
"*elo beneran nggak mau bareng, ran*?" tanya kevin.
" nggak , gue pulang ama abang gue. Takutnya dia nyariin kalau gue pulang duluan" jelas rania.
" *kalau gitu , gue duluan ya. Bye.."
" bye vin*" rania membalas lambaian tangan kevin. Pria itu mulai mengendarai montornya meninggalkan halaman mall.
" ran..!!" panggil sang kakak.
" udah pacaranya " ledek rania.
" udah ah.. Kan masih ada hari esok" jawab sang kakak sumpringah. Tanganya masih setia dalam rangkulan sang pacar.
" tunggu bentar ya , aku mau telfon mario dulu" ucap zee.
"itu mario kak " tunjuk rania yang melihat mario sedang berjalan kearah mereka.
" nggak nunggu lama kan ?" tanya mario memastikan.
" nggak kok" jawab rania.
" yaudah.. Kita pulang yuk, takut kesorean" pinta zee.
" iya sayang , mau aku aja yang anter ?" julio menawarkan diri.
" nggak usah jo. Aku takut nanti mama marah kalau tau aku pacaran" jelas zee.
" bener juga ya.. Aku nitip zee sama kamu ya" ucap julio sambil menatap mario.
" iya kak , tenang aja. Pasti aman" canda mario.
" aku pulang dulu ya sayang " pamit zee.
" iya.......Mario , jangan ngebut - ngebut ..!" perintah julio.
" siap bos. .!" jawab mario sambil mengangkat tanganya memberi hormat.
" kita juga pulang kak" ajak rania.
" kamu nggak mau mampir dulu "
" *nggak ah.. Kaki rania capek , tadi abis muterin mall"
" lagian mall diputerin. Kaya nggak ada kerjaan aja*" ledek sang kakak.tanganya merangkul pundak rania layaknya seorang teman.
" *ketimbang jadi angin sepoi- sepoi* " cibir rania.
" nggak jadi obat nyamuk" ledek sang kakak
" ntar nyamuknya jadi kuat kalau diobat" jawab rania tak mau kalah.
Mereka berjalan menuju parkiran. Setelah sehari penuh menghabiskan waktu di mall. Rania menghembaskan tubuhnya dengan kasar di jok belakang. Ia memilih berbaring , karna merasakan pegal di kedua kakinya.
"*aaggghhhhhhh.... Nikmatnya* " racau rania yang sudah berbaring di jok belakang.
" kamu nggak mau duduk didepan ran?" tanya sang kakak.
" ogah.. Gue mau rebahan aja. Kan lumayan bisa istirahat dulu. Pegel tau kak " rengek rania.
" emang kamu bener - bener muterin mall ?" tanya sang kakak heran.
" iya , tadi puuuaaaassssss banget main semua wahana"
" tapi.. Isi di kartu kakak nggak kamu habisin kan?" tanya julio memastikan.
" nggak lah kak, orang kita patungan" jawab rania keceplosan.
" patungan? Emang kamu jalan ama siapa ?" julio menatap tajam adiknya.
" tadi ketemu temen sekolah kak, ya udah... Kita muter bareng - bareng deh" jawab rania deg degan.
" awas ya.. Kalau kamu pacaran ..!" ancam sang kakak.
" emang kenapa ?, kok kak julio nglarang sich" jawab rania tak suka.
" kak zee aja belom boleh pacaran kalau belum lulus kuliah" curhat sang kakak.
" idiiihhhh... Itu mah derita elo " rania lalu memejamkan matanya pura - pura tidur. Ia tak mau jadi tempat curhat kakaknya. Karna hari ini moodnya sedang baik.
Rania tertidur cukup pulas. mobil sudah memasuki garasi. Karna kecewa dengan sang adik yang tak mau mendengarkan curhatnya, julio tidak membangunkanya.
Julio turun dari mobilnya dengan hati- hati. Ia sengaja tak menutup pintu mobil agar rania tak kepanasan. Berjalan memasuki rumah tanpa rasa bersalah.
" hai... Mi , hai pi.." sapa julio yang melihat kedua orang tuanya sedang duduk santai.
" hai sayang.. Kamu dari mana saja seharian?" tanya mami.
" cuma jalan - jalan aja mi" kilah julio.
" sayang. Kamu nggak pergi sama adikmu? dari tadi nggak di rumah loh " tanya mami khawatir.
" mami kan liat kalau julio jalan sendiri " ucapnya sambil tersenyum geli. Mengingat adiknya masih di dalam mobil.
" papi sudah sehat? " tanya julio.
" sudah , mungkin besok sudah bisa kekantor" ucap papi.
" *baguslah kalau gitu. Soalnya hari selasa julio harus ke surabaya lagi. Untuk memeriksa stok barang di gudang.
"papah percayakan pada kamu , nak*." ucap papi sambil menepuk -nepuk pundak putranya.
" *kak.... Jo...... Jahaaaaaaaaaattttttttttttttttt* !!!!!!!" teriak rania dari pintu depan.
Papi dan mami hanya saling memandang. Sedangkan julio tertawa cekikikan.
"ada apa sayangnya mami , kok teriak - teriak" ujar mami.
" itu.. Kak jo mi " tunjuk rania.
" iya.. Itu kakakmu" jawab mami bingung.
" kak jo ninggalin aku di garasi mi.. Nggak bangunin aku mi." rania mengadu sambil memeluk maminya..
" ya ampun jo.... Kamu keterlaluan ya.. Ninggalin adik kamu di garasi" omel mami.
