Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2 Keabadian Cinta - Li Phin kembali


"Sayang! Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Liu Min, ia tak tega melihat Dara kesaktian.


Apalagi, dia tahu jika Dara sedang mengandung anak mereka. Liu Min berusaha untuk merangkul tubuh Dara untuk melindunginya dari lelehan emas yang terus berjatuhan ingin meluluhlantakkan tubuh istrinya.


"Bajingan kau Lu Dang! Jika aku bebas! Aku akan membunuhmu!" teriak Liu Min, ia berusaha untuk menggunakan baju zirahnya melindungi istri tercintanya.


"Sayang … bertahanlah!" bisik Liu Min, ia tak tega melihat keadaan istrinya. 


Namun, setiap dirinya menggunakan kekuatan dan pedangnya maka semakin bersemangat para naga menyiksa mereka.


"Laogong, bagaimana dengan punggungmu?" tanya Dara, ia melihat lelehan emas mulai menembus baju zirah milik Liu Min yang terbuat dari baja tipis.


"Jangan khawatirkan aku, Laopo! Aku baik-baik saja," balas Liu Min berbisik, ia tak ingin jika Dara tahu jika lelehan itu sudah merembes di punggung membakar kulitnya.


Liu Min tak ingin Dara semakin khawatir dan marah hingga membahayakan nyawa dan bayinya. Sehingga Liu Min berusaha untuk berbohong, ia ingin menanggung semuanya sendirian.


"Bagaimana dengan luka di tanganmu Sayang?" tanya Liu Min, ia meraih obat yang berada di sakunya di balik baju zirah.


Namun, kala ia mengambil obat itu, lelehan emas semakin mendera punggung Liu Min. Akan tetapi ia tak ingin mengeluh dan merintih kesakitan ia hanya diam menahan semua sakit dan luka agar istrinya tidak mengetahui semua itu.


Liu Min memberikan obat pada Dara yang langsung membubuhkan pada luka di tangannya. 


"Hahaha, bawa darah itu dan ambil darah dari Li Phin kita akan melakukan ritual malam ini tepat pukul 24.00 saat bulan berada di angkasa!" teriak Lu Dang bergema memenuhi arena gelanggang.


Seketika siluet asap hitam yang menutupi bulan purnama langsung melesat masuk ke dalam patung yang berada di pinggir arena gladiator, membuat patung itu seakan hidup dan bergerak.


Seorang prajurit mengiris sedikit telapak tangan Li Phin yang tersalib di tiang, "Aaa!" teriak Li Phin, ia kesakitan kala telapak tangannya yang diikat di iris sedikit.


Prajurit langsung menampung darah Li Phin menyatukan dengan darah Dara Sasmita di dalam mangkuk yang sama hingga sebuah kepulan asap putih bergulung menjadi sebuah pendar hijau ke angkasa yang membubung.


"Li Phin?" teriak Dara, ia mengenali suar Li Phin yang dirindukannya selama ini, ia sudah rindu bagian dari jiwanya di masa lalu kini sudah berada di tubuh Liu Aching.


"Dara! Kaukah itu?" lirih Li Phin ia mencari ke seluruh arena.


"Dara dan Liu Min!" lirih Li Phin dari tubuh Aching. 


"Mama! Jangan sentuh Mamaku!" teriak si kembar marah.


Li Phin melihat si kembar bayangan dari Liu Aching dan Liang Bo bersama, ia terdiam. Jiwa Li Phin yang kembali dari alam baka kembali masuk ke tubuh reinkarnasinya.


"Apa ini?" batin Li Phin bingung, "aku di mana? Ini zaman apa?" batin Li Phin bingung, ia serasa di bangkitkan kembali dan Li Phin tak menyukainya. 


"Sialan! Siapa yang sudah membangkitkanku?" geram Li Phin, "Mama? Siapa yang mama anak kembar ini? Apakah tubuh ini?" batin Li Phin, ia semakin bingung.


Namun, Li Phin berusaha untuk diam dan mengamati, ia mendengar dan melihat di bawah sana jika Dara dan Liu Min sedang dikurung di dalam jaring juga ada naga.


 


"Hahaha, tenang saja! Aku hanya mengambil darah ibumu sedikit saja. Siapa tahu, jika raja iblis neraka menginginkan tumbal anak kembar maka aku akan memberikanmu padanya," ujar prajurit menakuti si kembar.


"Nauzubillah! Kamu sangat kurang ajar sekali! Apakah kamu tidak takut dilaknat Tuhan atau Dewa-mu?" teriak Ningrum, ia melihat Li Phin yang terkulai lemah.


Air mata menetes di pipi Ningrum, ia tak menyangka jika Liu Min benar-benar bertanggung jawab akan keselamatan putrinya.


Bahkan, Ningrum tidak menyangka jika putrinya pun sudah menikah dengan Liu Min di negeri tirai bambu tersebut. Ia bersyukur melihat kedua anaknya masih hidup doa siang malamnya dikabulkan oleh Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.


