
Hening … hanya suara dari kicauan burung-burung di pagi hari bersama bias cahaya mentari di antara sisa hujan dan tetesan embun. Sisa darah dari semua orang yang tertumpah tak lagi ada, yang tertinggal selain reruntuhan gedung Guangzhou. Sedangkan tubuh Guangzhou ataupun Lu Dang tak ada lagi, hanya sisa dari jasad para ninja dan pengawal Guangzhou.
Axiang, Mitzuki, dan semua kaki tangan Guangzhou sudah terkapar tewas akibat ledakan dan hancurnya jasad Guangzhou dan kembalinya raja iblis neraka ke neraka paling kejam.
Gedebam!
Tubuh Dara dan Liu Min melayang di udara dan langsung mendarat dengan cepat di bumi, keduanya sama-sama jatuh di mana Liu Min lebih dulu mendarat dan Dara berada di atas tubuhnya.
"Aw! Dara, ini sakit sekali!" keluh Liu Min, "kamu jangan terlalu berhasrat dong! Masih banyak orang tahu!" ujar Liu Min.
"Apaan sih? Aku tidak sengaja terjatuh di tubuhmu Laogong!" ketus Dara kesal, ia tersenyum melihat semua orang telah selamat dan tak satu pun yang tewas.
Derap langkah kaki kuda si Hitam dan Pochia mengantarkan Liu Aching bersama Liang Ayin dan Ningrum bersama dengan Liang Ahwa. Mereka berempat turun berkumpul dengan semua orang.
Pochia dan si hitam masih meringkik, mendekati Dara dan Liu Min mengecup kepala keduanya dan kembali meringkik seakan mengucapkan tanda perpisahan pada tuan mereka.
Kini, bayangan Pochia dan si Hitam hanya tinggal siluet perak dari sebuah cahaya yang kembali melesat ke angkasa berdampingan bersama pasangan naga sedangkan di sebelah kanan pasangan naga jiwa dari Li Phin, Liang Si, Gu Shanzheng, Tan Jia Li, Li Sun, Selir Min Hwa dan tabib Luo.
Semua bayangan yang hanya tinggal siluet perak tersebut tersenyum dengan bangga mengenakan pakaian kebesaran mereka dari zaman masa Donglang.
Sementara di sisi Dara dan Liu Min, Liu Amei, Liang Bo, Ahim Yilmaz, Luo Kang, Tan Juan masih selamat. Dara dan Liu Min bangkit karena semua orang berlari ke arah mereka.
"Apakah kalian baik-baik saja?" tanya semua orang berusaha untuk merubungi keduanya.
"Kami baik-baik, saja! Tuan Qinglong dan Nyonya Long Mei …?" tanya Dara, ia menyadari satu hal jika pedang masih berada di tangannya dan Liu Min tetapi tidak dengan tubuh pasangan naga tersebut.
Semua orang melihat ke udara di mana pasangan naga dan semua jiwa masa lalu dari bagian kehidupan mereka masih tersenyum mengawasi mereka semua dengan sedikit tawa dan lambaian tangan sedangkan pasangan naga memperlihatkan taring dan gigi mereka yang luar biasa tajam. Sisik merah dan hijau berpendar di angkasa tertimpa bias cahaya.
Namun, mereka semua tahu jika semua itu hanyalah tinggal jiwa yang tak lagi memiliki raga. Long Mei dan Qinglong hanya di udara mengambang keduanya berdampingan dengan menyatukan kepala mereka, tersenyum menatap semua orang terutama Dara dan Liu Min.
"Tuan Qinglong …!"
"Nenek Zhang Mei …!"
Dara dan Liu Min menatap pasangan naga tersebut bersama semua orang yang tersisa.
"Terima kasih, Permaisuri Dara Sasmita dan Kaisar Liu Min, akhirnya … kutukan sumpah itu terputus. Maaf, kami tak lagi bisa menemani kalian! Semoga kalian berbahagia.
"Terima kasih, Dara …!" ucap Qinglong, ia merasa begitu sedih dan sentimentil harus berpisah dengan Dara yang sudah dijaganya melalui kaisar pertama sebagai tonggak dari segalanya hingga reinkarnasi Dara hingga ke zaman modern.
"Tuan Qinglong …," lirih Dara, ia meneteskan air mata kebahagiaan.
"Apakah kau tidak rela aku pergi Dara?" tanya Qinglong menatap ke arah mata Dara Sasmita yang mulai menganak sungai.
"Bukan … aku bahagia engkau dan aku telah bebas dari kutukan dan sumpah itu. Maaf, atas nama semua leluhurku dan maaf … berulang kali aku menggunakan Anda untuk membunuh dan menebas musuhku," ucap Dara, ia menyadari banyak hal tak selamanya indah.
