Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Tipu muslihat musuh


"Jenderal Qin Chai Jian? Putra dari mantan perdana menteri Qin Chai Xi … um, jadi bajingan itu ternyata? Aku akan mengirimkan pesan kepada Jang Min," batin Tan Jia Li.


Ia langsung melesat memenggal kepala prajurit tersebut dengan bersalto dan melesat di atas beberapa tombak yang ingin menembus tubuhnya. Tan Jia Li benar-benar marah dan terus melesat membabi buta dengan dua pedang di tangan membabat musuh.


"Andaikan Li Phin tidak hamil, lebih seru bertempur bersamanya, sayangnya sepupuku itu lebih dulu menikah! Jodoh tak ada yang tahu," batin Tan Jia Li melesat dengan kecepatan yang luar biasa menyerang dan menangkis menghindari tebasan pedang serta tombak yang akan mengenainya. 


Di sisinya Gu Shanzheng dengan tombak di tangan benar-benar lihai memainkannya. Tombak dengan mata tajam yang sedikit lebar mirip senjata Kaisar Liu Bei sang kakek.


Prajurit palsu Donglang benar-benar telah dihabisi dengan cepat, "Mereka benar-benar menggunakan tipuan licik untuk menghancurkan nama Kaisar Liu Min dan Donglang," umpat Gu Shanzheng. 


Semilir angin dingin salju mulai memenuhi mayat-mayat yang bergelimpangan, keduanya berdiri di tengah tumpukan mayat dengan gagah di tengah medan pertempuran dengan bercak darah di setiap baju mereka.


"Katakan kepada Jenderal Qin Chai Jian, untuk menemuiku di perbatasan Wuling!" teriak Gu Shanzheng, "bukankah Qin Chai Jian menyukai Tan Jia Li?" batin Gu Shanzheng.


"Terima kasih, Tuan dan Nyonya pendekar! Kalian telah menyelamatkan kami," ujar para penduduk Mongol.


"Sama-sama, kami hanya ingin berjalan-jalan. Um, kalau boleh tahu apakah perjalanan ke Kota Zuhe ( Ibu Kota Mongol)dan Desa Mayu masih jauh?" tanya Gu Shanzheng.


"Apakah kalian bukan orang Mongol?" tanya seorang wanita tua.


"Kami dari Luoyang ingin berbulan madu di Mongol. Kami tidak tahu jika Mongol sedang kacau," ujar Gu Shanzheng.


"Oh, begitu! Di sini sering terjadi serangan dari Kaisar Donglang. Kami tidak tahu ada apa sebenarnya, apalagi Kaisar Donglang tidak mau menikah dengan putri Raja Mongol.


"Kaisar Donglang sangat egois,ija terlalu mencintai Permaisurinya Li Phin. Membuat kami benar-benar menderita," ujar wanita tersebut.


"Apakah Jenderal Tan Yuan Ji atau Jenderal Qin Chai Jian benar-benar pernah datang kemari memperlihatkan wajahnya?" tanya Tan Jia Li penasaran 


"Kami tidak mengenalnya yang mana? Tapi mereka setiap waktu selalu menyerang bahkan, membunuh juga mengambil para gadis," ucap wanita tua tersebut.


"Kaisar Donglang terkutuk! Aku akan mengutuknya. Mengapa mereka membuat kami menjadi sengsara?" ucap seorang wanita lain di sana.


"Um, baiklah! Tapi aku tidak mengerti bagaimana mungkin-" ucap Tan Jia Li.


"Baiklah Ibu kami akan melanjutkan perjalanan, berhati-hatilah!" sela Gu Shanzheng mengakhiri debat Tan Jia Li dengan wanita tua dan para penduduk Mongol.


Tan Jia Li hanya diam mengerti apa yang dimaksud oleh Gu Shanzheng.


"Jika kalian perlu menginap, tidurlah di rumahku, bukankah kalian suami-istri?" tawar ibu tersebut.


"Sebaiknya kami melanjutkan perjalanan saja, Bu!" tolak Tan Jia Li, ia merasa was-was bila harus setempat tidur dengan Gu Shanzheng.


"Kota Zuhe dan Desa Mayu sangat jauh, penginapan pun sangat sulit di lembah ini. Di depan banyak hutan dan binatang buas belum lagi prajurit Donglang," balas si ibu tersebut.


"Baiklah, Bu. Kami akan menginap!" balas Gu Shanzheng dengan santai.


"Sialan, lebih baik aku tidur dengan harimau daripada pria omes ini!" umpat batin Tan Jia Li.


"Mari, Nak!" ajak si wanita mempersilakan masuk ke dalam tanda dan menyuguhkan minuman hangat dan daging asap.


