
"Apakah itu salah? Maksudku yang dilakukan oleh putri sang Jenderal? Soalnya aku hanyalah pedagang, jadi aku tidak tahu," alasan Dara bingung di zaman serba aneh tersebut yang kuatlah yang menang.
"Tentu saja tidak! Malah kami bersyukur Pendekar Chien Fang tewas. Dia selalu membuat onar dan suka mengambil gadis-gadis!" balas pria tersebut
"Oh, sialan!" balas Dara, "jika kita tahu kemarin bagaimana sepak terjangnya? Lebih baik lagi jika kita potong burung kecilnya, lalu kita jadikan gantungan kunci!" kutuk Dara di dalam benak.
"Hahaha, kamu benar sekali! Sayangnya,dia sudah mati," sesal Li Phin mengepalkan tangan.
Jang Min kembali dengan wajah dingin dan menyeramkan wajah tampannya berubah bak seekor harimau ganas, "Wah, ada apa dengan si omes ini ya?" batin Dara dan Li Phin berbarengan.
"Apakah dia sudah mendapatkan kabar mengenai hukuman itu?" batin Dara.
"Aku rasa, makanya dia sangat lama," balas Li Phin.
"Je-jen-" ujar pria di sebelah Dara.
"Ah, Tuan Jang apa kabar?" sela pria yang lain dengan gembira dan bermain mata pada pria di sebelah Dara.
Seakan mereka memiliki ikatan batin, "Ah, iya, Tuan Jang!" ucap pria di sebelah Dara.
"Aku senang bertemu kalian di sini. Aku tidak menyangka mendengar rumor ini," balas Jang Min.
"Aku ingin tidur dengan istriku,"ujar Jan Min meraih tangan Dara yang mengikuti Jang Min bak kerbau dicocok hidungnya, Dara masih bingung tetapi melihat prajurit yang melihat ke dalam berulang kali membuat Dara mengerti.
Sesampainya di kamar, Dara membuka cadarnya, ia duduk di salah satu kursi menuangkan minuman pada Jang Min dan memberinya makan.
Tok! Tok! Tok!
"Masuklah!" ujar Jang Min.
Pria di sebelah Dara di bawah tadi masuk memberi hormat dan duduk, berselang beberapa menit kemudian pria yang satu lagi datang begitu seterusnya hingga kelima pria tersebut berada di sana.
"Apa kabar Kakak Seperguruan!" ucap mereka.
"Apa?" batin Dara dan Li Phin.
"Sudahlah, jangan terlalu formal, bagaimana keadaan Guru Sun?" tanya Jang Min.
"Guru Sun dan yang lain baik-baik saja di Perguruan Wudang. Raja Donglai tidak berani memberi bantuan terang-terangan. Sehingga ia mengutus kami berlima di sini dan pasukan kami, baik dari Perguruan Wudang, Shaolin telah ditempatkan di beberapa titik rawan.
"Esok hari adalah waktu untuk menyelamatkan Jenderal Li dan yang lain. Semua adalah mandat dari Ratu Li Hun, tapi semua ini rahasia dan jangan sampai terbongkar.
"Kekaisaran sedang kacau-balau, Ratu ingin mengungkap rahasia suatu saat nanti sebelum Kaisar meninggal. Tapi itu membutuhkan perjuangan yang sangat panjang. Apalagi, semua orang merasa jika Perdana Menteri Qin Chai Xi lebih dominan memerintah kekaisaran," ujar Tuan Gu Akim.
Jang Min hanya menahan napas, "Baiklah!" balas Jang Min.
Kelima pria menatap ke arah Dara, "Bukankah ini, Nona Li Phin?" tanya Tuan Gu Shien.
"Ya, ini adalah Nona Li Phin dan juga istriku!" ujar Jang Min.
Semua orang langsung memberi hormat dan menunduk tak lagi berani menatap ke arah Dara, "Wah, si omes ternyata memiliki kharisma yang luar biasa," batin Dara dan Li Phin tidak mengerti.
"Baiklah, setelah makan aku dan istriku akan menyelinap dari pintu belakang dan gua menuju Gunung Lun. Aku berharap sebelum tengah hari kami sudah tiba di sana," balas Jang Min.
