
Sepulang dari warung nasi Bu Siti, Kamila terpikirkan obrolannya tadi bersama Bu Siti. Ia terus melamun mengingat apa yang dilakukan Edwin untuknya, lebih dari seorang suami untuk istrinya. Bahkan, Riki tak pernah memperlakukan dirinya seperti itu.
Pria bernama Riki itu adalah lelaki yang tak tahu diri. Sudah menikah dan mempunyai anak, masih saja suka bermain dengan perempuan lain di luar sana. Bahkan ia selalu tidur dengan berbeda wanita.
Kamila teringat akan pertemuannya dengan Riki waktu di pasar swalayan sebulan yang lalu. Waktu itu dia diajak Edwin untuk berbelanja keperluan rumah tangga.
Riki yang sedang berkeliling pusat perbelanjaan tersebut bersama Desi, kekasih barunya itu menangkap pergerakan sosok Kamila sedang memilih popok. Dengan sengaja Riki menghampiri Kamila yang sedang mendorong troli belanjaan.
"Hai, Mila! Kamu ... belanja di sini juga?" sapa Riki sembari melirik troli belanjaan yang penuh. "Belanja sebanyak itu memangnya kamu sanggup membayar semuanya?!" Riki berkata dengan senyum mengejek.
Kamila menoleh, kemudian tersenyum hambar. "Aku tidak membayarnya, Mas!" sahutnya datar.
"Oh. Jadi, belanjaan sebanyak ini ... pasti punya majikan mu, ya. Hemh, pantas saja kamu berada di sini! Ternyata, kamu sekarang bekerja jadi pembantu." Riki berkata dengan nada simpati, tapi penuh ejekan.
Desi bergelayut manja di lengan Riki sambil bertanya, "Siapa dia Mas?"
"Dia mantanku!" sahut Riki berbisik lirih.
Kamila menatap datar, kemudian bersikap cuek kembali. Sesungguhnya hatinya sakit melihat suaminya bersama wanita lain dengan saling bergandengan tangan mesra.
"Mila!" Riki menghentikan langkah Kamila dengan menarik tangannya. "Di mana bayimu? Apa dia mati?"
Pertanyaan tersebut seketika menyulut kemarahan Kamila. "Mas Riki!" bentak Kamila hingga semua orang menoleh ke arah mereka. Jari telunjuk Kamila mengarah padanya. "Jaga ucapan mu, Mas!"
Untuk pertama kalinya Riki melihat amarah Kamila. Dia terhenyak mendengar nada tinggi yang dilontarkan Kamila barusan, sampai Desi yang berdiri di sampingnya langsung mundur.
"Aku terima kamu mengatakan apapun tentangku. Tapi, aku tak kan terima jika kamu mengatakan itu terhadap anakku! Bagaimana pun juga, dia adalah ..." ucapannya segera dipangkas Riki karena takut Desi mendengarnya.
Riki mengangkat tangannya. "Baiklah ... baiklah! Aku minta maaf!" selorohnya seraya melirik Desi, kemudian ke sekelilingnya.
Di sana banyak orang yang memperhatikan pertengkaran mereka, layaknya sebuah tontonan yang patut di tiru.
Pria itu kemudian mendekat ke wajah Kamila, lalu berbisik yang hanya didengarkan oleh Kamila saja. "Segera urus perceraian kita, karena aku tak mau semua orang tahu bahwa pembantu sepertimu adalah istriku. Terlebih lagi ... Desi, kekasih baruku!"
Bagaikan tertusuk duri, sakitnya menyayat hati ini. Tega sekali Riki mengatakan hal tersebut di saat mereka baru bertemu lagi setelah sekian lama berpisah. Bukannya menanyakan kabar, dia malah mengeluarkan perkataan yang menyakitkan.
Tangan Kamila mengepal, seiring mata yang sudah berembun. "Tega sekali kamu mengatakan itu padaku, Mas! Apa salahku padamu, hingga kamu menyakiti hatiku sedalam ini?!"
Riki menyeringai. "Salahmu padaku tidak ada. Hanya saja aku yang salah, karena mau menikahi perempuan bodoh dan miskin sepertimu yang rela meninggalkan harta kekayaan orang tuanya. Seharusnya kamu tahu kerasnya kehidupan setelah berumah tangga. Kita itu butuh duit yang banyak untuk memenuhi segala keperluan, dan kamu malah meninggalkan itu semua." ujar Riki menjelaskan.
Mendengar pernyataan suaminya. Kamila tertawa sumbang. "Aku memang bodoh. Bodoh karena mau menikah dengan pria macam kamu," ucapnya penuh penekanan.
