
Masih dengan pelukan erat dan usapan lembutnya, bu Siti mencoba menenangkan Kamila. Dia terus memberikan semangat dan dorongan untuk pegawainya itu.
"Ceritakan sama ibu semua tentangmu, Mila!" pintanya lembut.
"Hiks ... tapi aku malu, Bu!" ucapnya lirih masih sesegukkan.
"Tidak apa-apa, Mil! Jangan malu! Ibu janji tidak akan menghina atau membencimu," kata ibu kemudian.
Kamila sejenak terdiam, kemudian mulai bercerita tentang kisah hidupnya yang menyedihkan. Dia menangis saat bercerita tentang orangtuanya sendiri.
"Aku kira Mas Riki itu benar-benar mencintaiku apa adanya, Bu. Ternyata, mereka hanya mencintai dan mengincar kekayaan orang tuaku!" Kamila mengakhiri ceritanya.
"Sabar, Mil! Kamu harus kuat menerima ujian hidup ini. Mungkin dengan begitu, kamu bisa hidup lebih baik dan menyadari kesalahanmu kepada kedua orangtuamu." kata ibu. "Mereka ingin yang terbaik untukmu, tapi kamu sudah terlanjur memilih jalan hidup seperti ini. Maka dari itu, bersabarlah untuk segala hal. Buat suami dan mertuamu sadar kalau kamu menyayangi mereka setulus hati." lanjut ibu Siti.
"Dengan cara apalagi aku harus membuktikan kasih sayangku kepada mereka?" suara Kamila semakin lirih. "Mereka malah semakin menyiksa batinku!" lanjutnya kemudian.
Tak terasa, air mata Bu Siti pun ikut turun mendengar cerita pilu dari Kamila. Wanita tak berdaya yang kini tengah mengandung, namun dibenci oleh suami dan mertuanya sendiri.
Miris benar nasib Kamila saat ini. Dia tak hanya dibenci, namun diperas tenaganya untuk menyenangkan hati mereka saja.
"Uang yang ibu berikan kemarin ... diambil oleh ibu mertuaku." volume suaranya semakin mengecil. "Pasti ibu kecewa kan sama Mila, karena uang yang ibu berikan untuk pemeriksaan kandungan malah Mila berikan kepada Ibu mertua!"
Bu Siti tersenyum sambil mengusap rambut panjang Kamila. "Tidak. Ibu tidak marah kok, Mila! Ibu tahu kalau Ibu mertuamu yang memaksanya."
Kamila mendongak menatap bu Siti. Ada sedikit binar kebahagiaan terpancar dari sorot matanya. "Tuhan masih sayang sama aku. Buktinya, disaat aku sedih dengan semua ini, Tuhan mengirim Ibu kepadaku." ucapnya masih dengan suara parau. " Terima kasih karena ibu sangat baik kepada Mila, walaupun kita baru saja saling kenal!" lanjutnya kemudian.
Tangan wanita paruh baya itu mengusap air mata yang masih membasahi pipi Kamila dengan lembut. "Kita sesama manusia memang harus saling tolong menolong. Jika kita menanam kebaikan walaupun itu sangat kecil, tapi Tuhan akan membalas dengan yang lebih besar. Jadi, walaupun mereka jahat sama kamu, balas lah kejahatan itu dengan kebaikan. karena Tuhan pasti akan membalas kebaikanmu," nasihat Bu Siti.
"Selama Ibu masih bisa memberikan pertolongan kepada orang lain, akan ibu lakukan. Apalagi, mereka yang sangat membutuhkan!" Kamila tak bisa berkata lagi mendengar penuturan Bu Siti. Dia terus menangis dengan memeluk tubuh wanita paruh baya tersebut.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih!"
Bu Siti tersenyum membalas pelukan Kamila. "Sabar ya, Mil. Tuhan pasti memberikanmu jalan keluar. Pasrahkan semua kepada-NYA."
•
•
Dengan langkah gontai, Kamila pulang ke rumah mertuanya. Hati yang sakit seolah menjadi bagian dari kesehariannya.
"Aku pulang!" Kamila masuk ke dalam rumah setelah membersihkan wajahnya terlebih dulu. Ia tak mau terlihat menyedihkan di hadapan suami serta kedua mertuanya.