"Jenderal Tan Yuanji dan Raja Liang Bao juga sudah mengirimkan pasukan rahasia untuk menyelamatkan mereka, aku harap besok ada keajaiban untuk kita," balasTuan Gu Shien.
Mereka mohon diri dengan melakukan penghormatan kepada Jang Min dan Dara. Setelah mereka pergi Dara dan Jang Min makan dengan diam, "Besok kita akan menyelamatkan Ayahanda dan semua orang! Jangan khawatir Phien'er!" ujar Jang Min.
"Baiklah, terima kasih!" balas Dara dan Li Phin ia tak lagi enak makan, ia masih terpikirkan Li Sun dab Tan Jia Li, "Baru saja aku mendapatkan kasih sayang dari ayahanda, sudah begini," keluh Li Phin.
"Sabarlah, kita akan menyelamatkan ayahanda," hibur Dara.
"Hadeh, aku tidak bisa menikmati malam pertamaku, dengan tenang!" ketus Jang Min.
Klontang!
Ucapan Jang Min pembuat sumpit Dara terjatuh, "Dasar omes! Pikirannya kotor melulu," batin Dara dan Li Phin.
"Ada apa? Bukankah itu kewajiban suami-istri? Atau kamu ingin agar aku memiliki selir yang banyak?" goda Jang Min.
"Dasar gila!" jawab Dara dan Li Phin merona merah, ia mengambil sumpitnya dan makan berkali-kali.
"Sepertinya kita butuh energi extra untuk menghadapi si omes gila ini!" batin Dara dan Li Phin membayangkan tiap adegan kotor di benak mereka. Membuat selera makan mereka semakin meningkat drastis
"Apakah kamu begitu lapar, Sayangku?" tanya Jang Min memperhatikan istrinya yang berulang kali menambahkan nasi ke mangkoknya tanpa sayur dan lauk-pauk lain, "apakah kamu lagi vegetarian hari ini?" tanya Jang Min.
"Ya, aku lagi vegetarian dari makan daging apa pun, termasuk daging mentah!" sungut Dara dsn Li Phin kesal.
"Daging mentah? Wah, aku baru tahu kalau kamu juga suka daging mentah?" tanya Jang Min tertawa.
"Sialan, kita terjebak!" batin Dara.
"Apakah daging mentah seperti ini?" tanya Jang Min menunjuk ke arah pangkuannya.
"Dasar gila! Jika aku tidak takut kutukan Dewa aku ingin mencolok matanya dengan sumpit ini!" balas Li Phin.
"Kamu benar! Dan aku sudah menendang dirinya hingga ke luar dari kamar ini," balas Dara kesal.
"Phien'er … aku tahu, mungkin kamu hanya mencintai Liang Si di dalam hidup kamu, karena dia adalah seorang pangeran yang tampan. Sedangkan aku hanyalah seorang jenderal, aku tahu aku tidak sebanding dengannya.
"Jika kamu mau, kamu bisa membatalkan pernikahan kita! Tapi, aku tidak yakin, apakah masih ada seorang pria pun yang akan mau menikahi kamu lagi?" ucap Jang Min.
Dara dan Li Phin terdiam mendengar ucapan Jang Min, "Aku tidak ingin membuat Ayahanda malu dan menderita lagi karena ulahku," batin Li Phin.
"Ya, kamu benar! Tapi menikah dengan si omes sama saja dengan bunuh diri!" batin Dara.
Jang Min menatap Li Phin dengan lama, "Aku tahu apa yang kamu pikirkan, tapi … semua ini adalah untuk kebaikan semua orang," balas Jang Min.
"Kamu benar! Aku hanya ingin menikah dengan pria yang mencintaiku dan aku pun mencintainya. Bukan seperti ini. Tapi, Dewa telah memberikan jalan seperti ini, aku pun tidak tahu harus bagaimana lagi?" jawab Dara dan Li Phin.
"Oh, hanya cinta ya? Jika aku bisa mencintai dan membuatmu jatuh cinta padaku. Apakah kau akan setulus hati mendampingiku hingga aku mati?" tanya Jang Min menatap Dara dan Li Phin.