"Aching, Nak! Kamu tidak apa-apa! Maaf, Ibu tidak bisa menolongmu," ujar Ningrum, ia menggerakkan tangannya tetapi ia tak bisa melakukan hal yang banyak.


"Aching? Siapa yang Aching? Apakah aku?" batin Li Phin semakin bingung, ia hanya menganggukan kepalanya. 


Seketika bayangan banyak hal mengenai kehidupan Liu Aching dan Liang Bo terbayang, membuat Li Phin mengingat dan memahaminya sedikit demi sedikit. Pendar cahaya kehijauan yang membumbung ke angkasa membuat ingatan Li Phin akan Liu Aching da Liang Bo terlihat jelas.


Di sebelah kirinya jenderal Tan Juan sudah luka parah dengan berbagai luka di tubuhnya. Bahkan tangan kirinya yang palsu pun sudah terlepas. Ia hanya menunduk karena wajahnya sudah tertutup oleh darahnya dari luka dari kepala dan pelipisnya, hanya faktor keberuntungan saja Tan Juan masih selamat dan bernapas.


"Jenderal Tan, apakah Anda baik-baik,saja?" tanya Ningrum, ia merasa iba dan kasihan karena Tan Juan selalu saja melindungi mereka berempat.


"Aku baik-baik, saja Nyonya. Nyonya Liang, apakah Anda baik-baik saja? Bagaimana dengan si kembar?" ucap Tan Juan, ia tak bisa melihat karena darah masih terus mengalir. 


Kedua belah mata Tan Juan tertutup darah yang tak bisa disekanya karena kedua tangannya yang masih terikat di tiang gantungan.


"Aku baik-baik, saja Tuan Tan," balas Li Phin dari tubuh Liu Aching, ia berusaha untuk tidak menangis dan merasakan luka yang menganga di telapak tangannya. 


Li Phin tak ingin jika si kembar dan kedua orang tua di sisinya akan semakin bersedih ia merasa cukup telah membuat keduanya berkorban banyak pada tubuh Liu Aching dan si kembar saat di penjara. 


"Tuan Tan Juan dan Bu Ningrum sudah melindungi tubuh ini dari tangan-tangan yang ingin memperkosanya dan melecehkan si kembar dari para prajurit yang mengerikan juga biadab," benak Li Phin.


"Aku ingin melihat apa maksud semua ini. Di zaman apakah ini? Mengapa ada Dara dan Liu Min?" batin Li Phin, ia mengingat masa Dinasti Donglang semua kenangan dan terakhir sebelum ia mangkat.


"Jadi ini zaman Dara? Hm …," batin Li Phin, ia mulai memahami banyak hal.


Semua orang melihat jika badai hujan dan petir telah sirna kini berganti dengan cahaya yang terang benderang yang menyinari benteng dan gurun Jinping yang luas nan sepi tanpa penduduk.


"Sial! Mengapa selama ini tak ada satu pun yang tahu mengenai benteng ini? Apakah Guangzhou benar-benar memiliki koneksi di pemerintahan?" ketus Tan Juan.


Tan Juan tak mengerti mengapa benteng yang begitu besar mirip kastil bisa berada di tengah gurun tanpa ada yang tahu.


"Mungkin raja iblis nerakalah yang selama ini melindungi benteng ini agar tak terlihat oleh siapa pun. Namanya saja iblis!", umpat Ningrum murka.


"Ya, Anda benar Nyonya!" ucap Tan Juan, "andaikan kita selamat bolehkah saya berkunjung ke Indonesia?" tanya Tan Juan memandang Ningrum, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di balik kerudung yang menutupi kepalanya.


Li Phin memandang keduanya dan menyadari jika Ningrum adalah ibu Dara Sasmita. Li Phin tersenyum pada akhirnya ia mengenali kehidupan Dara yang sudah menolongnya di kehidupan masa lalu mereka. 


"Mungkin sekarang karma baikku yang akan menolong Dara dan cintanya bersama Liu Min," batin Li Phin tersenyum bahagia.


Sementara Lu Dang di tubuh Guangzhou tersenyum bahagia penuh dengan sebuah kemenangan. Ia merasa segala kepahitan dari kebodohannya akan berakhir.


"Hahaha, akhirnya! Ini adalah malam terakhirku di mana persekutuan leluhurku dengan Raja Iblis Neraka usai!" ujar Guangzhou tertawa bahagia. 


Kini Guangzhou sudah memakai baju zaman dulu disaat Lu Dang memakai baju di malam terakhir pertempuran di Xihe.


Lu Dang melesat melompat ke bawah dari singgasananya menuju ke arah patung berjalan tepat menghampiri patung Raja Iblis Neraka, bersamaan dengan seorang prajurit yang membawa mangkuk berisikan darah Li Phin dan Dara yang berpendar kehijauan ke angkasa.