Namun, Dara tahu di balik kepahitan selalu saja ada tawa dan kebahagiaan. Qinglong masih tersenyum di udara bersama pujaan hatinya.
"Dari semua keturunan Kaisar pertama yang mengingat janji, hanya denganmulah aku berbahagia menjalani kehidupan di dalam dua generasi dirimu. Dinasti Donglang dan zaman ini, kau tahu Dara ….
"Kau telah mengajarkan banyak tawa dan cinta juga sebuah perjuangan dan pengorbanan. Hidupku yang sepi kala menantikan berakhirnya hukuman dari Dewa Agung tak terlalu lama kala bersama denganmu.
"Aku bangga berjuang di sisimu Dara. Tetaplah berbahagia dan menjadi dirimu sendiri. Kaisar Liu Min, aku berharap banyak padamu, jaga dan cintailah Dara Sasmita seperti kau mencintai dirimu sendiri, kau tak akan pernah mendapatkan wanita yang lebih baik lagi darinya di kehidupan mana pun.
"Dia sangat luar biasa dan bukan wanita biasa, berbahagialah!" pesan Qinglong, ia meneteskan air mata.
Qinglong tak menyangka jika perpisahannya bersama dengan anak manusia di ujung sumpahnya dia akan merasa sedih harus berpisah. Qinglong berpikir dan selalu berpikir jika waktu bisa diputar kembali ia lebih suka untuk selalu berdampingan menjaga Dara Sasmita dan semua anak-anaknya.
Namun, semuanya harus usai dan berakhir sudah. Long Mei menatap Qinglong yang juga merasakan getir perih menganga di sana.
Keduanya tak pernah menyangka jika perpisahan itu begitu haru dan terlalu menyedihkan. Walaupun mereka bahagia segalanya baik-baik saja dan semua orang yang mereka sayangi telah selamat.
"Kaisar Liu Min, aku tahu selama ini aku tak pernah terang-terangan membantu dirimu dari seluruh orang yang pernah aku jaga dan lindungi di muka bumi ini.
"Namun, saat kau menjadi Liu Min yang sekarang, meskipun bukan lagi seorang kaisar, aku sangat bangga padamu dan bahagia kala melakukan perjalanan singkat bersama denganmu.
"Walaupun sikap genit dan omes-mu itu benar-benar menyebalkan!" ujar Long Mei, "aku pasti merindukan pertengkaran kita, kaisar …," lirih Long Mei dengan derai air mata.
"Woy! Nenek Zhang! Itu pujian atau hinaan sih? Aku tidak bisa membedakan keduanya!" balas Liu Min, ia masih berusaha untuk tersenyum dan bercanda walaupun ia merasakan kesedihan itu terlalu dalam.
"Kalian berdua telah mengajari cinta dan kasih sayang pada kami. Bahwa tak ada yang abadi di dunia ini selain, kasih sayang dan cinta yang tulus disertai perjuangan dan pengorbanan.
"Kalian berdua bisa mengasihi dan tidak membedakan kami juga menerima kami dari masa lalu yang hanya tinggal jiwa. Terima kasih, tetaplah menjadi dirimu Kaisar.
"Liu Amei … engkau adalah reinkarnasi dari Tan Jia Li, seorang jendral wanita pertama dan paling hebat di masa Donglang teruslah berjuang di masa kini untuk menegakkan keadilan bagi sesama.
"Ahim … engkau adalah pengusaha yang dermawan … teruslah seperti itu. Jadilah diri kalian sendiri. Tan Juan … dan Ningrum kalian adakah reinkarnasi dari pasangan suami-isteri Panglima Jendra Li Sun dan selir Min Hwa, jadilah yang terbaik untuk semuanya," ucap Long Mei.
Semua jiwa melesat ke angkasa bersatu dengan cahaya mentari seakan menyinari semua orang di bumi menjaga dan melindungi semua orang.
Dara dan semua orang saling pandang dan peluk dengan derai air mata kebahagiaan.
"Mama …," lirih Dara memeluk Ningrum, ia merasa berslah telah menikah tanpa memberitahukan kepada ibunya.
"Sudahlah! Ibu sudah mengetahui banyak hal dari Aching. Ibu bangga kepadamu Nak!" bisik Ningrum.
"Terima kasih, Ma!" balas Dara memeluk ibunya dengan rasa Yangs ukir untuk terucap.
Kebahagiaan itu terlihat nyata bersamaan dengan pasukan para polisi, tentara, dan ambulan yang berusaha untuk memberikan bantuan.
Semua orang mengevakuasi jasad penjahat dari anak buah sindikat narkoba yang sedang dicari seantero jagad raya.