Di ruang tamu, terlihat seorang pria paruh baya tengah menatap layar datar dengan ditemani secangkir kopi dan sepiring pisang goreng di atas meja.
Pak Wiryo menoleh sekilas, kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke arah layar datar yang tengah mempertontonkan laga sepak bola kejuaraan dunia.
"Ayah, aku pu__" tangan Kami hendak meraih tangan Pak Wiryo, namun pria paruh baya tersebut segera mengalihkan dengan meraih gagang cangkir kopi dan langsung menyeruputnya.
"Ah, wuenak tenan." ucapnya setelah menyeruput kopi panas tersebut. "Bu. Kesini toh, kita nonton bareng!" Ia memanggil istrinya tanpa memperdulikan sang menantu yang masih mematung dengan tangan terulur.
Bu Nani segera menghampiri. "Disek yo, Pak! Ibu lagi ngangetin sayur yang tadi dikasih Meri untuk kita,"
'Mereka selalu menyebut nama Meri. Tapi, siapa sih perempuan bernama Meri itu?' batin Kamila.
"Oh. Yo wes, kelarin dulu di dapur! Habis ini kita makan malam bareng," sahut Pak Wiryo.
Bu Nani kembali ke dapur untuk menuntaskan pekerjaannya. Sedangkan Kamila masih di tempatnya, menatap kedua mertuanya secara bergantian.
Kamila menghela nafas panjang, sebelum berlalu dari ruang tamu, meninggalkan ayah mertua yang asyik menonton acara kesukaannya.
"Ya Tuhan! Kuatkan hati hamba-mu ini," Ia bergumam dalam hati.
Bergegas Kamila ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Rasanya, hari ini sungguh lelah. Tapi, di sisi lain ia cukup senang karena sudah memeriksakan kondisi janinnya di klinik. Dan hasilnya cukup baik walaupun sebenarnya ia malu karena Bu Siti yang membayar biaya pemeriksaannya.
Setelah lima belas menit, Kamila sudah memakai pakaian dasternya. Ia segera melangkah ke dapur untuk mengisi perut, karena rasanya perutnya sudah keroncongan.
Lauk dan sayur yang diberikan Bu Siti lumayan banyak hari ini. Walaupun hanya tempe goreng, tahu goreng dan sayur bayam saja, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk dirinya dan keluarga makan. Apapun makanannya, patut disyukuri, bukan!
Ketika Kamila sudah sampai di dapur, ternyata suaminya sudah pulang. Mata Kamila berbinar menatap sang suami yang tengah duduk menyantap makan malamnya.
"Mas udah pulang?!" Kamila mengulurkan tangan untuk meraih tangan suaminya.
Namun, Riki tak memperdulikannya. Ia sibuk makan dengan lahap, makanan yang Kamila yakini jika itu makanan yang diberikan perempuan bernama Meri.
"Pak, Bu. Besok aku mau pergi ke luar kota bersama Meri. Mungkin, sabtu baru balik. Nanti, Bapak sama Ibu mau dibelikan apa sebagai oleh-oleh?" tanya Riki tanpa melirik sedikitpun ke arah istrinya.
Ayah dan ibunya itu terlihat antusias. Mereka segera menyebutkan satu persatu barang yang ingin dibawakan putranya dari luar kota.
"Baiklah! Sabtu sore kalian berdua tunggu di tempat biasa. Nanti biar Meri sendiri yang memberikannya pada kalian," nada bicara Riki terdengar terus menyombongkan Meri.
"Eh, Rik. Apa dia tidak keberatan jika kita meminta barang-barang itu? Harganya mahal lho, Rik!"
Riki menggelengkan kepala. "Aku rasa Meri tidak keberatan membelikan kalian berdua barang-barang itu. Justru, dia akan senang jika kalian berdua bahagia. Tidak seperti seseorang," ucapnya meledek Kamila.
Ayah dan ibunya melirik ke arah Kamila yang masih berdiri di samping Riki. Mereka mengedikkan kedua bahunya, kemudian menyantap makanan kembali.
Melihat tingkah mereka saja, hati Kamila sungguh sakit. Apalagi mendengar setiap kata-kata sindiran atau hinaan yang terlontar dari mulut ketiganya. "Ya Tuhan! Buatlah hatiku sekeras batu, agar aku kuat menghadapi serangan dari mereka!" batin Kamila.
...Bersambung ......