
"Dara, aku juga baru pertama ini menikah. Aku juga tidak tahu bagaimna rasanya malam pertama!" ujar Li Phin bingung.
Dara menggigit bibir, "Aduh, kita pasti bisa melewati ini. Bukankah di medan pertempuran kita juga melewatinya dengan mudah?" balas Dara
"Kamu benar! Aku harap tak sesulit memenggal kepala musuh!" ujar Li Phin, ia masih mondar-mandir di benak Dara.
"Li Phin, tolong … tenanglah sedikit, kamu membuat aku semakin stres tahu!" tukas Dara, "aduh, perutku jadi mules! Gimana ini?" ujar Dara memegang perutnya.
"Jadi bagaimana? Aku cemas juga tahu! Bukan kamu saja, apalagi itu tubuhku," teriak Li Phin.
Dara beranjak dan mondar-mandir di kamar pengantin mereka, "Apakah itu Jang Min?" teriak Dara dan Li Phin mengintip dari jendela kertas. Cahaya lilin menerangi ruangan, bayangan tubuh kekar Jang Min dengan pakaian pengantin berjalan menuju kamar mereka.
"Dia datang!" ujar Li Phin.
Membuat Dara langsung melompat ke sisi tempat tidur duduk dengan manis dengan tubuh sedikit gemetar, memperbaiki cadarnya melipat kedua tangan di pangkuan, perutnya semakin mulas.
"Aduh, aku baru tahu, jika malam pengantin benar-benar dejavu!" batin Dara.
Krieeet!
Jang Min masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu menghalau para dayang sedikit menjauh, ia merasa sedikit malu jika para dayang mendengar kisah malam pertama mereka.
Tubuh Li Phin bergetar, Dara dan Li Phin ingin segera kabur menembus jendela. Namun, ia tahu itu akan sangat memalukan keluarga dan dirinya.
"Istriku!" ujar Jang Min membuka cadar merah Li Phin.
Wajah istrinya teramat cantik dengan sedikit gemetar, Jang Min meraih dagu Li Phin kedua mata mereka saling bertemu, "Oh, Tuhan!Jang Min tampan sekali!" batin Dara dn Li Phin.
"Kamu cantik sekali, Istriku!" ujar Jang Min berusaha untuk menguasai dirinya yang sedikit gemetar, untuk pertama kali dirinya jatuh cinta dan menyentuh seorang wanita.
"Kamu juga sangat tampan, Suamiku!" balas Dara tidak tahu lagi harus berkata apa.
"Bolehkah aku duduk di sini?" tanya Jang Min sedikit bingung.
"Ya, Suamiku!" balas Dara dengan suara bergetar, sementara Li Phin hanya diam bergetar di benak Dara menantikan adegan selanjutnya.
"Kamu sakit?" tanya Jang Min melihat tubuh istrinya sedikit bergetar dan keringat dingin meluncur di dahi Li Phin.
"I-iya ... !" balas Dara, "syukurlah jika Jang Min berpikir demikian, paling tidak malam ini kita selamat!" batin Dara.
"Sebaiknya ganti baju kamu aku rasa itu sangat melelahkan, apalagi seharian ini terlalu banyak kejutan yang telah kita alami," ujar Jang Min membuka jubah permaisuri Li Phin.
"Oh, Tuhan!" batin Dara.
"Oh, Dewa! Apa yang akan terjadi?" batin Li Phin semakin cemas.
Jang Min masih terus membuka satu per satu baju Li Phin, "Eh, suamiku, aku ingin ke kamar mandi dulu …." Dara memegang tangan Jang Min yang ingin membuka lembar terlahir dari bajunya.
"Ayo," Jang Min langsung membopong tibuh Li Phin ke kamar mandi.
"Tidak apa-apa! Ini adalah malam pertama kita, bukankah kamu bilang, 'Ingin suami yang selalu memanjakan kamu?' inilah akulah orangnya," ucap Jang Min percaya diri.
"Aduh, sepertinya kita tidak bisa kabur!" ujar Dara.
"Bagaimana kalau kita totok aliran darahnya? Biar dia pingsan!" usul Li Phin.
"Apa! Kamu mau dihukum Dewa?" balas Dara
"Aduh," Li Phin memukul jidatnya.
