qin.


"Hahaha, wanita lemah sepertimu … bagaimana bisa menjadi seorang ratu?" ejek Quino, ia langsung menebaskan samurai ke arah Li Phin yang masih terduduk di tanah karena bahu kiri dan pergelangan tangan kanannya sudah terluka parah. 


Namun, di sisa terakhir tenaganya Li Phin bertekad untuk membunuh Quino, "Aku tidak akan membiarkan si empunya raga ini akan tewas! Aku harus melakukan sesuatu!" batin Li Phin, bayangan si kembar menari di pelupuk mata.


Li Phin melirik ke arah Dara yang masih bertempur dengan Axiang dengan begitu gagah dan hebat, "Dara benar-benar wanita liar biasa! Aku bangga pernah menjadi bagian dirinya," batin Li Phin tersenyum.


Li Phin melihat di sisi kirinya Liang Bo dan Tan Juan yang masih berusaha menghalau musuh masuk ke portal yang menganga.


"Reinkarnasi ayah dan suamiku yang hebat!" lirihnya, ia terus mengamati semua pertempuran.


Di depannya Liu Min bertempur bersama Gu Shanfeng (Ahim Yilmaz) melawan para ninja dan prajurit hantu dan di sebelah mereka Tan Jia Li ( Liu Amei) bertarung dengan Lu Dang. 


"Aku bahagia, masih diberi kesempatan oleh Dewa Agung bertempur sekali lagi di antara Ayah, suami, sepupu, ipar, mantan suami, dan saudaraku Dara Sasmita. Kali ini, aku ingin tidur selamanya … kecuali si pemilik raga ini," keluh batin Li Phin, ia tersenyum bahagia.


"Liang Si di zaman ini bukan suamiku, dia suami wanita baik ini," batin Li Phin ia mengunyah pil penguat ruh dan mencoba untuk memegang kembali pedangnya bersiap menantikan tebasan Quino.


Li Phin melihat Quino memusatkan tenaga di kedua tangan yang menggenggam samurai dengan kekuatan miliknya yang luar biasa. Akan tetapi, semuanya itu tidak membuat nyali Li Phin menciut. 


Li Phin melihat Quino berlari dengan kimono bercorak naga dan bakiak serta berkaus kaki putih menyerang dengan sebuah kecepatan yang luar biasa menyerang ke arahnya yang begitu berhasrat ingin menebaskan pedangnya.


"Hyaaat! Mampus kau Ratu tak berguna!" teriak Quino bahagia, ia merasa kesempatannya membunuh Li Phin sudah terbuka lebar.


Apalagi, ia melihat Li Phin tersenyum bahagia menyingsing kematiannya, "Dasar bodoh! Mending kamu melakukan harakiri saja!" umpat Quino, "dasar tidak punya malu!" hina Quino, ia merasa Li Phin adalah Ratu yang sangat bodoh.


Trang! Jlep!


"Kau!" teriak Quino terperanjat, ia tak menyangka jika samurainya ditangkis oleh pedang Li Phin tepat di depan lehernya dan belati emas pemberian Tan Jia Li telah mendarat di dada tepat di jantung kiri Quino.


"Kau salah, jika menganggap aku adalah ratu yang lemah! Jika aku lemah … tidak mungkin selama 30 tahun aku bisa memerintah Donglang dengan damai sebelum diteruskan oleh putraku Liu Ming Sun!" ejek Li Phin bengis.


Kras! Kras!


Li Phin langsung menarik belatinya dan menusukkan kembali ke jantung Quino bertepatan dengan pedang Li Phin memenggal kepala Quino yang langsung menggelinding di tanah.


Bruk!


Li Phin terjatuh menatap langit berwarna jingga fajar mulai tiba, ia tersenyum dan kembali menelan pil yang lain.


"Selamat tinggal! Si pemilik raga, semoga kau bahagia sebagai reinkarnasi diriku bersama reinkarnasi Liang Si. Dara …," lirih Li Phin, ia berharap Dara mendengar suaranya.


"Li Phin …," balas Dara, ia mendengar suara Li Phin memanggilnya dengan penuh pengharapan agar ia segera datang.


"Tuan Qinglong! Tolong! Aku ingin bertemu Li Phin! Dia membutuhkan kita!" teriak Dara.


Qinglong melesat dengan cepat tanpa membantah dan bersuara menyeruak di antara para prajurit 20 bayangan naga hitam milik Tan Jia Li, bak kilat mendarat tepat di depan tubuh Li Phin yang menggapai ke arahnya dengan tersenyum bahagia.


