Bukan Wanita Biasa

Bukan Wanita Biasa
Season 2. Keabadian Cinta-Pertengkaran


Tok! Tok!


Dara mengetuk pintu kamar Liu Min, "Ada apa?" balas Liu Min dingin, mengintip dari sedikit celah pintu dengan wajah dan jambang yang sudah memenuhi wajahnya.


Ia sangat kesulitan membuka bajunya, karena luka di telapak tangan, "Apakah kamu perlu bantuan?" tanya Dara.


"Bantuan seperti apa?" balas Liu Min menatap wajah Dara dari celah pintu yang dibukanya sedikit. Ia merasa enggan untuk membiarkan Dara masuk.


"Apakah kamu kesulitan memakai dan membuka bajumu?" tanya Dara tulus.


"Apa?" ketus Liu Min menatap Dara, pikirannya mulai kacau dan bayangan Dara melakukan hal itu membuat darah lelakinya bergerak cepat memompa adrenalin menggerakkan sirkulasi ke bawah tubuhnya tanpa tersaring lagi dengan otak.


Pikiran Liu Min mulai kotor, "Hadeh, aku benar-benar gila!" batin Liu Min masih berusaha tidak membuka pintu


"Aku lebih kesulitan jika kau membuka bajuku!" ujar Liu Min menyipitkan matanya, "sial, kau pikir otakku tidak semakin kacau jika kamu melakukan  itu?" batin Liu Min.


"Apa maksudmu?" tanya Dara bingung, ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Liu Min..


"Pikirkanlah sendiri!" balas Liu Min membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan Dara masuk mengikutinya dengan cepat.


"Liu Min, aku hanya ingin membantumu," ucap Dara, meraih tangan Liu Min dan memeriksa lukanya.


Wangi tubuh Dara membuat segala sarafnya mulai kacau, "Sialan, kau Dara!" umpat Liu Min masih memperhatikan wajah Dara yang serius membuka perban dan mengobati kembali lukanya.


Liu Min berusaha mengendalikan hasrat dan segala tentang hal gila yang ingin dilakukannya bersama dengan Dara di tempat tidurnya. Liu Min mendengus dan berusaha untuk mengalihkan pandangan dan berpikir banyak hal.


Kepalanya semakin pusing, "Dara," liriknya langsung meraih dagu Dara dengan tangan kirinya yang tak terluka membuat wajah Dara menengadah.


"Apa?" tanya Dara dengan lembut dan penuh dengan kerapuhan berbeda kala ia sedang berbicara kasar dan tegas juga memandang dengan pancaran mata yang marah dan dingin.


Deg!


Jantung Liu Min termalas ke lautan hingga ia karam dan lupa jalan pulang, "Sial, aku telah terjebak di dalam cinta dan pesona seorang Dara Sasmita!" umpat batin Liu Min kesal.


Batin Liu Min marah ia sama sekali tak ingin menikah atau memiliki hubungan jangka panjang dengan siapa pun dan wanita mana pun, "Kehidupanku sangat keras!" lirih batinnya takut.


"Lebih baik, kau bersikap kasar padaku, Dara! Jangan penuh kelembutan seperti ini?" batin Liu Min kesal, ia semakin ingin merangkul dan melindungi tubuh Dara. Memberinya banyak cinta dan kasih sayang yang tak terbatas.


"Apakah pakaian bagian dalamanku juga akan kamu bantu untuk melepaskannya? Apakah kamu tahu bagaimana konsekuensinya nanti? Apakah kamu mau bertanggung jawab Dara?" tania Liu Min menatap Dara.


"Hah! Apa maksudnya Liu Min?" tanya Dara tidak pernah berpikir sejauh itu.


Ia hanya tulus membantu Liu Min, karena ia tahu Liu Min yang dulu pun sangat kesulitan jika membuka bajunya jika terluka, "Bajingan, kau Liu Min! Kau benar-benar berbeda dengan Liu Min-Jang Min," umpat batin Dara ingin mematahkan tangan Liu Min yang terluka.


Liu Min mendaratkan sebuah ciuman  yang kasar ke bibir Dara, Liu Min ingin membuang semua rasa amarah, cemburu, dan cintanya kepada Dara.