Akhirnya Jang Min kembali membawa Li Phin ke pembaringan mereka memulai untuk melakukan hubungan suami istri.
Belaian dan kasih sayang yang diberikan oleh Jang Min membuat Dara dan Li Phin sedikit tenang dan mengikuti semua permainan yang diberikan Jang Min dengan penuh kasih sayang juga kelembutan.
"Li Phin aku menginginkanmu sekarang!" ujar Jang Mjn.
"Ya," suara parau Dara sedikit takut dan menginginkan yang lebih, nalurinya sebagai wanita mulai menuntun kewanitaannya untuk membuka rasa dan tubuh untuk menerima pemberian yang ingin dilakukan oleh Jang Min.
Setiap sentuhan dan kecupan yang diberikan Jang Min membuat Dara dan Li Phin melayang ke langit ketujuh, erangan yang terlontar dari bibir Dara membuat Jang Min semakin bergairah untuk memberikan yang terbaik bagi istri tercintanya.
"Sayang … Aku mencintaimu!" bisik Jang Min di telinga Li Phin dengan menggelitiknya dengan lidah membuat Dara dan Li Phin semakin tak karuan.
"Ya, Tuhan! Aku bisa gila!" batin Dara dan Li Phin berbarengan. Rintihan Dara semakin bergema kala tangan kekar Jang Min membelai semangka indah Li Phin, membuat segalanya seakan terhenti di sana.
Jang Min benar-benar mampu menaklukkan kuda liar di medan pertempuran menjadi seekor kucing yang lembut dan penuh pengharapan kala sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Jang Min pada tubuh Li Phin.
"Sayang!" ujar Li Phin sedikit tertahan kala Jang Min menuntun tangannya menyentuh pusaka berharga milik Jang Min.
"Oh, Dewa pisangnya besar sekali!" ujar Li Phin hampir pingsan.
"Ih, benar! Itu mengerikan sekali! Apakah kita tidak akan pingsan? Lebih baik kita memenggal kepala musuh di medan pertempuran!" balas Dara semakin cemas.
Namun, ia tak tahu harus bagaimana kala Jang Min telah menyatukan segala rasa miliknya di tubuh Li Phin. Jeritan kecil terdengar dari bibir indah Li Phin, Dara benar-benar menggigit bahu Jang Min untuk merasakan ketenangan dan rasa sakit juga kenikmatan yang mulai menjalar di tubuhnya.
"Tahanlah, sedikit Sayang!" ujar Jang Min menenangkan istrinya yang membeku dan bergerak perlahan di bawah tubuhnya dengan napas memburu terus berusaha untuk menyatukan pisang ambon miliknya pada tubuh Li Phin.
Dara dan Li Phin hanya mampu untuk menganggukkan kepala dan menutup mata, menahan napas kala hentakan pertama kali dilakukan oleh Jang Min. Air mata merembes di sudut mata indahnya. Kesakitan dan rasa nikmat bercampur menjadi satu hingga pada akhirnya keduanya mencapai kenikmatan yang luar biasa.
"Terima kasih, Istriku!" ujar Jang Min mengecup kening, mata, hidung, pipi, dan bibir istrinya mengucapkan rasa cinta dan syukur yang tak terhingga.
Malam terlewati dengan rasa cinta dan kasih, Jang Min berulang kali melakukan keindahan penyatuan cinta bersama istrinya malam itu, hingga keduanya terkulai lemas.
Keesokan paginya Jang Min sudah meninggalkan Li Phin yang masih tertidur, "Dayang Ling'er, beri Permaisuriku makanan yang bergizi dan juga biarkan dia istirahat jangan bangunkan dia sebelum dia bangun sendiri.
"Jika dia bertanya katakan, aku sedang di aula kekaisaran ingin menginterogasi para pembunuh yang ingin membunuh kami semalam. Sekalian ingin melakukan tugasku sebagai Kaisar untuk pertama kalinya!" ucap Jang Min tersenyum menyelimuti tubuh indah istrinya dan mengecup keningnya.
Membuat semua dayang langsung memegang dada mereka, "Kaisar yang ini sangat berbeda di dalam menyayangi istrinya," batin semua dayang.