
Liu Min membersihkan diri dan telah tiba di ruang kendali monitor melihat Danu sedang memeriksa foto pria yang memakai baju olahraga di tepi pantai yang melakukan transaksi.
Liu Min mendekat, "Apakah kalian telah mendapatkan informasi mengenai pria ini?" tanya Liu Min menunjuk pada layar monitor kepada pria yang dimaksud.
"Sepertinya dia adalah seorang intel yang menyamar, namanya Serma Hendra Priyatno," ujar Danu.
"Apakah catatannya bersih?" tanya Dara penasaran masih mengamati Hendra Priyatno.
"Bersih, malahan dialah yang gencar menyelidiki masalah Ibu dulu di Perkebunan Tebu. Sayangnya, dia diskorsing juga, aku tidak tahu mengapa?" ujar Danu.
"Um, terlalu banyak teka-teki. Tapi, aku akan menyelidiki nanti. Apakah kamu tahu di mana dia tinggal dan sering nongkrong?" tanya Dara menatap Danu dan duduk di salah satu kursi memutar pena.
"Catatannya bersih sebersih kehidupannya, sama sekali tidak memiliki jejak, kemungkinan itulah ia berhasil menyeret dan bertransaksi dengan Cicero," balas Danu.
"Hebat! Aku rasa aku ingin bertemu dengannya," balas Dara, "baiklah Danu, aku akan pergi menemui Joy bersama Liu Min. Kamu cari tahulah mengenai Hendra Priyatno," ucap Dara.
Dara dan Liu Min melesat meninggalkan markas dan menuju ke rumah Jimmy dengan mengendarai sepeda motor, "Tunggu dulu! Bukankah itu Hendra Priyatno?" tanya Liu Min memperhatikan Hendra memasuki rumah Joy.
"Ayo, kita masuk! Kebetulan aku ingin bertemu dengannya," balas Dara yang langsung melesat melompati pagar bunga dan sudah berada di depan pintu bak seorang tamu yang baik hati dengan kesopanan.
"Sialan nih, perempuan!" umpat Liu Min yang selalu saja terjanggal. Liu Min melesat mengikuti Dara, yang susah mengetuk pintu.
Tok! Tok!
"Bu Dara!" pekik tertahan Joy langsung melihat ke kanan-kiri halaman, "apakah dia temanmu, Bu?" tanya Joy sedikit cemas dan ketakutan.
"Ya, apakah kami boleh masuk Joy?" tanya Dara menatap Joy yang sangat kurus dan mata yang sembab.
Dara merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Joy, "Mari Bu!" ajak Joy membuka pintunya lebar-lebar, mereka melihat Hendra dendang menyelipkan kembali pistol ke balik punggungnya.
Ia baru saja muncul dari balik pintu bersiaga dengan pistolnya, "Maaf, aku mengira musuh!" ucap Hendra.
"Tidak masalah, Serma!" balas Dara.
Hendra hanya tersenyum, "Aku tidak menyangka jika begitu mudah mengenaliku!" balasnya tersenyum,
"Senang berkenalan dengan Anda Bu Dara Sasmita.
"Seluruh departemen gempar akan ulah Ibu dan Saudara Liu," ujar Handra, menatap ke arah pasangan heroik yang telah mengacaukan dunia bawah tanah.
"Ya. Joy, aku turut berduka akan kematian Jimmy, maaf aku tidak bisa menolongnya," ucap Dara berbelasungkawa.
Dara mengangsurkan tangan menyentuh Joy yang langsung menangis, "Tidak apa-apa, Bu! Maaf, atas apa yang dilakukan suamiku, Bu! Semua ini karena Jenny," balas Joy menangis pilu.
"Sudahlah! Aku mengerti, hanya saja ia tak mau mengatakan sejujurnya," ujar Dara memeluk Joy yang masih menangis.
"Mereka mengancamku dan Jimmy, jika polisi sampai tahu mereka akan membunuhnya," balas Joy masih menangis.
"Baiklah, apakah kamu masih menyimpan rekaman atau apa saja yang bisa kami gunakan untuk menemukan Jenny?" tanya Liu Min.
"Aku memilikinya," balas Hendra, mengeluarkan ponsel dan menghidupkannya di laptop milik Joy.