Menggigit pelan bibir Dara, ia benar-benar telah gila ingin melakukan hal dosa kepada Dara.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Liu Min, "Dasar kampret! Kamu benar-benar …!" hardik Dara ke luar ruangan, "aku benar-benar menyesal berniat membantu dirimu," ketus Dara.


Ia meninggalkan Liu Min yang langsung terduduk di tempat tidur menangkupkan kedua tangan di wajahnya, "Sial, apa yang aku lakukan?" batin Liu Min kacau, "sial!" 


Liu Min menyesali semua perbuatan dan perkataannya, "Mengapa aku jadi gila sih? Bukankah Dara melakukan  semua itu karena tugas? Aku harus menikahinya.


"Jika terus-terusan begini aku bisa gila! Mati karena cemburu daripada berondongan peluru. Aaa!" teriak Liu Min kesal.


Sementara Dara kembali ke kamarnya membuang tubuhnya di atas kasur dengan tertelungkup, "Liu Min bajingan. Dia benar-benar kurang ajar!" batin Dara menangis pilu.


"Liu Min yang dulu tidak pernah begitu kasar berbeda dengan Sialan yang ini," batin Dara merindukan Kaisar Liu Min yang lembut, ia ingin memukul Liu Min tapi ia takut jika Danu mengetahuinya.  


Dara menangis kesal ia merasa jika Liu Min telah merendahkan harga dirinya. Dara menangis sesenggukan dan tidak ke luar kamar seharian. Hingga malam turun.


Tok! Tok!


"Bu Dara! Kita sudah menemukan lokasi Jenny dan Jovich! Daniel, Hendra, dan Jalik sudah di sini," lapor Danu dari balik pintu.


Teriakan Danu membuat Dara melompat membuka pintu, "Ada apa dengan Bu Dara?" batin Danu melihat mata sembab Dara.


"Baiklah. Ayo, kita lihat!" ajak Dara berlari ke ruang komputer.


Dara melihat keempat pria bersama Liu Min di sana sedang mengatur strategi dan melihat sebuah peta tata letak gudang di layar komputer.


"Sialan, mengapa Kampret ini ada di sin?!" batin Dara kesal.


Namun, ia berusaha untuk meredam amarahnya melihat dan mendengarkan apa yang diucapkan kelima pria tersebut.


"Apakah kamu setuju dengan rencana kami, Dara?" tanya Liu Min menatap wajah Dara yang pucat dan sembab.


Deg!


"Bajingan, aku benar-benar menyukainya. Maafkan aku!" batin Liu Min. 


Ia ingin merengkuh dan mengucapkan kata maaf dan rayuan akan banyak hal agar Dara tak lagi marah dan bersedih.


Dara hanya menganggukkan kepala, ia merasa semua yang direncanakan oleh kelima pria di depannya sangat luar biasa hebat dan tanda cacar sedikit pun.


"Kapan kita berangkat?" tanya Dara dengan suara serak akibat tangisan  tertahannya.


"Besok malam …." Liu Min masih menatap Dara, dengan mengepalkan tangan.


Ia ingin meninju dirinya sendiri yang telah menyakiti sekeping hati Dara.


Keduanya saling pandang, namun Dara tidak berbicara sedikit pun ia hanya diam.


"Dara …," ulang Liu Min, ia benci jika Dara diam saja dan hanya menganggukkan kepala dengan pasrah.


"Aku rasa karena semuanya sudah beres! Kami akan menyiapkan segala hal seperti senjata dan keperluan lainnya, bukankah begitu, Bro?" tanya Daniel kepada Danu dan yang lain.


"Ya, kamu benar sekalian aku mau beristirahat dulu, untuk persiapan nanti malam," balas Danu.


"Aku juga ingin mandi, apakah ada kamar untukku?" tanya Jalik Nasution.


"Tentu, pilihlah sendiri. Kecuali ada plat nama itu sudah memiliki penghuni," balas Danu.


"Apakah di sini ada dapur? aku ingin memasak sesuatu!" ucap Handra melenggang pergi.


Keempat pria itu berbicara dan berjalan cepat meninggalkan keduanya di ruang komputer seakan mereka ingin memberikan suatu ruang untuk pasangan yang sedang bertengkar tersebut. 


Keempat pria yang yang sudah berkeluarga tersebut memahami apa yang sedang dirasakan oleh Dara dan Liu Min tanpa mereka berdua sadari