
Dara masih membasahi tubuhnya di bawah shower dan berharap segalanya membaik, "Aku harus melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana? Bila perlu aku akan membuat kerusuhan hingga semua dunia tahu apa yang terjadi di dalam sana!" umpatan kesal batin Dara.
Dara benar-benar bertekad ingin menguak keburukan mereka semua, "Aku harus memancing ular keluar dari sarangnya. Aku tak peduli, jika aku yang akan menjadi umpannya," geram hati Dara.
5 jam kemudian ….
Dara sudah bersiap-siap, memakai sepatu PDL menyelipkan sangkur di kaki, dua buah pistol memeriksa selongsongan peluru dan memasukkan banyak peluru cadangan ke ransel mungil juga bom asap.
Ia memakai kemeja di balik dalaman dan kaus tanpa lengan sejenis tanktop memakai rompi peluru dan jaket kulit, "Aku belum mau mati konyol di sana!" ujarnya.
Dara keluar dari kamarnya dengan gaya yang sangat cantik mempesona di dalam balutan jeans dan jaket kulit berwarna hitam cantik dan tangguh.
Liu Min yang masih memakan mie instan terperangah dengan sumpit di tangan kiri dan cup mie di tangan kanan dan helaian mie instan yang menempel di mulut. Wajah tampannya terlihat seperti orang bego.
"Komandan, ini semua yang Anda butuhkan," ucap Danu memberikan beberapa kamera pengintai sejenis chip dan senjata mutakhir, "gunakan saja ini Bu. Aku rasa pistol yang Ibu gunakan sedikit kuno," lanjut Danu.
Dara menimbang sejenis pistol revolver yang sudah dimodifikasi dengan keren, "Sangat, bagus! Kamu memang sangat hebat, Briptu!" puji Dara.
Ia meninggalkan ruangan dan diam seribu bahasa, tanpa menyapa Liu Min yang asik memakan mie instan, "Wow! Kamu sangat keren! Apakah kamu ingin menangkap penjahat atau sedang shooting film trilogi vampir underworld?" sindir Liu Min.
Liu Min terpesona dengan tampang cantik Selena di film tersebut yang sangat mirip dengan gaya Dara Sasmita.
"Cih!" balas Dara keluar ruangan menaiki tangga menuju sepeda motornya.
Liu Min memandang Dara di layar komputer meninggalkan markas mereka, "Sial! Gadis ini sangat sulit untuk dikendalikan!" umpat Liu Min ia masih menggigit sumpitnya, "Dasar, Dara sialan!" teriaknya melemparkan sumpitnya ke sebuah dinding yang terbuat dari baja hingga sumpit besi tersebut menembus menancap di sana.
Danu terperangah ia melihat Liu Min menyambar pistol, jaket, dan peluru melesat menaiki anak tangga ke atas menuju garasi mengendarai sepeda motor dengan kencang mengejar Dara.
"Hahaha, diam-diam Saudara Liu tlah jatuh cinta!" batin Danu tertawa, "belum tahu, dia bah pesona gadis Medan!" ujar Danu tersenyum, mengawasi Dara dan Liu Min yang saling kejar menembus malam yang temaram oleh cahaya lampu di sepanjang jalan.
***
Dara telah tiba di Diskotik B yang tertutup di bawah tanah di sebuah pusat perbelanjaan di tengah Kota Medan.
"Maaf Nona, Anda tidak bisa masuk!" ujar pengawal bertubuh tegap dan kekar sebagai penjaga keamanan.
"Aku sedang membutuhkan ketenangan dunia hingga aku terbang melayang!" balas Dara.
Dara hanya menebak saja sandi yang digunakan para pecandu narkoba yang ingin memasuki komunitas mereka.
Si pengawal menatap Dara di balik topi baseball-nya memperlihatkan wajah cute yang manis laksana anak ABG.
"Masuk terus, pintu sebelah kanan!" instruksi si pengawal tanpa curiga.
Dara sudah menganti penampilannya kala memasuki diskotik, ia hanya mengenakan jeans dan kaus tanktop berwarna hitam yang melekat ketat membungkus tubuh indahnya, membuat bukit kenyalnya sedikit menyembul keluar.
