
"Lapor, Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri!" ucap Liang Si. Dara langsung sedikit menarik tangan dari selipan tangan Jang Min. Ia selalu saja merasa tidak enak hati jika Liang Si hadir di antara mereka.
Ia tidak ingin menyakiti hati Liang Si terlalu dalam, "Ada apa Jenderal Liang?" tanya Jang Min menatap ke arah Liang Si. Ia mengetahui jika istrinya pasti merasa tidak enak hati, jika Liang Si hadir di antara mereka di kala keduanya sedang bermesraan.
"Lapor Yang Mulia, semua persembunyian musuh telah dihancurkan, tetapi kami tidak menemukan siapa dalangnya? Namun, sebelum kematian para prajurit.
"Mereka mengatakan, 'Jika mereka adalah prajurit Mongol dan Changsha,' jadi kami menarik kesimpulan jika ketiga kerajaan tetangga tersebut memang sengaja melakukan semua itu," lapor Liang Si.
"Baiklah, Jenderal. Terima kasih telah melindungi Permaisuri dan Putra Mahkota," balas Jang Min menatap ke arah Liang Si yang selalu menjaga tatapannya terus menatap ke tanah.
Liang Si tak pernah ingin menatap wajah Li Phin jika mereka bertemu, membuat Jang Min merasa semakin bersalah dan cemburu kala Liang Si dan Li Phin selalu saja menjaga perasaan mereka.
"Apakah Liang Si dan Li Phin masih saja memendam rasa cinta? Betapa besar cinta mereka berdua!" batin Jang Min merasa cemburu tetapi berusaha untuk ditahannya.
"Apakah ada titah yang lain Yang Mulia?" tanya Liang Si, ia ingin segera meninggalkan pasangan di depannya.
Ia tidak ingin mengganggu ataupun terganggu di jiwa dan batinnya yang sudah sarat akan kesedihan juga luka yang terus teriris di sana.
"Aku rasa cukup untuk hari ini, Jenderal, istirahatlah!" balas Jang Min.
"Baiklah, Yang Mulia!" ucap Liang Si.
"Tunggu dulu Jenderal! Aku ingin bertanya kepada kalian berdua," ketus Jang Min. Ia merasa sudah sangat lama ingin bertanya, membuat Dara, Li Phin, dan Liang Si langsung menatap ke arah Jang Min menanti apa yang akan ditanyakan oleh kaisar mereka.
"Mari duduklah!" ujar Jang Min mengajak keduanya duduk di bangku di paviliun.
Jang Min menatap ke arah Dara di dalam tubuh Li Phin dan Liang Si bergantian, "Dara, aku rasa ini ada hubungannya dengan kita dan Liang Si," ujar Li Phin curiga.
"Ya, aku rasa. Tapi, semoga saja tidak! Ini sangat mengerikan," balas Dara.
"Jenderal Liang, aku ingin bertanya kepadamu dan Permaisuriku," ujar Jang Min sengaja menggantung semua pertanyaannya.
Ketegangan dan kesunyian mencekam di antara mereka, "Apakah kalian masih saling mencintai? Jawablah dengan jujur!" ujar Jang Min.
"Aku … maaf Yang Mulia! Jika Yang Mulia masih meragukan kesetiaan hamba. Hamba rela jika hamba dihukum," balas Liang Si.
"Suamiku, apakah engkau curiga kepada kami?" tanya Dara bingung.
"Entahlah, sebagai suami aku pasti merasakan rasa cemburu jika kalian berdekatan. Namun, sebagai seorang kaisar, aku juga percaya kepada Jenderal Liang Si.
"Tapi, aku tidak tahu. Aku masih selalu curiga dan cemburu kepada kalian! Apalagi aku tahu, kalian terpisah bukan karena keinginan kalian, tapi karena sebuah kesalahpahaman dan perbuatan licik seseorang," balas Jang Min jujur.
Ia tidak ingin hanya karena rasa cintanya kepada Li Phin akan membuat wanita pemilik hatinya akan semakin kesulitan dan menderita, "biarlah aku yang akan menderita sekali lagi," batin Liang Si tulus sebagai rasa penebus rasa bersalah dan cintanya yang besar.