Liu Amei, Liu Min, Dara, dan Tan Juan menjelaskan kepada semua pasukan keamanan yang dikirim oleh keamanan dunia yang bekerja sama untuk memerangi narkoba.
***
Semua orang kembali bertugas dengan kebahagiaan, Dara untuk sementara kembali ke Indonesia bersama Ningrum sedangkan Liu Min masih menyelesaikan banyak urusan di divisinya.
Dara memasuki kepolisian di Kota Medan, kini dia diangkat dengan pangkat Jenderal dengan bintang empat langsung dari Kapolri, menghapuskan gelar anumerta kepadanya dan Liu Min.
Namun Dara mengundurkan diri dari kepolisian karena ia harus mengikuti suaminya ke Shenzhen.
Acara peresmian Dara dan Liu Min digelar Danu, Jalil Nasution, dan semua anggota Dara begitu bahagia.
Seluruh keluarga Liu Min datang ke Indonesia menghadiri peresmian pernikahan mereka yang belum digelar.
"Apa kabar Nyonya Ningrum?" tanya Tan Juan sedikit malu-malu kala bertmwu dengan Ningrum.
"Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan kabarmu Tuan Tan?" tanya Ningrum, ia pun merasakan getar aneh di jiwanya.
Ningrum dan Tan Juan tidak menyangka di usia mereka yang sudah kepala 5 mereka harus merasakan getar asmara kembali.
"Cie! Cie! Laksamana! Jangan menggoda Ibuku. Jika engkau mau nikahi saja! Aku sih, yes!" ucap Liu Min, ia begitu bersemangat menggoda laksamana- nya yang sudah lama sendiri.
"Apakah kamu bersedia menikah denganku Ningrum? Aku tahu, kita bukankah anak muda lagi yang harus berpacaran dengan kata rayuan dan gombal. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama denganmu hingga waktu memanggilku pulang," tanya Tan Juan dengan tegas.
"Aku …," Ningrum bingung, ia tak pernah menyangka jika dirinya akan menikah setelah hampir 20 tahun menjanda.
"Mama … menikahlah! Aku sangat yakin Om Juan akan menjaga Mana dan menyayangi Mama. Ayah juga tidak akan menyalahkan Mama jika Mama akan menikah lagi," ujar Dara, ia tahu Ningrum bingung harus bagaimana.
"Terima kasih, Nak!" bisik Ningrum bahagia.
Pada hari itu juga pernikahan Ningrum dan Tan Juan digelar setelah resepsi pernikahan Dara Sasmita dan Liu Min.
Kebahagiaan terlihat dari wajah-wajah semua orang.
Sejak saat itu, Tan Juan tinggal di Indonesia menjadi seorang pengusaha mengundurkan diri dari ketentaraan dan menghabiskan waktu bersama Ningrum di Kota Medan-Indonesia.
Sedangkan Dara mengikuti Liu Min ke Shenzhen, ia menjadi ibu rumah tangga dan membuka biro detektif swasta untuk menyelidiki banyak kasus membantu sang suami. Kehamilan Dara mulai terlihat keduanya tinggal di sebuah rumah yang indah di Shenzhen.
Liu Amei masih menjadi polisi dan sedang program kehamilan karena putranya Acai Yilmaz meminta seorang adik perempuan.
Membuat Liu Amei dan Ahim Yilmaz harus lembur siang dan malam untuk mewujudkan keinginan itu.
"Bukan begini! Harus ke kiri sedikit Sayang?" ucap Liu Amei dari balik selimut yang menutupi tubuhnya dan suaminya l.
"Aduh mengapa repot sekali sih? Bukankah program anak perempuan hanya banyak makan sayuran dan buah saja! Bukan diatur posisi enak-enaknya? Aku akan bertanya besok pada Liang Bo dan Luo Kang! Aku rasa mereka menipu kita!" umpat Ahim Yilmaz, ia merasa belum menemukan titik terang posisi yang pas untuk mencetak gol.
"Sudah … jangan pakai mikir dan ngambek. Hajar sajalah yang penting enak semoga jadi anak!" ajak Liu Amei, ia pun sudah merasakan hasrat hingga ke ubun-ubun hampir meleduk.
"Beneran?!" tanya Ahim Yilmaz, ia merasa ajakan Liu Amei bak setetes air di tengah gurun Sahara.
"Iya! Ayo, cepat! Sudah nggak tahan ini!" umpat Liu Amei seakan ia memaksa tahanan untuk mengakui kejahatannya.
Hingga Ahim Yilmaz dengan segala jurus melancarkan serangan untuk mencetak gol miliknya membuat gawang Liu Amei langsung kebobolan.