Dara mencengkram sisi meja dengan gemetar menahan amarah, "Bajingan!" lirihnya geram, "mereka benar-benar brengsek dengan menculik anak-anak!" lanjut Dara.
"Paulin, Quino, Cicero, Solano," ucap Liu Min, menghela napas dengan berat.
Ketiganya melihat ke arah Liu Min, "Apakah kamu mengenalnya Tuan Liu?" tanya Dara dan Hendra Priyatno bersamaan.
"Ya, aku pernah berurusan dengan mereka sebelum aku mendekam di penjara," balas Liu Min dingin.
"Mereka memang selalu melakukan kekerasan, salah satunya adalah menculik orang yang penting di kehidupan seseorang.
"Sehingga mengancam agar mereka melakukan apa yang diinginkan oleh mereka," balas Liu Min.
"Jadi, mereka memang sengaja melakukan hal itu?" tanya Hendra, masih menatap layar monitor, "pantas saja, aku sudah menyelidiki dari Sabang hingga Meurake tapi tidak bertemu dengan mereka.
"Apakah itu artinya mereka berasal dari luar?" tanya Hendra penasaran.
"Ya, mereka tidak meminta tebusan karena mereka adalah orang yang sangat kaya. Maksudku di balik sindikat mereka yang besar terdapat mafia yang luar biasa hebat yaitu Pablo Sandez dan Guangzhou!" balas Liu Min.
"Maksudnya Guangzhou si Mafia Naga Merah?" tanya Dara mengingat terakhir kali ia melihat wajah GuangZhou yang mirip dengan Lu Dang.
"Ya, aku rasa kita bukan hanya berurusan dengan mafia sindikat kecil melainkan internasional, ada wanita yang bernama Keiko, Qin Zie Zie, dan Chien A'tu mereka bertiga adalah tangan kanan dari Guangzhou.
"Pablo dan yang lain adalah kaki tangan meyriska di berbagai negara untuk mentransfer narkoba untuk pemasok di berbagai negara," tukas Liu Min.
"Anda sangat hebat Saudara Liu, Jovich, dan Jalik Nasution benar! Kalian bisa menolong. Aku tidak tahu bagaimana cara menemukan kalian.
"Tadi sore aku sudah menjebak dan mengikat perjanjian dengan Cicero untuk bertransaksi dua minggu lagi di Pantai Cermin," balas Hendra.
Dara dan Liu Min saling pandang, "Lalu apa rencana Anda selanjutnya?" tanya Liu Min.
"Aku akan meringkus Cicero dan mengintrogasinya di mana ia menyembunyikan Jenny. Apakah mereka melakukan trafficking juga?" tanya Hendra ingin mengetahui segalanya.
"Selama aku menyelidiki mereka, sindikat ini hanya berbasis pada narkoba dan senjata saja. Mereka tidak melakukan trafficking," balas Liu Min.
"Aku menyelidiki jika Guangzhou berbasis di Hunan, benarkah?" tanya Dara.
"Apa? Aku tidak tahu akan hal itu? Terakhir aku hanya mengetahui mereka di Swiss, mungkin itu hanya pengalihan. Sudah setahun aku mendekam di penjara," balas Liu Min, "walaupun mereka selalu saja mengirimkan pembunuh untuk membunuhku, tapi syukurlah semua itu tidak berhasil!" balas Liu Min.
"Baiklah, kita akan bertemu di Pantai Cermin. Bagaimana aku bisa bertemu dengan Anda Serma?" tanya Dara.
"Gunakan saja sandi yang biasa Anda ajarkan Komandan!" ujar Hendra, "tapi Daniel belum ditemukan, hanya jovich dan Jalik yang bersama saya," balas Hendra, "Briptu Danu juga menghilang," lanjutnya.
"Danu bersama dengan kami!" balas Dara, "Serma, aku harap jika kamu mengunjungi Joy jangan terlalu terlihat. Aku tidak ingin mereka curiga dan melukai Jenny!"balas Dara.
"Baik Komandan!" balas Hendra melakukan gerakan penghormatan.
Mereka berpisah, Dara dan Liu Min menyusuri jalanan, "Apakah kamu tidak rindu pada ibu Ningrum, Dara?" tanya Liu Min.
"Aku sangat merindukannya! Bayangkan saja, setahun aku tidak melihatnya. Begitu sadar aku sudah terjebak di antara semua ini," balas Dara.