Jauh di relung hatinya ia merasakan kesedihan, ia tak ingin berpisah dengan Li Phin. Namun, ia menyadari banyak hal yang membuatnya harus menyingkir dari kehidupan Li Phin.
"Yang Mulia, selain dirimu aku hanya mempercayai Jenderal Liang Si. Namun, jika engkau keberatan, Suamiku aku tidak tahu lagi harus bagaimana?" balas Dara.
Dara merasa hanya Liang Si dan Jang Min yang tulus mencintai dan mengasihinya selain Ayahanda Li Sun dan Ibunda Selir Min Hwa.
"Apakah kita harus jujur Dara!" keluh Li Phin semakin cemas.
"Aku tidak tahu, ini masalah hati dan rahasia kita yang aneh. Apakah mungkin kedua pria ini mempercayai semua ini, Li Phin?" tanya Dara.
"Aki tidak tahu, pada kasus kita hal ini sangat langka!" balas Li Phin semakin bingung.
"Jenderal Liang, maukah untuk sementara ini. Engkau pergi ke Limen Utara, aku ingin engkau mengatakan kepada Raja Liang Bao untuk bersiap-siap dan berjaga-jaga bila terjadi perang.
"Aku ingin semua orang menyimpan sandang pangan sewaktu perang sehingga kita tidak lagi menjual semua hasil panen kepada negara tetangga yang bukan kerajaan di bawah kedaulatan Donglang.
"Aku sangat yakin jika kita tidak lagi mengekspor sandang pangan dan kebutuhan kepada ketiga negara tetangga juga yang lain. Aku rasa perekonomian Kerajaan Changsha, Mongol, dan Qin akan semakin rapuh.
"Aku akan sering berkeliling, aku sangat ingin mempercayakan keselamatan Permaisuri dan Putra Mahkota kepadamu. Tapi ….
"Untuk sementara ini, jujur aku merasakan cemburu jika kalian masih berdekatan," balas Jang Min.
"Baik Yang Mulia. Satu hal, jika Yang Mulia Kaisar ingin menghukum tolong hukum saja hamba. Semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan Permaisuri. Jika Yang Mulia menghukum permaisuri aku tidak peduli jika Yang Mulia adalah seorang kaisar.
"Aku akan menuntut balas, karena bagiku aku tidak peduli jika Li Phin bekas istri siapa pun aku akan tetap menerimanya dengan kedua tangan terbuka. Jika Yang Mulia ingin membuangnya," ujar Liang Si tegas.
"Aku tidak akan pernah membuang atau menduakan Permaisuriku. Seperti janjiku kepadanya dahulu sebelum kembali dari Lembah Luo Yi. Aku tidak akan pernah mengambil selir atau istri yang lain selain dirinya.
"Aku hanya merasa sedikit cemburu kepada kalian berdua. Aku tidak ingin kedekatan kalian akan dijadikan sesuatu kelemahan oleh musuh kita, untuk menghancurkan kekuatan kita nantinya. Jadi untuk sementara, aku harap kamu menjauhlah dulu.
"Aku ingin kamu melindungi Kerajaan Limen Utara. Setelah kamu kembali kemari lagi, kamu masih bisa menjadi pengawal Permaisuri dan Putra Mahkota lagi," balas Jang Min menatap ke arah Liang Si.
Dara dan Li Phin hanya diam membeku, keduanya tidak menyangka jika kedua pria di depan mereka benar-benar mencintai dengan sepenuh hati dan jiwa mereka.
"Dara, aku tidak tahu apakah kita harus menangis atau tertawa bahagia? Kita begitu beruntung dicintai oleh dua orang pria hebat di sepanjang hidup kita," tukas Li Phin dengan meneteskan air mata bahagia.
"Entahlah, Phin'er, segalanya bagaikan mimpi. Andaikan kita dua wanita kembar atau dua raga dan dua jiwa yang terpisah, alangkah bahagianya. Bukan seperti ini? Bagaimana menjelaskannya?" balas Dara bingung.