"Phin'er! Jangan tinggalkan aku!" teriak Dara dengan penuh kesedihan, ia merasa sebagian jiwanya akan dicabut paksa darinya. 


Dara melesat turun dari punggung Qinglong. Dara Sasmita berlari menyongsong bagian dari jiwa di masa lalunya, ia mendarat dengan berlutut di depan tubuh Li Phin yang tersenyum, menggenggam tangan Li Phin dengan kedua belah tangannya..


"Dara … aku sudah memenuhi semua janjiku di kehidupan dulu demi anak kita Ming Sun. Dia sangat tampan sepertimu dan Kaisar, Dara … aku juga sudah memenuhi janjiku sebagai Ratu yang baik untuk Dinasti Donglang dan aku juga sudah memenuhi janji terakhirku untuk ke duniamu.


"Sayangnya,aku hanya sekejap di sini. Ini bukan duniaku, aku sudah bahagia di duniaku bersama Liang Si. Saat sekarang, ini adalah perjuanganmu … berbahagialah dengan Kaisar Liu Min. 


"Tak ada lagi aku dan Liang Si diantara kalian berdua. Aku hanya titip … pemilik raga ini," ujar Li Phin tersenyum.


"Phin'er … aku tahu, kau adalah Ratu yang hebat! Ibu yang baik! Bahkan, seorang istri yang luar biasa Phin'er.


"Maaf, kamu harus kembali terlibat di dalam perang ini … pergilah dengan damai, aku akan meneruskan janji sumpah kita di kehidupan dulu dan sekarang," balas Dara, ia memeluk Li Phin di dalam dekapannya.


"Terima kasih … saudariku!" bisik Li Phin.


Secerca jiwa Li Phin ke luar dari tubuh Liu Aching, seputih perak yang terus tersenyum dan melambaikan tangan dengan pakaian kebesaran seorang Ratu Donglang yang masih  tersenyum menatap Dara melesat menjauh naik menjadi bintang di angkasa di sisa cahaya jingga fajar yang mulai menyingsing.


"Li Phin …," lirih Dara berlinang air mata, "di kehidupan lalu … aku yang meninggalkannya dan sekarang … dialah yang meninggalkanku …," bisik Dara menangis.


"Dara! Apa yang terjadi?" tanya Liu Aching bingung, ia melihat Dara yang menangis dan pertempuran masih terjadi.


"Bagaimana Ibu Ningrum dan si kembar? Apakah ada yang tewas di pihak kita?" tanya Liu Aching semakin khawatir, ia melihat Dara yang masih menangis.


"Tidak Ada, Ce. Semua baik-baik saja! Aku harap hingga pertempuran ini usai tak ada ya g tewas di pihak kita," lirih Dara.


"Oh, syukurlah! Aku berdoa untuk itu!" ucap Aching sedikit lega, ia mengambil pedangnya untuk kembali bertempur.


"Ce, kau mau apa?" tanya Dara, ia tahu Liu Aching tak bisa bertempur.


"Aku ingin turun ke medan pertempuran!" balasnya bingung. 


"Ce, menyingkirkan dari area tempur ini. Aku mohon," pinta Dara, "suit!" Dara memanggil Pochia yang melesat ke arahnya, meringkik dengan rasa bahagia bertemu dengan permaisuri tuannya.


"Tapi …!"


"Lindungi si kembar dan Ibu, aku mohon …!" pinta Dara.


"Oh, baiklah!" bakas Liu Aching.


"Aku juga senang bertemu denganmu lagi Pochia! Aku mohon, bawalah Cece Aching untuk mengikuti si hitam!" perintah Dara pada Pochia dan membantu Liu Aching naik ke pelana Phocia yang meringkik sebelum berlari menjauhi arena pertempuran.


Dara melesat kembali ke punggung Qinglong iaeligat Tan Jia Li atau Liu Amei sudah terluka akibat pukulan dari Ku Dang yang tak terlihat tapi membuat Liu Amei mengambang di udara seakan ada yang sedang mencekiknya.


"Dasar Iblis! Sialan, kau Lu Dang!" teriak Dara, ia melesat dari punggung Qinglong menebaskan pedang di antara tubuh Liu Amei yang mengambang di udara yang sekarat tercekik kekuatan yang kasat mata dan tubuh Lu Dang yang mengangkat sebelah tangan kanannya.