"Ibu, aku melihat banyak di kekaisaran Donglang dan kerajaan sekitar banyak yang terkena racun. Apakah di sini tidak?" tanya Gu Shanzheng.


"Tidak! Kami memiliki penawarnya," ujar si wanita.


"Benarkah?" tanya Tan Jia Li dengan  antusias.


"Kami cukup merendam makanan dan minum sejenis ramuan tumbuhan sejenis kayu hutan," ujar si wanita,


"syukurlah, jika kekaisaran Donglang terinfeksi racun. Itu belum seberapa dibandingkan dengan kekacauan yang sering mereka lakukan beberapa tahun terakhir ini. Apalagi, semenjak Raja Go Zhu mangkat kekacauan semangkin merajalela, sejak tampuk pemerintahan dipegang oleh Raja Shan Ti'er. 


"Apalagi, Donglang semakin besar dan meluaskan ekspansinya, sedangkan kerajaan Wuling Gu Tian tidak berani untuk bersatu dengan Mongol karena menikahi Selir Liu Jang Yin," ucap wanita tersebut.


"Oh," Tan Jia Li dan Gu Shanzheng saling pandang.


"Tidurlah, Nak! Itu kamar kalian  besok pagi sebelum matahari terbit pergilah ke Kota Zuhe dan Desa Mayu bersama para gerombolan pedagang dari Gunung Kunlun," papar si wanita.


"Gerombolan pedagang dari gunung Kunlun?" tanya Gu Shanzheng, "bukankah mantan perdana menteri Qin Chai Xi berada di sana?" batin Gu Shanzheng bersama Tan Jia Li saling pandang.


"Iya, orang-orang dari gunung Kunlunlah yang selama ini merawat dan mengobati juga memberikan pasokan makanan," ucap wanita tersebut.


"Jangan-jangan pasokan makanan dari Kekaisaran Donglang yang mereka jarah, untuk kesejahteraan penduduk Mongol dengan alasan kebaikan dari Gunung Kunlun," batin Gu Shanzheng dan Tan Jia Li.


"Aku sudah mengantuk, tidurlah!" ujar si wanita meninggalkan ruangan tengah tenda yang hangat dengan perapian di tengah ruangan dan ketel air hangat yang terjuntai dari langit tenda.


Si wanita telah memasuki kamarnya yang hanya dibatasi tirai putih dan tenunan khas Mongol yang indah. Semua wanita Mongol memakai banyak aksesoris yang terbuat dari emas, perak, dan kerang yang menjuntai di leher, telinga, lengan, jari tangan, juga dari topi mereka yang terbuat dari bulu domba dan binatang buas. 


Pakaian mereka tertutup sopan dan tebal juga memakai sepatu bot dari kulit juga rambut yang  selaku dijalin membentuk kepangan indah.


Gu Shanzheng dan Tan Jia Li terdiam bingung, "Ayo, Istriku, mari kita tidur!" ajak Gu Shanzheng sedikit keras agar terdengar oleh si wanita tua tersebut agar tidak curiga.


"Baiklah!" ujar Tan Jia Li sedikit berat seakan ia membawa pikulan besi di bahu dan kakinya.


Keduanya melihat tumpukan kasur lipat yang lembut dari bulu angsa juga ornamen lukisan keindahan lembah Mongol.


Keduanya hanya berdiri mematung dan menata tempat tidur, "Apakah kalian sudah tidur?" tanya si wanita membuat Tan Jia Li langsung melesat dengan cepat dengan ilmu peringan tubuhnya berbaring di kasur empuk tersebut perpura tidur.


"Istri saya sudah tidur, tapi saya belum ada apa Bu?" tanya Gu Shanzheng.


"Oh, aku lupa bilang, jika ada suara-suara teriakan dan jeritan mengerikan tidak usah takut. Kami sering mendengarkan semua itu sejak beberapa tahun terakhir ini," ujar si wanita memberitahukan pada Gu Shanzheng dan Tan Jia Li yang membuka mata di pembaringan.


"Baiklah, Ibu!" jawab Gu Shanzheng, ia langsung menyebarkankan tubuh di sisi Tan Jia Li yang memunggunginya.


"Apakah kamu tidak membuka sepatu botmu?" tanya Gu Shanzheng. Tetapi Tan Jia Li diam saja berpura-pura sudah tidur.


"Bagaimana bisa tidur, jika membawa pedang dan senjata begini banyak?" keluh Gu Shanzeng mengambil semua pedang dan senjata Tan Jia Li dan meletakkan di sisi kiri Tan Jia Li, Gu Shanzheng juga membuka sepatu bot Tan Jia Li.