Sang papi hanya geleng - geleng mendengar keisengan anaknya.
"emang kalian abis dari mana ?" tanya papi penasaran. Karna tumben mereka pergi bersama.
" abis jalan - jalan ke mall pi , aku tadi juga beli novel baru" tunjuknya pada papi.
"ohhh... Papi kira ada yang abis kencan. Padahal anak - anak papi nggak jelek - jelek amat. Kenapa belum laku - laku ya mi? " sindir papi.
" mungkin bandrolnya terlalu mahal pi, jadi nggak ada yang berani ndeketin " jawab mami sambil cekikikan.
" mami sama papi apaan sich, rania tuh lagi fokus sekolah. Nggak mau pacaran dulu , tapi kalau ada yang minat nggak papa sich" canda rania.
" *hu...u... alesan fokus sekolah , padahal emang nggak ada yang mau*" ledek sang kakak.
" ihhh... Kakak apaan sich , ketimbang kakak punya pacar tapi nggak direstuin " ceplos rania.julio menatap tajam adiknya. Setajam ujung mata pisau.
mami dan papi yang mendengar penuturan rania langsung menatap putranya.
" bener sayang kata adek kamu" tanya mami.
" dari keluarga mana mereka , berani menolak putraku" timpal papi tak terima.
" mami.. Papi.. Tenang aja , mereka nggak ngerestui bukan karena nggak suka sama julio. Tapi mereka ingin putrinya lulus kuliah dulu" jelas julio. yang masih menatap tajam adiknya.yang dengan tega membuka kartunya.
" maaf kak... Nggak sengaja , keceplosan tadi" ucap rania sambil crngar - cengir. Lalu kabur kekamarnya.
" *bener... Kamu sudah punya pacar jo* ?" tanya papi pemasaran.
" *iya pi.. namanya zee. Dia kuliah semester enam*." jelas julio.
" *papa seneng dengernya , papa kira kamu jomblo akut"
" ihh... Papa apaan sich. Kok ngomongnya gitu sama anak sendiri*" ucap mami sambil mencubit lengan suaminya.
" *enak aja, jomblo akut.. aku pacaran udah dua tahun loh pi. Cuma kalau belom yakin , belum berani ngomong"
" wahh... Anak papi pinter main rahasia - rahasiaan. Papi tunggu kabar baiknya saja*". Tutur papi yang tak mau terlalu ikut campur masalah pribadi anaknya.
Mami dan papi sangat senang mendengar putranya sudah memiliki pasangan. Mereka tak terlalu ambil pusing dengan siapa anaknya menjalin hubungan. Selama pribadinya baik , mereka akan menerimanya sebagai keluarga.
......
......
"sudah sampai rumah" tulisan yang terpampang di layar chat nya.
Tak butuh waktu lama bagi rania untuk membalasany.
"*sudah dari tadi kok "
" sekarang elo lagi ngapain?"
" gue lagi tiduran di kamar"
" gue ganggu dong "
" emmm... Ganggu nggak ya*...." rania menggantung pesanya. Berharap sang pembaca pesan penasaran.
" emm.. kok nggak di bales sich. Apa jangan - jangan dikira ngganggu?" bisik rania.
" elo sendiri lagi ngapain?" rania memilih mengirim pesan lagi. Namun tak kunjung dibalas.
" ayo.. Bales dong vin " harap rania. Yang tak kunjung mendapat balasan dari kevin.
" bodo amat ah... Mending gue mandi" rajuk rania.
.......
........
Setelah merasa segar , rania merebahkan tubuhnya di kasur. Rasa pegal di kedua kakinya belum hilang. Ia meraih buku yang tadi dipilihkan kevin untuknya. Rania mulai membuka halaman pertama.
Ddrrtttt..... Dddrrrrttttt..... Ddrrrrrttttt
getar ponsel mengalihkan pandanganya. Diraihnya ponsel yang tadi diletakkan di pinggir kasur. Terlihat nama pemanggil yang sedari tadi ditunggu.
" hallo?" sapanya pura - pura acuh.
" gue ganggu ya?" tanya kevin.
" enggak kok, gue lagi santai sambil baca buku yang tadi di beli" jawan rania.
" ohh...elo suka alur ceritanya ?"
" gue baru buka halaman pertama. Jadi ya.. Belum tahu ceritanya. bukanya , ada yang mau bacain ampe tamat" goda rania.
" *kamu serius..?? Minta gue bacain ampe selesai*?" tanya kevin lemas. Bayanganya , dia harus membaca ratusan halaman buku tiap hari.
"ha...ha..ha... Ya nggak lah , gue masih bisa baca keles" tawa rania.
" kirain.. Tapi kalau serius juga nggak papa kok " kevin balik menggoda.
" *emm... Enggah ah.."
"kenapa ?" tadi minta si bacain , sekarang nolak*?" kevin masih saja menggoda rania. Ia tak tahu wajah rania sudah merah merona bak bunga mawar.
" yaudah.. Besok gue bawa ke perpus bukunya" ucap rania.
Kevin yang merasa pancinganya berhasil, dengan senang hati mengiyakan perkataan rania. ini hanyalah alasan agar rania mau menemuinya. Ia bisa mengobrol dengan rania tanpa di ganggu teman- temanya.
" ran.. Aku tutup telfonya dulu ya"
" oh.. Ok "
"sampai jumpa besok ran. Bye"
"bye"
rania melompat kegirangan karna bisa bertemu kevin secara terang - terangan tanpa perlu alasan membaca buku.