Menantang kaum Adam untuk mengeluarkan liur hanya sekedar memandangnya. Dara menyandang ransel mungil dan mengikat jaket kulit di pinggang seakan ia adalah siswa SMA yang sedang frustasi akibat sang kekasih.
Dara berjalan masuk dengan santai memegang kedua tali ranselnya bersikap seakan ia sudah terbiasa memasuki zona serupa, tanpa mengundang kecurigaan siapa pun yang berada di sana.
"Hai, Cantik! Apakah kamu mau menemaniku?" tawar seorang pria mencoba untuk menyentuh bahu Dara.
Ruangan diskotik hanya disinari cahaya remang dan kerlip lampu disko dan bau asap narkoba sejenis daun setan memenuhi ruangan membuat sedikit pusing belum lagi bau minuman beralkohol murni.
Segala fatamorgana yang menjadikan kebahagiaan semua dari tangan-tangan setan yang ingin menjerumuskan anak keturunan Adam. Suara musik membahana mengiringi para penikmat kesenangan dari berbagai jenis manusia di lantai diskotik.
"Tentu saja, Sayang." Si pria langsung menarik pinggang Dara membelai lembut punggung dan bahu Dara ingin menanggalkan tali tipis di bahunya.
Dara langsing menangkap tangan kekar itu, "Apakah kamu memiliki bubuk penikmat itu? Aku sangat menginginkannya," rengek Dara manja sekan ia sedang membutuhkan bubuk haram itu.
"Boleh saja! Tapi itu tidak gratis Nona Manis! Bagaimana jika kamu pembayaran dengan …." si pria mengangsurkan tangan membelai gundukan kenyal di dadanya.
"Bajingan!" batin Dara.
Namun, ia masih berusaha tersenyum, "ayolah, ke sudut sana!" ajak Dara tak sabar. Seakan ia benar-benar menginginkannya, si pria langsung menggendong tubuh Dara membawanya ke sudut gelap.
Dor! Dor!
Dua peluru mendarat di dada si pria tanpa suara yang langsung mati terkapar di sudut gelap.
"Bajingan, kau! Kau pikir aku apa brengsek!" batin Dara menendang wajah pria tersebut.
Dara memakai jaketnya menyelinap masuk membaur dengan para penari yang melantai di lantai diskotik mengikuti irama musik yang memekakkan telinga.
Dara melihat jika Jimmy berada di sana, sedang berbicara dengan orang-orang asing bermata sipit dan berambut pirang, "Dasar, Bajingan! Kaulah penjahat yang sebenarnya!" batin Dara marah.
Ia langsung melesat melompat bergelantungan di atas lampu hias yang berkelap kelip di tengah ruangan.
Dor! Dor!
Dara menembak ke arah botol minuman hingga serpihan kaca botol dan minuman berhamburan, "Aaa!" teriakan bergema memenuhi ruangan, berhamburan ingin menuju pintu ke kuar.
Dara menembak penjahat yang sedang mencoba untuk bertransaksi dan menghisap daun setan juga bubuk haram tersebut.
"Kalian harus mampus! Dasar, sampah!" batin Dara menembak mati semua penjahat.
"Dara Sasmita ada di sini!" teriak Jimmy dan berlari mencoba untuk kabur.
Dara melesat melompat menuju ke lantai di mana Jimmy berada, dor! Dor! Tembakan bergema di ruangan. Para penjahat berusaha untuk kabur, tetapi Dara sudah menembak mereka di kaki hingga merka tidak lagi bisa kabur.
Anggota mafia Pablo Sandez langsung mengerahkan anak buahnya ingin membunuh Dara, "Jangan izinkan dia keluar ruangan! Tutup semua ruangan! Aku tidak ingin polisi akan kemari," teriak seorang pria luar berambut pirang.
"Jahanam! Aku malah ingin para polisi mengungkap kebenaran tentang semua ini," batin Dara.
Adu tembak terjadi hingga sirine mobil polisi bergema memasuki ruangan.
Dara melesat bersembunyi para polisi berupaya ingin meringkus para penjahat dan pengedar. Akan tetapi, anggota mafia menembaki mereka.
"Bajingan!"umpat Dara kembali memburu semua gembong narkoba dan melemparkan bom asap.