Setelah berkata seperti itu, ia segera pergi meninggalkan Riki yang tengah mengerang. Kamila sudah tak perduli pada orang sekitar yang menjadikan mereka bahan tontonan.
"Berapa totalnya, Mbak? Aku akan membayar semua barang belanjaannya." kata Riki bertanya pada kasir. Ia menoleh ke arah Kamila. "Anggap saja aku sedang bersedekah," lanjutnya kemudian.
Tiba-tiba dari belakang suara seorang pria menginterupsi. "Kami tak membutuhkan sedekah darimu, Pak!" Edwin membuka dompetnya, kemudian menyerahkan kartu kredit kepada kasir. "Kami mampu membayar semuanya," lanjutnya kemudian seraya tersenyum.
Penampilan Edwin lebih memukau dibandingkan Riki. Tubuhnya yang atletis, dihiasi wajah tampan dengan kulit putih bersih, sangat selaras dengan pakaian kasual yang dikenakannya.
Dari penampilannya saja, semua bisa menilai bahwa lelaki tersebut memang orang kaya. Berbeda dengan Riki yang sombong, namun penampilan terlihat norak.
Riki menatap Edwin dari atas sampai bawah, lalu beralih kepada bayi tampan yang sedang digendongnya. Beruntung, Baby Ray memiliki wajah mirip dengan ibunya, dan tak mirip sedikitpun dengan Riki.
Pria itu langsung menoleh ke arah Kamila dan siap melayangkan pertanyaan. Tapi, Edwin merangkul bahu Kamila setelah membayar semua belanjaannya sembari menyerahkan Ray.
"Kamu gendong jagoanku, biar aku yang membawa semua belanjaan." kata Edwin kepada Kamila yang langsung diturutinya.
Mendengar kata 'jagoanku' yang diucapkan Edwin terhadap bayi tampan itu, seketika Riki berpikir, jika Kamila sudah menikah dengan pria kaya tersebut. "Oh, pantas sajakamu tak pulang. Ternyata, kamu menjerat pria kaya untuk menghidupi semua kebutuhanmu! Ckk, Kamila ... Kamila. Munafik," ejeknya sembari pergi melewati Kamila yang tengah menggendong Baby Ray.
Kamila lekas menoleh ke belakang. Beruntung Edwin berada jauh di belakang dan pastinya pria itu tak mendengar apa yang diucapkan Riki padanya. Kamila menghela nafas panjang sembari menggelengkan kepalanya. Dia tak ingin beradu mulut terus dengan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
Walaupun Riki sudah tak mau mengakuinya, namun Kamila masih terikat hubungan pernikahan dengannya.
Merasa tak ingin dibebani lagi, Kamila pun mengejar Riki. "Surat perceraian akan diantar ke rumah besok sore. Tanda tangani itu dan kamu bebas melakukan apapun," kata Kamila menghentikan langkah Riki.
Riki menoleh ke arah Kamila, kemudian mengalihkan pandang ke arah Desi yang setia berjalan di sampingnya. Keinginan untuk menjelaskan semua kepada sang kekasih segera diurungkan setelah melihat Edwin sudah berada di samping Kamila. "Itu yang aku inginkan dari dulu," cetusnya kemudian. Riki pun berlalu dengan merangkul bahu Desi mesra.
Kamila terdiam dengan memejamkan matanya sejenak, lalu menoleh ke arah Edwin sembari memberikan senyuman manisnya. "Yuk, pulang! Aku udah gak sabar pengen cobaik baju tadi," selorohnya sembari terkekeh.
Edwin mengusap kepala Kamila dengan sayang sambil tersenyum. "Baiklah!"
•
Keesokan harinya, surat gugatan cerai dari Kamila pun tiba di rumah Riki. Tanpa berpikir panjang, Riki segera menandatangani surat tersebut. Setelahnya, keduanya dipanggil ke pengadilan untuk kasus perceraian mereka.
Beruntung prosesnya tak memakan waktu lama sebab Riki tak mempersulit apapun. Keduanya dinyatakan sah bercerai secara hukum dan agama.
Kini, Kamila bebas dari ikatan pernikahan yang membelenggu serta menyiksa batinnya.
Namun, Kamila tak tahu jika sebenarnya Riki masih mencintainya. Pria itu hanya terpengaruh oleh para wanita yang menjadi selingkuhannya, serta kemiskinan yang melilit hidupnya. Riki pun terlalu menuruti semua perintah kedua orang tuanya untuk segera mengurus perceraian mereka.
...Bersambung .......